
Lamborghini meluncur dengan kecepatan tinggi di jalan sepi dengan kanan kiri pohon peneduh.
Sedikitpun tidak ada perasaan ngeri di mata Riany melihat angka digital speedometer bergerak naik. Barangkali sudah biasa. Di Madinah, 100 kilometer perjam terbilang kecepatan standar.
Speedometer melorot drastis ketika Al membuntuti kendaraan yang padat merayap antri masuk tol. Dia bisa saja masuk ke jalur kanan, melalap habis mobil-mobil yang berjejer, tapi taruhannya sumpah serapah pengemudi lain, seperti mobil butut di belakang yang terus merangsek maju.
Disiplin berkendara belum membudaya di negeri ini.
Macet. Pemandangan yang gampang dijumpai di setiap jalan yang dilewati. Minimnya jumlah polantas turut berperan, banyak persimpangan kosong petugas, sementara arus lalu lintas sangat padat.
Jangan heran kalau menjamur pejuang recehan yang mengutamakan pengendara baik hati.
Di Saudi, kemacetan terjadi di jalan-jalan tertentu saja dan tidak sampai berjam-jam membentuk ular panjang.
Pengetahuan Al tentang negeri petro dollar itu lumayan banyak. Riany yang sudah tiga tahun tinggal di Madinah saja tidak hapal setiap markaz yang ada, dan peristiwa yang terjadi setiap harinya.
"Orang tidak percaya kalau kamu belum pernah mukim di Saudi," komentar Riany. "Kamu lebih tahu dari orang Arab sendiri."
"Aku ingin tahu banyak tentang kota Muhammad dan Ibrahim," kata Al santai. "Maka itu kucari informasi dari berbagai sumber yang terpercaya."
Riany menyindir, "Dari handphone teman?"
"Di kampus ada WiFi gratis."
"Gak ilfeel orang IT lihat kamu."
"Wajahnya kan enak dipandang."
Irma meledek, "Tapi suka gratisan.”
"Anggaran ketat bangat."
"Sebenarnya kamu mau bilang ayahmu pelit," singgung Nidar. "Tidak pernah dikasih uang lebih."
Palang tol terbuka. Lamborghini meluncur melewati gerbang masuk.
"Aku tidak tahu ayahku petani sukses," ujar Al. "Tidak ada satupun surat bercerita tentang dirinya."
"Ayahmu kayaknya mau ngetes kesabaran anaknya," sahut Riany. "Tidak ada orang tua yang tega melihat hidup anaknya menderita."
"Kesabaran itu akhirnya berbuah manis," tukas Irma. "Mobil ini salah satunya."
"Mobil ini hasil panen jeruk sunkist yang sempat booming harganya," jelas Riany. "Nah, gadget sama laptop touch screen dibeli minggu kemarin, buat menyusun skripsi."
Al menoleh sekilas. "Kok tahu ya?"
"Apa yang aku tidak tahu tentang kamu? Aku tahu di Yogya ada hijaber di hari-harimu."
"Jadi followers Profetik ya?"
"Ceweknya itu-itu juga. Pacarmu?"
"Boleh apa pacaran?"
"Lagi pacaran modalnya apa?" sela Nidar. "Motor butut saja tidak punya."
"Kan bisa cari cewek tajir," sambar Riany. "Cewek itu kayaknya tajir, sering jadi donatur pacarnya kalau ada kegiatan."
"Pacarnya? Aku maksudnya?"
"Siapa lagi?"
Irma tersenyum geli. "Cowok matre dong?"
"Enak saja."
"Siapa namanya?" tanya Riany.
"Jadi penasaran ya?"
"Yang penasaran siapa? Orang cuma tanya. Kalau nggak mau ngasih tahu, ya gak apa-apa."
"Mendingan kamu cerita tentang Harbi."
"Kamu sudah kenal Harbi. Orangnya jinak, tidak suka kelayapan kayak yang nyopir. Kamu bisa dengar langsung dari orangnya."
"Menang sendiri."
"Kamu bisa bertemu dengan orangnya setiap saat. Jadi buat apa tanya aku? Kalau aku tidak bisa menghubungi pacarmu."
"Aku kasih nomornya."
"Lagian kamu mau apa kalau sudah tahu pacar Al?" potong Irma. "Ngajak tukeran cincin tunangan? Atau tukeran kamar pengantin?"
Doa yang kandas sempat menyeret pikiran Al untuk menjadikan Aisyah sebagai perhiasan terindah. Tapi ada Lin Wei dan Wulandari yang membuat pelik pilihannya.
