Cinta Untuk Gadis Madinah

Cinta Untuk Gadis Madinah
Episode 99


__ADS_3

Al bersandar dengan luluh ke dinding putih dekat pintu koridor yang jadi pembatas ruang ICU. Tangannya terdampar lemah, hampir gadget yang dipegangnya terjatuh karena tidak ada tenaga untuk memegangnya. Gadget itu baru dikembalikan polisi setelah proses BAP selesai dan dilimpahkan ke pengadilan.


Dia datang ke koridor ini untuk pamitan karena hari ini keluar dari rumah sakit. Koridor ini adalah tempat Abi Rashid biasa menunggu jam besuk tiba.


Keputusan Aisyah yang terlontar dari abinya laksana berondongan peluru yang membuat hancur segala harapan yang ada.


Mata Al memandang luruh pada Abi Rashid yang berdiri tak berdaya di depannya. Dia bertanya seolah tak percaya dengan apa yang didengarnya, "Aisyah tidak mau berobat ke Tokyo? Apa alasannya?"


Al belum pernah melihat gadis yang demikian pintar otaknya tapi demikian bodoh dalam mengambil keputusan. Menolak pergi ke Tokyo berarti menolak untuk sembuh!


"Bukan tidak mau berobat ke Tokyo," ralat Abi Rashid dengan suara lemah. "Tapi menunda pengobatan sampai selesai kuliah. Dia ingin sidang sarjana pada semester ini. Setelah itu baru pergi berobat."


Intinya sama saja. Tidak mau kakinya sembuh dengan segera. Alasan itu hanya memperhalus motif dari keputusan yang diambil. Padahal keterlambatan penanganan medis akan berakibat sangat fatal.


"Abi sudah tahu risikonya sangat besar kalau menunda pengobatan," keluh Al dengan raut muka semakin buram. "Harapan untuk sembuh makin kecil."


"Berobat secepatnya juga tidak ada jaminan untuk sembuh," ujar Abi Rashid bergetar. Air mata mulai menetes melihat betapa berat cobaan yang diterima puteri sulungnya. "Maka itu dia ambil keputusan untuk berobat selesai wisuda. Jika takdir menghendaki kakinya kembali normal, kapan saja berobat pasti sembuh."


Al menegur secara halus, "Jangan menggantungkan harapan pada takdir, karena kita tidak tahu takdirnya seperti apa."


Berbicara tentang takdir berarti berbicara tentang kepasrahan. Dimana segala usaha jadi percuma kalau bergantung pada takdir. Kesalahan pemahaman tentang takdir membuat manusia jadi kerdil hidupnya.


Adakah yang tahu bahwa seseorang ditakdirkan untuk jadi hartawan, bangsawan, atau cendekiawan? Perjuangan dalam menciptakan jalan ke arah itu adalah cara terbaik untuk menjemput takdir!


Jangan sampai pemahaman tentang takdir membuat ruang hidup makin sempit!


Aisyah bukan gadis yang gampang putus asa. Dia tidak berhenti berusaha dan berdoa sampai akhir sebelum ada keputusan yang tetap. Mengapa untuk kakinya sudah menyerah sebelum ada ikhtiar?  


"Aisyah tidak menyerah," ujar Abi Rashid seolah membela anaknya. "Dia hanya menunda."


"Kuliah harusnya yang ditunda," sanggah Al. Dia sulit menerima keputusan yang terlihat bodoh ini. "Telat satu semester tidak membuat masa depan kiamat. Jadi tidak ada keharusan untuk lulus tepat waktu."


Al sebenarnya ingin mendengar langsung dari Aisyah untuk keputusan yang keliru ini. Dia kuatir logikanya terganggu akibat kecelakaan itu. Dia butuh masukan dari orang lain, dan sulit didapat dari abinya yang selalu mengikuti keinginannya.

__ADS_1


Padahal setiap keinginan anak belum tentu yang terbaik untuknya.


Al merasa percuma untuk masuk ke ruang ICU. Aisyah tidak mau bertemu dengannya. Sikap antipati ini akan membuat semua saran tidak didengar, bahkan timbul masalah baru.


"Pasien menolak kedatangan anda," kata suster yang sempat ribut dengannya tempo hari. Tatap matanya seakan puas melihat Al kecewa. "Jangan tanya apa alasannya, saya tidak tahu."


Al tersenyum sinis. "Jadi itu yang membuat anda dikawal dua orang security? Mereka tidak akan mampu menghalangi saya untuk masuk jika saya mau."


Al pergi diiringi pandang mata suster yang meremehkan. Payah! Giliran pasien tidak mau dibesuk malah ngeloyor pergi! Apa kelemahan jagoan itu ada pada gadis cantik?


"Maafkan Aisyah, Al," kata Abi Rashid tidak enak.


