
Sungguh beruntung. Subuh pertama di Masjidil Haram bisa mendengar suara merdu muadzin senior sekaligus ketua muadzin, Ali Abdul Rahman Ahmad Mulla.
Al dan Oma baru mulai thawaf sunah saat adzan berkumandang. Ketika lantunan adzan selesai, tuntas pula thawaf sunah.
"Oma sanggup thawaf lagi?" tanya Al. "Pelan-pelan saja."
"Keburu iqamah nanti, cah bagus."
"Justru itu yang kita tunggu," senyum Al. "Kita bisa shalat di mathaf."
"Perempuan diusir shalat di areal thawaf."
"Semoga saja tidak."
Kalau Oma sampai dihalau oleh askar, berarti mereka kebagian shalat dekat lantai sa'i. Karena spot-spot sekitar tempat thawaf sudah penuh.
Lewat kekosongan hati, terlantun doa dari gemeletar iman dalam putaran pertama thawaf. Al ingin mengisi hatinya dengan kesyahduan yang didambakan di setiap sujud malamnya.
Iqamah berkumandang kala mereka memasuki putaran ketujuh. Mereka berhenti di lantai thawaf mengambil posisi untuk shalat persis berhadapan dengan Multazam. Sungguh berkah yang tidak terbayangkan, karena kemudian datang Imam Besar Masjidil Haram dengan pengawalan ketat dan berdiri di depan mereka.
Al meneteskan air mata mendapat berkah yang sangat istimewa ini. Imam Besar yang dikenal lewat YouTube karena suara merdu dan artikulasi makhrajnya yang jelas, kini ada di depannya.
Oma menangis terisak. Entah bersyukur tidak diusir atau terharu mendapat kemuliaan ini.
Syaikh Abdurrahman As-Sudais rapi-rapi jubah sebentar lalu bertakbir memulai shalat.
Belum pernah shalat Subuh senikmat ini mendengarkan bacaan surah As-Sajdah yang demikian syahdu. Pada ayat ke 15, ayat sajadah, Al mengikuti Syaikh sujud tilawah.
Air mata Al membasahi lantai thawaf.
Sebentar sekali rasanya shalat Subuh ini. Lebih singkat dari imam kampung dengan bacaan surah Al-Ikhlas. Belum batuk-batuknya.
Lalu berkumandang seruan muadzin untuk shalat jenazah, sementara syaikh pindah ke pintu Ismail di mana jenazah berada.
Subuh ini banyak jenazah dishalatkan. Sebuah keberkahan bagi mayit karena dishalatkan oleh puluhan ribu orang.
Wafat di Tanah Suci adalah impian banyak orang. Tapi tidak boleh berdoa ingin meninggal di Makkah.
Selesai shalat jenazah, Al mengajak Oma pergi ke pintu King Fahd menemui Riany dan rombongan.
"Oma shalat di mana?" tanya Riany.
"Di mathaf," sahut Oma sumringah, "persis di belakang Syaikh Sudais."
"Subhanallah."
"Aku diberi nikmat yang luar biasa lewat cucuku."
"Rombongan mau pulang, Oma bagaimana?"
"Aku menunggu sampai Dhuha."
"Oma perlu istirahat."
"Cukup di sini."
Oma duduk bersandar ke pilar. Rombongan keluar masjid dipandu Lukman.
Al menatap Riany sekilas. "Kamu tidak ikut?"
"Aku belum thawaf dan sa'i, menunggumu untuk membimbing."
"Kamu lebih berilmu."
"Tapi kamu calon imamku."
"Pertahankan ketaatanmu, cah ayu," kata Oma. "Sampai akhir hayatmu."
"Aamiin. Oma jangan ke mana-mana ya. Riri sama Al thawaf dan sa'i dulu."
"Jangan lupa zam zam thawaf dan sa'i, cah ayu."
__ADS_1
"Ya, Oma."
Laksana Shafa dan Marwah, begitulah kiasan ilmu agama Al dan Riany. Benar mereka bukan kuliah di fakultas syari'ah. Tapi kucuran agama di Universitas Madinah tentu beda tingkatannya dengan tambang ilmu di Bulaksumur.
Riany sudah fasih bahasa Arab, Al baru cita-cita. Kalah sama Oma yang sudah tiga kali pergi haji, dan baru berhenti setelah ada antrian panjang, padahal ONH plus.
Kalau Opa parah habis bahasa Arabnya. Maka itu selama berhaji dia lebih banyak bergaul dengan orang-orang Eropa, Nigeria, atau Brasil. Ujung-ujungnya ngomong soal bola.
Nah, Al mirip-mirip opanya. Tidak sempat belajar dalam waktu singkat. Tapi dia tidak kehabisan akal, menggunakan handphone sebagai jubir dalam berkomunikasi dengan orang Arab.
"Kamu tahu apa doaku di Multazam dan Shafa?" cetus Riany selesai sa'i.
"Apa tuh?"
"Aku memperkenalkan kamu pada Allah sebagai calon imamku."
"Yang tidak menduakanmu?"
"Yang ingin kulihat di sisiku saat aku menutup mata."
"Allah lebih tahu apa yang terjadi."
"Tapi ingin mendengar pengakuan hamba-Nya."
