
Kejadian di kamar hotel itu membuat Riany malu untuk bertemu dengan Al. Dia sebenarnya hanya ingin mencoba kimono itu, dan akhirnya dapat memahami kenapa Dinar membelinya.
Riany begitu mengagumi kesempurnaan tubuhnya yang terpancar erotis dari balik kimono yang transparan. Dan jujur dia sempat berpikir kira-kira apa reaksi Al jika kelak melihat istrinya keluar dari kamar mandi dengan penampilan seperti itu.
Tapi rasa malunya hilang tatkala melihat batu hitam di Baqi. Oma pergi tanpa sedikitpun firasat di hatinya. Atau dia lagi dirundung duka sehingga tidak dapat merasakan firasat yang datang?
Selepas Dhuhur, Riany mendapat kesempatan berkunjung ke makam Nabi. Mendendangkan shalawat beberapa lamanya, lalu shalat taubat di Raudhah, minta ampun atas dosa yang tidak sengaja di kamar itu.
Pulang ke hotel, Riany langsung menuju ke kamar Oma untuk mengambil travel bag-nya. Al menaruhnya di kamar Oma, pertanda bahwa dia sebenarnya yang diharapkan untuk menemani Oma. Tapi malah Aisyah yang berkesempatan menemani Oma disaat-saat terakhir hidupnya.
Riany mengetuk pintu kamar tiga kali dan memberi salam. Tidak ada jawaban. Dia ulang sekali lagi. Sepi.
Aisyah keluar dari kamar sebelah dan menunjukkan kartu. "Al titipkan ini ke aku."
Kemudian gadis itu berjalan menghampiri dan menyerahkan kartu.
"Tidak bisa apa kasih langsung ke aku?" protes Riany kurang senang.
"Jealous deh."
"Kamu shalat bareng aku."
"Bedanya aku menengok ke pintu dan melihat Al melambaikan tangan, sedang kamu langsung antri ke makam Nabi."
"Terus Al tidur di mana?"
"Perlu kita undi?"
"Tidak lucu."
"Lagian bukan stand up komedi."
"Aku sama Irma saja."
"Jadi kau biarkan Al tidur sendiri? Apa tidak bahaya?"
"Memangnya selama aku pergi kamu sering menyelinap diam-diam?"
Aisyah menjawab dengan kalimat yang membuat Riany semakin panas, "Kira-kira kasih tahu jangan ya?"
"Memangnya gadis Al Khanza biasa masuk ke kamar laki-laki?" sindir Riany tajam.
"Sudah dua malam Al mabit di Nabawi," sahut Aisyah santai, "dan malam nanti yang ketiga."
Riany menatap separuh tak percaya. "Jadi Al belum pernah bermalam di hotel?"
"Tidur di hotel hanya membuatnya ingat ke Oma. Pada siapa lagi dia mengadu selain kepada Allah? Calon istrinya tidak ada."
__ADS_1
"Kesempatan yang baik buat kamu menghibur Al," pancing Riany, "sekalian mencuri hatinya."
Aisyah tersenyum samar. "Aku bukan perempuan penggoda. Cukup satu perempuan yang masuk diam-diam ke kamar ini."
Riany terkejut. Gadis itu tahu dari mana? Al tidak mungkin cerita. Apa begini kerja hijaber yang satu ini? Suka mengintip orang!
"Aku kebetulan lagi lewat. Ada cowok keluar dari kamar ini dengan mimik wajah seolah baru melihat dosa yang luar biasa."
"Aku tidak tahu kalau Al ada di dalam," gerutu Riany keki. "Gadis Al Khanza menjebakku."
"Aku pikir sih mahasiswi Madinah kelewat gatel, jadi dilabrak deh aturan."
"Aku benar-benar tidak tahu!"
"Pas lagi pakai daleman ya? Aurat meleber ke mana-mana tuh. Malaikat lari terbirit-birit."
"Maka itu aku shalat taubat. Aku merasa malu pada Allah."
"Terus reaksi Al heboh gak?"
"Aku tidak mau mengingat kejadian itu."
"Santuy aja kali."
"Cukup kamu yang tahu."
Kelihatannya cuma Aisyah yang bisa berdamai dengannya. Atau ini strategi? Gadis itu akan mengambil Al pada saat yang paling tepat?
Aisyah sepertinya tidak berniat merebut. Dia ingin berbagi. Dia mendukung Riany jadi istri pertama untuk mendapatkan posisi yang kedua!
"Kesempatanku adalah jadi istri kedua," kata Aisyah terus terang. "Jadi jangan berpikir aku akan merebut Al darimu. Aku bukan pelakor."
Riany percaya dengan ucapannya. Kalau Aisyah mau, sekaranglah peluang yang paling bagus. Cinta Al lagi di persimpangan. Dan Riany tidak akan mendapat simpati seandainya pemuda itu membatalkan ta'aruf dan berpaling pada Aisyah. Kepergian ke Riyadh cukup jadi alasan.
