Cinta Untuk Gadis Madinah

Cinta Untuk Gadis Madinah
Episode 122


__ADS_3

Al tersenyum kecut. "Nama itu yang ada di pikiranmu?"


Padahal Al tidak menjurus ke satu nama. Perubahan sikap Aisyah bisa dipengaruhi oleh banyak hal, meski Ryan yang paling mungkin.


Aisyah balik bertanya, "Lalu siapa? Aku tidak punya banyak teman di fakultas."


Aisyah sangat selektif dalam memilih teman. Dia merasa dirinya bukan perempuan hebat yang dapat mengatasi keadaan, maka dia bergaul dengan orang yang memiliki kehidupan teratur.


"Jadi karena Ryan sikapmu berubah sama aku?" tanya Al memastikan.


Alangkah naif jika Aisyah merubah perlakuan karena ada Ryan hadir dalam hidupnya. Mereka tidak pernah melakukan sesuatu yang membuat dia pantas menjaga jarak.


"Kok kamu jadi maksa begitu sih?" balik Aisyah dengan wajah ditekuk.


"Aku nggak maksa," jawab Al sabar. "Kalau kamu keberatan untuk menjelaskan, ya sudah, nggak usah sewot."


Barangkali alasannya sangat pribadi sehingga Aisyah tidak mau memberi tahunya. Padahal kapan dia bersikap tertutup begitu padanya? Dia pasti curhat untuk perkara sekecil apapun. Tidak ada istilah sangat pribadi.


Al jadi kehabisan ide untuk ngobrol. Aisyah biasanya aktif bercerita. Dia selalu ada bahan untuk dibicarakan. Al kebanyakan cuma menanggapi.


Padahal Ryan adalah sosok yang perlu mereka bahas. Al ingin tahu bagaimana perasaan Aisyah yang sesungguhnya pada pemuda itu. Jika menaruh hati, maka dia akan mundur dan tidak mengganggunya.


Al pikir bukan dosa tidak melaksanakan wasiat Oma. Permintaan terakhirnya bukan hal mutlak untuk dikabulkan kalau Aisyah keberatan. Jadi wasiat Oma bukan persoalan besar baginya.


Suasana yang kurang nyaman membuat Al tenggelam dalam penjelajahan internet. Dia sibuk mengunduh beberapa materi yang sesuai dengan judul skripsinya.


"Gadget lebih menarik dari aku ya?" tegur Aisyah halus. "Sejak kapan kau sibuk dengan ponsel kalau ada aku di dekatmu?"


Al menjawab dengan cuek, "Sejak kamu tertutup sama aku."


"Aku harus tertutup sama kamu karena bukan muhrim." Aisyah mencoba mencairkan suasana dengan candanya. "Nah, Riany baru harus terbuka. Bagaimana kamu melewati malam pengantin kalau istrimu tidak terbuka?"


Candanya gagal memancing Al. Dia menjawab dengan ketus, "Gak lucu."


"Raditya Dika kalah dong kalau aku lucu."


Aisyah jadi menjengkelkan kalau dilayani, gerutu Al dalam hati. Mendingan dia memanfaatkan waktu untuk meneruskan download bahan presentasi.


Padahal dulu Aisyah sangat menyenangkan. Kata-katanya terjaga dan tidak pernah bikin kesal. Barangkali karena mood Al lagi jelek, sehingga apa yang dikatakannya jadi sangat menyebalkan.


"Baru satu pertanyaan saja nggak dijawab sudah ngambek," komentar Aisyah kalem. "Aku sudah berapa pertanyaan nggak dijawab, aku nggak ngambek."

__ADS_1


Al balik bertanya dengan santai, "Yang marah itu siapa? Aku lagi sibuk download."


"Aku kenal kamu bukan sehari dua hari, aku tahu kamu lagi marah."


"Ya terus kenapa nggak kamu jawab kalau tahu aku marah?"


"Kamu juga nggak jawab pertanyaan aku, padahal jawabannya sangat penting buat aku."


"Aku nggak ingat pertanyaannya apa," kata Al pura-pura lupa. "Pertanyaan kamu banyak yang tidak perlu dijawab, nggak berbobot soalnya."


Padahal Al tahu persis pertanyaan mana yang sangat ditunggu jawabannya oleh Aisyah; pertanyaan yang dia sendiri masih mencari jawabannya sampai detik ini.


"Kamu pasti lupa, karena pertanyaan aku dianggap tidak penting," ujar Aisyah sebal. "Perlu aku ulang pertanyaannya?"


"Gak usah. Aku sudah bilang pertanyaannya nggak berbobot."


"Terus pertanyaan berbobot yang kayak apa? Pertanyaan yang kayak kamu itu? Jujur saja, kita sama-sama nggak bisa jawab. Jadi biarkan saja pertanyaan itu menggantung. Biarkan takdir yang menjawab."


