Cinta Untuk Gadis Madinah

Cinta Untuk Gadis Madinah
Episode 97


__ADS_3

Al keluar dari ruang ICU disambut oleh suster yang kaget mendengar tangis histeris Aisyah.


"Ada apa, Pak?" tanya suster curiga. Matanya menatap tajam seolah telah terjadi pembunuhan di dalam kamar. Tangannya siap-siap meraih gagang pintu yang belum sempat ditutup sepenuhnya oleh Al. "Apa yang terjadi?"


"Kalian lambat memberi tahu pasien," jawab Al dingin. Sinar matanya laksana salju yang memadamkan api di bola mata suster. "Dia menumpahkan kemarahannya padaku."


Suster seolah tidak mau disalahkan, wajahnya yang cerah mendadak diselubungi awan, ucapannya terdengar agak ketus, "Kami melihat kondisi psikisnya. Ia nampak syok berat dengan kejadian itu."


"Pikirmu siapa yang tidak syok mengalami kecelakaan brutal itu? Kehati-hatian kalian membuat situasi makin kacau."


Suster bersikeras pihaknya tidak mau disalahkan. "Orang tuanya minta kami menunda informasi ini. Dia ingin menunggu seseorang untuk menyampaikan. Apakah seseorang itu anda?"


Al tersenyum sedikit. "Saya tidak menyalahkan anda. Jadi tidak perlu mencari pembenaran diri. Saya hanya mau katakan di dalam telah terjadi sesuatu dan saya kena imbasnya."


Suster kelihatan tidak sabar menunggunya untuk menyingkir dari depan pintu. "Maaf, saya harus melihat kondisi pasien."


"Anda baiknya jangan ke dalam," kata Al tanpa bergeser dari depan pintu. "Kemunculan anda di dalam bukan meredakan suasana."


"Saya dengar dia menjerit histeris, Pak. Saya harus melihat kondisinya. Apakah perlu atau tidak diberikan obat penenang."


Al menyindir, "Anda yang perlu dikasih obat penenang, sehingga bisa sedikit sopan menghadapi keluarga pasien."


"Saya harap anda minggir," kata suster mulai hilang sabar. "Saya takut pasien merusak diri sendiri. Saya yang kena nanti, bukan anda."


"Anda kan tinggal bilang kalau saya keberatan anda masuk."


Suster menatap marah, sinar matanya menebar ancaman. "Apa perlu saya panggil security?"


"Silakan anda panggil semua security yang ada," tantang Al santai. "Kebetulan badan saya pegal-pegal dan butuh relaksasi. Belum pernah kejadian kan keluarga pasien membuat babak belur semua petugas keamanan rumah sakit?"


Suster diam sejenak. Pemuda itu kelihatannya kepala batu. Dia mencoba mengalah. Wajahnya sedikit mencair. Matanya menatap separuh memohon. "Izinkan saya masuk, Pak. Keselamatan pasien adalah tanggung jawab saya. Saya bisa dipecat nanti kalau terjadi apa-apa."


Al memandang sinis. "Katanya mau manggil security, sekarang ngemis minta masuk. Ketidakjelasan sikap anda sangat berpengaruh pada pasien. Saya tidak ingin pasien tambah syok melihat kelakuan anda."


"Bapak jagoan ya?" tanya suster kesal. "Berani menantang security kami?"

__ADS_1


"Dengar baik-baik, sus," kata Al tegas. "Saya lebih tahu kondisi psikis pasien dibanding anda. Saat ini dia tidak butuh penanganan anda. Dia butuh sendiri. Dia kecewa dengan keadaan diri sendiri, tapi tidak sampai merusak diri sendiri. Jika dia merusak peralatan yang ada, anda tinggal kirim tagihan ke saya. Ini kartu nama saya."


Al menyerahkan kartu nama ke suster, lalu pergi. Wanita muda berpakaian putih-putih itu membuka pintu sedikit dan mengintip ke dalam.


Dia mengurungkan niat untuk masuk saat melihat gadis di dalam berkata kepada khaliknya sambil menangis tersedu-sedu, "Ya Allah, aku tahu semua bencana ini datangnya dari Engkau, tidak bolehkah aku untuk kecewa dengan keadaanku?"


Aisyah adalah gadis yang tercipta dari kesempurnaan segala pesona, tak ada sedikitpun cela pada tubuhnya. Manakala dia mendapati kenyataan kakinya lumpuh, sebuah pukulan sangat berat bagi dirinya.


Kesempurnaan itu membuat setiap lelaki jatuh hati padanya, dan bisa tergelincir iman karena pesona Arabianya. Mereka bisa menghalalkan segala cara untuk mendapatkan cintanya.


