Cinta Untuk Gadis Madinah

Cinta Untuk Gadis Madinah
Episode 59


__ADS_3

"Sabar ya, Al," hibur Aisyah sambil menahan air mata. "Kepergian Oma adalah takdir."


"Disaat-saat terakhirnya Oma ingin berjumpa dengan bagindaku dan bagindamu," gumam Al hampir tak terdengar. "Maka itu aku berusaha untuk mempertemukan mereka. Aku tahu Oma ingin mengatakan sesuatu, namun tak mampu karena keagungan Penghulu Para Ambiya."


Dengan lunglai Al bangkit dari tempat duduk di depan ruang ICCU dan berjalan gontai menuju ruang informasi. Aisyah yang lagi memberi tahu Nidar lewat handphone segera bangkit menyusul.


"Tolong sampaikan ke keluarga di kampung ya, aku tidak ada nomor telponnya," pesan Aisyah di akhir percakapan. Dia mempercepat langkahnya dan berjalan di samping Al. "Mau ke mana?"


"Mengurus pemakaman di Baqi."


"Tidak bertanya dulu sama keluarga dimakamkan di mana?"


"Aku keluarganya, dan aku tahu di mana Oma ingin beristirahat."


"Opamu bagaimana?"


"Dia sudah mengijinkan istrinya untuk bertemu dengan bagindaku dan bagindamu."


"Ya sudah aku bantu."


Dengan bahasa Arab yang fasih Aisyah bertanya ke pusat informasi dan panjang lebar mendapat penjelasan mengenai prosedur yang harus dilalui.


Mereka pergi ke ruangan lain mengurus COD lalu menghubungi muassasah penyelenggaraan jenazah.


Al memberi sedekah 5.000 riyal kepada petugas yang mengurus pembuatan COD sehingga petugas kelihatan semangat sekali.


Aisyah sebenarnya tidak setuju dengan uap tip yang terlalu besar itu, membelanjakan harta almarhumah perlu persetujuan keluarga agar tidak muncul masalah di kemudian hari.


"Bila perlu aku sedekahkan semua harta yang Oma miliki untuk menebus surganya," kata Al dingin. "Oma menghibahkan seluruh hartanya padaku dengan payung hukum, tapi aku salah kalau menghabiskan saat ini, sekalipun aku ingin."


"Ada yang lebih membutuhkan di Madinah ini."


"Siapa? Kamu hadirkan kepadaku."


"Al...istighfar."


"Aku tidak perlu beristighfar untuk bersedekah."


Begitu ambulans muassasah datang, Al memberi sedekah 5.000 riyal kepada sopir sehingga sangat gesit mengurus segala keperluan pemakaman.


Kemudian Al dan Aisyah mendampingi jenazah di dalam ambulans sampai tiba di kantor muassasah. Mereka juga mendampingi proses pemandian dan pemakaian kafan.


Al membagikan sedekah kepada para petugas masing-masing 2.000 riyal, sehingga Oma dapat disegerakan berjumpa dengan Muhammadnya. Tidak sampai melewati dua waktu shalat, jenazah sudah berada di lorong depan makam Nabi, siap dishalatkan selepas Maghrib.


Kepergian yang sangat indah.

__ADS_1


Oma berbaring sendirian di lorong Baqi dan dishalati oleh puluhan ribu jamaah. Tidak ada jenazah lain. Tapi Al yakin Oma tidak kesepian.


Selesai dishalatkan, petugas membawa jenazah ke pemakaman Baqi. Aisyah berlari ke lokasi terdekat bersama rombongan dan berdiri di luar pagar menyaksikan proses pemakaman. Perempuan tidak boleh masuk. Air mata mengalir mengiringi kepergian Oma untuk selamanya.


Al menyaksikan proses pemakaman dengan tegar dan khidmat. Lalu membagi-bagikan sedekah ke masing-masing petugas sebesar 1.000 riyal, dan berdoa untuk keselamatan Oma di alam kubur.


"Demi Zat yang nyawaku berada dalam genggaman-Nya, izinkanlah sedikit harta untuk mengiringi kepergiannya," bisik Al lirih. "Jadikanlah ia pembela untuk menghadapi dakwaan-Mu, tempatkanlah Oma di surga terbaik yang pernah Engkau ciptakan...."


Selesai berdoa, Al berkeliling menelusuri jalan pemakaman di keremangan cahaya lampu yang terpancar dari gedung-gedung di kejauhan, menyapa As'ad bin Zararah, sahabat Anshar yang pertama dimakamkan di Baqi, para syuhada, mendoakan ahlul Baqi, ahlul Indonesia.


Kemudian Al berdiri cukup lama di makam Sayyidah Aisyah dan memandang lirih.


