
Oma belum pernah menikmati hidangan selezat ini. Kikil sapi dan jengkol balado adalah makanan favorit Opa. Dia tidak memilih makanan kesukaannya; gudeg manggar dan sambel krecek.
Maka itu Al mengambil gudeg manggar dan sambel krecek. Di ulang tahun Oma biasanya makanan itu bagian Opa. Kadang Oma pesannya kebanyakan sampai Opa kepayahan menghabiskan. Mereka memiliki selera makanan yang berbeda dengan kebanyakan orang kaya.
Kikil sapi dan jengkol balado adalah pesanan khusus Al, sedangkan gudeg manggar dan sambel krecek adalah pesanan Riany.
Riany sendiri sebenarnya belum pernah mencoba kedua jenis masakan itu. Dia menjajal kikil sapi dan jengkol balado sekedar menghargai Al yang telah menyantap hidangan pesanannya.
Sejak kepulangan Riany dari Riyadh, Al seperti ingin menghindari komunikasi dengannya. Bicara seperlunya saja. Itu juga terpaksa. Duduk saja sebenarnya ingin pisah kalau tidak ada Oma. Riany jadi sedih.
"Jadi orang itu kayak Oma," kata Eyang Munzir yang duduk dekat ibu-ibu rempong. "Punya mobil bagus tapi banyak jalan kaki. Punya duit banyak tapi selera sederhana. Jangan cuma punya mobil kaleng-kaleng dan duit satu rekening, gayanya sudah Amrik banget."
"Itu masih bagus," balas Nek Surti. "Ada cowok yang sudah jadi target alam kubur, bukan banyak pergi ke masjid, malahan banyak pergi ke rumah janda muda."
"Ada yang kena setrum rupanya," sindir Eyang Munzir. "Padahal aku ngomong sungguh-sungguh."
"Sungguh-sungguh bikin emosi orang!"
"Memangnya ada yang begitu, Nek?" cetus janda muda. "Mobil tua masih kuat tancap gas apa?"
"Nah, itu orangnya di samping kamu! Hati-hati kena pelet!"
"Yang penting kan halal," bela bapak berkumis. "Lihat Pak Hanif. Usianya sudah kepala berapa? Tapi tidak masalah dapat janda yang usianya jomplang!"
"Soalnya janda yang sudah kisut suspensinya sudah rusak," sambar Eyang Munzir. "Apa yang diharapkan? Betul tidak, Han?"
"Waduh, saya tidak kepikiran soal itu, Eyang." Pak Hanif kelimpungan sampai hampir keselek jengkol balado. "Saya tidak peduli bagaimana onderdilnya. Yang penting ayang mbeb ikhlas punya suami saya."
"Jangan muna! Kok gak pilih janda kisut yang satu usia sama kamu? Jangan bilang bukan jodoh!"
Al makan tidak sampai kenyang. Kemudian mengambil es teler di meja prasmanan, Riany menyusul. Kebetulan meja kecil itu sepi. Jadi ada kesempatan untuk bicara berdua.
"Aku terima kalau kamu marah karena aku pergi tanpa izin," ujar Riany kelu. "Tapi aku sedih banget kalau kamu marah karena tidak percaya sama aku."
"Aku tidak biasa banyak bicara selagi makan," sahut Al santai. "Lagi tidak ada yang perlu dibicarakan."
"Aku tahu kamu sakit hati," gumam Riany muram. "Merasa tidak dihargai karena aku lebih mementingkan sahabat. Demi, aku tidak akan mengulangnya lagi. Kesalahan aku yang paling besar adalah tidak membawa pendamping saat pergi bersama Lukman. Tapi itu cuma kebetulan karena Lukman adalah calon suami sahabatku."
"Karena sudah biasa barangkali, sehingga lupa kalau saat ini sudah ada laki-laki lain di kehidupan kamu."
"Aku tidak pernah jalan berdua sama Lukman, selain kemarin itu."
"Kalau jalan bertiga sering?"
Eyang Munzir datang mengambil es cendol. Al jadikan kesempatan itu untuk menghindar dari pembicaraan yang melelahkan hati.
"Nah, kebetulan ada Eyang," senyum Al senang. "Tolong temani Riany ngobrol. Katanya ingin banyak cerita soal Riyadh. Saya ada perlu sebentar "
Eyang Munzir bengong. Matanya memandang Al yang pergi meninggalkan ruang prasmanan.
Riany tertegun sedih. Lalu berusaha tersenyum manis saat Oma memanggilnya, berjalan menghampiri dan bertanya, "Ada apa, Oma?"
"Habiskan makanannya."
"Baik, Oma."
"Punya Al juga."
Riany tidak membantah. Dia tahu Oma ingin menanamkan tanggung jawab sejak dini. Setiap makan harus dihabiskan. Jika ada sisa di piring suami, maka tugas istri untuk menghabiskan. Jadi menyiapkan makanan untuk suami secukupnya saja.
Selesai makan-makan, rombongan turun ke lantai 33, siap-siap untuk pergi wisata sesuai agenda hari ini.
__ADS_1
Oma dan Riany adalah orang terakhir yang meninggalkan tempat prasmanan. Mereka berjalan ke kamar 63.
"Cah ayu, Oma kayaknya tidak bisa ikut," kata Oma. "Ada yang jemput untuk keliling kota Makkah."
"Siapa?"
"Itu."
Di depan pintu kamar 63 sudah menunggu Aisyah dengan senyum manisnya. Tangannya memegang kotak kecil.
