Cinta Untuk Gadis Madinah

Cinta Untuk Gadis Madinah
Episode 101


__ADS_3

Al memandang terkejut. Harus diakui istrinya cocok jadi paranormal dibanding sarjana syariah. Dia selalu tepat menebak untuk urusan yang satu itu. Tapi ucapan yang keluar dari mulutnya bukan rasa kagumnya. "Aku heran sampai kepikiran untuk menyudutkan suami dalam situasi begini."


Istrinya diam seakan tidak mau memperpanjang, padahal hatinya barangkali gondok bukan main, tersirat dari awan yang berarak di wajahnya.


Kejujuran kadang susah terungkap walau hanya sebatas dalam pikiran. Perkara Aisyah jadi melebar ke setiap sisi kehidupan. Padahal Al hanya berandai-andai, namun sudah tercium aromanya. Perempuan sungguh hebat.


"Selamat ulang tahun ya, Kak," kata Arya sambil menyerahkan kunci mobil. "Aku mewakili Opa yang tidak bisa datang karena ada urusan bisnis."


"Kemarin kau bilang Opa jalan-jalan ke Paris, hari ini urusan bisnis, besok tanganku yang ngomong."


"Jalan-jalan sambil menghadiri pertemuan bisnis."


Jennifer pasti ikut. Urusan bisnis jadi nomor dua. Perempuan itulah yang paling penting dalam hidup Opa saat ini. Dia bisa menghabiskan hartanya untuk keliling dunia, di balik kedok bisnis.


"Ayah ngasih hadiah apa ke aku?" pancing Al. Dia jadi ingin memanfaatkan situasi yang terjadi untuk kepentingan dirinya. Dia sekarang sudah punya tanggungan, meski harta Oma cukup untuk biaya hidup sampai tujuh generasi.


"Kau jadi matre sih, cah bagus?" tegur Bu Haikal halus. Umi Hamzah yang berdiri di sampingnya sampai tersenyum. "Harta Oma tidak habis untuk dimakan tujuh turunan."


"Hidup bukan cuma makan," jawab Al tenang. "Apa bedanya aku sama kodok kalau begitu?"


"Mendingan kodok," tukas Bu Haikal pedas. "Dia bisa cari makan sendiri."


Al tidak tersinggung apapun yang keluar dari mulut ibunya. Perjuangan seorang ibu untuk membesarkan anaknya tidak dapat ditebus dengan sepenggal rasa.


"Kodok istrinya banyak," senyum Al samar. "Ibu mau aku kayak kodok?"


"Jadi ramai kan," keluh Ayah. "Makanya kalau ngomong jangan asal. Anak kita masih kuliah, masa cari makan sendiri? Lagi pula, perkebunan sudah menanti kalau dia lulus."


"Jadi sibuk banget nanti," timpal Abi Hamzah. "Al juga mesti ngurus pesantren serta travel haji dan umrah."


"Kepegang nggak nanti?" tanya Bu Haikal.


"Kepeganglah," jawab Umi Hamzah. "Ada pegawai membantu."


"Maksud aku kepegang tidak istrinya kalau Al banyak pegang jabatan?"


Mereka tertawa. Riany terlihat sangat bahagia. Al maklum. Dengan banyak memegang tampuk pimpinan, maka pikirannya akan fokus pada pekerjaan. Tidak sempat memikirkan hal lain. Itu yang diinginkan istrinya.


Dia kira suami bisa diikat dengan kesibukan. Selalu ada kesempatan bagaimanapun sibuknya...jika mau. Jadi beban kerja bukan rintangan.


"Aku sudah membeli sebuah rumah untuk kalian," kata Pak Haikal. "Ada yang lelang dan harganya cocok."


Al kaget. Ayah mestinya kompromi dulu sebelum membeli rumah. Selera mereka tentu berbeda. Dia tidak melihat dari sisi kemegahannya, tapi lingkungan yang familier. Atau rumah itu awalnya untuk Fatimah, tapi batal karena menabrak dinding karang?

__ADS_1


"Ayah beli rumah kok tidak bilang-bilang?" tatap istrinya separuh protes, separuhnya lagi curiga. Jangan-jangan bukan hadiah untuk anaknya! "Aku kayak nggak dianggap."


"Aku belinya sama Abi waktu pergi ke rumah koleganya untuk cari lahan perkebunan," jawab Pak Haikal. "Aku belum sempat bilang karena anak kita tertimpa musibah."


"Maafkan saya," ujar Abi Hamzah. "Saat itu Ayah minta pendapat sama saya, lokasinya bagus buat perkembangan anak-anak, atau buat investasi."


"Oma berwasiat agar rumahnya ditempati," ujar Al. "Aku bukan tidak menghormati pemberian Ayah. Baiknya rumah itu buat Arya saja."


Arya memotong, "Lalu rumah Ayah siapa nanti yang menempati? Jadi rumah hantu?"


"Aku tidak melarang kalian untuk menempati rumah Oma," kata Pak Haikal. "Rumah itu bisa kalian jadikan rumah singgah."


