Cinta Untuk Gadis Madinah

Cinta Untuk Gadis Madinah
Episode 106


__ADS_3

Al membaca berkas yang disodorkan pengacara Simbah buyut. Tidak ada persyaratan tentang madu sebagaimana yang diperkirakan. Warisan itu akan dihibahkan setelah dia jadi sarjana.


Al sungguh tidak menyangka Simbah buyut ternyata sangat kaya raya. Beliau memiliki tiga orang puteri, Oma adalah anak paling sulung. Dua adiknya tinggal di Jakarta. Mereka jarang sekali ketemu.


Al selalu menemuinya kalau mereka ada di sekitar Yogya untuk urusan bisnis atau liburan. Dia berusaha menjaga tali silaturahmi dengan keluarga Simbah buyut.


Al tahu kenapa Oma menghibahkan seluruh harta padanya. Arya tidak ada sebutan dalam surat wasiat. Oma percaya dia adalah cucu yang dapat mengelola kekayaan dengan benar.


Harta itu berbentuk uang tunai, investasi syariah, dan perusahan yang bergerak di bidang konfeksi. Dia tidak menyangka merek pakaian yang cukup terkenal di pasaran ternyata branded perusahaan miliknya.


Hartanya makin berlimpah tanpa perlu capek membuka usaha baru, jika warisan Opa sudah jatuh pada ibunya. Ditambah lagi dengan perkebunan Ayah yang nilainya tidak sedikit.


Al termasuk anak yang beruntung memiliki warisan sangat banyak. Namun ada tanggung jawab sangat besar, di jalan apa harta itu dibelanjakan.


"Kita jalan-jalan ke mana?" tanya Riany setelah meninggalkan kantor pengacara Simbah buyut. Ferrari meluncur mulus di jalan yang tidak begitu padat. "Ada banyak waktu."


Al tersenyum. "Aku harusnya yang bertanya. Aku sudah sering pergi ke obyek wisata di daerah Yogya."


"Yang bawa mobil aku. Jadi aku yang bertanya."


"Kamu adalah sopir pribadi yang paling rewel."


"Dan kamu adalah penumpang yang paling menyebalkan."


"Maafkan aku karena kamu lama nunggu di mobil."


Riany memilih menunggu di mobil saat Al menyerahkan proposal judul skripsi ke sekretariat departemen. Dia tak mau jadi pusat perhatian teman-teman suaminya.


"Nyerahin proposal sampai satu jam lebih, mampir ke kelas Lin Wei sama Wulandari ya?"


"Aku ketemu mereka di sekretariat."


"Pantesan lama."


Al memandang wajah istrinya yang memakai kosmetik seadanya, namun memancarkan kecantikan alami yang tiada banding. Di balik wajah yang bercahaya itu tidak tersimpan rasa curiga atau cemburu. Tumben.


Al jadi merasa tidak perlu menjelaskan kenapa lama sekali di sekretariat. Dia akrab dengan semua pegawai sekretariat, sehingga banyak bertanya tentang musibah kecelakaan itu.


"Kita mampir di butik dan toko kosmetik," kata Al.


"Beli baju dan kosmetik buat Aisyah?"


Pertanyaan itu mengejutkan Al, karena Aisyah tidak ada di kepalanya saat ini. Dia sibuk memikirkan harta yang segera jadi miliknya. Banyak rencana yang tersimpan dalam harta itu, di antaranya dia ingin membangun masjid dan yayasan anak yatim agar pahalanya mengalir ke almarhumah.


Al ingin memanjakan istrinya dengan segala kemewahan untuk mendukungnya jadi perhiasan terbaik yang pernah ada dalam hidupnya, secara fisik maupun spritual.

__ADS_1


Al sadar sangat sulit untuk membuat istri tampil cantik tanpa dukungan biaya yang cukup. Kekurangan biaya dapat mengakibatkan memudarnya aura kecantikan.


Istri harus menjaga penampilan agar suami betah memandangnya.


"Jadi masalah Aisyah belum selesai?" tanya Al. "Jangan suguhi suamimu dengan hidangan yang menyenangkan."


"Aisyah bukan makanan."


"Kamu pernah belajar majas, kan?"


"Aku tidak suka majas yang merendahkan. Ada kesan kau samakan perempuan dengan makanan siap saji."


"Lalu?"


"Majas Nabi sudah jelas bahwa istri adalah perhiasan suami. Apa yang dilakukan istri berpengaruh pada reputasi suami."


"Majas ini sering disalahartikan. Perhiasan bisa dijual. Jadi banyak suami yang menjual istri."


"Faktor ekonomi kadang mendekatkan pada kekufuran."


"Jangan jadikan ekonomi sebagai bantal kesalahan. Ekonomi lemah dan kuat bukan ukuran iman seseorang. Banyak ekonomi kuat tapi kufur nikmat."


