
Santri-santri junior masih tekun berlatih cara melumpuhkan lawan tanpa mencederai. Mereka terbagi dalam dua kelompok, kelompok perempuan dan laki-laki, dengan guru santri dan santriwati senior.
Al dan Aisyah belum beranjak dari bangku outdoor menyaksikan santri berlatih. Mereka tersenyum ketika seorang santri terbanting cukup keras dan meringis kesakitan.
"Terlalu bersemangat gurunya," komentar Aisyah. "Atau gurunya jengkel karena santri itu dari tadi tidak serius latihan."
"Tidak semua santri dapat mengikuti latihan dengan baik," kata Al. "Hukuman terselubung seperti itu sering aku lakukan kalau ada mahasiswa junior yang bercanda dalam latihan."
"Santri senior itu kayaknya ingin unjuk kemampuan di hadapan guru besarnya."
"Siapa guru besarnya?"
Aisyah tersenyum manis. "Yang duduk di sampingku. Sebentar lagi akan jadi imam dari puteri bungsu pemilik pesantren ini."
"Kamu tahu apa tujuan Riany mengundang liburan ke rumahnya?"
"Dia ingin aku dan Lukman kenal lebih dekat karena tidak rela berbagi."
"Riany sendiri bilang?"
"Ya."
"Lalu?"
"Aku ikuti keinginannya, walau sebenarnya aku tidak perlu kerelaan dia untuk jadi istrimu."
Al menatap separuh tak percaya. "Kamu bersikukuh ingin jadi istri kedua sekalipun Riany tidak rela?"
"Dia pasti lebih taat pada Nabi meski hatinya berontak."
Lalu aku harus taat pada siapa? Tanya Al dalam hati. Pada cinta atau pada Nabi?
Al tidak peduli dengan cibiran orang kalau kemudian mengambil madu. Hanya betulkah niatnya karena taat pada Nabi? Dia sendiri sangsi.
"Lukman lebih ganteng dariku," kata Al. "Kamu tidak ingin mencoba pedekate dengannya?"
"Bukan karena fisik aku tertarik pada laki-laki."
"Lalu?"
"Karena cinta, dan cintaku sudah tertambat padamu."
Cintamu tertambat pada dermaga yang salah, pikir Al kecut. Dermaga itu hanya menyediakan tempat untuk satu perahu karena takut akan ancaman siksa di baliknya.
"Tidak segampang membalikkan telapak tangan," kata Al tawar. "Karena aku percaya dengan kehidupan abadi di akhirat yang merupakan buah dari kehidupan di dunia."
"Aku akan selalu memaafkan setiap perlakuan tidak adil yang diterima sehingga kamu terbebas dari azab."
Al tersenyum samar. "Hidup ini lucu ya. Satu saja aku belum punya, sudah ada yang berharap jadi yang kedua."
"Minggu ini kamu akan punya, dan aku tidak berharap minggu depan jadi yang kedua."
"Edan kali kalau dalam satu bulan aku memiliki dua."
"Jangan kata satu bulan, dalam satu hari memiliki dua saja ada di kampungmu."
"Nidar ngasih tahu?"
"Kok tahu?"
"Riany tidak mungkin memberi tahu sesuatu yang ingin dihindarinya. Sehari dua itu karena kecelakaan."
"Aku tidak ingin membahas motifnya, urusan masing-masing. Tugas kita hanya menyampaikan, jangan sampai kecelakaan itu terjadi karena mereka tidak tahu bahwa perbuatan itu adalah terlarang, kita kena getahnya di akhirat nanti."
"Empat puluh rumah mendapat sial kalau terjadi perbuatan itu."
"Kita tidak membiarkan, kita sudah mengingatkan. Ketika masih terjadi juga, berarti mereka siap bertanggung jawab di hadapan Sang Pembuat Aturan. Urusan kita selesai selaku umat."
__ADS_1
"Aku kadang ragu apa kita sudah menyampaikan dengan benar. Ada aturan dunia yang membuat kita terikat, sehingga penyampaian itu kadang jadi bias, apalagi di balik itu ada misi lain."
"Misi lain apa?"
"Yang tidak sesuai dengan hakekat dari tujuan syiar, dan aku tidak perlu kasih contoh tentang penyimpangan itu. Kamu lebih pintar untuk mencari sendiri."
"Lagi pula aku tidak ingin membahas itu. Aku hanya ingin memberi gambaran bahwa pernikahan satu sampai empat itu bukan karena waktu, karena adanya keinginan lelaki untuk berbagi."
Riany muncul dengan wajah ceria. Al lihat tidak ada cemburu di matanya. Apa karena sudah merasa memiliki dengan adanya rencana pernikahan itu?
"Kamu tidak menggoda calon imamku kan?" canda Riany.
Aisyah tersenyum renyah. "Kamu lihat ada bekasnya tidak?"
"Menonton latihan bela diri bisa dilanjutkan nanti," kata Riany. "Waktunya makan malam."
Mereka bangkit meninggalkan bangku outdoor dan masuk ke pintu utama.
Keluarga Riany sudah menunggu di meja makan ketika mereka tiba. Mereka duduk mengelilingi meja.