Takdir adalah harapan terakhir dari semua kebingungan yang terjadi. Mereka tidak siap untuk menanggung risiko kalau coba-coba mencari jawaban sendiri.


"Aku bisa jawab kalau pertanyaannya berbobot," kilah Al. "Pertanyaan kamu membuat aku jadi kelihatan bodoh."


"Cinta sama kamu?" Al melanjutkan kata-kata Aisyah yang menggantung. "Nah, itu bukti pertanyaan kamu tidak bermutu. Cinta dan cemburu tidak ada hubungannya. Cinta adalah perasaan positif dan cemburu adalah perasaan negatif. Bagaimana bisa perasaan negatif jadi tanda perasaan positif? Kamu termakan oleh teori banyak orang, teori abstrak."


"Banyak ngeles."


Riany, Wulandari, dan Lin Wei keluar dari dalam galeri. Riany tampak kerepotan membawa kantong belanjaan, sebagian dibawa oleh kedua gadis itu.


Al membuka pintu mobil, gerakannya terhenti saat Aisyah berkata, "Kamu pikir aku nggak cemburu melihatmu memanjakan istrimu? Membawakan kantong belanjaan, membukakan pintu mobil, mengeringkan wajah yang berkeringat, mengelap sisa makanan di bibir. Semua kamu pertontonkan di depan perempuan yang kamu harapkan jadi istri kedua. Bagaimana aku memilihmu?"


Sebuah komentar yang tidak perlu diucapkan sebenarnya. Seorang suami wajar memperlakukan istri secara istimewa, apalagi pengantin baru, dan itu bukan bentuk kekalahan; suami takut istri.


"Jadi kamu balas dendam dengan bersikap manis pada Ryan?"


Aisyah tersenyum kecil. "Tidak ada rasa dendam untukmu. Apa yang sudah kita lewati bersama tidak hilang oleh kehadiran Ryan. Dia ada dalam kehidupanku setelah aku lama kenal denganmu."


"Aku juga akan memanjakan kamu kalau jadi istriku."


Al keluar dari dalam mobil untuk menyambut Riany yang kerepotan membawa kantong belanjaan. Tapi dia masih mendengar kata-kata Aisyah:


"Aku tidak mau jadi istri kedua tanpa cinta, aku lebih baik memilih Ryan."

__ADS_1


Al barangkali harus melepasnya kalau Aisyah berharap cinta darinya. Dia tidak bisa pura-pura mencintainya, karena cinta tidak datang secara tiba-tiba.


Cinta pada pandangan pertama adalah cerita klasik yang tidak pernah terjadi padanya, karena dia tidak pernah memandang perempuan yang belum halal dengan hasrat.


Cinta adalah hasrat.


Tapi Al mengakui kalau berpisah cukup lama dengan Aisyah ada rasa rindu di hatinya, dan rindu konon bagian dari cinta. Dia tidak percaya, karena dia juga punya rasa rindu pada keluarganya.


Jadi rindu berarti untuk semua cinta.


Rindunya pada Aisyah sama seperti rasa rindu pada orang tuanya, sekedar ingin bertemu. Rindu sama pacar, rasanya yang bagaimana?


Al tidak pengalaman untuk urusan cinta, karena tidak pernah pacaran.


Yang jelas, Al akan berusaha mencukupi kebutuhan lahir dan batin apabila Aisyah jadi istrinya.


Al baru tahu ada rasa cinta pada Riany setelah melewati hari-hari dengan kemesraan. Dia jadi makin sayang padanya.


"Yang ini biar aku, beb," kata Riany ketika Al akan mengambil sisa kantong belanjaan di tangannya.


"Kamu belanja batik banyak betul," komentar Al. "Mau jualan?"


"Buat pengurus masjid," jawab Riany. '"Buat pegawai koperasi juga."


"Buat keluarga nggak beli?"


"Masa buat orang lain beli, buat keluarga nggak sih, beb?"


"Kirain."


Al berjalan ke belakang mobil, kemudian membuka bagasi dan menaruh kantong belanjaan di bagasi. Hampir tidak muat.


"Untuk pakaian sudah cukup," kata Riany. "Tinggal cari makanan khas Yogya, sekalian Lin Wei cari buku nanti."


"Kau mau ngisi mobil sama oleh-oleh?" tanya Al. "Terus kalian duduk di mana?"


"Jangan banyak-banyak belinya."


Al sering sekali mendengar ucapan itu setiap kali istrinya belanja. Dia membiarkan saja karena barang yang dibelinya tidak pernah mubazir.


Istrinya belanja sesuai kebutuhan, bukan sesuai keinginan, meski kebutuhan orang lain.

__ADS_1


__ADS_2