Cinta Untuk Gadis Madinah

Cinta Untuk Gadis Madinah
Episode 107


__ADS_3

Al bertanya, "Maksudnya apa ya?"


"Kok tanya maksudnya apa?" Riany tersenyum manis. "Maksudnya jelas, aku mengurus rumah pemberian Ayah, Aisyah mengurus rumah warisan Oma, Wulandari mengurus rumah masa lalu di Yogya, Lin Wei mengurus rumah di kompleks mewah itu."


Al memandang tak mengerti, "Kenapa harus begitu? Kau tahu risikonya apa?"


Riany terlalu berani bermain api. Memberi kepercayaan pada mereka untuk mengurus rumah sama artinya memberi peluang pada mereka untuk masuk ke dalam kehidupannya.


Al makin hari makin bingung dengan sikap istrinya. Dia begitu posesif sebelum tragedi itu terjadi. Tidak memberi celah sedikitpun untuk perempuan lain masuk. Mengapa sekarang membuka pintu lebar-lebar?


Kepercayaan diri Riany yang tinggi karena suaminya tidak mungkin berbagi, atau ada sesuatu yang disembunyikan darinya?


"Risikonya cintamu dibagi empat," kata Riany tanpa beban, seolah cinta adalah hitung-hitungan matematika. "Dan semua terserah padamu."


Riany tidak tahu kalau dia bisa kehilangan suaminya!


Dia membuka pintu lebar-lebar karena sangat yakin kalau Aisyah tidak mungkin menerima dirinya, sehingga pintu masuk untuk Wulandari dan Lin Wei secara otomatis tertutup.


Aisyah pasti tidak sudi jadi istri kedua karena tahu Al hanya berbekal kasihan melihat kakinya yang lumpuh.


Hubungan yang muncul bukan hubungan suami istri, tapi petugas panti dengan penderita cacat!


Maka itu Riany berani meminta mereka untuk mendiami rumah.


Padahal Al sangat mampu untuk mengumpulkan empat perempuan, dan perempuan itu tidak harus mereka.


Adiknya saja mampu ganti-ganti pasangan! Bukan gadis kaleng-kaleng! Bintang sinetron!


Dengan harta satu triliun, apa yang tidak mungkin bagi Al?


Riany sudah memojokkan dirinya pada situasi yang sangat berbahaya!


"Aku tidak bisa menahan laki-laki yang memiliki kemampuan untuk berbagi," kata Riany. "Aku bisa kehilangan dirimu."


"Kau pikir cintaku matematika? Dibagi, dikurang, ditambah?"


"Aku pesimis Aisyah akan sembuh kalau melihat diagnosa tim medis." Wajah Riany sedikit berawan, seakan dia sendiri yang merasakan kepahitan hidupnya. "Dia kemungkinan besar akan cacat seumur hidup."


"Doanya jelek bener."


"Situasi yang ada seperti itu, beb. Berobat ke Tokyo hanya untuk mengukuhkan vonis yang sudah ditetapkan."

__ADS_1


"Aku optimis ada peluang bagi Aisyah untuk sembuh. Aku akan membawa dia ke rumah sakit terbaik dunia."


"Aku sangat berharap Aisyah sembuh. Tapi bagaimana kalau tidak? Kamu pikir ada laki-laki yang sudi merawatnya seumur hidup?"


"Aku akan merawatnya seumur hidup."


"Kau yakin Aisyah mau? Dia cuma butuh suster kalau untuk merawat!"


Al perlu memikirkan juga kemungkinan terburuk. Bagaimana jika dia membawa Aisyah berobat ke rumah sakit di berbagai penjuru dunia, tapi hasilnya sama?


Bagaimana pula cara dia membawa Aisyah pergi berobat ke luar negeri kalau tidak ada stempel halal di antara mereka? Pasti merepotkan banyak orang!


"Aku perempuan, beb," desis Riany dengan air mata mulai meleleh. "Aku dapat merasakan, bagaimana perempuan yang demikian sempurna seperti Aisyah dan jadi pilihan pertama laki-laki, sampai tidak ada seorangpun laki-laki yang melirik karena kakinya lumpuh? Terpukul banget pasti."


Hanya kekuatan iman yang dapat mengembalikan lembaran harinya seperti sediakala. Al percaya Aisyah mampu mengembalikan kepercayaan diri dengan cahaya iman.


Dia tidak akan terjerumus pada situasi yang menyangsikan akan kasih sayang Al Mutakabbir.


Untuk menempuh jalan itu, Aisyah perlu lentera. Apakah cukup dengan berbekal belas kasihan?


"Aku tidak mau dimadu sama seperti perempuan lain," ujar Riany tertekan. "Setianya pada takdir sangat menawan hatiku. Dia tidak mau merebutmu dariku, padahal dia bisa. Dia melewatkan kesempatan itu karena bukan tujuannya. Dia ingin berbagi."