Al dan Riany tiba di pilar tempat Oma menunggu. Mereka tidak mengganggunya karena lagi khusyu mengaji.
Oma mengakhiri bacaannya, menutup Qur'an dan menoleh. "Zam zamnya."
Riany menyerahkan botol yang dipegangnya. Oma buka tutup botol, baca doa sebentar, lalu meneguknya.
"Al beli tin dan ajwa dulu," kata Al. "7Days-nya masih ada?"
"Yang toffee habis."
Rasa toffee adalah croissant kesukaan Al. Oma pasti bawa banyak kalau pulang haji. Lebih yummy kalau dihangatkan di oven.
Al keliru membeli banyak 7Days rasa coklat. Kuenya masih utuh di kamar Oma. Rasa coklat adalah kesukaan Opa.
"Waktunya breakfast," kata Al mengingatkan. "Kamu sudah urus rombongan?"
"Khusus rombongan kita aku minta diantar ke kamar masing-masing," sahut Riany. "Tidak prasmanan. Kasihan sudah tua-tua."
"Kau nampak capek, cah ayu," ujar Oma. "Baiknya istirahat di hotel."
"Aku ingin menemani Oma."
"Rombongan tanggung jawabmu, cah ayu."
"Sekarang tanggung jawab Al."
"Enak saja," protes Al. "Kalau aku ngurus mereka, terus Oma bagaimana?"
"Ada aku."
Al menyerahkan kantong belanjaan berisi 7Days rasa toffee ke Oma, satu kantong lagi dibukanya, mengambil ajwa 3 biji dan menyantapnya satu-satu.
Riany mengambil 3 biji. Al mengedarkan ke orang-orang di dekatnya. Masing-masing mengambil 3 biji.
"Kapan kita ke Ji'ranah?" tanya Oma.
"Besok siang," jawab Riany. "Sekarang istirahat full."
"Oh ya, kamu kapan lulusnya?"
"Insya Allah enam bulan lagi."
"Cah bagus satu tahun lagi. Lama juga nunggunya ya?"
"Yang enam bulan pelatihan kerja," kata Al.
Dia bersama mahasiswa berprestasi lainnya berencana kerja di Turki. Perusahaan petro raksasa sudah menunggu. Dia belajar keras untuk hapal 10 juz, karena itu syarat pertamanya.
__ADS_1
"Katanya pengen kerja di Yordan," komentar Riany. "Mana yang benar?"
"Mana yang paling menjanjikan."
"Sama cewek ya?"
"Jealous?"
"Lupa sama yang di rumah nanti."
"Kan belum punya rumah."
"Jadi?"
"Jadi tidak peduli pergi sama siapa, niatku cari duit halal buat anak-anakku kelak yang lahir dari rahim puteri bungsu bandar tekstil."
"Aamiin."
"Bangun kampungmu," saran Oma. "Itu lebih bagus."
"Dengerin."
"Seneng ya ada yang bela?"
"Masyarakat butuh tenagamu."
"Bidang Al bukan pertanian."
"Kerja di bidang pertanian kan tidak masalah."
"Jelas masalah. Al tidak tahu apa-apa. Jadi perlu belajar lagi."
"Memangnya kalau sudah jadi sarjana kamu berhenti belajar? Belajar itu sepanjang hayat. Banyak hal di dalam kehidupan yang perlu kita pahami."
"Pikirannya masih mentah, Oma. Belum punya tanggung jawab sih."
"Cah ayu ingin buru-buru dihalalkan?"
"Riri masih kuliah."
"Enam bulan lagi, kan?"
"Kalau nikah enam bulan lagi, dikasih makan apa istriku?" potong Al.
"Jangan takut tidak kebagian rejeki, cah bagus. Masing-masing ada rejekinya."
"Betul," sambar Riany. "Jangan takut tidak makan. Rejeki bukan kita yang ngatur."
"Jadi kamu ingin nikah buru-buru?"
"Enam bulan lagi kok buru-buru?"
"Aku harus kerja dulu."
"Uang yang kamu pegang tidak habis buat makan kalian. Nah, kalau kepingin kerja, kembangkan uang yang ada. Banyak potensi di kampung yang belum diberdayakan."
"Setuju! Ngapain bela-belain kerja di Yordan atau Turki?"
"Tidak bisa ya jauh-jauh dariku?"
"Sudah masuk Dhuha," kata Oma. "Kita shalat."
Oma memasukkan tasbih ke tas mungil. Dia mengobrol sambil berzikir.
Al tidak biasa berzikir ketika banyak orang terjaga. Dia lebih suka mendoakan agar zikir mereka diterima oleh Allah SWT.
Lin Wei pernah berseloroh. "Kalau malaikatnya mager, bisa pukul rata pahalanya, capek-capek menilai satu per satu."
Perlu kesabaran menghadapi orang yang tidak tahu. Apalagi orang itu bercita-cita jadi mualaf. Padahal agama bukan candaan.
Lin Wei laksana kalimah yang belum terhapus dari pikirannya, terbaca selalu. Maka itu Lin Wei masuk dalam doa Dhuhanya.
__ADS_1
Lin Wei sungguh-sungguh rela pindah keyakinan. Tapi sudikah cintanya?