
Belinda turun di depan rumahnya. Mereka tidak mampir karena hari sudah malam. Lagi pula, orang tua Belinda belum pulang. Jadi di rumah cuma ada adik dan pelayan. Kakaknya kuliah di luar negeri.
Padahal Al sebetulnya ingin mampir untuk minta izin pada orang tuanya akan mengajak Belinda pergi ke Kota Suci. Jangan mentang-mentang dipercaya, main bawa seenaknya. Tapi sudahlah, mereka tidak ada di rumah. Jadi lewat telpon saja.
Al ingin menjadikan Belinda untuk memperbaiki hubungan dengan Aisyah. Dia merasa hubungan mereka sudah retak. Dia tidak mau kebersamaan yang sudah terbina selama empat tahun berlalu begitu saja.
Aisyah adalah bidadari yang melindungi Al dari teriknya kehidupan selama kuliah di Yogya. Kiriman uang yang sangat ketat dari ayahnya jadi sangat longgar berkat gadis itu. Dia jadi bisa menjalani hari-harinya dengan mudah.
"Kepercayaan yang kamu peroleh adalah faktor yang perlu dipertimbangkan untuk menentukan masa depan hubunganmu sama Belinda," kata Al. "Aku tahu kamu sudah mulai bosan dengannya."
"Fansnya bikin ilfeel," dalih Arya. "Aku merasa nggak dianggap."
"Yang penting Belinda menganggap kamu pacarnya. Kamu tidak ada urusan sama fans."
"Mereka ingin idolanya memiliki pasangan ideal," ujar Riany. "Pasangan mainnya adalah tipikal cowok setia, itu image yang terbentuk di mata fansnya."
"Cuma peran dalam sinetron, kenyataannya parah habis, ganti pasangan gaya ganti nomor PIN."
"Jadi kamu tahu kehidupan dia yang sebenarnya?"
"Kelakuan artis yang lagi naik daun kan begitu, aji mumpung, memacari semua perempuan yang mau jadi pacarnya."
"Jangan memukul rata, karena tidak semua artis begitu. Dia pasti ditinggalkan fansnya kalau dalam kehidupan nyata ternyata kebalikannya. Padahal apa hubungannya akting sama kehidupan nyata."
"Aku minta jangan tinggalkan Belinda, kecuali dia meninggalkanmu," kata Al sungguh-sungguh. "Jangan pertahankan jika dia ingin pergi ke pasangan mainnya."
Arya heran, sejak kapan kakaknya peduli pada pacarnya? Dia tidak ambil pusing meski tiap bulan ganti-ganti pasangan. Apa karena Belinda keponakan Aisyah, sehingga siapa saja yang berkaitan dengannya, tidak boleh disakiti?
Arya tahu kakaknya ada hati sama Aisyah. Cuma dia bingung bagaimana menerjemahkannya karena ada istri dengan segala cintanya.
Arya sempat berpikir untuk mengakhiri hubungan dengan Belinda agar kakaknya dapat melupakan Aisyah. Dia berusaha untuk menjauhkan apa saja yang membuat kakaknya teringat pada masa lalu. Tapi permintaan yang datang sungguh membuatnya surprise.
Aisyah ternyata begitu berarti bagi kakaknya.
"Harga diriku di mana kalau nunggu ditinggalkan Belinda?" sanggah Arya. "Aku harus melepasnya sebelum dia pergi dariku."
"Jadi kamu merasa ada harga diri kalau pergi meninggalkannya? Semakin banyak kamu meninggalkan perempuan semakin tinggi harga dirimu, begitu? Kamu bisa membedakan harga diri dengan muka tembok nggak?"
"Kok muka tembok sih, Kak? Justru hebat bisa membuat banyak perempuan bertekuk lutut."
"Nah, itu tandanya kamu muka tembok, tidak tahu malu. Menyakiti perasaan perempuan dibilang hebat. Kamu berarti tidak punya hati nurani. Nah, tidak punya hati nurani apa namanya kalau bukan muka tembok?"
"Namanya kejam, tidak berperasaan. Masa muka tembok?"
"Sudah tahu kejam dan tidak berperasaan, tapi dilakukan juga berulang kali. Nah, itu namanya muka tembok. Gak paham juga?"
"Aku kasih contoh yang enak deh," tambah Riany. "Boleh nggak kamu mengecup bibir Belinda?"
"Ya nggak bolehlah! Haram!"
__ADS_1
"Tapi kamu lakukan juga, apa namanya?"
"Berarti banyak yang tidak tahu malu."
"Aku tidak bicara orang lain," tegur Al. "Aku bicara soal kamu, karena kamu adalah adikku. Aku ingin kamu punya rasa malu, karena rasa malu akan membuatmu memiliki harga diri baik di dunia maupun di akhirat."
Barangkali rasa malu juga yang membuat kakaknya pamit dari hati Aisyah, pikir Arya pahit. Dia belum siap mengambil madu, maka dia mohon diri dari kehidupannya.
