
Bu Haikal datang ke kamar perawatan dan menegur puteranya, "Kamu ini kenapa sih ingin pulang cepat-cepat? Ikuti saran dokter."
"Sarannya tidak masuk akal," jawab Al. "Padahal hasil pemeriksaan medis masuk akal, aku sudah dinyatakan sehat."
"Saran tidak perlu masuk akal, apalagi akalmu akal pertambangan, bukan akal kesehatan."
"Terus aku ngapain di rumah sakit? Main ular tangga sama suster?"
"Cuma nunggu sehari apa susahnya sih?"
Al heran dengan pihak rumah sakit, tidak mungkin mereka mencari untung dari sewa kamar. Kelas satu di kota kecil ini tidak mahal. Lagi pula, izin mereka adalah sosial, bukan bisnis. Dia sudah sehat. Tidak ada lagi penanganan medis. Lalu apa yang membuat dokter belum mengijinkan untuk pulang?
Dia curiga keputusan ini dipengaruhi oleh Ibu. Menjauhkan Ayah dari Fatimah adalah motif utama. Janda muda itu sudah tidak aktif di masjid kampung, tapi apa bedanya?
Ayah sering keluar masuk pesantren sejak Al menikah dengan Riany. Entah untuk bertemu dengan menantu atau incarannya ada di masjid pesantren. Herannya, selalu ada jalan untuk Ayah dan Fatimah bertemu. Apa karena takdir?
Al curiga delay kepulangannya jadi modus karena Ibu kelihatan bahagia tinggal di hotel. Hari-hari pertama penuh dengan air mata karena Al stadium koma. Hari-hari berikutnya Ibu seperti lupa kalau datang ke kota kecil ini karena anaknya tertimpa musibah. Kasihan Ayah harus bolak-balik menempuh jarak yang lumayan jauh.
"Sus...," panggil Al sambil menghampiri suster yang baru selesai memeriksa pasien di tempat tidur sebelah. "Aku ingin tanya, dan pertanyaan ini bisa panjang urusannya."
Suster memandangnya dengan tidak senang. "Anda mengancam saya?"
"Saya tidak mengancam kalau anda jawab dengan jujur."
"Anda ingin tanya apa?"
"Saya sudah dinyatakan sehat secara medis, kenapa harus nunggu sampai besok untuk pulang? Apa ini permintaan ibu saya?"
Suster tersenyum lembut. "Memang ada permintaan seperti itu dari ibu anda dan kami tidak masalah. Apakah anda ada masalah?"
"Tidak, sekedar ingin tahu."
Malam Minggu ada pengajian akbar di pesantren. Ada media untuk Ayah dan Fatimah bertemu. Barangkali untuk menutup peluang itu, Ibu ingin anaknya bertahan satu hari. Jadi Ayah terpaksa week end di hotel bersama istrinya.
Al jadi mati gaya tinggal di kamar perawatan. Berselancar di dunia maya, gadget dan laptop touch screen ada di kantor polisi untuk barang bukti. Mengerjakan pengajuan judul skripsi, laptop jadul ditinggal di asrama.
"Kamu begitu ya kalau marah sama cewek?" sindir Riany sambil rebahan bersama suaminya di tempat tidur. "Ingin menghindar jauh-jauh, padahal di kampus pasti ketemu lagi."
__ADS_1
Al menoleh tanpa semangat, sinar matanya redup kehilangan gairah. "Kamu ngomong apa sih?"
Riany merengut manja. "Kamu tertutup setelah jadi suami. Tidak mau terus terang."
"Terus terang soal apa?" pandang Al bingung.
Riany balas menatap dengan sinar mata lembut tapi menusuk. "Apa yang ada di pikiranmu saat ini?"
"Ingin buru-buru keluar dari rumah sakit."
"Bukan Aisyah?"
Al menatap istrinya lamat-lamat, sinar matanya makin gelap mendengar nama itu kembali muncul. "Aku ingin kamu jujur padaku."
"Soal Aisyah?"
Al sebenarnya tidak ingin membicarakan perempuan lain saat bersama istrinya. Dia ingin membahas rumah tangga mereka yang belum ada gambaran ke depannya. Ibarat berlayar, mereka belum punya tujuan untuk pergi ke pulau mana.
