Cinta Untuk Gadis Madinah

Cinta Untuk Gadis Madinah
Episode 74


__ADS_3

Sambil berjalan meninggalkan kebun jagung yang mulai berbuah, Riany melancarkan protes, "Aku tidak mau setelah berumah tangga ada yang disembunyikan di antara kita sampai hal yang sekecil-kecilnya."


"Kita kan belum berumah tangga," sahut Al enteng. "Jadi boleh dong aku tidak menceritakan sama kamu?"


Riany diam cemberut. Tentu saja tidak kelihatan karena terhalang oleh niqab, tapi Al tahu gadis itu marah.


"Tidak capek ngambek melulu?" sindir Al. "Kenapa sih setiap kali kita berbicara ujungnya selalu bikin sumpek hati?"


Riany menatap dengan tajam. "Jadi kamu sumpek sama aku?"


"Masa aku bersedia menikah denganmu kalau sumpek?"


"Jangan-jangan kamu terpaksa karena permintaan Ayah."


Al menoleh dengan kaget. "Kok sampai punya pikiran seperti itu?"


"Habis kamu tidak jujur."


"Katanya boleh aku tidak jujur sebelum menikah, bagaimana sih?"


"Memangnya seberapa penting informasi yang diberikan Mang Kirman sehingga aku tidak boleh tahu?"


"Informasi apa?"


"Mang Kirman menulis apa tadi di kebun jagung?"


"Tahu dari mana Mang Kirman menulis sesuatu?"


"Kakimu bergerak menghapusnya seolah aku tidak boleh tahu."


"Kamu lihat tidak aku menghapus sesuatu?"


Riany tidak melihat Al menghapus sebuah pesan atau petunjuk apapun, tapi buat apa kakinya mengusap tanah kalau tidak ada sesuatu?


"Jangan biasakan mencurigai kalau tidak mengetahui dengan persis," kata Al santai. "Masalah jadi melebar ke mana-mana."


"Alah, kamu juga sama!"


"Sama bagaimana?"


"Buktinya kamu mencurigai aku macam-macam sama Lukman!"


Al menatap Riany dengan serius. "Siapa yang mencurigai macam-macam? Memangnya aku pernah ngomong apa sama kamu?"


"Kamu agak berubah gara-gara diary itu."


Kalau Al mengalami sedikit perubahan, bukan karena diary itu. Dia belum siap untuk menikah secepat ini. Tapi dia tidak mau mengakui di depan Riany. Urusan jadi ribet. 


"Agak berubah bagaimana maksudmu?" tanya Al. "Perasaan aku masih tetap ganteng, tidak berubah jadi jelek atau jadi hantu? Kulit sedikit hitam karena kena panas matahari di Saudi."


"Tidak lucu!"


"Orang ganteng mana ada yang lucu? Lukman lucu tidak?"


Saat itu Ridwan dan Nidar tiba di belakang mereka, Al langsung komentar, "Nah, mereka ini baru lucu."


"Apa lagi datang-datang bilang aku lucu?" protes Nidar. "Kalian lagi ngomong apaan sih kelihatannya seru banget?"


"Riany bilang orang ganteng tidak lucu."


"Nah, kamu bilang aku lucu, berarti aku jelek dong?"


"Menurut calon istrimu bagaimana?"

__ADS_1


"Irma bilang aku ini ganteng."


"Benar dia bilang begitu?"


"Kata-kata Irma selalu menyenangkan hatiku."


"Calon istri harus begitu. Kalau baru calon ucapannya bikin enek, bagaimana sudah berumah tangga?"


Riany merasa tersindir. "Jadi aku bikin enek, begitu?"


Al angkat bahu sedikit. Dia malas melayani. Ujungnya pasti kembali ke pesan yang ditulis Mang Kirman di kebun jagung. Dia tidak mungkin menceritakan kepada Riany, gadis itu pasti mengacaukan rencananya.


Rasa cinta yang dipupuk sejak lama menimbulkan letupan kekuatiran yang kadang membuat Al risih. Apa rasa cinta itu tetap bertahan seandainya dia mengambil madu? Astaghfirullah! Belum apa-apa sudah terseret fantasi sunah!


Pulang ke rumah, Al mendapati ibunya mondar-mandir dengan gelisah di beranda. Pasti soal Fatimah, apa lagi? Kapan masalah itu berlalu!


"Ada yang hilang, Bu?" tanya Al bercanda. "Tidak capek mondar-mandir?"


"Ayah."


"Masa Ayah hilang?"


"Hilang setianya."


"Kok bisa?"


"Siang ini pergi sama Fatimah."


"Tidak berarti hilang setianya dong, Bu."


Bu Haikal langsung memasang wajah galak. "Jadi kamu dukung Ayah mengambil ibu baru?"


"Ibu lama lebih greget." Al tersenyum mencoba mencairkan wajah strong itu. "Lebih terasa sensasinya."


"Bukan Ibu saja yang menyusul?"


"Anak-anak Ibu kan sudah gede."


