
Senyum ceria membuat kamar putih jadi berwarna saat Al membuka pintu. Aisyah duduk bersandar di brankar berlapis seprei putih.
Al hapal senyum itu berisi kejujuran kalau dia senang atas kedatangannya, bukan menutupi derita agar orang lain tidak menaruh iba. Dia belum tahu apa yang membuatnya harus berbaring lama di ruang ICU.
Dia pasti menderita sudah satu minggu lebih belum beranjak dari tempat tidur yang mirip jok sintetis itu. Dia tidak tahu apa yang membuatnya tertahan di ruangan itu.
Mereka seolah menghukumnya dengan tidak memberi tahu apa yang diderita. Sebuah kesalahan dari keputusan yang banyak pertimbangan.
Abi Rashid mengira Aisyah terlalu rapuh untuk menerima keputusan itu. Dia takut puterinya syok. Sebuah perlakuan dari seorang ayah yang tidak tahu kepribadian anaknya secara utuh.
Atau Aisyah memiliki kehidupan berbeda antara di rumah dan di kampus?
Aisyah ingin kelihatan tegar di hadapan teman-temannya, padahal kematian uminya yang secara tragis belum terhapus dari relung hatinya.
Menyelimuti penderitaan dengan sebuah senyuman bukan sifat gadis Al Khanza.
"Kamu sudah sembuh?" tanya Aisyah. Wajahnya terlihat senang melihat Al sudah kembali seperti sediakala. "Pertanyaan bego ya? Kalau belum sembuh, mana bisa menjenguk aku?"
"Rumah sakit membuat orang pintar tampak bodoh, orang kuat tampak lemah."
"Harusnya rumah sehat ya?"
"Rumah sehat masa isinya orang sakit?"
"Ada kerancuan bahasa yang berlangsung turun-temurun."
Al tidak ingin membahas sesuatu yang tidak perlu. Bahasa sekedar lipstik, yang penting esensinya. Untuk apa mempercantik kemasan kalau isinya sama, sebuah manipulasi yang sebenarnya memperdaya dan menciptakan fenomena semu.
"Aku juga sudah sehat," kata Aisyah. "Cuma kaki tidak bisa digerakkan, kenapa ya?"
Ada peluang untuk menyampaikan vonis dokter. Barangkali Abi Rashid tidak tega melihat kebahagiaan yang melambung tinggi itu terhempas ke dasar bumi, padahal Aisyah perlu mengetahui kenyataan yang terjadi pada dirinya.
Jika berpijak pada perasaan, semua orang tidak berani menyampaikan kabar buruk. Ada kalanya seseorang menderita karena dia memang harus menderita. Tapi benarkah Aisyah menderita dengan kenyataan baru yang diterimanya?
Hal ini sangat bergantung pada cara berbicara. Jangan sampai cara itu menambah rumit keadaan. Susahnya adalah bagaimana memberi tahu kabar buruk dengan cara yang baik.
"Dokter gak ngasih tahu apa alasannya?" tanya Al hati-hati. "Pertanyaan bego ya? Kalau dokter ngasih tahu, kamu gak nanya ke aku."
Al melihat di meja kecil ada lobster, jus strawberry, apel, dan pir. Dia bertanya, "Kau belum makan siang? Pertanyaan bego lagi. Kalau sudah, makanan itu tentu sudah habis."
"Aku nunggu jaddah. Biasanya nenekku menyuapi aku. Dia masih di hotel."
__ADS_1
"Terus makanan itu siapa yang menyiapkan? Tidak mungkin pihak rumah sakit."
"Riany yang menyediakan semua itu. Istrimu baik sekali."
Dia ingin menebus dosanya, sahut Al dalam hati. Dia merasa kecelakaan itu terjadi karena kesalahan dirinya.
"Kenapa tidak sekalian minta disuapi sama istriku?" tanya Al. "Dia tidak mau?"
"Aku tidak mau. Dia sudah sangat baik padaku. Dia menyediakan makan pagi, makan siang, dan makan malam. Dia tahu menu kesukaanku. Abi sendiri banyak bertanya. Kamu ngasih tahu istrimu?"
Al tidak pernah memberi tahu apapun tentang Aisyah. Istrinya pasti mencari tahu pada neneknya. Dia tidak mungkin bertanya pada Wulandari atau Lin Wei. Di balik rasa curiga dan cemburunya ternyata ada perhatian yang patut dibanggakan.
"Aku sendiri tidak tahu persis apa menu favoritmu," senyum Al. "Bagaimana aku bisa ngasih tahu istriku?"
Al tahu semua yang dilakukan Riany untuk menebus keegoisan dirinya terhadap suaminya. Dia ingin menyenangkan hatinya dengan memberi perhatian istimewa kepada sahabatnya. Sebuah perlakuan yang sangat berbahaya bagi dirinya sendiri.
