
Hudaibiyah sebuah desa kira-kira 24 km dari Makkah. Desa ini sebagian termasuk Tanah Haram. Nama itu diambil dari sebuah pohon bernama Hadba' yang tumbuh di sekitar kawasan tersebut.
Salah satu peristiwa terpenting yang terjadi di tempat ini adalah Perjanjian Hudaibiyah yang ditandatangani oleh Nabi dan kaum musyrikin Makkah pada tahun ke 6 Hijriah, sebagai tonggak toleransi sekalipun merugikan umat Islam.
Di lokasi perjanjian itu kini berdiri sebuah masjid bernama Masjid Asy-Syumaisi yang dijadikan tempat mengambil miqat. Luasnya sekitar 1.000 meter persegi. Letaknya persis di pinggiran jalan lama menuju Jeddah.
Di sebelah utara masjid ini terdapat puing-puing bangunan masjid tua yang konon jadi saksi sejarah Perjanjian Hudaibiyah.
Bangunan itu hanya menyisakan bagian dinding tanpa atap, terbuat dari susunan batuan gunung yang direkatkan dengan tanah liat. Jadi spot menarik bagi para peziarah yang tengah mengambil miqat untuk berfoto.
Sayangnya, di puing-puing masjid itu terdapat banyak coretan nama peziarah atau nama sanak famili. Nama keluarga yang tertulis di batu tersebut dipercaya bisa terpanggil ke Tanah Suci. Satu perbuatan yang tidak didasarkan pada dalil dan syariat Islam. Aksi vandalisme itu hanya merusak keindahan nilai sejarah.
Aksi vandalisme juga terjadi pada Al. Satu jam sekali Riany mengadakan video call. Al benar-benar dibuat keki.
"Sudah ya," kata Riany setelah video call-nya tersambung. "Aku cuma ingin lihat wajahmu."
Riany menutup video call tanpa ada kepentingan apapun. Al yang lagi sibuk mengatur rombongan untuk berihram jadi merasa terganggu.
"Kok tidak ada kepentingan?" protes Irma. "Riany itu kangen sama kamu, tahu gak?"
"Kayak orang baru kenal laki-laki saja."
"Memang iya. Dari kecil Riany itu cuma kenal satu laki-laki. Kamu."
"Bullshit."
Al bersyukur ketika handphone-nya lowbat. Bila perlu hilang sekalian. Jadi dia terhindar dari rutinitas yang menjengkelkan itu.
Dari Hudaibiyah mereka mampir di Museum Haramain. Al lagi menunggu rombongan turun dari bis ketika Nidar menyerahkan handphone-nya.
"Riany video call."
Al terpaksa menerima dan memasang muka ramah. "Ada apa, wahai mata yang kebiru-biruan bagai samudera? Tapi kok layu ya? Samuderanya lagi surut apa?"
"HP kamu kenapa?"
"Baterenya habis."
"Sengaja ya power bank tidak dibawa?"
"Aku sudah ngomong power bank hilang waktu dipinjam Oma ke Jeddah. Kok kamu jadi ketularan Oma sih? Pelupa."
"Jadi belum beli lagi?"
"Belum."
"Sengaja ya biar aku ilfeel?"
"Apa hubungannya power bank sama kamu ilfeel? Power bank bisa di-charge, kamu tidak bisa, belum halal."
"Gak lucu."
"Lagi bukan stand up."
"Pinjam power bank Nidar kan bisa?"
"Kosong."
"Yang lain?"
"Sama."
"Kok bisa barengan kosongnya?"
"Mereka kayak kamu, dipakai selfie, ussie, rekam, video call. Pokoknya kosong deh."
"Aku gak selebay itu. Aku hanya VC sama kamu."
"Pantesan baterenya awet."
"Jadi HP itu lowbat dipake VC sama Aisyah? Tiap jam juga?"
"Baterainya bermasalah."
"Baterai baru diganti kok bermasalah?"
"Bermasalah kan kalau lupa nge-charge? Sudah dulu ya. Aku sama rombongan lagi ada di Museum Haramain. Waktunya mepet banget. See you later, my babby. Assalamu'alaikum."
