Cinta Untuk Gadis Madinah

Cinta Untuk Gadis Madinah
Episode 06


__ADS_3

"Banyak pilihan di kampus," kata Al. "Ibu mau calon menantu yang bagaimana?"


Bu Haikal menatap dengan sinar mata protes. "Kok Ibu sih? Kamu cocoknya sama yang mana?"


"Yang mana ya?"


Terus terang Al tidak tahu yang mana yang harus dipilih. Tiap hari perempuan hilir-mudik menghiasi kehidupannya, cantik-cantik, ada yang berhijab ada yang tidak.


Barangkali tiga perempuan itu yang paling cocok.


Aisyah adalah gadis yang paling banyak berkorban. Kemudian Wulandari, gadis berdarah biru yang menentang adat keraton, suka balapan liar. Berikutnya Lin Wei, gadis keturunan Tiongkok, yang coba menghilangkan perbedaan karena cinta.


Masalah calon istri sebenarnya sudah terpikirkan oleh Al. Alangkah indahnya saat wisuda ada pendamping. Tapi pilihannya bukan mereka, melainkan ratu kecil yang akan dijumpainya esok pagi.


Al menahan diri untuk tidak berkunjung malam ini, meski rasa ingin tahunya begitu menggebu. Dia tidak pernah bertemu seorang gadis di malam hari untuk menghindari kejahatan malam. Dan kejahatan malam bukan hanya kriminalitas, itu perkara kecil.


"Hai, Al!" teriak seseorang di depan pintu pagar.


Al menoleh dan mengingat-ingat senyum pemuda yang berpakaian kurta dan kopiah qaraqul itu. Nidar. Sahabat yang paling setia di masa anak-anak.


Al berjalan menghampiri dan menyapa, "Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam," jawab Nidar.


Al menggeser pintu pagar. Mereka berpelukan. Kemudian Nidar mencium tangan Bu Haikal yang ikut keluar gerbang untuk mengontrol kedai.


Al mendampingi ibunya menyeberang jalan. Tangannya memberi isyarat agar kendaraan berhenti. Setelah itu dia balik lagi menemui temannya.


"Dipingit gadis Yogya?" kicau Nidar. "Tidak boleh pulang kampung?"


Al tersenyum sedikit. "Aku pasti pulang setiap bulan kalau tahu kampung secantik ini."


Dia tinggal membawa mobil mewah, atau naik pesawat kalau mau cepat. Kehidupan yang cuma hadir di dalam mimpinya, kini dijalani di alam nyata.


"Bagaimana kabarnya?" tanya Al.


"Tidak sebaik kamu."


"DO?"


"Kuliah saja boro-boro."


"Kok?"


"Kupikir daripada menjual sawah yang cuma sebidang mendingan kerja. Mengumpulkan biaya. Tahun ini aku daftar kelas extension."


"Syukurlah."


Nidar tersenyum bahagia. "Senangnya lihat kamu pulang."


"Bajunya total banget," komentar Al. "Ada acara pengajian?"


"Biasa."


Al tersenyum kecil. "Nyolong mangga sih jangan dibiasakan."


"Kondangan."


"Siapa yang kawinan?"


"Masih ingat Yudi, kan?"


"Yudi?" Al berpikir cukup lama sampai perlu diingatkan oleh Nidar.


"Yang sering kamu bully dulu?"


"Oh, Yudistira? Yang cita-citanya jadi tukang keris itu?"


"Notaris."


"Beda lagi."


"Yudi dapat janda kaya."


"Kamu?"


"Pacaran saja belum pernah."


"Kalau bisa ta'aruf."


"Subhanallah. Aku kira kamu di Instagram cuma pencitraan."


"Instagram?" Al heran. Dia tidak punya Instagram, Facebook, Twitter, atau WA. Handphone-nya cuma bisa telpon dan SMS. "Ayah ya?"


"Siapa lagi?"

__ADS_1


Ayahnya sering diajak ke kampus kalau berkunjung ke Yogya. Kadang menghadiri pengajian yang diselenggarakan olehnya. Jadi dia tahu semua aktivitasnya.


"Hiburannya apa?" tanya Al.


"Orkes dangdut."


"Layar tancap masih ada?"


"Kalah sama internet. Bebas tayang lagi."


"Ada Kominfo."


"Pakai VPN."


"Tahu saja kamu."


"Katanya."


"Wayang golek bagaimana?"


"Kaulan saja. Mati segan hidup tak mau."


"Topeng banjet?"


"Punah."


"Aku kangen masa-masa itu."


"Jaman jahiliyah?"


Sewaktu kecil, Al terkenal sangat nakal. Mangga, manggis, jambu monyet, atau burung merpati tidak aman dari bidikan katapel. Dia pernah dikejar-kejar penduduk gara-gara bokongnya dikatapel waktu buang hajat di sungai.   


