
Pak Muji tengah dikerubungi oleh geng klitih ketika Al keluar dari dalam rumah. Mbok Narti langsung mengunci pintu sesuai dengan perintahnya.
Al tidak mau orang rumah terancam ketika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Apa yang terjadi di luar adalah urusan laki-laki.
Al tidak gentar meski sepuluh orang yang mendatangi rumahnya membawa senjata tajam. Mereka rata-rata berumur tujuh belas tahun. Anak baru gede.
Al semakin tenang menghadapi mereka melihat Pak Muji seakan tidak takut dikelilingi oleh sekelompok anak muda memegang celurit. Dia barangkali pikir-pikir untuk melawan karena jumlah mereka cukup banyak.
"Lu yang namanya Al Farisi?" gertak ketua geng klitih yang memegang celurit paling besar, biasanya untuk menutupi nyali yang kecil.
Kuping Al terasa gatal dipanggil lu. Kids jaman now sungguh tidak ada tata krama. Padahal usia mereka terpaut lumayan jauh.
Sopan santun jadi barang langka yang hampir punah.
"Kamu masih sekolah?" tanya Al tenang.
"Kelas dua belas SMA, bro," jawab ketua geng klitih. "Bentar lagi lulus."
Apa jadinya negeri ini kalau generasi mudanya kayak begini? Semoga mereka hanyalah segelintir dari berjuta-juta generasi milenium yang bersinar.
Al menatapnya dengan dingin, "Kau tidak diajar tata krama di sekolah? Atau tidak ada tata krama di sekolahmu?"
"Lu jangan menghina sekolah gua," geram ketua geng klitih emosi. "Lu sendiri gak punya etika. Tamu adalah raja, harusnya lu suguhi minuman, keluarin semua makanan yang ada. Dasar orang kaya pelit lu."
Al setuju tamu adalah raja, tapi raja yang bagaimana dulu. Raja kayak begini pantasnya disuguhi air comberan!
Sayang tidak ada air comberan di rumah ini.
Ketua geng klitih ngomong keren begitu karena banyak teman. Dia yakin pemuda kurus kering itu kayak marmut di kandang macan kalau lagi sendiri.
Al suka gatal melihat anak muda banyak gaya tapi sedikit prestasi. Anak muda macam ini hanya meresahkan orang tua dan warga.
Dia tidak sadar kalau kehidupannya masih sangat panjang dan tidak bisa dihadapi dengan botol minuman. Al mencium bau alkohol di mulutnya.
Bukan perkara halal atau haram, untuk membeli minuman dia pasti merengek sama orang tua karena belum punya penghasilan, atau cari uang dengan cara melanggar hukum.
__ADS_1
Anak muda dengan celurit di tangan dan mulut bau alkohol sulit mendapat hidayah dalam waktu dekat. Hidayah perlu jalan.
Anak muda seperti ini perlu diseret ke meja hijau untuk memberi efek jera, diberi bimbingan mental dan edukasi secara khusus agar bisa kembali ke masyarakat sebagai generasi yang membanggakan.
Al tidak suka cari masalah, tapi dia suka berurusan dengan anak muda bermasalah.
Al sebenarnya kasihan melihat anak sekolah seperti ini. Mereka adalah anak-anak yang belum tahu risiko kehidupan.
"Gua maafin kalau lu gak mau ngasih minuman, karena minuman gua bukan kayak orang kebanyakan," kata ketua geng klitih. "Lagian gua datang ke rumah lu bukan untuk minta minuman. Gua datang untuk ngurusin abang gua."
Al menjawab dengan santai, "Aku tidak kenal kakakmu. Ada urusan apa kamu datang ke rumahku?"
"Lu jangan pura-pura!" gertak ketua geng klitih. "Lu yang ngandangin abang gua, si Ramdani! Gara-gara lu anak istrinya kelaparan!"
"Aku tidak kenal siapa itu si Ramdani atau si ram kawat. Aku cuma ngadu sama polisi kalau barang-barang aku dijarah saat terjadi kecelakaan di jalan tol. Jadi bukan urusanku kalau kemudian kakakmu ditangkap. Itu urusan polisi."
"Polisi gak bakal nangkap kalau lu gak ngadu!"
"Lah, wajar dong sebagai orang yang dirugikan, aku ngadu ke polisi?"
