Cinta Untuk Gadis Madinah

Cinta Untuk Gadis Madinah
Episode 134


__ADS_3

Al keliru kalau ingin mengekang adiknya. Arya laksana burung patah sayapnya kalau dikurung dalam sangkar. Sekalinya berontak, susah dikendalikan.


Al tidak mencela adiknya untuk berbuat sesuatu, tapi mencoba menanamkan nilai pada perbuatan itu. Setiap apa yang dilakukan harus bermanfaat, sekurangnya bagi diri sendiri.


Al bangkit dari bangku panjang tempatnya mengawasi pekerja bangunan, sebentar lagi waktu Zuhur. Dia meminta kepada seluruh pekerja untuk berhenti dan menunaikan shalat.


Adalah tanggung jawab tuan rumah untuk memberi mereka kesempatan bertemu dengan khaliknya. Persoalan mereka melaksanakan atau tidak, bukan urusannya lagi.


"Berangkat ke bandaranya jam berapa?" Pertanyaan istrinya menyambut kemunculan Al di ruang tamu. "Aku sudah siapkan semuanya."


Mereka akan berangkat ke Madinah sore ini. Jadi mereka melewatkan shalat dua waktu di pesawat. Sebuah kerugian bagi Al sebenarnya, karena dia merasa lebih afdhal shalat di darat. Tapi Riany harus masuk kuliah besok, sehingga cukup waktu untuk istirahat.


"Habis Zuhur," kata Al. "Kita harus menjemput Belinda dulu."


"Mestinya sekalian saja Arya membawa Belinda ke mari," ujar Riany. "Jadi kita tidak repot."


"Aku tidak enak cuma minta izin lewat handphone," dalih Al. Dia menyuruh Belinda menunggu di rumahnya. "Aku mau minta izin secara langsung, kebetulan orang tuanya sore ini ada di rumah."


"Kamu begitu tertibnya memperlakukan perempuan," puji Riany. "Apakah ini tanda persetujuanmu untuk Belinda jadi adik ipar?"


"Aku tidak pernah mengurusi hubungan asmara adikku. Arya bebas memilih siapa saja untuk jadi istrinya."


"Tapi adikmu sangat mematuhi perintah kakaknya. Aku tidak melihat kepatuhan yang sama pada orang tuanya."


"Mereka terbiasa memanjakan sejak kecil, sehingga Arya tahu seandainya terjadi pelanggaran tidak mendapat hukuman."


Terdengar bunyi klakson mobil di halaman.


"Aku pergi shalat berjamaah dulu," kata Al sambil mengambil kopiah qaraqul di meja. "Kamu siap-siap saja, selesai shalat kita berangkat. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Riany mengantar suaminya sampai beranda rumah. Arya kelihatan tidak sabar menunggu kakaknya masuk ke dalam mobil. Pengantin baru gerakannya serba lambat! Giliran masuk kamar paling cepat!


Mobil langsung melesat dari halaman begitu Al duduk di kursi depan.


"Jangan terburu-buru," tegur Al. "Terburu-buru adalah sifatnya setan."


"Aku tidak terburu-buru," sanggah Arya. "Kakak kelewat lemot. Nah, kalau lemot sifatnya siapa?"

__ADS_1


Kid jaman now sangat pandai bermain kata-kata. Mereka pikir agama adalah permainan sekumpulan kata-kata. Jadi tidak aneh banyak orang tersesat dalam menafsirkan kata-kata di Al-Qur'an dan Al-Hadist, menerjemahkan sendiri-sendiri berdasarkan logika mereka yang terbatas.


Terburu-buru adalah sifat yang berlebihan, berlambat-lambat juga sifat yang berlebihan. Bagaimana supaya terlihat normal maka butuh pemikiran secara empiris.


Mereka tiba di halaman parkir masjid. Warga berdatangan sebelum panggilan shalat berkumandang. Kebiasaan positif yang mulai membudaya di kampung ini, di mana mereka menyingsingkan waktu beberapa menit dari ribuan menit mengurus kepentingan duniawi.


Al menghampiri Yudi yang tengah menjelaskan sesuatu kepada sekumpulan ibu-ibu. Ustadzah Hamidah kelihatan bersitegang dengan temannya, namun segera berhenti saat dia tiba. Sebuah pikiran muncul di benaknya kalau mereka sedang membicarakan keluarganya.


Al tersenyum. "Kok diam? Kalian suka membuat orang lain baper?"


"Kami permisi...."


"Sebentar," cegah Al, membuat Ustadzah Hamidah dan rombongannya urung pergi. "Aku mau bertanya pada ustadzah, apakah membuat orang lain tersinggung dan berpikiran negatif dibenarkan dalam agama?"


"Maksudnya?"


"Bagaimana jika aku dan temanku lagi mengobrol, kemudian ustadzah datang dan aku langsung pergi, apakah ustadzah tidak tersinggung dan berpikiran negatif terhadapku?"


Ustadzah Hamidah tampak gelagapan. "Ee...sebentar lagi adzan. Kami belum berwudhu. Jadi tidak ada apa-apa dengan kedatanganmu. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Ustadzah Hamidah dan rombongan pergi ke tempat wudhu perempuan.


"Membuat heboh atau dibikin heboh?"


"Aku juga heran dengan ustadzah itu, kampung sudah tenang dan bisa menerima perbedaan, dia seperti ingin memantik api dengan menggoyang ketua DKM."