"Ayah beli rumah di mana?" tanya Riany.


Pak Haikal menyebutkan sebuah perumahan elit. Al terpana. Perumahan itu adalah tempat tinggalnya Lin Wei. Apakah ini sebuah kebetulan?


"Bukan untuk yang keempat," bisik Riany di telinganya.


Al jadi bingung. Setiap kejadian yang dialami selalu mengarah pada yang empat. Opa sudah membeli kembali rumahnya yang di Yogya untuk sekedar bernostalgia dan menyerahkannya pada Al. Lokasinya berdekatan dengan rumah Wulandari!


"Kamu senang banget bisik-bisik," tegur Umi Hamzah pada puterinya. "Tidak baik bisik-bisik di depan banyak orang, timbul fitnah nanti."


Al terpaksa membela istrinya. "Riany ingin buru-buru pulang, capek seminggu tinggal di rumah sakit, dia butuh istirahat sebelum terbang ke Madinah."


"Kami nunggu Nidar," jawab Abi Hamzah. "Dia lagi pergi ke kantor polisi untuk menanyakan kapan sidang digelar."


"Kalau begitu kita tunggu di rumah makan sambil makan siang," ujar Pak Haikal.


Al menyerahkan kunci Ferrari ke Riany sambil berkata, "Kamu bawa pulang mobil tiga puluh dua milyar, aku naik taksi online ke Yogya."


Riany terpukau. Bola mata bening kebiru-biruan itu memandang tak berkedip seakan tak percaya dengan kata-katanya. Pesona matanya membuat Al sulit mencari bandingnya.


Al tersenyum sedikit. "Kamu gak nyangka kan mobil paling mahal yang kumiliki diberikan sama kamu?"


"Kamu sungguh-sungguh dengan ucapanmu?" tatap Riany kelihatan belum percaya.


"Apa aku kelihatan main-main? Mobil termewah sangat pantas kuberikan pada perempuan terindah. Pasti nanti banyak yang minta tanda tangan disangkanya kamu selebgram."


"Maksudku kamu sungguh-sungguh nyuruh aku pulang?"


Al tidak paham dengan perkataan istrinya. "Kamu mau langsung pergi ke bandara? Ya sudah, kamu kasih kuncinya ke Arya, suruh simpan di pesantren."


"Aku istrimu!"

__ADS_1


"Kodok juga tahu kamu istriku."


"Terus kenapa kamu gak nyadar kalau aku istrimu?"


"Maksudnya apa sih? Aku gak ngerti."


"Aku tidak mau pulang sendiri! Aku punya suami!"


"Aku harus segera ke Yogya. Aku sudah terlambat mengajukan judul skripsi, dan makin molor kalau aku ngantar kamu pulang."


"Lalu aku tidak boleh ikut ke Yogya?"


"Aku tinggal di asrama. Mana mungkin aku bawa istri. Pernikahan kita saja jadi masalah sebenarnya karena ada klausal khusus dari universitas."


"Aku bisa tinggal di hotel!"


"Artinya aku harus tinggal di hotel menemani kamu."


"Keberatan? Kamu suami aku!"


"Yang bilang suami dari Princess Charlene siapa?"


Bu Haikal tersenyum melihat ribut-ribut itu. "Masalah kecil kok jadi ramai? Cah ayu tinggal ngantar ke Yogya, daripada suamimu naik taksi online, beres kan?"


"Suamiku kayak keberatan, Bu!"


Al membela diri, "Aku tidak keberatan. Kamu harus segera pergi ke Madinah. Studimu jangan sampai terbengkalai."


"Aku minta izin dua minggu. Jadi banyak waktu."


Al tidak tahu apa alasan Riany mengambil dispensasi begitu lama. Dia sendiri langsung masuk kuliah besok. Jadi malam ini dia kerja ngebut membuat pengajuan judul skripsi.


Al kuatir istrinya bikin kekacauan di kampus. Dia pasti tidak mau ditinggal sendiri di hotel, apalagi jalan-jalan sendiri keliling kota gudeg.


Teman-temannya pasti heboh. Al belum pernah kelihatan pacaran, tiba-tiba bawa istri ke kampus. Mungut di mana?


Mereka pamit untuk pergi duluan. Ketika hendak masuk ke dalam mobil, Al melihat gorden kamar lantai dua terbuka dan tampak Aisyah duduk bersandar di pembaringan. Dia memandang ke arahnya.


Al tidak tahu apa yang ada di pikirannya. Tatap matanya tidak bercerita apa-apa. Air mukanya begitu tabah dan tenang. Tak menyimpan kemarahan lagi. Al jadi ragu untuk masuk ke dalam mobil.


Pak Haikal sempat melihat kejadian pandang-pandangan itu. Dia mendatangi anaknya dan menepuk bahunya, lalu berkata, "Jadi laki-laki itu berat meski banyak memperoleh keringanan dari agama."


Gorden jendela tertutup. Al masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


__ADS_2