"Saat kau membuka pintu untuk Aisyah, maka Aisyah akan membuka pintu untuk Wulandari dan Lin Wei. Itu yang kau inginkan?"


Al tersenyum pahit. "Perjalanan hidup sungguh sulit diterka, maka itu kita harus selalu mencharger iman kita agar tidak lowbat. Musibah itu tidak perlu terjadi seandainya kau mengeluarkan keputusan ini lebih awal. Tapi itulah takdir."


"Aku tidak mau mengingat masa lalu, karena aku akan kehilangan banyak waktu untuk masa depan."


"Tapi kamu harus mengingat pintu gerbang rumahmu. Hampir kelewat."


Riany mengurangi kecepatan mobil secara tajam, dan tidak terasa karena suspensinya sangat enak. Kemudian mobil mundur sedikit dan membunyikan klakson.


Seorang pria separuh baya berseragam security membuka pintu gerbang. Mobil masuk ke halaman. Kemudian dia bergegas mendatangi mobil dan membukakan pintu untuk mereka.


"Di bagasi banyak belanjaan," kata Riany. "Tolong bawa ke dalam ya, Pak."


"Siap, Nyonya."


Mereka masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke kamar. Riany melepas hijab dan menaruhnya di stand hanger.


Al duduk di sisi tempat tidur membaca chat yang masuk. Riany duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Chat dari siapa?" tanya Riany. "Komisi review skripsi? Bagaimana? Poin berapa yang diterima?"


"Tidak secepat itu, beb. Dua hari lagi aku dapat kabar," jawab Al. "Chat ini dari Lin Wei dan Wulandari. Mereka ngasih tahu kalau Aisyah sudah tiba di apartemennya. Mereka menanyakan kapan aku datang?"


"Aku bilang malam nanti," kata Riany. "Siang ini kamu pengen ngasih Aisyah istirahat."


Al heran, dari mana istrinya tahu? Masa handphone suami disadap? Astaghfirullah! Dia sekarang jadi ketularan! Banyak curiga!


"Mereka juga ngasih tahu kamu?" tanya Al.


Riany tersenyum. "Aku nyuruh mereka untuk ngasih tahu kamu. Jangan cuma aku yang dikasih tahu."


"Setiap ada kejadian mereka ngasih tahu kamu?"


"Lin Wei bikin grup WhatsApp pas kita married. Anggotanya khusus empat cewek manis."


Al terpana sesaat. Istrinya sudah terpancing untuk masuk perangkap mereka. Dia barangkali ingin tahu kegiatan apa saja yang dilakukan suaminya di Yogya, namun mereka jadi tahu apa yang dilakukan suaminya saat lagi bersamanya.


Suatu saat, Riany secara tidak sadar akan terbawa pada kondisi dimana dia tidak bisa mengelak untuk berbagi!


Dia sudah memberi toleransi pada Aisyah untuk masuk ke dalam kehidupannya karena tragedi itu. Apakah dia tidak berpikir akan ada kejadian lain yang membuatnya terpojok untuk menerima kehadiran Wulandari, kemudian Lin Wei?


Kejadian lain itu tidak hanya berupa musibah!


"Jadi Lin Wei punya ide bikin grup WA, terus kamu dukung?" tatap Al tidak percaya. Dia bingung dengan jalan pikiran istrinya. Riany tahu kalau Lin Wei sudah mengincar posisi keempat!


"Idenya dari aku," kata Riany. "Mereka lantas mendukung seratus persen."


Al terkejut. Apa maksud Riany dari semua ini? Membuat grup WA adalah kesempatan yang mereka tunggu! Barangkali dia ingin mengukuhkan kalau Al sudah jadi suaminya, dengan mengirim gambar-gambar mereka berdua, tapi kondisi ini jadi bumerang di kemudian hari!


Atau Riany ingin menunjukkan pada dunia kalau mereka berempat bisa akur? Dan mereka bukan perempuan bodoh!


"Jangan berpikiran macam-macam ya," tegur Riany melihat Al merenung panjang. "Bikin grup WA antar cewek kece itu biasa. Kita kan pengen eksis di medsos."


"Jadi ajang curhat begitu?"


"Salah satunya."


"Terus kenapa kamu nggak bilang kalau aku baru sempat datang ke rumah Aisyah malam nanti karena siang ini mau ngambil bonus tak terbatas?"


"Aku mau bilang begitu, tapi takut suamiku marah. Rahasia rumah tangga dibuka di medsos. Atau ngambil bonusnya malam saja? Siang ini kita ke rumah Aisyah?"

__ADS_1


Al cuma bisa geleng kepala. Rasa curiga dan cemburu istrinya sudah menciptakan situasi kritis dan rumit bagi diri sendiri!


Tanpa Riany sadari....


__ADS_2