"Jadi kabar sudah tersebar kalau ayahku beristri dua?"


"Nah, aku justru mau bertanya padamu mengenai kebenaran dari kabar tersebut."


"Aku tidak tahu apa-apa. Bertanyalah kepada orang yang pertama kali menyebarkan kabar itu. Jika kabar itu tidak jelas asal usulnya, sudah hentikan, jangan kasih bumbu atau apa, yang akhirnya membuat gaduh jamaah."


"Aku curiga Bu Ustadzah mempunya misi lain, dia ingin mengangkat kakaknya, Kyai Rojali, jadi ketua DKM. Kyai itu sekarang nganggur tidak punya jamaah."


"Masjid ini berdiri di tanah wakaf ayahnya Ustadz Bashori. Jadi Ustadzah Hamidah tidak memiliki hak istimewa untuk mengangkat Kyai Rojali jadi ketua DKM, begitulah kebiasaan di kampung kita untuk menghormati pelopor masjid ini."


"Aku kuatir ustadzah mengompori jamaah untuk mengadakan rapat istimewa dengan menggoreng kejadian ini."

__ADS_1


"Lalu masalahnya apa kalau diadakan rapat istimewa? Pengurus lama harus mempertanggungjawabkan kepergiannya ke Surabaya, dan jika tidak diterima oleh jamaah, maka mutlak harus diadakan pemilihan ketua baru."


"Kamu kok tidak membela ayahmu? Aku membela mati-matian di depan mereka tadi."


"Jabatan adalah amanah. Ketika amanah itu diragukan banyak orang, solusinya adalah mengevaluasi kinerja secara obyektif, bukan membelanya."


"Kinerja mereka bagus."


"Kamu adalah pendukung ayahku, mereka meragukan obyektivitasnya."


"Aku bicara berdasarkan fakta. Semua jamaah bisa melihat di papan informasi tentang hasil kinerja mereka. Kelemahan pengurus DKM adalah beristri dua."


"Beristri dua bukan kelemahan karena ada dasar hukumnya. Tapi jika mereka menginginkan pengurus DKM beristri satu, ya cari pengurus beristri satu, jangan membuat rumit keadaan."


"Kamu kayak tidak setuju ayahmu kawin lagi?"


"Secara pribadi aku tidak setuju karena menghargai ibuku, tapi bukan berarti aku menentangnya jadi pemimpin masjid, karena memiliki istri dua bukan sebuah kesalahan."


"Nah, hal itu sudah dijelaskan kepada ustadzah, tapi dia tidak menerima, lalu mendesak untuk diadakan rapat jamaah."


"Baiknya hal itu disampaikan kepada dewan penasehat dan dewan kehormatan. Kamu ketua remaja masjid yang sudah tidak remaja. Apa hakmu untuk mengadakan rapat jamaah?"


"Dia menginginkan aku untuk mendesak dewan kehormatan dan dewan penasehat atas nama pemuda masjid."


"Tidak bertanggung jawab kalau begitu. Dia pasti cuci tangan kalau ada apa-apa. Biarkan orang demikian, nanti juga capek sendiri. Ketika mayoritas dari jamaah menginginkan rapat istimewa, baru kamu sampaikan aspirasi mereka."


Adzan Zuhur berkumandang. Mereka segera masuk ke dalam masjid. Al mengambil tempat di belakang karena hari ini tidak siap jadi imam. Dia sadar Ustadzah Hamidah dan anggota majlis ta'limnya pasti tidak setuju dirinya jadi imam karena kepergian ayahnya dengan keempat janda itu, begitulah risiko sebuah keluarga.


Selesai shalat Zuhur, Al dan Arya segera pulang untuk bersiap-siap pergi ke Madinah. Travel bag sudah berjejer di beranda siap diangkut. Riany duduk di kursi teras ditemani ibu mertuanya. Mereka tinggal berangkat.


Melihat ibunya kelihatan bersedih, Al menyesal tidak mengajaknya pergi ke Kota Suci untuk sekedar menghibur kegundahan hatinya.


"Maafkan aku, Bu," kata Al merasa bersalah. "Aku cuma mengajak adikku dan pacarnya, karena aku pikir Ibu sibuk mengurus gerai bakso yang semakin ramai, dan mengawasi pembangunan gerai baru di kampung sebelah."


"Aku memang sangat sibuk. Hari ini mandor bangunan ngebel karena ada beberapa bahan material yang kurang, sementara aku harus belanja bahan untuk racikan besok."


"Lalu kenapa Ibu bersedih? Sudahlah, jangan pikirkan Ayah. Dia belum tentu seperti kabar yang tersebar."


"Saat ini aku sedih bukan karena ayahmu, karena ditinggal pergi oleh kedua anakku. Aku jadi ingat hari tua, alangkah sepinya hidupku tanpa kalian."

__ADS_1


Al tersenyum menghibur. "Ibu kan bisa tinggal di rumahku."


Padahal dia ingin ibunya melupakan kemelut yang menimpa. Dia menduga Fatimah sudah resmi jadi madu. Cuma ayahnya barangkali lagi menunggu waktu yang tepat untuk menjelaskan. Dan waktu yang tepat itu tidak akan pernah ada. Jadi Al lebih baik segera menyelamatkan ibunya dari kehancuran dengan tinggal bersamanya.


__ADS_2