Al menutup video call.
"So sweet," komentar Pamela. "Mudah-mudahan satu untuk selamanya."
__ADS_1
"Jangan sampai deh."
"Kok?"
"Berarti aku sama Riany tidak mati-mati, bete juga hidup selamanya."
Al dan rombongan berjalan ke pintu masuk Museum Haramain. Di halaman dipenuhi bis yang mengangkut pengunjung dari berbagai negara.
Museum ini terletak di Distrik Nuzha, Makkah. Sekitar 10 km dari Masjidil Haram. Memiliki dua ruangan besar, ruang koleksi Makkah dan Madinah sehingga disebut The Exibition of Two Holy Mosques Architecture.
Sebelum masuk ruangan, pengunjung disambut banner ucapan selamat datang dengan berbagai bahasa, di antaranya bahasa Indonesia.
Di ruangan paling depan tampak gambar dan model Masjidil Haram dan Masjid Nabawi dari masa ke masa.
Pada ruang koleksi Makkah terdapat benda-benda antik yang berhubungan dengan Masjidil Haram, benda-benda yang berhubungan dengan Ka'bah; kain kiswah, pintu Ka'bah, kayu penyangga Ka'bah, dan tangga menuju Ka'bah.
Ada pula manuskrip berbagai naskah termasuk naskah mushaf Al-Qur'an yang ditulis pada jaman Khalifah Utsman bin Affan. Dan eksplorasi sejarah air zam zam mulai sejak ditemukan; titik areal zam zam, timba, kerekan, hingga proses modern.
Yang terakhir adalah koleksi Madinah yang berisi berbagai benda dan gambar yang berkaitan dengan perkembangan Masjid Nabawi.
Nek Surti paling heboh foto-foto, di setiap stan benda yang dilihatnya pasti selfie, padahal tidak tahu itu benda apa. Pamela sampai tidak sempat menikmati ornamen yang instagramable itu, sibuk melayani neneknya.
"Aku juga pengen ussie, Nek," keluh Pamela. "Bentar ya."
"Kamu diajak ke Makkah untuk melayani aku," sergah Nek Surti. "Bukan buat senang-senang sendiri."
"Kalau buat jadi pelayan, buat apa ngajak aku?" bantah Pamela. "Ajak saja Mak Ijah."
Eyang Munzir menawarkan diri. "Sini aku fotoin."
"Ogah," tolak Nek Surti mentah-mentah. "Tar fotoku jadi jelek."
"Muka udah kisut emang pengen kelihatan gimana lagi?"
"Pamela bisa bikin aku jauh lebih muda. Nah, kamu bisa bikin aku kayak tengkorak."
"Terus kalau kelihatan jauh lebih muda bisa dapat brondong apa?" gerutu Eyang Munzir.
Pamela terpaksa mengambil foto Nek Surti yang bergaya di mihrab Nabawi.
Mereka tidak lama di Museum Haramain karena mengejar shalat Dhuhur di Masjidil Haram.
Di sepanjang perjalanan ke Masjidil Haram Al bertalbiyah lewat pengeras suara diikuti oleh rombongan.
Karena Dhuhur sudah tiba, mereka melakukan thawaf dan sa'i sesudah shalat, diakhiri dengan tahallul. Kemudian mereka meninggalkan Masjidil Haram untuk makan siang dan istirahat.
"Kok gak VC lagi?" tanya Aisyah ketika ada kesempatan bicara dengan Al. "Katanya tiap satu jam sekali."
"Lowbat."
"Modus."
"Kok tahu sih?"
"Kamu harusnya bersyukur punya calon perhatian banget. Nanya sudah makan apa belum, ada masalah tidak, ngingetin banyak-banyak minum zam zam, biar fisik tetap prima."
"Sekalian menyelidik."
"Riany cuma ingin menunjukkan rasa sayangnya."
"Lebay, tahu gak?"
"Banyak yang lebih lebay, tapi enjoy aja tuh."
Al heran. Aisyah seperti tidak memendam dengki pada Riany, padahal di antara mereka ada persaingan untuk merebut perhatiannya. Atau Aisyah menganggap Riany sebagai saingan yang tidak perlu dikalahkan?
