
Bis berhenti di halaman timur Masjidil Haram. Mereka turun dan masuk lewat Babussalam. Saat itu sudah datang waktu Dhuhur. Mereka shalat berjamaah dulu, lalu thawaf dilanjutkan dengan sa'i.
Selesai tahallul, Irma mendatangi Al dan menyodorkan handphone.
"Kamu disuruh ngebel," kata Irma.
"Riany?"
"Siapa lagi?"
"Cuma urusan schedule ribet bener."
"Kayaknya bukan soal schedule."
"Soal apa?"
"Maka itu telpon."
Al mengambil handphone dari tangan Irma. Sebentar kemudian dia kembalikan lagi. "Baterainya habis."
Nidar datang sambil menerima sambungan dari Riany. "Bentar ya aku kasiin ke orangnya."
Nidar menyodorkan handphone ke Al. "Riany pengen ngomong."
Al menerima handphone dan didekatkan ke telinga. Tiba-tiba berkumandang seruan seseorang:
"Hai, Al!"
Aisyah muncul di pintu masuk dengan dandanan hijab yang modis, berkacamata hitam sunglasses.
Al bicara ke Riany yang menunggu di handphone, "Bentar ya."
Al menyerahkan handphone ke Nidar. "Terima deh."
"Siapa dia?" tanya Irma.
"Kepo."
"Aku ini pendamping. Aku berhak tahu siapa gadis itu."
"Tapi kamu tidak ingin tahu apa yang dilakukan Riany di Riyadh," balik Al santai. Dia pergi menemui Aisyah.
"Lagi umrah?" sambut Aisyah.
"Ya."
"Kok gak bilang-bilang?"
"Dibilang riya lagi."
"Kapan datang?"
"Malam itu."
"Ya kapan?"
"Malam terakhir kamu ngebel."
"Jadi saat itu kamu ada di Makkah?"
"Di lobi Clock Tower."
"Kok bisa ya baru ketemu sekarang? Padahal aku tiap hari ke Clock Tower."
"Masa?"
"Ada yang lagi mati gaya nih?" sindir Aisyah.
"Tahu sih?"
"Noh, cewek gahar ngeliatin aku terus."
__ADS_1
"Irma."
"Calon?"
"Orang Quraisy bisa kepo ya."
Aisyah adalah gadis keturunan suku Quraisy dari Al-Khanza. Ketegasan suku Quraisy dan kelembutan suku Jawa terpancar dalam pesona yang luar biasa di wajahnya.
Al pertama kali kenal Aisyah saat ada seminar di Masjid Bulaksumur, dia bertanya ke narasumber, "Mitos apa fakta, orang Makkah yang keluar dari negerinya disebut tertangkap setan?"
Spontan Aisyah naik pitam. "Pertanyaan kamu itu tidak berbobot, sangat naif."
"Hanya ingin penegasan, dari tetangga kampung."
"Oh, si Bejo toh? Pantesan."
"Katrok?"
"Bukan aku yang ngomong loh?"
Al tidak tahu Aisyah keturunan orang Quraisy. Maka itu selesai pengajian Al minta maaf.
"Kok bisa ya kamu punya pikiran sepicik itu?" dengus Aisyah sinis. "Jangan-jangan gembongnya cebong?"
"Aku adalah anak bangsa yang coba mencari kebenaran. Kalau tidak benar, ya sudah aku minta maaf."
"Jangan ulangi lagi."
"Itu bentuk kebodohan."
Sejak itu Al dan Aisyah berteman akrab. Guru ngaji di Bulaksumur malah menganjurkan untuk ta'aruf, daripada pacaran yang tidak ada dasar hukumnya. Secara tidak langsung gurunya menuduh mereka pacaran, tapi Al maafkan.
"Hellow." Aisyah menggerakkan tangan di depan muka Al, menyadarkan dari lamunan. "Kok bengong sih?"
Al tersenyum sedikit. "Surprise banget bisa ketemu di Haram."
"Tiap liburan aku ke rumah jaddah."
"Jaddahnya mana?"
"Tapi cucunya malah jalan-jalan."
"Tidak boleh bantu jualan sama jaddah. Jadi pusat perhatian."
"Bagus ... suvenirnya jadi laris."
"Sesama pedagang kok. Lihat cewek Indonesia kayak lihat apa kali."
"Hijaber lain cari orang Arab."
"Aku cari cowok lokal. Tapi yang dicari gak nyadar-nyadar."
Kalau percakapan sudah menjurus, Al memilih diam, atau mengalihkan topik, "Oma kelamaan nunggu."
"Oma? Kamu bareng keluarga?"
"Aku umrah diongkosi Oma."
Dan Al jadi mati gaya ketika Aisyah berkenalan dengan Oma. Semua pandang mata mengagumi kecantikan Aisyah, kecuali Irma. Dia memperhatikan gerak-geriknya dengan curiga.
"Al tidak bilang kalau punya Oma secantik ini," puji Aisyah. "Berapa hari Oma di Makkah?"
