
Riany mengambil botol air mineral di dalam dus yang dipegang Al dan membagikan ke mereka.
"Cari perkara," kata Al. "Aku tidak tanggung jawab kalau Harbi marah."
"Aku tidak suka cowok kegatalan," sahut Riany pedas. "Kebanyakan modus."
Al memandang bingung. "Maksudnya apa ya?"
"Mengajak Pamela membagikan minuman apa bukan kegatalan?"
"Yang ajak-ajak siapa?"
Riany melirik dengan geram. Al tertegun. Ada cemburu yang halus berpendar di bola matanya yang kebiru-biruan. Bahaya. Mestinya cemburu itu untuk Harbi dan Pamela yang demikian lengketnya membagikan air mineral di tempat lain.
"Jadi ambyar begini ya," keluh Al pelan. "Kamu bagikan sama Irma deh."
"Kalau sama kamu, kenapa?" tatap Riany ketus. "Takut fall in love?"
"Pede banget."
"Dari kecil!*
"Kalau begini caranya, aku susah dapat jodoh. Padahal ingin sekali punya istri orang kampung, biar tidak ada yang kepo."
"Aku maksudnya?"
Al salah sambung dan berkata separuh meledek, "Tidak mungkin dong, Bu Ustadzah. Anda sebentar lagi jadi Nyonya Harbi."
"Yang kepo!"
"Oh, itu." Al mengusap-usap kepala. "Sukur deh merasa."
Selesai membagikan air mineral, mereka kembali ke tempat Oma duduk. Sementara Harbi dan Pamela pergi ke rombongan lain membantu Nidar dan Irma yang kerepotan melayani permintaan.
"Sudah punya calon, cah bagus?" tanya Nek Surti.
"Segambreng," jawab Riany sambil duduk di dekat Oma. "Jangan sampai Pamela di-ghosting, Nek."
Al tersenyum padahal hatinya gondok. "Belum, Nek. Nenek lihat kan saya tidak bawa perempuan?"
"Di kampung," sindir Riany. "Di Yogya antri panjang."
"Kamu ini kenapa sih?" pandang Al santai. Sudah tanggung kecebur, kelelep sekalian. "Iri ya lihat aku banyak yang naksir? Makanya jangan kebelet ta'aruf. Puas-puasin dulu jadi jomblo."
"Bener kan, Nek?"
"Gak seheboh itu juga kali. Kamu pikir aku loket stadion?"
"Amazing," decak Eyang Munzir kagum. "Persis ayahnya."
"Ayah saya dulu play boy?" tanya Al penasaran. Pantesan. Penyakitnya lagi kumat, mepet Fatimah. Astaghfirullah! Sama orang tua kok begitu?
"Jadi rebutan bidadari kampung," kata Eyang Munzir. "Yang dapat malah bidadari dari Yogya."
"Anaknya pemburu macan kampus, Eyang," sambar Riany pedas. "Majlis jadi modus."
"Really?" belalak Eyang Munzir. "Bangganya aku!"
"Stres kali," semprot Nek Surti. "Lagi muda tidak kesampaian ya jadi play boy?"
"Jangan baca sejarah deh," elak Eyang Munzir. "Panjang urusannya, berjilid-jilid."
"Kok Eyang bisa bangga?" protes Riany. "Harusnya malu dong?"
"Jelas bangga dong! Kalau Al sampai jadi play boy di kampus ternama itu, berarti dia produk kampung berkualitas, laku keras. Gadis-gadisnya tentu bukan anak orang sembarangan. Cakepnya juga naudzubillah."
Handphone Riany bunyi. Ada chat masuk dari Irma. Dia tampak serius membaca kata-kata di kotak chat, lalu membuka akun Facebook Vidya dan melihat caption status terbaru. Matanya bergulir ke Al, menatap tak percaya.
__ADS_1
"Ada apa?" selidik Al. "Kayak lihat maling begitu?"
"Kamu sama Vidya jadian?"
Waktu itu Harbi dan Pamela muncul selesai membagikan minuman, jawaban Al jadi berbelok, "Masalah buat kamu?"
Sinar mata Riany sedikit layu, sesaat termangu, lalu pamit ke Oma. "Riany nengok rombongan lain dulu ya, Oma? Kalau sudah lengkap, kita mulai latihan manasik."
"Baik, cah ayu."
Riany bangkit pergi, Harbi menyusul.
"Ada yang jealous kayaknya," bisik Bu Hanif ke suaminya. "Memangnya boleh perempuan punya suami dua?"
"Buang satu kayak kamu."
"Aku tidak suka suami selingkuh, maka itu dibuang. Kamu tidak begitu kan, beb?"
"Pasti tidak! Cukup satu...kamu!"
"Lagi manis-manisnya begitu," sindir Eyang Munzir. "Lamaan dikit, cukup satu...satu di pengkolan, satu di pasar, satu di warung, satu di rumah!"
Handphone Al bunyi tidak henti-henti. Nah, begini, handphone bagus bukan tambah nyaman. Berisik. Teman-temannya minta klarifikasi tentang postingan Vidya.
Penasaran Al membuka akun Vidya. Matanya menyipit melihat foto ussie gadis itu lagi makan siang bersamanya.
Nidar dan Irma datang dengan wajah tidak ceria.
"Aku mau ngomong bentar," kata Nidar sambil memberi isyarat agar Al mengikutinya.
"Ada apaan sih? Kayaknya penting bangat?"