Mereka adalah bidadari unik. Menurut mereka, laki-laki diciptakan bukan untuk satu perempuan. Jadi Al bisa ambil tiga-tiganya sebagai istri dan mereka tidak keberatan.
__ADS_1
Al tidak bisa memilih salah satu, dua lagi pasti merongrong minta dijadikan istri. Akhirnya tiga-tiga juga. Dia cuma punya satu cinta untuk satu perempuan, supaya tanggung jawab di akhirat tidak terlalu berat.
"Baju yang dipakai juga kayaknya hadiah dari cewek itu," sindir Riany. "Bajunya bermerek."
"Sepatu juga," timpal Irma. "Mahasiswa miss queen mana mampu beli produk impor?"
Semua yang dikenakan Al adalah hadiah dari Aisyah. Dan uang tak pernah berbohong, nyaman sekali dipakainya.
"Coba lihat pakaian dalamnya," kata Nidar. "Bermerek tidak?"
"Puas-puasin deh nge-bully aku," jawab Al kalem. "Biar kalian dapat balasan di Tanah Suci."
Nidar gelagapan. "Jangan dong. Naudzubillah min dzaalik."
"Habisnya."
"Jangan lupa traktir sate onta ya."
"Baru sate, kandangnya aku kasih."
"Onta tidak pakai kandang."
"Maka itu aku kasih sama kamu."
Hari ini mereka akan mengurus paspor. Nidar dan Irma senang sekali bisa pergi umroh bersamanya.
Mereka menyayangkan Al tidak pulang di tahun-tahun sebelumnya. Riany pasti menolak untuk ta'aruf dengan Harbi kalau dia pulang tiga tahun lalu. Mereka tahu cintanya buat siapa.
Riak-riak cinta kelihatannya belum sirna di hati Riany. Dia mencoba membalutnya di balik sikap yang tidak bersahabat. Barangkali dia kesal Al baru muncul sekarang setelah sekian lama menunggu, sehingga dia terpaksa menerima perjodohan itu!
Canda mereka terasa hambar karena ada Harbi di kehidupannya. Sayang jarum jam tidak bisa bergerak mundur.
Cinta dan benci seakan bercampur aduk dalam sikapnya; kadang manis, kadang pahit, kadang asam.
Al jadi susah membedakan antara hijaber dan gado-gado.
Jika Riany hari ini bersikap sedikit ramah dan manis karena dia pemilik travel, dan Al adalah pelanggan. Jadi dia harus memberi pelayanan sebaik-baiknya.
Riany adalah pemandu di Madinah dan Makkah nanti, selain Ahmed dan Harbi. Mereka sudah hapal setiap sudut Kota Suci.
Keberadaan Harbi dalam rombongan umroh sedikit mengurangi kegembiraannya.
Al sulit untuk mengetahui perasaan apa yang ada di hati Riany saat ini. Betapa ingin dia melihatnya membuka niqab dan tersenyum, sehingga terlihat ada percik kebahagiaan di wajahnya.
Riany sibuk memeriksa kelengkapan berkas mereka. Waktu sudah mepet, harus sekali beres. Dua hari kemudian mengambil paspor, lalu pergi ke KKP untuk suntik meningitis dan vaksin sebagai persyaratan visa.
Riany mengambil tissue di box. Kemudian melepas niqab dari hijab hoodie yang fashionable, sehingga wajahnya yang cantik jelita kelihatan secara utuh. Dia mengeringkan keringat yang mengalir di wajahnya dengan tissue.
Al tercengang sampai kakinya tak sengaja menginjak rem. Kecepatan Lamborghini berkurang dan terasa oleh gadis yang duduk di sampingnya.
"Kenapa?" Riany menoleh sekilas dan tersenyum manis. Matahari mendadak sejuk. "Auratku kelihatan?"
"Tidak." Al cepat menguasai diri. Subhanallah. Doanya termakbulkan atau cuma kebetulan?
"Kok ngerem?" Riany memasang lagi niqabnya. Tissue dibuang ke tempat sampah.
"Nggak lihat apa batas kecepatan maksimal?" balik Al.
Di bahu jalan tol terpampang rambu bertuliskan: 100 km.
"Hidupkan deh AC," kata Nidar.
"Kamu bagaimana?" tanya Irma. "Meriangnya sudah sembuh?"
"Aku sudah baikan. Obat herbal darimu mantap juga."
"Aku sudah keringatan baru ngomong," gerutu Riany.
"Aku ini orangnya pengertian."
"Maksud kamu?" tatap Irma tak mengerti.
"Al kangen lihat muka Riany secara utuh."