"Tidak apa, Abi," jawab Al sebelum hilang di kelokan koridor.


Al tidak mau memaksa jika kedatangannya tidak diharapkan. Hanya membuat masalah makin rumit.


Dia gampang saja menyingkirkan dua security itu, tapi buat apa kalau Aisyah jadi semakin benci?


Al kecewa dengan situasi yang memburuk ini. Namun dia tidak bisa lepas tangan begitu saja. Bagaimana juga Aisyah sudah banyak berjasa dalam kemajuan studinya. Dia ingin gadis itu menemukan kembali semangat hidupnya yang hilang.


Harapan berikutnya adalah Wulandari dan Lin Wei. Mereka tentu belum tahu tentang kabar buruk yang terjadi pada temannya. Mereka harus mengupayakan agar Aisyah bersedia pergi ke Tokyo.


Jika mereka berdua gagal merayunya, berarti Aisyah ingin hidup cacat.


Aisyah adalah mahasiswi terpandai, setiap semester selalu mendapat yudisium sangat memuaskan dan berpeluang lulus dengan predikat summa cum laude. Tapi adakah artinya dibanding menyelamatkan kaki dari kelumpuhan?


Al menyampaikan kabar terakhir yang menyesakkan itu pada istrinya. Dia lagi sibuk beres-beres pakaian di kamar perawatan. Pakaian kotor dia masukkan ke dalam jinjingan untuk dibawa ke laundry, pakaian bersih ke travel bag.


"Abi Rashid nggak ngasih tahu apa alasan Aisyah memilih menyelesaikan studi?" tanya Riany. "Kenapa tidak memilih berobat lebih dulu?"


"Alasannya ingin cepat lulus. Gak masuk akal banget."


"Aku tahu alasannya bukan cuma itu," kata Riany sambil mengunci travel bag. Pengepakan pakaian sudah selesai.

__ADS_1


Al menatap surprise. "Jadi kamu sudah ke kamarnya? Baru saja aku mau minta kamu untuk menasehatinya."


"Aku sudah tahu suamiku pasti minta begitu, maka aku pergi menemui Aisyah sekalian pamit."


"Lalu apa katanya?"


"Dia ingin tinggal di Al-Khanza bersama neneknya sekalian menjalani terapi. Maka itu dia ingin cepat-cepat selesai kuliah."


Al terkejut, kemudian berkata, "Keputusannya sama saja. Dia menolak untuk lekas sembuh."


"Perempuan mana yang menolak untuk tampil sempurna? Dia cuma ingin fokus terapi karena cita-citanya sudah tercapai."


Tiba-tiba saja pikiran jelek hinggap di benak Al. Dia kuatir istrinya senang dengan situasi ini. Aisyah menunda pengobatan adalah keuntungan tersendiri baginya. Astaghfirullah! Dia percaya istrinya terlalu putih untuk berharap seperti itu meski Aisyah adalah saingan beratnya!


"Aisyah tidak mau berobat ke Tokyo karena merepotkan banyak orang," kata Riany. "Dia ingin berobat di negeri leluhurnya."


Aisyah hanya memiliki kerabat dari pihak ibu di Solo. Mereka susah diminta bantuan untuk tinggal di Tokyo selama pengobatan. Waktunya berbulan-bulan. Mereka banyak kesibukan.


Abi Rashid tidak mungkin menemani. Dia harus mengurus tiga adiknya di Solo. Bisnisnya juga. Semua bisa berantakan kalau ditinggal terlalu lama.


Al sebenarnya bersedia membantu. Dia rela untuk cuti kuliah, yang penting Aisyah sembuh. Tapi pasti mengundang tanda tanya besar, meski niatnya sekedar ingin mengembalikan sebuah kesempurnaan.


Karena semua itu bukan alasan bagi Aisyah untuk mengambil keputusan yang berbeda dengan advice dokter. Dia bisa minta suster lokal untuk menemani.


Apakah Aisyah ingin menetap di tanah leluhurnya? Dia tidak mau tinggal di tanah kelahirannya? Sebuah keputusan yang bertolak belakang dengan keinginannya!


Keputusan itu mengaburkan impiannya sejak kecil. Dia ingin menghabiskan hari tua di kampung yang terpencil, dan kampung itu bukan Al Khanza.


Mungkinkah perubahan keputusan ini karena kecewa pada cinta?


Aisyah bukan perempuan yang mudah tersungkur karena sepenggal cinta pada manusia!


Jadi, Al bukan alasan untuk tinggal di Al Khanza.

__ADS_1


"Apakah Aisyah akan kembali setelah kakinya sembuh?" tanya Al hati-hati.


Bola mata bening kebiru-biruan itu memandang dengan sebening hatinya. "Apa kamu berharap dia kembali?"


__ADS_2