
Tok tok tok.
Untuk ketiga kalinya Al mengetuk pintu kamar 63. Sunyi.
"Assalamu'alaikum."
Untuk ketiga kalinya Al memberi salam. Tidak ada jawaban. Oma kayaknya tidak ada di dalam. Dia tak bisa masuk karena kunci kartu dipegang Oma.
Al menghubungi Aisyah, tidak aktif. Mereka pasti ada di Haram, menunggu datangnya waktu Dhuhur. Gadis itu sering mematikan handphone jika ada di Haram, kecuali lagi menunggu kabar penting diaktifkan.
Al balik lagi ke lift. Pintu lift terbuka. Al masuk. Tekan angka 33. Lift bergerak turun.
Di lantai 33 Al bertemu dengan Dinar yang baru keluar dari kamar.
"Oma mana?" tanya Al.
"Sama Aisyah ke Haram."
"Tidak ke hotel dulu?"
"Mampir sebentar tadi, terus pergi lagi."
Oma hanya menaruh kantong belanjaan di kamar lalu pergi ke Masjidil Haram. Dinar sendiri heran, fisik Oma kuat sekali. Padahal habis menempuh perjalanan 100 km, jalan-jalan di mall, pulang langsung ke Haram siap-siap shalat Dhuhur. Istirahat di masjid, katanya.
"Oma tidak ada capeknya," kata Dinar. "Habis dari Jeddah langsung ke Haram."
Al menatap kaget. "Jeddah? Red Sea Mall?"
"Ya."
Al diam. Dia sudah memberi tahu Aisyah untuk membawa Oma jalan-jalan seputar Makkah.
"Oma kepingin jalan-jalan ke Jeddah," dalih Dinar. "Sekalian shopping."
"Kak Dinar juga."
Dinar tersenyum. "Aku cuma menjalankan amanah menemani Oma."
Al tidak heran Oma ingin keliling Jeddah. Bahkan menginap di Laut Merah bila mungkin. Kota pertama yang disinggahi dalam liburan bulan madunya.
Kedatangan Oma ke Makkah kali ini rupanya bukan hanya memenuhi panggilan Allah, tapi ingin mengulang kisah hari-hari pertama masa indah perkawinannya.
"Oh ya, riyal masih ada sisanya," kata Dinar sambil mengeluarkan amplop dari dalam tas kecil, kemudian disodorkan ke calon adik iparnya.
Al menolak. "Pegang saja buat kebutuhan Kak Dinar."
"Benar nih?" tanya Dinar memastikan. "Jangan buat aku senang."
__ADS_1
Al tampak masa bodoh. Dia masuk lagi ke dalam lift untuk turun ke lantai dasar dan pergi ke Masjidil Haram.
Tidak sulit bagi Al menemukan Oma di antara ribuan orang yang memadati sekitar areal thawaf. Oma dan Aisyah sedang berzikir di belakang sekitar Maqam Ibrahim ketika Al mendatanginya setelah thawaf. Lokasi ini adalah bekas gapura yang terkenal dengan nama Babussalam, jalan masuk ke Masjidil Haram yang sering dilewati Nabi.
Al mengambil tempat yang terpisah di spot laki-laki. Menunggu masuknya waktu Dhuhur. Beberapa menit lagi adzan berkumandang, Al melakukan thawaf, sehingga ketika iqamah selesai kebagian di dekat Hajar Aswad, area yang sedikit terlindung dari teriknya matahari.
Shalat Dhuhur kali ini diimami Syaikh Usamah lalu dilanjut dengan shalat mayit.
Selesai shalat mayit sekali lagi Al melakukan thawaf lalu berdoa di Multazam dan terakhir shalat sunah di Hijir Ismail.
Al tidak perlu mencari karena Oma dan Aisyah ternyata ada di belakang, baru saja mulai shalat sunah. Dia melindungi mereka agar tidak terlanggar oleh orang lain sampai mereka selesai berdoa.
"Seharusnya Al menjaga kamu, bukan Aisyah," komentar Irma yang menyaksikan kejadian itu dari spot lain bersama Riany. "Calon istrinya siapa sih?"
"Al menjaga Oma."
"Modus bisa kan?"
"Kamu berada di dekat Rumah Suci, bisa-bisanya berpikiran negatif."
"Soalnya ada kejadian negatif."
"Sudah deh. Berpikirlah positif terhadap apa yang kita lihat, semoga apa yang dilihat itu jadi positif."
"Bahaya kalau Aisyah positif."
Sebenarnya ada rasa tidak enak di hati Riany, tapi dibuang jauh-jauh. Dia tidak mau Rumah Suci jadi saksi kekotoran hatinya. Jika Al menaruh hati kepada Aisyah sekalipun, bukan suatu kesalahan.