Irma menoleh ke arah kursi sopir dan bertanya, "Benar, Al?"
"Aku sering melihat kalian utuh-utuh," sahut Al acuh tak acuh. "Waktu mandi bareng di sungai."
"Sekarang beda dong."
"Beda apanya? Wajahnya tidak jadi Hande Ercel tuh, masih Riany Mahera Ayubi."
"Cakepan Riany dong."
"Memangnya kamu kenal Hande Ercel?"
Hande Ercel adalah aktris dan model asal Turki yang terkenal karena bakat dan kecantikannya, sehingga dinobatkan sebagai wanita terhebat abad ini.
__ADS_1
"Tidak."
"Kok bisa bilang cakepan Riany?"
"Pokoknya Riany adalah gadis terhebat abad ini di kampung kita karena kecerdasan dan kecantikannya."
"Jadi karena kecantikan Riany kid jaman now berbondong-bondong masuk pesantren?"
"Tidak benar itu."
"Lalu yang benar?"
"Kehidupan di masjid pesantren lebih berwarna. Kegiatan remaja masjidnya sangat inspiratif."
"Sekalian ajang cari jodoh."
"Parno."
"Riany dapat Harbi di mana?"
"Mana aku tahu? Tanya saja orangnya."
"Harbi keponakannya Kak Ahmed," jawab Riany tenang. "Lulusan California."
"Cari yang gampang ya?"
Riany merapikan berkas selesai memeriksanya. Matanya terlempar ke keramaian kaki lima di pinggir jalan, seperti ada yang dipikirkan.
"Marbot pesantren banyak duit juga ya," kata Al, sekaligus ingin menghalau perasaan tidak enak yang tiba-tiba hinggap di hatinya. "Bisa pergi umroh bareng orang tajir. Bukan duit kotak amal, kan?"
"Sembarangan."
"Jual sawah yang cuma sebidang itu?"
"Ganti kakakku! Dia jadi perawat di Bahrain. Panggilan kerjanya pas bareng umroh."
Lamborghini melambat memasuki gerbang keluar. Al tapping E-Toll. Palang tol terbuka. Lamborghini melesat lagi.
"Kalian tahu dari mana kid jaman now masuk pesantren bukan karena cantiknya Riany?" tanya Al. "Pernah mengadakan survey?"
"Riany pulang enam bulan sekali," sahut Irma. "Dia jarang keluar pesantren kalau tidak penting-penting bangat."
"Justru yang jarang kelihatan itu yang ngangenin."
Irma langsung nembak ke sasaran, "Kamu yang ngangenin?"
"Harbi dong."
Entah kenapa, nama itu susah hilang dari ingatannya. Barangkali karena bangsawan Arab itu sudah membuat kecewa sehingga butuh waktu untuk melupakan. Apalagi mereka pergi umroh bersama. Al kiranya perlu menyiapkan hati secara utuh semata-mata untuk memenuhi panggilan Illahi.
"Aku sering ketemu Harbi di pesantren, kangen apanya?" cetus Riany acuh tak acuh. "Kamu jelas ada yang ngangenin."
"Siapa yang ngangenin?"
"Pamela! Masa aku?"
"Ketemu saja baru dua kali."
"Maka itu ngangenin. Vidya juga. Belum ketemu kan?"
Al tidak tahu seperti apa Vidya sekarang. Gadis itu pastinya tak kalah cantik dengan Riany. Dia sedikit khawatir dengan kehidupan di kota The Mother of the World itu.
Banyak perempuan yang perlu dipertimbangkan untuk calon istri, tidak hanya Vidya dan Pamela. Maka itu Al perlu meminta di sujud malamnya untuk memantapkan pilihan.
Cintanya yang layu sebelum berkembang membuat pilihan calon pasangan hidup jadi semakin berderet.
"Malam ini keluarga Vidya mengundang aku makan malam."
Riany menatap kaget. "Maksudnya ta'aruf?"
"Rencananya."
"Jangan deh, Al," sambar Nidar cemas. "Vidya tidak cocok buat kamu."
"Tidak cocoknya kenapa?"
"Tidak berhijab."
"Soal hijab bisa dibicarakan."
"Orang tuanya saja sampai bosan ngasih ceramah, tapi Sukirnan, masuk kuping kiri keluar kuping kanan."
"Soal ajaran ya?"
"Betul."
Al diam. Mengapa Ibu ingin anaknya ta'aruf dengan gadis seperti itu? Atau cuma bentuk kepanikannya karena takut dia tergoda jadi orang ketiga?
__ADS_1
Hati Al kian gersang, bunga cinta semakin berguguran.