"Jadi mampir di butik dan toko kosmetik buat siapa?"


"Aku ingin membelikan istriku pakaian dan kosmetik termahal."


"Untuk istri orang yang punya kekayaan dengan perkiraan dua triliun lebih, pakaian yang kamu kenakan termasuk murah."


Riany tertarik dengan omongan tentang kekayaan yang dimiliki suaminya. "Dua triliun lebih? Harta dari mana lagi?"


"Opa dan Ayah."


"Jadi kamu kuliah di pertambangan untuk menggali harta karun keluarga?"


"Aku cuma memberi gambaran kalau istri dan anakku tidak kekurangan uang."


Al tidak ingin bermegah-megahan dengan dunia. Dia ingin menggunakan harta untuk mencapai kenikmatan yang hakiki.


Di balik canda tawa mereka, ada tangis pilu orang lain!


Al sangat percaya adanya kehidupan akhirat, meski dia belum pernah bermimpi atau jalan-jalan ke akhirat!


Untuk keyakinan, tidak perlu dibuktikan dengan pengalaman atau realita!


Karena di antara pengalaman dan realita ada ranah bagi sang penggoda untuk menyangsikan sebuah keyakinan!

__ADS_1


Al ingin memberdayakan teman-temannya mengelola aset untuk kepentingan akhirat.


Hidup di dunia berbatas, maka Al tidak mau melampaui batas! Bermegah-megahan hanya melalaikannya pada kepentingan akhirat!


"Aku ingin kau tunjuk siapa orang yang dipercaya untuk mengurus rumah kita sebelum berangkat ke Madinah," kata Al. "Keempat rumah itu tidak boleh terbengkalai sebagai bentuk penghargaan pada orang yang memberi."


"Semua rumah itu milikmu," ujar Riany. "Kau bisa sewakan atau minta orang lain untuk menempati, sekalian merawat rumah."


"Jangan berpikiran rumah itu adalah milikku," sanggah Al. "Aku kuatir terjebak dalam kemegahan dunia."


"Nah, terus kenapa kau biarkan aku terjebak dalam kemegahan dengan menginginkan aku mengenakan pakaian dan kosmetik termahal?"


"Kau adalah perhiasan aku, tahu apa arti perhiasan? Tanggung jawabku adalah membuatmu tetap berkilau. Satu tetes air matamu jadi pertanggungjawaban aku di akhirat."


Mereka mampir di butik termegah di kota Yogya. Al membeli pakaian termahal yang ada untuk istrinya. Dia sendiri tidak membeli apa-apa.


"Kau begitu memanjakan aku," kata Riany senang, dalam perjalanan menuju ke toko kosmetik. "Tapi kau tidak memanjakan dirimu."


"Aku sudah memanjakan diriku dengan naik mobil mewah ini," jawab Al. "Aku biasa jalan kaki."


"Kau bisa memperoleh lebih dengan hartamu."


"Apa yang kurasakan sudah terasa lebih, dan seandainya ditambah lagi, aku kuatir termasuk golongan yang berlebihan. Jika aku cuma memikirkan dunia, aku habiskan uang untuk membeli kesenangan. Tapi berapa lama aku hidup di dunia? Seratus? Dua ratus? Semua ada batasnya."


"Kau jadikan dunia sebagai penjara bagimu."


"Untuk orang yang percaya adanya kehidupan akhirat, dimana aku ingin memetik hasil yang baik."


Kemudian mereka singgah di toko kosmetik yang terkenal di kota itu. Al memborong peralatan kosmetik yang paling eksklusif.


"Aku curiga ada sesuatu," senyum Riany manis, dalam perjalanan pulang. "Kau sudah memberikan aku yang terbaik."


"Aku kira curigamu sudah hilang." Al balas tersenyum. "Kali ini curigamu benar. Aku ingin minta bonus yang kau katakan tak terbatas itu."


Riany terbelalak. "Siang bolong begini?"


"Berarti berbatas waktu kalau begitu."


Riany tersenyum mesra. "Aku cuma tanya. Aku ready siang malam."


"Malam aku mau pergi ke rumah Aisyah. Kata Lin Wei, dia hari ini pulang. Aku ingin membantunya menyusun proposal pengajuan judul skripsi. Kau tidak keberatan?"


"Aku malah punya ide mereka saja yang bertanggung jawab terhadap rumahmu. Mereka pasti dapat dipercaya."


"Maksudnya?"

__ADS_1


"Aku mengurus rumah pemberian Ayah di pesantren. Aisyah mengurus rumah peninggalan Oma, sekalian menjabat ketua koperasi yang telah menunggunya. Wulandari mengurus rumah yang di Yogya. Lin Wei mengurus rumah yang di kompleks mewah itu. Bagaimana?"


__ADS_2