Cinta Untuk Gadis Madinah

Cinta Untuk Gadis Madinah
Episode 30


__ADS_3

Al pergi ke tempatnya semula di serambi selatan. Di sudut serambi, dia menemukan Oma duduk mengasingkan diri sambil beristirahat menunggu waktu Ashar.


Al duduk di sampingnya dan berkata, "Oma kok sendirian saja? Biasanya ada Nek Surti."


"Lagi sibuk."


"Sibuk ngerumpi?"


"Jangan berburuk sangka."


"Nah, itu di taman lagi tertawa-tawa sama gang-nya."


Oma merapikan pakaian ihram dan menyimpannya di dalam tas. Latihan manasik untuk hari ini sudah selesai.


"Maafkan Al."


"Oma selalu memaafkan kamu sekalipun tidak tahu apa kesalahannya."


"Seharusnya saat thawaf dan sa'i Al mendampingi Oma."


"Tidak apa, ada Riany, Harbi juga."


"Seharusnya Al."


"Oma tahu kamu tidak nyaman setiap ada Harbi. Cemburu?"


"Lagi Al hilangkan sedikit-sedikit karena perasaan itu salah."


"Sebaiknya begitu. Kalau dibiarkan, rasa tidak nyaman itu akan jadi penyakit."


"Arya mengacaukan semuanya."


"Malu ya cinta kamu ketahuan sama Riany?"


"Jelas dong, Oma. Riany kan sudah punya calon."


"Postingan Arya seharusnya membuat kamu sadar, bukan jadi heboh."


Al terdiam. Barangkali Oma benar. Mengapa dia begitu meributkan rasa malu padahal ada risiko besar menanti?


Abi Hamzah tentu tidak suka ada orang merecoki hubungan puterinya. Bagaimana kalau dia lapor sama Ayah? Ribet urusannya!


"Di Madinah dan Makkah, Al tidak mau jauh-jauh dari Oma," kata Al menghalau kepenatan pikirannya. "Al ingin menjaga Oma."


"Oma senang mendengarnya."


"Al ingin jadi bodyguard Oma," canda Al. "Biar Arab Baduy tidak berani macam-macam."


"Memang kamu masih suka berantem?"


"Kalau pas latihan."


"Kirain beneran, Oma sampai kaget."


"Kaget kok ekspresinya biasa-biasa saja?"


"Seperti itulah seharusnya hidup di jaman sekarang, cah bagus. Jangan tunjukkan perasaan apapun di hadapan orang, kecuali perasaan yang menyenangkan orang itu."


"Karena bukan solusi yang didapat, malahan tambah masalah. Seperti kejadian yang dialami Al sekarang."


"Ini baru cucu Oma."

__ADS_1


Oma sebenarnya ingin pergi sama Opa, pikir Al kelu. Tapi Opa malahan pergi sama istri mudanya.


"Al bisa paksa Opa menemani Oma," desis Al getir. "Kalau Oma izinkan."


"Dipaksa diseret-seret kayak travel bag maksud kamu?"


Al tersenyum kecut. "Dibungkus kayak lemper terus dimasukkan ke hand bag."


"Oma tidak ingin pergi dengan Opa atau siapa. Oma ingin pergi sama kamu. Kamu bisa jadi pelita di dalam kegelapan."


"Kayak lagu."


"Kamu orang yang paling paham tentang Oma. Tidak bisa menentang aturan agama, tapi berani menentang Opa karena belum tentu sesuai aturan agama."


"Oma." Tiba-tiba Al teringat sesuatu. "Biar ada teman, bagaimana kalau Oma tinggal di Yogya saja sama Al setelah pulang umrah?"


Oma terlihat senang. "Benar, cah bagus? Kamu yakin bisa kerasan tinggal sama Oma yang banyak aturan?"


"Hidup mesti ada aturan, Oma."


"Kalau begitu kamu segera cari apartemen. Kalau bisa yang dekat-dekat keraton."


"Nostalgia ya, Oma?"


"Oma jadi ingat rumah yang dulu. Toko batiknya juga."


"Sayang banget dijual ya, Oma?"


"Jalan hidup, cah bagus."


Keluarga Oma semua tinggal di Jakarta. Buka usaha di kota lebih menjanjikan. Sementara keluarga Opa merantau di Surabaya. Kaya-kaya. Maka itu Opa tidak setuju dengan pernikahan Ayah dan Ibu, karena Ayah cuma pegawai biasa. Kehadiran cucu membawa berkah.


Oma pindah ke kampung karena Opa kawin lagi. Urusan bisnis butik dilimpahkan kepada orang kepercayaan. Oma ingin dekat dengan Ibu, anak tunggalnya, terutama cucunya. Tapi Arya susah jadi pelipur. Paling-paling berkunjung untuk minta uang.


"Nasinya sudah basi barangkali, Oma."


"Kamu harus makan tepat waktu, cah bagus. Kalau sudah kena penyakit, repot."


"Tidak lapar, Oma."


"Makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang, itu nasehat dokter. Coba kamu periksa nasinya, barangkali belum basi. Mubazir nanti terbuang."


Al memeriksa isi lunch box, lalu berkata, "Lumayan segar, Oma. Belum basi."


"Makanlah."


"Al tidak biasa makan sambil ngobrol. Rasa nikmatnya kurang."


"Sedangkan rasa nikmat mendekatkan kita pada rasa syukur."


"Betul."


"Makanlah. Oma temani dengan berzikir."


Al mulai makan. Oma mengambil botol air mineral. Dia bukakan tutupnya karena Oma kesulitan. Kemudian berzikir tanpa suara.


Selesai makan, Al merapikan kotak nasi dan membuangnya ke tempat sampah.


Riany datang dan berkata, "Oma dicari ke mana-mana tidak tahunya ada di mari."


"Oma biasa di mari kan, cah ayu?"

__ADS_1


"Oma biasa di sudut serambi utara, ini selatan."


Oma sebenarnya belum pikun, tapi sifat pelupanya kadang kambuh. Ini yang membuat Al harus ekstra ketat menjaganya di Saudi. Sekali lupa bisa repot sampai kedutaan.


Oma bangkit menghampiri Nek Surti yang melambaikan tangan memanggilnya, sekalian ingin memberi kesempatan kepada mereka berdua, sepertinya lagi ada masalah. Dia lihat sepanjang siang Al seolah menghindari Riany.


Mereka harus menyelesaikan masalah itu secepatnya sebelum segalanya terlambat. Ketika cinta sudah terlanjur memilih, mereka tidak akan dapat menghapus jejaknya.


Riany duduk sedikit di relief pilar serambi. Sebenarnya dia ingin duduk di lantai bersama Al, tapi tempat itu agak tersembunyi dari pandangan orang-orang. Tidak enak.


Al masih sakit hati dengan kejadian itu. Dia segera bangkit hendak pergi, tapi teguran lembut Riany menghentikan langkahnya:


"Kamu marah sama aku?"


Al menoleh sekilas. "Mau kamu aku tasyakuran? Aku tahu konyol mencintai calon istri orang lain, tapi tidak sekejam itu hukumannya."


"Aku tidak bermaksud menghukum kamu," tatap Riany syahdu. "Aku hanya ingin mendapat hadiah yang pantas. Enam tahun enam bulan aku menanggung beban rindu, sejak aku mengenal cinta."


Mestinya Al bahagia mendengar pengakuan itu. Tapi nyatanya malah semakin menenggelamkannya dalam lautan kecewa. Andai saja dia tidak terlambat hadir, barangkali cintanya tidak membusuk. Biarlah semua ini jadi kenangan yang mengisi perjalanan hidupnya.


"Pengakuan kamu tidak merubah keadaan, dan memang seharusnya seperti itu."


"Aku katakan ini supaya kamu tidak merasa dipermalukan. Aku bangga kamu berani menyatakan cinta di hadapan mereka. Aku melakukan hal yang sama sebelumnya dan di-bully habis oleh mereka."


"Kau katakan cinta di depan calon suamimu?" pandang Al tak percaya. "Kau tahu apa risikonya?"


"Harbi tidak seperti dalam pikiranmu."


Tapi laki-laki mana yang tahan melihat calon istrinya membeberkan pengkhianatan cinta di hadapan orang banyak? Atau Harbi tidak peduli dengan semua itu? Yang penting Riany jadi miliknya!


"Aku rindu masa anak-anak." Mata Riany menerawang kelam. "Saat itu kamu begitu terbuka pada ratu kecilmu, sehingga aku tahu semua tentang dirimu. Sekarang kamu tidak pernah lagi cerita tentang dirimu, sehingga aku kehilangan jejak."


"Bukankah itu pula yang kudapat darimu?"


"Tidak ada kejadian istimewa yang pantas kuceritakan."


"Perjodohan itu tidak istimewa?"


"Itu bukan kisah tentang kita."


"Tidak ada kisah di hidupku selain rindu terlarang."


"Ada satu kejadian yang tidak kamu ceritakan, padahal itu sangat istimewa bagiku."


"Apa itu?"


"Ibu bisa menerima kehadiran aku di makan malam keluarga, asal kamu bisa yakinkan Ibu kalau aku datang sebagai calon istrimu. Benar begitu?"


Al kaget. Dia tahu siapa yang membocorkan. Tantangan konyol itu cuma bentuk kejengkelan Ibu karena melihatnya terus-terusan membela Riany. Dia tahu mana mungkin Al berani melakukan itu!


"Pengkhianat bangsa si adek."


"Malam ini aku ingin bertemu sama Ibu."


"Jadi nekat begitu sih?"


"Bodo."


"Kamu sudah ada yang punya, jadi itu tidak mungkin. Makanya Ibu berani melempar tantangan."


"Aku yang menentukan mungkin tidaknya, bukan kamu."

__ADS_1


"Kok gitu?"


"Siapa suruh jatuh cinta?"


__ADS_2