Tapi bukankah madu adalah manis dan halal? Berarti buka karena rasa malu, tidak punya nyali!
Dia pasti takut sama ibu. Kehadiran madu akan menimbulkan huru-hara di rumah. Semua pasti kena getahnya. Ayahnya paling parah.
Arya secara pribadi sangat setuju kakaknya mengambil madu. Dia tidak cukup dengan satu istri. Tokoh muda dan idola kampung harus mampu memberi contoh dalam segala sisi kehidupan, termasuk perkara madu.
Arya berpendapat, mengambil madu jauh lebih baik dibanding selingkuh, dilihat dari sisi mana saja. Lagi pula, dia adalah kid jaman now yang tidak biasa hidup melenceng dari tatanan sosial yang ada.
Jika ada jalan resmi yang bisa ditempuh, mengapa harus coba-coba melewati jalan tidak resmi?
Masalahnya, Al sulit untuk menempuh jalan resmi, dan jalan tidak resmi tertutup. Jadi dia harus lewat jalan mana?
Mobil melambat saat melewati jalan pesantren. Hari sudah cukup larut, tapi kehidupan di masjid masih cukup ramai, banyak orang itikaf, zikir, dan baca Kitab Suci, terlihat syahdu di mata.
Arya menghentikan mobil di depan pintu gerbang dan bertanya, "Aku antar sampai dalam atau bagaimana?"
"Pakai nanya," omel Al. "Kakak ipar beli oleh-oleh segambreng, kamu nyuruh aku jadi tukang panggul?"
"Tidak apa-apa sampai sini saja," kata Riany. "Aku minta security untuk mengangkut belanjaan."
Riany keluar dan memanggil dua orang security. Kemudian mereka mengeluarkan kantong belanjaan dari bagasi.
"Kakak nggak turun?" tanya Arya.
"Aku mau menemui Ayah sama Ibu."
"Mau minta restu untuk melamar Aisyah? Jangan nekat deh. Kakak bisa dikutuk jadi batu bata sama Ibu."
"Kok jadi batu bata?"
"Ibu lagi renovasi paviliun dan butuh batu bata."
"Ayah dan Ibu adalah surgaku. Jadi sudah sewajarnya aku mendahulukan mereka. Seperti itulah kamu nanti kalau sudah berumah tangga. Jangan menempatkan istri di atas orang tua."
"Karena orang tua adalah surga dan istri adalah neraka?"
"Kalau aku menganggap istri adalah neraka, aku memilih untuk jadi jomblo seumur hidup. Tapi Riany di akhirat bisa jadi pembawa kayu bakar untuk memanggangku."
"Artinya istri bisa menyeret suami masuk neraka, tapi tidak bisa menyeret suami masuk surga. Jadi karena itu kakak ragu mengambil Aisyah sebagai madu?"
"Dia memilih Ryan."
__ADS_1
"Karena kakak tidak tegas, aku tidak yakin dia menolak kalau kakak langsung melamar pada ayahnya."
"Barusan kamu bilang aku bisa dikutuk jadi batu bata."
"Kalau minta restu sama Ibu."
"Jadi maksudnya aku nikah secara diam-diam?"
"Aku sama Ayah kan bisa menghadiri pernikahan kakak, Opa dan Oma muda juga."
"Kamu tahu risikonya kalau aku minta Ayah sama Opa untuk datang?"
"Apaan?"
"Ayah pasti minta dukunganku untuk merestui Fatimah jadi madu, dan Opa pasti mendesak aku untuk menerima Jennifer sebagai anggota keluarga besar kita. Itu yang kamu mau?"
"Ayah tidak perlu dukungan kita untuk ngambil madu, dan Opa bodo amat kita mau mengakui Oma muda sebagai anggota keluarga atau tidak."
"Mereka ngomong begitu sama kamu?"
"Kira-kira. Lagi apa ngaruhnya bagi kakak?"
"Aku memikirkan perasaan Ibu."
Riany mengetuk kaca jendela mobil, Al membukanya.
"Belanjaan sudah diangkut semua sama security, ayo turun."
"Batik pesanan Ibu juga?"
"Iya. Besok kita antar ke rumah Ibu, sekalian punya Ayah sama Arya juga."
"Malam ini aku mau tidur di rumah Ibu. Beliau pasti ingin tahu keadaanku setelah tragedi itu."
"Pak Kardi! Tunggu!" teriak Riany sambil berlari menghampiri security yang berhenti menunggunya. "Aku bawa tiga kantong ini. Malam ini aku tidur di rumah suamiku. Jangan lupa ya simpan di rumah baru."
"Baik, Non."
"Abi sama Umi sudah tidur, kan?"
"Sudah, Non."
"Berarti aku tidak perlu pamit."
Riany berjalan ke mobil, membuka pintu belakang, dan duduk di samping suaminya.
Al bertanya, "Nggak jadi tidur di rumah baru?"
"Aku sudah punya suami. Masa tidur sendiri-sendiri?"
__ADS_1