Kalau benar demikian, matilah Al. Aisyah berarti ingin hidup berdampingan dengan Riany, sedangkan Al hanya punya satu cinta.
Al bukan tipikal laki-laki yang berani mempertaruhkan akhirat demi kesenangan dunia. Dia hanyalah laki-laki biasa yang ingin memiliki pasangan hidup biasa. Tapi bagaimana kalau takdirnya ... empat?
"Belum apa-apa sudah mikir madu empat," tegur Aisyah pelan seolah tahu isi pikirannya. "Satu saja kabur-kaburan."
"Ngomong apaan sih?"
"Aku deketin Oma bukan ingin menarik simpatimu. Aku butuh teman, bete jalan-jalan sendiri."
"Kalau cuma bete, kenapa gak nyewa guide? Bisa menemani kamu ke mana-mana, kapan pun."
"Guide aku adalah kamu," bisik Aisyah merdu. "Guide hidupku. Itu ketetapan hatiku."
"Riany pasti keberatan."
__ADS_1
"Yakin Riany takdirmu?"
"Perempuan yang menemani di saat-saat akhir hidupku itulah takdirku."
"Dan itu Riany?"
"Bisa siapa saja."
"Berarti bisa empat?"
"Bisa juga satu."
"Mampu mengunci hatimu untuk satu perempuan?"
"Aku tidak tahu kalau sering ditinggal seperti ini."
"Ta'aruf sama Riany karena apa?"
"Karena cantik dan seksi kali ya," sahut Al seperti sengaja.
"Astaghfirullah."
"Kok istighfar?"
"Yang terbaik itu menikah karena agamanya."
"Aku bukan laki-laki terbaik. Jadi wajar motifnya pas-pasan. Lagi perkara itu kan sunah."
"Justru perkara itu yang mempertaruhkan dunia dan akhiratmu."
"Betul. Tapi bagaimana nasibnya kids jaman now yang kurang agamanya? Mereka berarti tidak bisa bersuami sebab laki-laki memilih karena agamanya. Bagiku hadits riwayat Bukhari itu sebagai panduan, bukan ketetapan. Kalau kurang agamanya, ya cukupi. Kalau kurang cantiknya, ya buat supaya cantik. Kalau kurang hartanya, ya ikhtiar. Kalau jelek keturunannya, ya perbaiki."
"Terus?"
"Kalau agamanya tidak bisa dicukupi, berarti hal lainnya tidak berguna, cuma jadi beban di akhirat."
"Terus?"
"Cerai."
"Terus?"
"Ambil kamu jadi istri."
"Terus?"
"Ambil Lin Wei."
"Terus?"
"Wulandari."
"Terus?"
"Pamela Bordin."
"Terus?"
"Terus koplak kali ya."
Al beruntung mendapatkan Riany yang memenuhi empat perkara. Kaya, terpandang, cantik, dan agamanya baik. Tapi tidak semua laki-laki seberuntung itu, bahkan ada yang harus membenahi empat-empatnya.
Mereka tiba di depan pintu lift GF hotel. Rombongan berpencar mencari lift kosong, lalu naik ke lantai 33.
Oma mengajak Aisyah untuk makan siang prasmanan di hotel. Al sengaja merubah keputusan Riany, minta ke pihak hotel untuk tidak diantarkan ke kamar masing-masing, bukan hemat biaya, sekali-sekali mereka perlu kumpul bersama dalam suasana santai.
"Buat tamu hotel saja kali, Oma," senyum Aisyah.
Oma menoleh ke Al. "Aisyah boleh ikut prasmanan kan, cah bagus?"
"Boleh. Boleh. Jatahnya dua porsi. Dinar dan Riany."
"Aku pamit saja."
"Lah, terus ikut ke hotel ngapain?"
"Nganterin Oma."
"Beneran tidak makan kamu?" desak Oma.
"Terima kasih, Oma."
__ADS_1
"Ya sudah, Oma juga tidak makan. Kita ke kamar istirahat."
Aisyah terpaksa ikut antri prasmanan.