"Lu bener-bener belum tahu siapa gua! Gua minta lu cabut BAP, kalau nggak nyawa lu gua cabut!"
"Rupanya lu gak bisa diminta secara baik-baik, apa gua perlu pakai kekerasan?"
Al mendengus sebal, "Jadi menurut kamu bentak-bentak aku minta secara baik-baik?"
"Jangan banyak bacot lu!" sergah ketua geng klitih geram. "Menurut abang gua, lu adalah saksi kunci. Gua persilakan lu bersaksi di pengadilan kalau pengen hilang nyawa lu."
"Gua tunggu ancaman lu."
Al memutar tubuh hendak masuk ke dalam rumah.
"Kurang ajar!" geram ketua geng klitih sambil mengayunkan celurit untuk menyabet kepalanya.
Al tidak tanggung-tanggung bertindak. Dia kirim tendangan belakang untuk menangkis sabetan itu. Celurit mental dari tangannya. Kemudian disusul dengan tendangan keras ke dadanya. Pemuda kerempeng itu jatuh terjengkang dan tak sadarkan diri.
Teman-temannya datang menyerbu. Al melompat ke halaman dengan bersalto di udara. Areal itu cukup luas sehingga leluasa menghadapi para pengeroyok.
__ADS_1
Al berdiri dengan tenang di tengah kepungan mereka. Matanya waspada melihat gerak-gerik lawan, siapa yang pertama maju, dialah yang kena hajar.
Pak Muji tidak tinggal diam. Dia menggebuk mereka dengan pentungan sehingga kepungan buyar dan pengeroyokan terpecah jadi dua kelompok.
Mereka menyerang Pak Muji dengan ayunan celurit. Pria separuh baya itu membabat celurit dengan pentungan, sementara kaki menendang penyerang lain.
Mereka jatuh terpental dan tumpang tindih dengan temannya yang jadi korban keganasan tendangan Al.
Mereka ternyata tidak memiliki ilmu bela diri, hanya mengandalkan nyali di ujung celurit, sehingga dalam beberapa menit saja Al sudah berhasil membuat mereka terkapar tak berdaya.
Pak Muji melemparkan musuh terakhir ke beranda dan jatuh menimpa ketua geng klitih yang baru sadar dari pingsannya. Pemuda yang lagi duduk di lantai itu terjengkang dan kembali pingsan.
"Ternyata cuma segitu kemampuan kalian," kata Pak Muji dengan gagahnya. "Ayo bangun kalian, tanganku masih gatal."
Al tersenyum. "Sudah, Pak Muji. Mereka sudah tak berdaya. Pak Muji urus nanti kalau polisi datang, dan barangkali Pak Muji harus jadi saksi."
"Siap, Tuan."
Berkumandang suara sirine mobil polisi, kemudian muncul di pintu gerbang dan memasuki halaman. Tiga orang polisi bersenjata laras panjang yang duduk di kursi panjang di bak pick up segera turun dan mendatangi mereka.
"Maaf, kami datang terlambat," kata Kanit Reskrim. "Personil lagi mengurus curanmor di perumahan warga saat ada telpon masuk."
Al tersenyum maklum. "Tidak apa, Pak. Mereka sudah berhasil diatasi."
"Anda sungguh hebat," puji Kanit Reskrim melihat sepuluh anak muda yang tengah duduk kesakitan. "Mereka adalah geng klitih yang lagi kami buru. Terima kasih atas bantuannya."
"Oh, bukan saya, Pak. Security saya, Pak Muji. Dia jago bela diri loh, Pak."
"Oh ya, terima kasih, Pak Muji. Saya mohon kerja samanya, tolong anda ikut ke kantor polisi untuk dimintai keterangan."
"Siap, Pak," kata Pak Muji. "Boleh saya bawa motor, Pak? Biar tidak susah pulangnya nanti?"
"Silakan."
Sepuluh anak muda itu digiring ke mobil pick up dengan kondisi tangan diborgol.
Al mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribu dan diserahkan ke Pak Muji. "Pemeriksaan pasti lama. Malam-malam begini enaknya makan nasi goreng Padmanaba."
__ADS_1
"Banyak banget, Tuan."
"Di Polsek banyak polisi jaga. Pak Muji mau makan sendiri?"