Al selalu mencuri kesempatan kalau ada layar tancap. Tidak jera walau besoknya dapat hukuman. Apalagi ada wayang golek, ke ujung desa dikejar, sampai bolos mengaji untuk mengintip sinden dandan. Dia pernah dikurung di kandang ayam oleh ayahnya. Bukan kapok, malah menyikat habis telur yang ada.


Tentu saja Al sekarang tak perlu pergi secara sembunyi-sembunyi. Ibunya malah memberi bekal ketika pamit. Bekal yang membuatnya geleng kepala!


"Buat apa duit sebanyak ini?" tatap Al tak percaya.


"Buat kondangan," jawab Bu Haikal. 'Sisanya buat jajan."


"Kebanyakan. Apa sekalian booking artis dangdutnya?"


"Boleh. Booking ke KUA."


"Sudah saatnya kamu cari calon."


"Artisnya laki-laki."


"Astaghfirullah!"


"Maka itu Al ambil sepuluh lembar saja."


"Tahu kenapa Ibu memberi uang sebanyak ini?"


"Biar Ibu tidak dibilang pilih kasih."


"Karena Ibu tahu kamu pasti menolaknya."


"Pamit, Bu." Al mencium tangan ibunya. "Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Al meninggalkan meja kasir dan menghampiri Nidar yang menunggu di pintu.


Nek Surti yang makan bakso di meja dekat pintu menyapa, "Lagi cari calon ya? Aku ada. Cakep loh anaknya."


"Iis Komalasari?" sambar Nidar antusias.


"Pamela Bordin, si Goyang Zigzag!"


"Oh, iya lupa. Saya biasa panggil Iis."


"Maaf ya, Nek," potong Al. "Lagi buru-buru, mau pergi kondangan."


Al menarik lengan Nidar untuk keluar kedai. Pemuda itu bertahan karena masih ingin bicara dengan Nek Surti.


"Boleh minta nomornya, Nek?"


"Boleh. Boleh."


Nek Surti mengaktifkan handphone. Dicarinya nomor yang dimaksud. Tiba-tiba dia ingat. "Oh, iya. Ada kartu nama."


Nek Surti mengeluarkan kartu nama dari tas kecil. Nidar mengulurkan tangan untuk menerima, tapi perempuan tua itu malah menyodorkan ke Al.


"Bel dulu ya kalau datang ke rumah. Takut lagi pergi."

__ADS_1


"Bel siapa?" tanya Nidar. "Pamela Bordin apa manajernya?"


"Ini kan nomor cucuku, masa nyambung ke manajernya?"


Nidar menyenggol tangan temannya. Al terpaksa menerima kartu itu. Ia tersenyum sedikit.


"Terima kasih ya, Nek. Permisi."


Al pergi ke luar kedai. Sekilas dilihatnya kartu nama sambil berjalan di trotoar. Ada empat nomor handphone lengkap dengan alamat rumah, banyak sekali, kayak orang jualan pulsa.


"Boleh lihat?" pinta Nidar.


"Siapa Pamela Bordin?" tanya Al sambil menyerahkan kartu nama ke temannya.


"Katrok banget deh. Dia itu artis dangdut terkenal."


"Sudah masuk rekaman?"


"Banyak di YouTube."


"Kamu saja bisa masuk YouTube."


"Pokoknya setiap laki-laki kepingin banget dapat nomornya."


"Kamu juga?"


"Marbot masjid tidak masuk hitungan."


"Ada masalah marbot masjid sama artis dangdut?"


"Pamela Bordin milik orang berduit."


"Kartu nama itu berarti tidak berguna."


"Pasti berguna buat kamu."


"Aku tidak berminat."


"Beli barang saja lihat-lihat dulu."


"Memangnya bisa di-booking?"


"Banyak orang berduit kepingin booking, tapi konon gigit jari."


"Konon?"


"Kabar dari mulut ke mulut."


"Kamu ini marbot masjid, tapi yang disirap kabar Pamela Bordin."


"Marbot itu ibarat kotak amal, kabar apa saja masuk dari jamaah."


"Masjid jadi kayak tempat ngegosip ya?"


"Denger-denger tampil di acara Yudi."


"Senang dong bisa ketemu artis favorit?"


"Beruntung tuh anak dapat janda kaya."


"Jadi bisa panggil artis YouTube?"


"Gratis."


"Kok bisa?"


"Pamela Bordin keponakan istrinya."


"Gelagat pulang sendiri."


"Nggak suka dangdut?"


Al musik apa saja masuk. Dangdut, gambus, pop, rock. Tergantung selera penghuni asrama yang disinggahi. Di kamarnya, radio butut saja tidak ada.


Nidar menepuk jidatnya. "Bego banget ya. Ustadz masa suka dangdut?"


"Jangan gampang memberi gelar."


"Kamu viral jadi imam di masjid kampung."


"Terpaksa. Imam rawatib mendadak mules, dan bukan berarti aku bisa disebut ustadz."


"Jadi ada harapan dong buat Pamela Bordin?"


Al tersenyum. Jodoh tidak ada yang tahu.

__ADS_1


__ADS_2