Riany berharap hal itu tidak terjadi dan Rumah Suci jadi saksi doa tanpa suara di dalam hatinya.
Al dan Aisyah antri untuk mengambil air zam zam. Gadis itu mengisi botol besar yang dibawanya sampai penuh lalu mendatangi Oma yang menunggu dekat pilar hijau.
"Pamit dulu ya, Oma. Jaddah minta diantar belanja ke luar kota. Kalau kepingin jalan-jalan lagi, calling saja."
Aisyah pergi sesudah cium tangan ke Oma dan memberi salam. Hampir bersamaan dengan tibanya Riany di tempat itu. Dia jadi merasa gadis itu seolah ingin menghindar. Tapi dia tidak menunjukkan kecamuk hatinya di hadapan Oma.
"Bagaimana jalan-jalannya?" tanya Riany.
"Heboh pokoknya," sahut Oma. "Dinar apalagi, sampai lupa pulang kalau tidak Oma paksa."
Riany tersenyum. "Coba ajak ke Jabal Tsur paling nunggu di mobil."
"Perempuan biasa suka jalan-jalan di mall."
"Riri gak tuh."
"Gak jauh beda," sindir Al pelan. "Lupa kali shopping segambreng di tanah air."
__ADS_1
Riany melirik sekilas, dan Al tahu mata bening kebiruan itu tidak suka dengan kata-katanya.
Mereka berjalan melewati area Shafa lalu keluar lewat pintu King Aziz. Sepanjang jalan Riany asyik mengobrol dengan Oma. Bahkan sampai mengantar masuk ke kamarnya di lantai 63, gadis itu tidak pernah bicara dengan Al.
Ketika Riany keluar dari kamar 63, Al menunggunya di depan pintu.
"Kamu tidak masuk?" tanya Riany sekedar saja.
Al balik bertanya sambil memandang bolak-balik, "Ada apa? Jealous sama Aisyah?"
"Cuma kuatir Aisyah memperkenalkan laki-laki yang menjaganya di Hijir Ismail sebagai calon imam," sahut Riany pahit. "Kamu tidak pernah menjagaku."
"Tapi Lukman sering menjagamu."
Riany menatap sejurus. "Maksudmu apa?"
"Aisyah bagiku seperti Lukman bagimu."
"Kau ingin aku putus persahabatan sama Lukman?"
"Sama tidak inginnya dengan aku putus pertemanan sama Aisyah."
Al masuk ke kamar. Riany memperhatikannya sesaat, lalu pergi menuju ke kamarnya di lantai 33. Apa benar Aisyah bagi Al seperti Lukman bagi dirinya?
Lukman membuat Riany ingat kepada Faye, sahabat yang sudah beberapa hari ditinggalkan dalam keadaan koma di rumah sakit Green Crecent. Kesibukan pikirannya pada Aisyah membuat dia lupa menanyakan kabarnya.
Alangkah sedihnya Riany tatkala mendengar kabar dari Lukman ternyata kondisi Faye tidak mengalami perubahan. Lukman tidak pulang-pulang dari rumah sakit meskipun keluarga Faye sudah tiba dari New York.
Riany dapat memahami kenapa Lukman begitu tertekan. Faye adalah perempuan yang akan dinikahinya setelah lulus kuliah. Dia tidak dapat membayangkan bagaimana menderitanya pemuda itu setiap hari menyaksikan calon istrinya berjuang dari maut.
Perkembangan terakhir kondisi Faye membuat Riany murung.
"Daripada jadi pikiran mendingan kamu lihat sendiri keadaannya," kata Al sambil berjalan ke terminal Jiad. "Hatimu akan sedikit lebih tenang."
Siang ini mereka akan pergi miqat ke Ji'ranah. Wajah Riany tidak bersinar sama sekali sehingga mengganggu keceriaan rombongan, ibarat segumpal awan hitam di langit biru.
Riany malah menatap curiga. "Kau izinkan aku menemui Faye? Apa ini bukan siasat kamu untuk bebas menemui Aisyah?"
Al tersenyum sedikit. "Setiap hari aku ketemu Aisyah di Yogya. Nyatanya aku memilih gadis yang sudah disiapkan oleh Ayah."
"Dan aku memilih laki-laki yang dipersembahkan oleh Abi."
"Lalu apa yang membuatmu ragu untuk membesuk Faye?"
"Gara-gara kebodohan itu aku sampai bersumpah di hadapan Tuhanku, padahal aku tidak pernah mellow begitu untuk seorang laki-laki."
"Karena aku orangnya ngangenin."
__ADS_1
Riany kehilangan mood meladeni candanya.