Aisyah bisa salah tafsir dengan kebaikannya ini. Bagaimana kalau dia menganggap perlakuan ini adalah cerminan...restu? Masya Allah! Al datang ke kamar serba putih ini bukan untuk fantasi yang menyesatkan!
Dia diminta Abi Rashid untuk memberi tahu apa yang terjadi!
Al memandang gadis cantik di hadapannya dengan lembut, dan berkata, "Kamu harus makan tepat waktu biar gak kena maag. Aku suapi ya?"
Mata yang bertabur pesona Arabia itu menatap tak percaya. "Kamu bersedia?"
"Pertanyaan bego ya?"
Al mengambil pisau dan mulai memotong lobster jadi potongan-potongan kecil, kemudian menyuapi Aisyah menggunakan garpu.
Al tidak banyak bicara saat melayani gadis itu makan.
"Minum," pinta Aisyah.
Al mengambil jus strawberry. Aisyah minum lewat sedotan, lalu makan beberapa suap lagi, selesai.
Al memotong buah-buahan.
"Ada apa sebenarnya?" tanya Riany mulai curiga. "Kenapa kamu mendadak perhatian begini?"
Al tersenyum lembut. "Kok mendadak? Aku pernah begini saat kamu tidak mau makan?"
"Saat itu aku sangat syok mendengar kecelakaan pada pesawat terbang yang ditumpangi Umi."
__ADS_1
"Jadi tidak mendadak, dan tidak ada sesuatu yang mendadak untuk kita."
"Maksudnya?"
"Jalan hidup kita sudah ditentukan oleh Allah, hanya datangnya kadang tidak diduga, barangkali itu yang membuat setiap kejadian terlihat mendadak, sulit diterima, bahkan terlihat ajaib."
"Aku tidak tahu ke mana arah omonganmu."
"Omongan tidak perlu arah, cukup dimengerti."
Al memberi beberapa potong buah pakai garpu.
"Cukup," kata Aisyah saat Al akan memotong buah berikutnya. "Aku sudah kenyang."
Al membersihkan bibir Aisyah dengan tissue. Gadis itu kelihatan sedikit jengah.
"Riany pasti cemburu kalau melihatnya," komentar Aisyah. "Ada hal yang tidak boleh kamu lakukan lagi padaku."
"Hal apa itu?"
"Hal yang membuat Riany curiga dengan perbuatanmu."
Riany selalu curiga dan cemburu dengan apapun yang kulakukan pada kalian, batin Al. Kalian adalah bidadari unik yang sulit dipahami oleh kids jaman now.
Aisyah, Wulandari, dan Lin Wei adalah gadis yang mungkin terlihat bodoh di mata mereka. Tapi di depan cinta siapa yang pintar? Selingkuh adalah bukti dari perbudakan cinta!
Al sudah merasa cukup dengan apa yang dilakukan, dia mulai masuk ke hal yang paling menentukan. "Kamu tidak curiga dengan kakimu?"
Aisyah menatapnya sesaat, seolah ada sesuatu yang menggangu pikirannya, kemudian berkata, "Tentu saja. Aku merasa badanku sudah sehat, jarum dan slang infus sudah dilepas. Tapi kakiku tidak dapat bereaksi. Apakah kakiku mengalami sesuatu yang aku...takuti?"
"Apa yang kamu takuti? Sementara semua peristiwa sudah tercatat di dalam perjalanan hidup kita? Persoalannya, sudah kita jalani apa belum?"
Aisyah memegang tangan Al dan memandangnya dengan kecemasan yang sulit dilenyapkan. "Al.... Apakah aku lumpuh...?"
Al menggenggam tangan Aisyah sesaat seolah ingin memberi kekuatan. "Aku ingin berkata tidak, apapun akan kulakukan untuk itu. Tapi aku tidak bisa membohongi kenyataan, dan tidak ada satupun kenyataan yang di luar rencana-Nya."
Aisyah terdiam sesaat, kemudian air mata mulai mengalir membasahi wajahnya yang elok. Ada desakan yang sulit ditahan untuk membuatnya menangis sejadi-jadinya.
"Menangislah sepuasnya kalau dapat mengurangi bebanmu," kata Al halus. "Satu hal yang kamu perlu tahu, aku tidak akan menarik kata-kataku saat di Kota Suci apapun yang terjadi padamu. Aku tahu ada wasiat Oma yang kamu sembunyikan dariku...."
"Aku ingin sendiri."
__ADS_1
"Aku tidak rela kamu terpuruk seorang diri di kamar ini."
"Aku ingin kamu pergi!" bentak Aisyah di antara sedu sedan tangisnya. "Dan tidak usah kembali!"