
"Kabarnya Ayah akan menikah dengan Fatimah dalam waktu dekat," kata Arya. "Informasi ini beredar di kalangan pengurus DKM."
"Jadi Ibu belum tahu?" tanya Al. "Atau pura-pura tidak tahu?"
"Tahu atau tidak, apa bisa Ibu? Dia harus menerima kalau perempuan tidak bisa memiliki suami seutuhnya."
Al menatap tidak senang. "Kamu jadi kayak membela Ayah?"
"Biaya kencan sama Belinda sangat tinggi. Aku harus mendukung orang-orang yang memberi keuntungan secara finansial."
"Jangan sampai uang mencelakakan kamu. Hidup atas perintah uang cuma membuatmu terperdaya dalam kebahagiaan semu."
Al sudah tahu kenapa adiknya begitu gampang menerima Jennifer, dan kini coba-coba masuk ke dalam kehidupan ayahnya. Dia ingin mengeruk keuntungan untuk kepentingan pribadi.
Jennifer adalah puteri pengusaha yang berhasil kembali ke puncak kesuksesan berkat pertolongan opanya. Dia tidak ada masalah dengan rengekan Arya. Opanya juga pasti tidak membiarkan.
Dukungan Arya membuat posisinya sebagai cucu kesayangan tergeser. Al tidak ambil pusing, perhatian omanya sudah cukup baginya. Dia tidak akan menggugat jika kelak Jennifer dan Arya yang mewarisi kekayaannya.
Al bukan sosok yang gemar mengumpulkan harta. Dia justru takut dengan harta yang dimilikinya. Dia sering menangis dalam sujud malamnya, dan bertanya pada Al Ghaniyy, mengapa diberi cobaan dalam bentuk kenikmatan?
Jadi Al tidak masalah jika nanti kehilangan pamor di depan ayahnya karena tidak memberi dukungan seperti adiknya. Dia juga tidak keberatan kalau seluruh harta diberikan kepadanya.
Harta adalah perkara yang berusaha dihindarinya setelah mendapatkan apa yang diinginkan dari omanya. Dia tidak mau jadi orang yang terlalu kaya, karena "terlalu" kesannya berlebihan, dan akan menjadi ancaman utama dalam kehidupan abadi kelak.
Al sebenarnya tidak setuju dengan kehidupan Arya yang terlalu glamor. Untuk ukuran anak SMA, budget senilai lima ratus juta per bulan, menurutnya sudah berlebihan.
Padahal Al berharap, dengan transfer tiga ratus juta per bulan darinya akan membuat Arya berhenti meminta kepada Jennifer dan ayahnya, namun uang dari mereka tetap mengalir.
Kehidupan Arya sudah jauh meninggalkan crazy rich di kampung ini. Pacar juga tidak sekedar cantik, tapi memiliki jutaan followers. Pacar terakhir sebelum Belinda adalah seorang selebgram.
Al tidak tahu mau jadi apa anak itu nanti dengan hartanya.
__ADS_1
"Ibu kayaknya belum tidur," kata Arya melihat lampu ruang tamu masih menyala. "Dia menunggu Ayah pulang."
''Memangnya Ayah pergi ke mana?" tanya Al.
"Mana aku tahu? Kakak lupa aku baru pulang dari Yogya?"
"Jangan sok cupu. Aku tahu kamu pasti punya mata-mata di jajaran pengurus DKM. Jadi mau di manapun kamu berada, kabar tentang Ayah pasti sampai. Kecuali kamu berada di akhirat, aku tidak tahu kabar itu sampai apa tidak."
"Kakak bisa dengar sendiri dari Ibu untuk lebih jelasnya. Aku capek. Besok aku ngantar Belinda untuk memperpanjang paspor."
"Masya Allah, cuma menjawab Ayah pergi ke mana saja pakai banyak alasan. Apa transferan aku masih kurang?"
"Tiga ratus juta bisa buat apa di negeri petro dollar?"
"Kamu sebutkan saja kebutuhanmu berapa. Aku juga tidak mau kamu bikin sengsara anak orang."
"Tapi kita sudah sampai pintu nih, Kak? Tinggal putar gagang kunci, kelihatan deh Ibu di dalam. Bagaimana kalau Ibu saja yang bercerita? Budget tambahan tetap aku susun."
Al memandangnya dengan keki. "Kamu itu sebenarnya adikku bukan sih? Perasaan aku nggak matre banget!"