Mereka pergi meninggalkan hiruk-pikuk orang banyak. Di sudut taman Nidar berhenti dan memandangnya lekat-lekat.
"Terus terang aku kaget," kata Nidar. "Ini kayaknya kesalahan."
"Jadi benar?"
Al tersenyum sedikit. Melihat hebohnya mereka lumayan juga pengaruhnya di kampung.
"Aku bangga jika kamu jadian ingin membawa pulang Vidya ke jalanmu. Tapi kalau karena pluralisme, aku kecewa berat."
"Kamu ini ngomong apa sih? Yang jadian itu siapa?"
"Ini buktinya." Nidar menunjukkan akun Vidya.
"Itu kan bukti aku lagi makan siang."
"Untuk ta'aruf, kan?"
"Ya. Ibuku minta."
"Dan kamu mau?"
"Gini, gini. Caption Vidya cuma kasih info kalau aku ini datang untuk ta'aruf. Datang itu bukan berarti jadi ta'aruf."
"Riany bilang kamu jadian," sanggah Irma.
"Itu kan kata Riany, bukan kataku."
"Masa Riany bohong?"
"Mana aku tahu? Yang jelas hari ini aku bete sama dia. Aku pedekate sama Pamela direcokin. Maunya apa coba? Kalian senang ya aku jadi jomblo seumur hidup?"
"Kamu harus klarifikasi," potong Nidar. "Kamu adalah kid jaman now nomer satu di kampung ini. Jadi kiblat mereka."
"Klarifikasi itu untuk berita yang tidak benar."
__ADS_1
"Kalau tidak ada somasi, asumsinya kamu jadian sama Vidya," tandas Irma.
"Maka itu jangan kebanyakan asumsi."
"Karena caption Vidya menggantung."
"Caption-nya sengaja dibuat menggantung untuk memancing followers, termasuk aku barangkali, buktinya banyak comment masuk."
"Nah, biar semuanya jadi jelas. Kamu update deh tidak jadi ta'aruf."
"Bukan caraku mempermalukan orang di depan publik."
"Lalu?"
"Bila perlu aku update untuk membenarkan opini mereka. Aku jadi ta'aruf karena Vidya sudah kembali ke jalanku."
Nidar menepuk bahunya. "Aku bangga padamu. Kamu tidak ingin mempermalukan orang yang jelas-jelasan mencemarkan nama baikmu, malah ingin mengangkat martabatnya kalau bersedia mengikuti paham yang kamu anut."
"Pasti bersedia," sambar Irma tidak senang. "Lin Wei saja rela pindah keyakinan."
"Masalah buat kamu?" balik Nidar tenang. "Jangan-jangan kamu ingin ta'aruf sama Al? Tidak seru. Jauh-jauh merantau ke Yogya, masa punya istri sebelah rumah?"
"Ngomong apaan sih?"
Nidar beralih ke Al, "Aku harap keputusan ini dari pikiranmu yang jernih. Bukan karena kecewamu pada seseorang."
"Kecewa sama siapa?" tanya Riany yang tahu-tahu muncul di tempat itu.
"Tanya sendiri sama orangnya."
Nidar dan Irma pergi menyingkir.
"Kecewa sama siapa?" ulang Riany. "Sama aku?"
"Pede banget," sahut Al santai. "Ada ya hijaber parno?"
Riany menunjukkan akun Arya. "Bisa jelaskan ini? Aku ingin dengar sendiri dari kamu."
Sekilas Al baca caption silhouette Arya yang berdiri di antara sapuan halus hembusan angin, dengan ratusan like dan emoji love, padahal baru beberapa menit yang lalu:
Ingin kubertanya kepada angin, apakah bangsawan itu takdirmu? Aku tahu si kakak pulang merindumu, bukan untuk seribu menara.
Postingan ini adalah bantahan secara halus buat Vidya. Sepertinya Arya ingin meredam kegaduhan yang terjadi. Tapi tidak sadar perbuatannya justru menjatuhkan kakaknya. Followers-nya jadi tahu kalau Al mencintai calon istri orang.
"Lebay," senyum Al kecut. "Jangan percaya kata-kata itu."
"Terus aku harus percaya kata-kata siapa?"
"Arya didengerin."
"Karena aku tidak pernah dengar darimu," sambar Riany lembut. Bisa juga berlaku ramah padanya. Apa ini pertanda keruntuhan hatinya? "Kalau tidak ada rasa, mana mungkin kamu merawat baik-baik novel yang kuberikan. Sejak itu kamu menabung rindu untukku?"
"Tidak ada lagi yang perlu disampaikan."
"Ada satu yang ingin kudengar."
Indahnya sinar mata yang kebiru-biruan itu membuat Al berpaling ke arah lain. Dia tidak boleh terjebak oleh pesona yang menyesatkan hati.
"Benar kamu pulang untukku?"
"Jawabanku tidak akan merubah keadaan."
Riany memandang sendu, seperti ada simfoni yang tertimbun di hatinya. "Seandainya rindu itu untukku, maka Lin Wei jauh lebih baik bagimu."
Al terdiam. Riany bisa mengambil keputusan semudah itu karena cuma kenal Lin Wei. Andai saja sudah tahu Aisyah dan Wulandari, pasti terjebak dilema berkepanjangan, seperti dirinya.
Ketika ada perempuan yang mampu menghalau keraguan itu, perempuan itu justru milik orang lain.
__ADS_1