Tidak ada topik tertentu yang dibicarakan selama bersantap malam karena mereka tidak suka makan sambil mengobrol.
Abi Hamzah hanya bertanya sekali kepada Ahmed, "Bagaimana persiapan akad nikah adikmu?"
"Tinggal menunggu harinya," jawab Ahmed. "Semua sudah beres."
"Alhamdulillah. Semoga berjalan lancar sekalipun diselenggarakan secara mendadak."
"Aamiin," ujar mereka serempak.
Selesai menyantap hidangan penutup, Umi Hamzah meminta Al dan Riany untuk tetap di meja makan.
Wanita berhijab biru muda itu memberi nasehat kepada puterinya, "Saran Umi kamu menunda kehamilan. Berat mengandung sambil menuntut ilmu."
"Itu sudah aku bicarakan sama calon suamiku."
"Tidak."
"Alhamdulillah."
Umi Hamzah lalu memberi tahu bagaimana cara menunda kehamilan yang sesuai syar'i, yang sebenarnya bukan perkara baru buat mereka, salah satunya azlu, mengeluarkan air mani di luar organ intim istri.
Sifat iseng Al muncul, dia bertanya, "Bagaimana caranya saya tahu kalau mau keluar?"
"Pernah mimpi basah, kan?"
"Ya pernah. Itu kan tanda akil baligh."
"Seperti itu."
"Maksudnya?"
"Kayak yang kamu rasakan dalam mimpi."
"Mimpi itu berjalan singkat, Umi. Tahu-tahu keluar."
Riany mencubit lengan Al maksudnya agar tidak banyak komentar.
Al menoleh dan bertanya, "Kamu tahu?"
"Yang mimpi kan kamu."
"Maka itu jangan cubit. Aku belum jelas. Kalau kecolongan, bagaimana?"
Sebenarnya Al ingin menyindir, mestinya yang paling tepat memberi nasehat adalah Abi Hamzah. Segala sesuatu harus ahlinya atau yang mengalami. Tapi mengalami saja tidak cukup kalau tanpa ilmu. Nasehatnya bisa menyesatkan. Wanita itu akhirnya jadi keteteran sendiri.
"Kalau aku ngundang Lin Wei dan Wulandari buat liburan, boleh tidak, Umi?" Riany mengalihkan percakapan. "Kamar tamu dua lagi kosong."
__ADS_1
"Mereka itu siapa?"
"Sahabat karib Al."
"Boleh."
"Priscilia juga," kata Al. "Boleh ya, Umi?"
"Boleh. Boleh."
"Hellen?"
"Pokoknya semua orang yang kalian suka dan bersedia liburan di rumah ini."
"Berarti Vidya sama Pamela juga."
Riany menatap gemas. Al pura-pura tak peduli. Dia tahu apa maksud gadis itu mengundang mereka liburan, agar tahu kalau Al sudah jadi miliknya. Buat apa? Laki-laki kan bukan milik satu wanita! Lagi pula mereka tidak peduli soal status!
"Nyebelin banget," gerutu Riany ketika mereka sudah berjalan di koridor kamar. "Sekalian saja Nek Surti kamu undang."
"Nek Surti ada di daftar terakhir. Yang urutan sebelumnya masih banyak."
'Maksud kamu apa sih ngomong begitu depan Umi?"
"Biar Umi tahu kalau puteri bungsunya posesif."
"Aku mengundang Lin Wei mau diperkenalkan sama Harbi. Siapa tahu jadi simbol perdamaian cebong sama onta."
"Aku juga mau memperkenalkan Wulandari sama Ridwan, siapa tahu jadi simbol kesetaraan kasta."
"Terus Priscilia sama Hellen?"
"Untuk Eyang Munzir dan Pak Kumis. Simbol lintas generasi."
Riany memandang kesal. "Kamu ini kenapa sih?"
"Sudahlah, ngaku saja. Kamu ingin pernikahan kita dihadiri oleh gadis yang sabar antri di belakangmu."
"Kalau ya, kenapa?"
"Gak ngaruh kali."
"Pasti ngaruh."
"Mau bukti?"
"Kita lihat saja."
"Aku bisa malam pertama sama kamu, malam kedua sama Aisyah, malam ketiga sama Wulandari, malam keempat sama Lin Wei."
"Nyebelin banget."
"Mau begitu terus sampai jadi istri?"
Wajah Riany serentak berubah manis. Bibirnya tersenyum berlumur madu. Kemudian berkata dengan lembut, "Pasti nggak dong, beb. Maka itu aku habiskan semua cemburuku, biar nanti tinggal sayangnya."
"Jangan habiskan cemburumu."
"Kok?"
"Cemburu itu perlu buat keharmonisan rumah tangga, tapi bukan cemburu buta."
"Jadi aku cemburu buta?!"
"Ngegas lagi."
"Habisnya."
__ADS_1
Cemburu yang baik adalah cemburu yang dapat meningkatkan kualitas hubungan suami istri, sedangkan cemburu buta dapat merusak kelanggengan rumah tangga. Nah, Riany ini cemburunya campur aduk. Repot.