Riany sudah menjelaskan semua peristiwa yang terjadi di Riyadh sehingga tidak dapat mendampingi mereka dan mengiringi kepergian Oma. Tapi mereka tidak bisa menerima. Nidar dan Irma yang diharapkan bantuannya malah semakin memojokkan dirinya.
"Meninggalkan rombongan dan membiarkan Al mengurus sendiri jenazah Oma adalah kesalahan besar," kata Nidar. "Aku tidak mau tahu apa alasanmu. Kalau tidak suka dengan sikapku, silakan pecat aku jadi marbot masjid sekarang juga."
"Kamu juga boleh pecat aku jadi pengurus perpustakaan," timpal Irma. "Kamu sudah berkhianat padaku. Dan jangan tanya apa pengkhianatan itu, kamu cari sendiri!"
Riany betul-betul berada dalam posisi tidak menguntungkan. Mencari waktu untuk berbicara dengan Al sangat sulit. Pemuda itu tidak pulang-pulang dari Masjid Nabawi. Sekalinya pulang untuk tahlilan, lalu pergi lagi tanpa makan malam.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan di antara kita," kata Al tawar, selesai tahlilan yang keempat. "Seandainya kamu tidak kembali sekalipun."
Riany memandang sedih. "Kok begitu ngomongnya? Kamu berharap aku tidak kembali?"
"Kamu pergi atas izinku. Jadi aku harus terima apapun risikonya."
__ADS_1
"Aku pasti kembali untuk cintaku. Aku tidak peduli apa yang terjadi di Riyadh seandainya aku tahu Oma tiada saat itu."
"Sudahlah. Aku tidak mempersoalkan hal itu. Kamu urus rombongan. Aku tinggal di Nabawi, kamu tinggal di kamar Oma sampai kita pulang."
Riany hanya bisa pasrah. Kata-kata itu menandakan kalau Al tidak peduli lagi dengannya. Ketidakhadiran di pemakaman Oma benar-benar membawa bencana baginya.
Ketika Al seharian tidak bergeser dari Raudhah, Riany mencoba menyelinap masuk lewat sekat belakang dan menaruh setangkai buah tin di dekatnya.
"Aku ingin kamu merindukan Oma dengan keadaan terbaik dirimu," ujar Riany. "Jangan buat aku sakit karena memikirkan kesehatanmu."
Riany tetap memperhatikan kesehatan Al sekalipun pemuda itu tidak butuh perhatiannya. Dia tidak ingin mengurangi kasih sayangnya. Dia kira penyesalan calon suaminya tidak lebih besar dari perasaan bersalahnya kepada Oma.
Saat Lukman mencoba membelanya, situasi malah tambah parah. Semua kompak mengasingkan mereka. Dinar malah menganggap sepele permasalahan ini.
"Biarkan saja," kata Dinar saat Riany minta bantuannya. "Nanti juga adem sendiri."
"Kayaknya nggak deh, Kak," sanggah Riany. "Kak Dinar mesti turun tangan."
"Kamu itu ketua rombongan, masa masalah cetek begini saja tidak bisa mengatasi?"
"Ini bukan masalah cetek, Kak," bantah Riany tidak senang. "Aku dimusuhi ramai-ramai."
"Al juga?"
"Saat ini dia sulit diajak bicara, bahkan tidak peduli aku kembali atau tidak."
Dinar terkejut. "Yang benar?"
"Aku sudah bilang masalah ini tidak main-main. Ta'arufku di ambang kehancuran. Kakak harus menolongku."
"Lalu apa yang harus kusampaikan ke mereka?"
"Kak Dinar cerita apa yang terjadi."
"Kan sudah sama kalian. Intinya mereka tidak terima kamu tidak menghadiri pemakaman Oma, apapun alasannya, karena kamu ketua rombongan."
Kak Dinar benar, pikir Riany lesu. Jabatan ketua rombongan membuat dia jadi musuh bersama. Lukman hanya kena getahnya. Dia lalai akan tanggung jawabnya gara-gara pemuda itu.
Riany berusaha menghadapi persoalan ini dengan kepala dingin. Ketika esok paginya rombongan menolak dipimpin olehnya, dia tidak terpancing, dibiarkan saja Al mengatur rencana.
Hari ini ada dua agenda, berkunjung ke Masjid Quba sekalian pergi ke kebun kurma karena tempatnya berdekatan. Al merubah agenda itu, ke kebun kurma hari terakhir. Jadi boros biaya.
"Mereka ingin puas jalan-jalan," kata Al. "Uang tidak masalah di rombongan ini. Mereka siap keliling jazirah Arab saat ini juga kalau aku bersedia mengkoordinir."
Riany sudah kehilangan simpati dari rombongan. Dia mencoba bersabar. Tapi dia tidak bisa menahan kesal saat minta izin untuk memanggil Lukman yang terlambat kumpul, begitu balik lagi bis sudah pergi.
Tega-teganya Al meninggalkan dirinya! Apa karena ada Aisyah sehingga lupa sama calon istrinya?
__ADS_1