Mereka bicara tentang madu seolah tidak ada perempuan di situ. Arya tidak tahu kalau dukungan pada ayahnya bukan cuma menyakiti hati ibunya, tapi kakak iparnya juga.
Dia jadi curiga kalau adik ipar ini sudah menyusup ke dalam kehidupan kakaknya. Mendukung penuh untuk menghalalkan tiga perempuan itu buat meningkatkan penghasilannya.
Kid jaman now aneh-aneh. Bukan mementingkan kualitas hidup, tapi gaya hidup yang diutamakan, barangkali karena tingginya tekanan hidup.
Bu Haikal segera bangkit dari sofa tamu begitu tahu siapa yang masuk. Ia langsung memamerkan senyumnya dan berkata, "Cepat sekali kalian tiba? Aku kira sekitar jam sepuluh malam baru sampai."
Kemudian Bu Haikal memarahi anak bungsunya, "Kamu pasti ngebut. Aku sudah berapa kali bilang, jangan bawa mobil ugal-ugalan. Kamu senang ya ibumu sport jantung?"
Tragedi di jalan tol yang menimpa kakaknya membuat Arya pusing setiap kali mengantar ibunya untuk suatu keperluan. Berisiknya suara beliau mengalahkan bisingnya bunyi klakson yang merasa terganggu dengan laju mobilnya yang lambat.
__ADS_1
Ibunya tidak mau diantar sopir. Dia lebih rela menggagalkan acaranya kalau bentrok dengan keperluan anaknya. Dia merasa risih berada di dalam mobil berdua bersama laki-laki bukan muhrim.
Ayahnya lagi mencari sopir perempuan, tapi cukup sulit menemukannya di kota kecil ini. Fatimah bersedia jadi sopir pribadi, tapi tentu saja pilihan terburuk bagi ibunya.
"Lihat jam dinding," kata Arya. "Menurut Ibu jam berapa?"
Padahal di ruang tamu tidak ada jam dinding.
"Sejak kapan kamu lihat jam dinding di ruang tamu? Matamu pasti capek karena kebanyakan ngebut!"
"Aku pasang kan jam dinding di layar utama handphone Ibu," kelit Arya. "Jadi bukan cuma pengingat waktu shalat, pengingat Ibu juga kapan boleh marah."
"Berani kamu menasehati ibumu," sergah Bu Haikal. "Bagaimana kalau sudah jadi orang nanti? Mau berdiri di atas kepalaku?"
Arya merasa lebih baik lekas menyingkir. Ibunya susah menerima masukan kalau lagi badmood. Bagaimana kalau ayahnya jadi mengambil madu? Lebih baik dia tinggal di rumah kakaknya di pesantren.
"Aku capek mau istirahat." Arya mencium tangan ibunya, lalu pergi ke ruang dalam.
Al tahu kalau ibunya habis menangis dan coba disembunyikan di balik senyumnya yang keibuan.
Apa yang membuat ibunya menangis? Apakah kabar rencana pernikahan ayahnya sudah sampai ke telinganya?
Al kelihatannya bakal berhadapan dengan ayahnya. Dia tidak punya alasan yang cukup untuk menghalalkan Fatimah. Uang sudah menunggangi syahwatnya!
Tapi Al tidak mau terpancing sebelum mengetahui keadaan yang sebenarnya. Kabar yang beredar bisa saja dihembuskan untuk menggoyang kedudukan ayahnya sebagai ketua DKM.
Riany cium tangan dan cipika cipiki ibu mertuanya, lalu mengambil kantong belanjaan di tangan suaminya. "Ini batik canting pesanan Ibu, dan yang ini buat Ayah."
"Yang buat Ayah kamu berikan sendiri," kata Bu Haikal sambil menolak kantong belanjaan itu. "Biar dia tahu kalau menantunya sangat memperhatikannya. Biar punya malu sedikit sama menantunya."
Al terhenyak. Ucapan itu cukup kasar untuk disampaikan kepada istrinya. Kemarahan ibu kiranya sudah mencapai puncak, sehingga dia tidak bisa mengontrol lagi kata-katanya.
__ADS_1
Al bertanya dengan hati-hati setelah cium tangan, "Memangnya ada apa dengan Ayah, Bu?"
"Pengantin baru dari Yogya saja sudah pulang! Masa ayahmu sudah dua hari pergi sama Fatimah belum pulang?"