"Ayah pergi sama pengurus masjid."


"Kata siapa?"


"Al lihat sendiri."


"Kok kamu diam-diam saja?"


"Ini ngomong."


"Kenapa baru bilang sekarang?"


"Perginya barusan."


"Terus Fatimah ngapain diajak?"


"Kan ngurus harta almarhum."


"Kurang kerjaan apa?"


"Almarhum ngasih amanahnya ke Ayah."


"Terus ngasih Fatimah juga?"


Susah, pikir Al kecut. Kalau cemburu sudah menguasai hati, setiap jawaban pasti dicurigai.

__ADS_1


Peningkatan taraf hidup di kampung ini bukan membuat rumah tangga tenteram dan damai, tapi membuat setiap suami dicurigai. Barusan Al lewat rumah sebelah, pakaian beterbangan gara-gara sang suami sudah dua hari baru pulang, padahal pergi bisnis.


Lagi Ayah seperti sengaja. Sudah tahu Ibu orangnya cemburuan, malah pergi diam-diam.


"Buat apa pamit?" balik ayahnya ketika mereka bertemu di masjid. "Ibumu lebih percaya si Parman."


"Boleh tanya?"


"Soal apa?"


"Soal laki-laki."


"Apa itu?"


"Ayah ada hubungan sama Ustadzah Fatimah?"


"Ada."


Fatimah yang berdiri di dekatnya kaget, sebaliknya Al tersenyum sedikit.


"Kalau begitu lobi Ibu, jangan lobi anaknya. Al tidak mau sejarah Oma terulang. Cari ikhlas sampai ke Tanah Suci dan berujung kematian."


"Ngomong apa kamu ini?"


"Sekalipun tidak perlu minta ijin seorang istri, Ayah perlu melihat Ibu. Jangan sampai ini jadi contoh yang patut diteladani bagi anak Ayah."


"Ayah ada hubungan sama Ustadzah Fatimah soal harta gono-gini almarhum, hanya itu. Contoh apa maksud kamu?"


Al hampir tersedak. "Benar cuma soal harta gono-gini? Bukan soal lain?"


"Soal lain apa? Kalau Ayah tidak pernah pamit, karena ibumu selalu curiga. Nah, biar saja dia cari tahu sendiri kalau suaminya itu kayak apa di luar."


"Lagi pula bulan depan aku pulang ke Gaza," kata Fatimah. "Jadi relawan."


Al menatapnya dengan kaget. "Kau pulang ke Palestina karena ustadz sudah tiada?"


"Panggilan jiwa."


Panggilan jiwa atau merasa tidak punya peluang jadi istri kedua Ayah? Pikir Al hambar. Tidak ada alasan bagi ayahnya untuk mengambil madu, selain segelintir syahwat ingin mendapatkan perempuan yang lebih segar.


"Hari ini insya Allah transaksi jual belinya deal," ujar Pak Haikal. "Ustadzah Fatimah merasa keberadaannya di kampung ini hanya mengundang fitnah dan bikin dosa berjamaah."


Al tidak percaya kalau kedekatan mereka tidak memantik perasaan cinta. Pasti ada. Cuma terbungkus rapi dalam iman mereka.


"Jangan tiadakan sesuatu yang seharusnya ada, dan jangan adakan sesuatu yang semestinya tiada. Itu saja pesan Al selaku anak."


Dia berharap Ayah dapat menyelesaikan cinta segi tiganya baik-baik, tanpa ada yang terluka. Dalam waktu sebulan itu segalanya bisa terjadi.


Al ingin melupakan dulu masalah yang terjadi di dalam keluarganya. Ada persoalan penting yang harus diselesaikan malam ini. Petunjuk Mang Kirman di kebun jagung menyisakan tanda tanya besar.


Al bersama Nidar dan Ridwan berkumpul di gudang pesantren membahas soal itu. Mereka tidak ingin orang pesantren tahu.


"Petunjuk itu menggambarkan Mang Kirman mata-matanya Ben Muzakir," kata Nidar. "Akhir-akhir ini santer terdengar Ben Muzakir ingin mengadakan pertarungan denganmu."


"Bisa saja Mang Kirman mata-matanya rampok," sanggah Ridwan. "Mereka ingin balas dendam karena lima kawannya kalian bunuh."


Al dan Nidar kaget. Dari mana Ridwan tahu? Masalah itu hanya mereka yang tahu.


Ridwan tersenyum pahit melihat reaksi mereka. "Polisi cerita. Maka itu aku menunggu kalian pulang. Aku ingin bebas dengan nikmat kalau bisa membuktikan orang yang tewas itu adalah perampok."


"Maka itu aku terima tantangan ini," tukas Al. "Tidak peduli Ben Muzakir atau kawanan rampok yang ingin balas dendam, aku akan datang ke tempat pertemuan."


Mereka sepakat untuk membuat kejutan, mendahului mendatangi tempat pertemuan sekalian memancing kawanan rampok keluar dari pesantren.

__ADS_1


__ADS_2