Al menatap lurus istrinya, matanya menguncup dan sangat berharap nama itu tidak disebut dalam sisa hari di rumah sakit. "Apa nama itu tidak bisa pergi dari hatimu? Akan lebih baik kalau kamu melupakan nama itu. Kamu tidak capek tiap hari curiga dan cemburu?"
Riany seakan tidak membaca harapan yang terpendam dalam sinar mata suaminya, "Kapan kamu berhenti menganggap istrimu curiga dan cemburu?"
Al terkesan dengan keluhuran budi pekerti istrinya manakala bersedia memberi support pada ketiga temannya yang tertimpa musibah. Tidak mudah menyingsingkan rasa untuk perempuan yang terang-terangan ingin jadi madu.
"Tinggal jawab ya atau tidak saja pakai mikir segala," gerutu Riany. "Sejak diusir Aisyah kamu mendadak jadi filosof, banyak mikir."
Al menghela nafas dengan halus, cukup banyak kekurangan istrinya yang perlu dimaklumi. "Kamu banyak pertanyaan, jadi aku bingung jawab yang mana dulu."
"Aku cuma ngasih dua pertanyaan."
"Hari ini."
"Hari sebelumnya aku nanya apa?"
"Jadi lupa kan saking banyaknya pertanyaan. Kemarin kamu bertanya bagaimana perasaanku sama Wulandari dan Lin Wei. Dua hari yang lalu kamu bertanya, apakah aku tetap akan mengambil madu kalau kamu tidak memberi ijin. Nah, satu saja madunya belum kuambil. Bagaimana aku menjawabnya?"
Riany hanya mendengarkan omongannya sepintas lalu. "Ngelesnya kepanjangan."
__ADS_1
"Kamu ingin pertanyaan mana dulu yang dijawab?"
"Semuanya!" kata Riany tegas.
Al mencoba menempatkan istrinya sebagai perkara yang terpenting, bukan sekedar kebanggaan atau simbol ratu rumah tangga. "Satu saja susah untuk dijawab. Tahu kenapa? Ada perempuan halal tidur tiap malam di sampingku membuat otakku tidak bisa berpikir."
Riany menoleh dengan acuh tak acuh, seolah tidak tersanjung dengan kata-kata suaminya. "Aku tahu yang ada di otakmu saat ini bukan perempuan halal."
Sekali lagi Al harus mengakui kecurigaan Riany selalu tepat kalau urusan Aisyah. Dia ingin segera pergi ke Yogya untuk bertemu dengan Wulandari dan Lin Wei, apakah ada sesuatu yang diceritakan tentang kejadian di dua kota suci. Kemarahan Aisyah mengandung banyak makna.
Hari-hari ini Al tidak ingin bertemu dengannya, hingga suasana hatinya sedikit membaik. Dia tidak mau muncul pada saat tidak diharapkan kedatangannya.
"Apakah hal itu tidak wajar?" tanya Al. "Untuk apa perempuan halal ada di otakku sementara aku memilikinya di alam nyata? Perempuan tidak halal ada di otakku bukan untuk dihalalkan, aku sedikit merasa bersalah karena aku yang mengemudi saat itu."
"Lalu kamu ingin bertanggung jawab?"
Al tidak mau terjebak, dia balik bertanya, "Tanggung jawab seperti apa yang ada di pikiranmu?"
"Memangnya apa yang ada di pikiranku beda dengan apa yang ada di pikiranmu?"
"Di kepalaku saat ini tidak ada Aisyah. Jadi aku tidak memikirkan soal tanggung jawab. Di kepalaku cuma ada satu pertanyaan."
"Apa itu?"
"Aisyah mengusirku, kenapa dia menerima kehadiranmu?"
"Dia butuh makan. Abi dan neneknya tidak tahu tentang situasi di kota kecil ini. Dia tidak suka makanan dari rumah sakit."
"Lalu apa yang kalian bicarakan?"
"Aku hanya menunggu dia makan dan membereskan bekas makannya. Aku hanya mendengarkan apa yang dia katakan. Kamu berharap dia bercerita tentang dirimu?"
"Cerita tentang apa maksudnya, sementara kamu adalah istriku?"
"Kamu banyak menyanjungku hari ini, apa mau ngajak kabur dari rumah sakit?"
"Bagaimana aku bisa berhenti dengan anggapanku kalau kau berkata seperti itu? Kapan curigamu berakhir?"
__ADS_1
"Curiga dan cemburu tidak akan habis di hatiku."