Al adalah bagian dari sedikit laki-laki yang merasa cukup untuk berteman. Dia takut memilih gadis yang terlalu sempurna, konsekuensinya dia harus berbuat yang terbaik untuk setiap kesempurnaan yang disuguhkan. Dan dia tidak mampu untuk itu.


Perasaan tidak mampu itu sangat menyesakkan dada karena memupuk image yang membuatnya jadi lelaki paling bodoh, menolak sebuah anugerah cinta. Dia bukan pungguk merindukan bulan. Dia menggantungkan harapan pada anugerah yang realistis.


Ketika dia sudah terlanjur jatuh cinta pada sahabat kecilnya, ketika itu dia tahu bagaimana keadaan dirinya. Dia adalah lelaki yang berdaya. Yang mampu mewujudkan setiap impian dari sebuah kesempurnaan.


Sebuah keterlambatan yang tidak ingin disesalinya.


Namun hatinya runtuh saat Aisyah mengusir pergi dan tidak ingin melihatnya lagi. Kenapa gadis itu sampai demikian marah?


Kecelakaan itu bukan akibat dari kelalaiannya. Keputusan yang diambil untuk banting setir ke bantaran tol adalah tindakan yang tepat, begitu kata polisi. Korban sedikit sekali yang selamat karena terjebak dalam kecelakaan beruntun.


Al belum pernah melihat sinar mata yang penuh pesona itu meluapkan kebencian padanya. Dia menduga letupan itu ada hubungannya dengan kata-kata terakhir Oma sebelum pergi. Dia yakin ada wasiat untuknya yang sulit untuk diungkapkan!


Perlakuan yang diterimanya membuat Al kecewa dan suster jadi sasaran. Sungguh perbuatan yang tidak bijaksana.


"Ada apa kamu ribut-ribut sama suster?" tanya Riany yang melihat kejadian itu dari balik pintu kaca koridor. "Mengapa kamu menghalanginya untuk masuk?"


"Aku tidak menghalanginya," sahut Al datar. "Cuma waktunya tidak tepat."


Abi Rashid memandangnya dengan penasaran. "Apa yang terjadi dengan Aisyah? Apa dia tidak menerima kenyataan yang dihadapinya?"


Al terpaksa tersenyum meski terasa hambar. "Siapa yang bisa menerima kakinya lumpuh? Apalagi untuk gadis yang hanya punya kesempurnaan?"


"Keadaan Aisyah bagaimana sekarang?" tatap Riany berbalut cemas.

__ADS_1


Al balik bertanya, "Kamu mengkhawatirkannya?"


"Tentu saja! Dia sahabatmu!"


"Hari ini aku banyak mendengar perempuan marah. Aku jadi kehilangan semangat untuk menjelaskan."


Padahal Al tidak tahu apa yang perlu dijelaskan. Dia sudah menyampaikan amanah Abi Rashid, itu yang penting. Kejadian setelahnya tidak penting untuk diceritakan karena menyakitkan hatinya.


"Kamu tunggu di sini," kata Riany. "Aku pengen besuk Aisyah."


"Aku kira Aisyah tidak siap menerima tamu, kecuali jaddahnya. Aku akan menjemputnya ke hotel."


"Dia sudah ada di ruang lobi," jawab Abi Rashid, "baru sampai."


"Kalau begitu aku pamit. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Al berjalan menelusuri koridor menuju ke lantai bawah. Wajahnya kelihatan sangat keruh. Riany mendampingi dengan hati penuh tanda tanya.


"Kau bisa cerita padaku," kata Riany lembut. "Aku siap mendengarkan."


"Aku mau keluar rumah sakit sore ini."


"Dokter memberi izin besok."


"Aku tidak perlu izin dokter. Aku sudah sehat dan sudah tidak ada tindakan medis. Aku cuma numpang tidur di sini. Aku bisa istirahat di Yogya, sekalian memikirkan judul skripsi yang mau diajukan."


"Itu bukan istirahat namanya."


"Aku tidak lelah secara psikis."


"Kau butuh istirahat satu hari lagi."


"Aku butuh udara segar dan rumah sakit bukan tempatnya. Aku lebih tahu apa yang dirasakan, bukan dokter."

__ADS_1


Riany menatap cemas. "Al.... Apa sebenarnya yang sudah terjadi antara kamu sama Aisyah? Apa ada hubungannya denganku?"


Al menghela nafas berusaha untuk sabar. Jika pertanyaan ini tidak ditanggapi, akibatnya curiga dan cemburu. Dia menjawab dengan wajah tak berombak, "Aku belum pernah diusir oleh seorang perempuan. Apalagi untuk gadis selembut Aisyah."


__ADS_2