"Oma hari ini ulang tahun ya?" sambut Aisyah. "Oma gitu deh. Tidak bilang-bilang ke aku."
"Masa Oma harus pasang iklan?" canda Oma.
"Untung aku bawa titipan dari jaddah." Aisyah menyerahkan kotak kecil. "Selamat ya, Oma."
"Apa ini?"
Oma membuka tutup kotak. Di dalamnya terdapat tasbih tijani yang terbuat dari bidara Arab. Indah sekali.
"Sampaikan salam Oma ke jaddah."
"Iya, Oma." Kemudian Aisyah menoleh ke Riany yang terheran-heran. "Calonnya Al ya?"
"Ya," tergagap Riany. "Kamu siapa?"
"Aisyah Rahmani Al Khanza. Cukup Ay."
"Riany Mahera Ayubi. Cukup Riri."
"Oma boleh ikut Aisyah kan, cah ayu?"
"Bentar."
"Ada apa?" tanya Al acuh tak acuh. "Kayak baru lihat mantan? Kusut banget?"
"Ada perempuan yang sering kulihat di medsos Ayah." Mata Riany tak lepas memperhatikan Al. "Kamu suruh gadis itu menyusul?"
"Lagi liburan di rumah jaddahnya."
"Terus kamu suruh menemani Oma?"
"Masa gadis secantik itu suruh menemani Oma?" balik Al seolah sengaja, biar bola mata yang terbakar cemburu itu semakin berkobar. "Lagi Oma sudah ada yang menemani...Irma."
"Jadi Aisyah yang membuat sikapmu beda?"
"Sudah tahu nanya. Cadangan yang berkualitas ya?"
"Kamu tidak pernah cerita ke aku soal Aisyah."
"Kamu pernah cerita tentang temanmu?"
"Aku tidak punya teman pria selain Lukman, sahabat aku sejak kecil."
"Sama," sahut Al santai. "Aku cuma punya satu sahabat perempuan sejak kecil."
"Sejak kapan Aisyah jadi sahabat kecilmu?"
"Yang bilang Aisyah sahabat kecilku siapa?"
"Terus?"
__ADS_1
"Riany Mahera Ayubi."
Dengan santai Al berjalan menghampiri Oma dan Aisyah. Riany jengkel bukan main. Tapi tidak ditunjukkan di hadapan mereka. Dia sembunyikan kecamuk hati di balik senyum manisnya.
"Aku tidak jadi pergi," kata Al. "Harus memandu rombongan."
"Gak boleh ya sama calon harim?" tanya Aisyah.
"Riany kurang sehat."
Gadis itu kelihatan pucat sekali. Meriang juga. Semalam kurang tidur, menangis di Multazam menyesali kepergiannya ke Riyadh. Tapi dia mengabaikan sakitnya karena hari ini agenda cukup padat.
"Tidak apa-apa Oma pergi tanpa kamu?" tatap Oma bimbang.
"Oma ditemani Kak Dinar. Keliling kota lebih baik bagi perempuan yang lagi hamil muda."
"Dinarnya mau?"
"Banget."
"Oma ambil tas mukena dulu."
"Biar sama Al."
"Sekalian pipis."
Kebiasaan. Oma mesti ke toilet kalau mau bepergian, entah buang air kecil atau besar.
"Mukenanya biar Al yang siapkan. Obat-obatan juga."
Mukena adalah perlengkapan shalat khas Indonesia. Para Wali menciptakan busana ini karena jaman dulu perempuan biasa memakai kemben dengan aurat bagian atas terbuka. Kalau seluruh aurat sudah tertutup, sebenarnya tidak perlu memakai mukena. Tapi sudah kebiasaan, Oma merasa kurang afdhal kalau shalat tidak memakai mukena.
"Sudah lama kenal Al?" selidik Riany setelah mereka masuk kamar.
"Tidak selama kamu tentunya."
"Bukan berarti lebih tahu tentang Al."
"Kau mahasiswi Madinah tapi mesti belajar banyak."
Lancang, batin Riany tersinggung. Tapi yang tersuguh senyum indahnya yang tanpa niqab.
"Belajar apa ya?"
"Al adalah laki-laki yang bertahan dengan satu cinta. Jaga setiamu baik-baik karena aku menunggu Al. Dan dalam penantian itu, aku tidak pernah pergi dengan laki-laki lain, kecuali saudaraku."
"Aku baru kenal kamu, tapi kayaknya kamu sudah tahu banyak tentang aku."
"Kau tidak peka terhadap sekeliling. Kepergianmu bersama Lukman jadi trending topik di setiap rombongan. Kau sudah permalukan Al."
"Jadi cuma kamu yang pantas jadi istrinya?"
"Tentu saja kamu yang paling pantas. Maka itu aku ingatkan."
"Bukankah seharusnya kamu biarkan?"
"Berarti kau belum kenal aku."
"Maka itu aku ingin kenal lebih jauh."
Kepergian ke Riyadh adalah sebuah pelajaran berharga bagi Riany. Sedekat apapun persahabatan dengan Faye, menjaga perasaan Al adalah yang paling penting. Seharusnya dia tidak pergi bersama Lukman, biar laki-laki itu sahabatnya sejak kecil.
__ADS_1
Bagaimanapun pandainya Al menjaga hati, cemburu pasti ada. Seperti halnya Riany yang demikian cemburu melihat keberadaan Aisyah.