"Delapan hari."
"Besok main ke Khanza ya. Saya kenalin sama jaddah. Cakep juga loh. Cuma cakepan Oma."
"Terima kasih."
"Semua ini satu rombongan?"
"Iya."
__ADS_1
"Travel mana?"
"Travel kampung Oma."
"Besok schedule-nya apa?"
"Pagi wisata siang umrah."
"Berarti bisa dong mampir ke Khanza?"
"Insya Allah."
"Oma kok main setuju saja," tegur Al halus. "Al kan harus ngurus rombongan."
Aisyah terpukau sesaat. "Oh, jadi kamu ketua rombongan? Biarin deh aku antar Oma jalan-jalan. Oma mau jalan-jalan ke mana?"
"Oma tidak mau ketinggalan shalat di Masjidil Haram."
"Ya iya dong, Oma. Jauh-jauh dari Indonesia kan untuk itu. Saya juga."
"Jangan besok deh," kata Al.
Aisyah menoleh. "Kenapa?"
"Aku belum tahu besok bisa apa tidak. Aku tidak mengizinkan siapapun bawa Oma tanpa aku."
"Riany moga sudah pulang," sahut Oma. "Jadi kamu bisa menemani Oma."
Aisyah memandang Al dengan tak berkedip. "Riany? Siapa Riany?"
Ada penasaran yang tidak terjawab di mata Aisyah karena Al dan rombongan harus segera kembali ke hotel untuk beristirahat sebelum datang Ashar.
"Jadi orang itu kayak Al," puji Nek Surti. "Biar ada cewek macan abis, ditinggalkan demi rombongan."
"Kalau Riany kan temannya kena musibah, Nek," bela Irma.
"Dan membiarkan rombongan kena musibah, kayak ayam kehilangan induknya!"
Mereka keluar lewat pintu King Aziz, berjalan ke Clock Tower, naik ke lantai 33, dan masuk ke kamar masing-masing.
Al duduk bersandar di tempat tidur. Staminanya cukup terkuras. Repot bagi waktu mengurus Oma dan rombongan. Dia butuh istirahat sejenak.
Banyak agenda yang harus diselesaikan hari ini, bukan agenda travel, karena wisata ke tempat-tempat sekitar Masjidil Haram tidak termasuk. Daripada pergi sendiri-sendiri dan berisiko kesasar, maka Al mengambil inisiatif menyewa bis biar bisa berangkat ramai-ramai.
"Aku setuju," kata Nek Surti. "Berangkat rame-rame lebih aman. Aku takut dirudapaksa kalau berangkat sendiri."
"Nenek ini malu-maluin deh," tegur Pamela. "Yang mau mencabuli nenek itu siapa? Tukang sampah saja mikir-mikir kali."
"Eh, jangan salah, biar kepala enam casing aku masih kepala empat. Di udara panas begini, cowok Arab bawaannya pengen nyantap saja."
"Maka itu aku tidak mau lepas dari suamiku," kata Bu Hanif.
"Pantesan tiap habis umrah mandi basah," sindir Eyang Munzir. "Lepasnya lagi ihram doang."
Pak Hanif berlagak bodoh. "Lah, mandi kalau nggak basah, gimana?"
Al sering mendengar kabar miring seputar Makkah. Konon naik taksi laki-laki harus duluan dan turun belakangan. Kalau perempuan duluan, nanti dibawa kabur. Yang lebih sensasional konon ada bisnis esek-esek di sekitar pintu utara Makkah di bawah fly over. Lift dan eskalator hotel serta masjid tidak aman, banyak copet.
Herannya, waktu Al tanya ke TKI yang sudah 20 tahun mukim di Makkah, tidak pernah dengar kabar itu. Lalu kabar itu muncul dari mana? Pernah mungkin kejadian, tapi kenapa kabarnya begitu santer?
"Tidak usah, Eyang," kata Al saat Eyang Munzir menyodorkan uang 100 riyal untuk bantu sewa bis. "Oma ingin banyak sedekah di Makkah. Ini kesempatan baik buat sedekah."
"Ya sudah, uang ini Eyang manfaatkan buat beli oleh-oleh."
"Kurang, Eyang," kata Pamela, "cucu Eyang kan banyak."
"Tenang duit Eyang masih banyak. Pamela pengen disawer?"
"Gengges bener nih belatung ya," gerutu Nek Surti. "Cucu gua diembat juga."
"Otak kamu itu sesekali cuci deh, kotor banget."
__ADS_1
Kalau Eyang Munzir dan Nek Surti jadi suami istri kayaknya heboh. Tiap hari pasti ada piring pecah. Konon selagi muda mereka sempat pacaran, lalu pisah karena selingkuh.
Nah, ini yang Al kurang tahu persis. Kisah ini terjadi jauh sebelum Ayah dan Ibu menikah. Eyang Munzir yang selingkuh atau Nek Surti, atau dua-duanya. Yang jelas di waktu ini setiap kali bertemu pasti ribut. Mereka sudah jadi duda dan janda.