"Setianya Oma tidak seperti setianya engkau, wahai Ummul Mukminin," desis Al pedih. "Tapi aku ingin engkau menyambutnya dengan suka cita sebagaimana istri-istri yang ikhlas, yang mentaati suami untuk mendapatkan ridho Allah semata."


Al berjalan lagi dan berhenti sejenak menyapa Utsman bin Affan, lalu meninggalkan pemakaman menemui Aisyah dan rombongan yang menunggu di depan gerbang Baqi.


Rombongan menyampaikan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya atas wafatnya Oma.


Nidar memeluk Al erat-erat tanpa mampu berkata-kata. Air matanya mengalir deras. Pedih hatinya melihat ketabahan sahabatnya yang luar biasa.


"Aku ingin ada tahlil, karena dengan itu Oma lahir dan mati," gumam Al kelu. "Kau bersedia membantu? Berdua saja cukup."


"Ahmed sudah booking ruangan," sahut Nidar terbata. "Semua rombongan siap menghadiri tahlilan. Kau yang pimpin karena Ahmed tidak biasa."


"Kalau mau ta'ziyah laksanakan ba'da Maghrib."


"Aku tidak memaksa, jangan mereka tahlil karena aku. Kalau tidak mau, tidak apa."


"Insya Allah mereka ikhlas."


Al dan rombongan kembali ke Masjid Nabawi untuk menunaikan shalat Isya. Rombongan perempuan memisahkan diri melintasi halaman selatan dan masuk ke pintu 29, sedangkan rombongan laki-laki menelusuri halaman barat dan masuk ke pintu 2 yang masih dibuka. Pintu 1 sudah dikosongkan dari peziarah karena sebentar lagi Isya tiba.


Al mendirikan shalat Isya dekat pilar yang banyak terdapat Al-Qur'an, dilanjutkan shalat mayit. Ada beberapa jenazah.


Setelah itu Al zikir dan berdoa untuk kebaikan Oma, kemudian shalat Ba'diyah. Biasanya di Haram langsung baca Al-Qur'an sekurang-kurangnya satu juz, tapi di Nabawi tidak bisa karena ada tahlilan di hotel.


Al terharu. Semua laki-laki dari setiap rombongan hadir di ruangan itu. Mereka mengikuti rangkaian tawasul yang dipimpin olehnya dan mengamini doa yang dipanjatkan oleh Ahmed.


Selesai tahlil mereka makan malam secara prasmanan. Bercerita tentang kebaikan Oma semasa hidupnya. Kebersamaan mereka bersama almarhumah cukup pendek, tapi begitu panjang cerita yang terukir.


Al duduk menyendiri. Menyantap potongan-potongan buah yang dibubuhi selai. Nidar datang menemani.


"Riany parah," keluh Nidar muram. "Ibumu ngebel ke HP kamu gak nyambung-nyambung. Kayaknya tidak aktif. Kalau aku bilang HP kamu dipegang Riany, banyak pertanyaan nanti."


"Saat ini aku tidak ingin mendengar cerita apa-apa," sahut Al tawar. "Hanya ingin mendengar suara hatiku."

__ADS_1


"Ibumu menanyakan keadaan kamu."


"Bilang aku baik-baik saja."


"Ibumu tidak percaya."


"Katakan jangan kuatirkan aku."


"Bicaralah langsung."


"Sebenarnya yang kuatir itu Ibu apa kamu?"


"Semua."


"Kenapa?"


"Kamu berikan uang begitu banyak ke orang muassasah."


"Aku bersedekah."


"Ini tidak lazim."


"Maksudnya?"


"Meski disegerakan, biasanya proses pemakaman melewati dua waktu shalat. Oma hanya satu waktu. Ini langka sekali."


"Jadi menurut kalian aku menyogok mereka saking kalutnya? Terus aku juga menyogok orang lain agar tidak mati hari itu sehingga Oma bisa dishalatkan sendirian? Mikir."


"Aku hanya kuatir. Jika itu salah, aku minta maaf."


"Niatku memberi sedekah. Kalau kemudian segala urusan jadi lebih cepat, itu berkahnya. Aku minta sama kalian, jangan curigai sedekah yang diberikan atas nama Oma. Aku tidak bego-bego banget untuk tahu seberapa banyak harta almarhumah yang boleh disedekahkan."


Al bangkit dan berjalan ke lift. Aisyah menghampiri Nidar dan berkata, "Biarkan dia mengikuti suara hatinya karena hanya itu yang dia miliki saat ini."


"Seharusnya Riany ada di sini."


Al masuk ke dalam lift. Dia turun ke lantai dasar dan keluar lobi. Kemudian menelusuri trotoar King Fahd Road dan masuk ke halaman Masjid Nabawi lewat gerbang 2.


Koridor makam Nabi tidak begitu ramai ketika Al memasuki areal itu. Langkahnya agak cepat. Bibirnya tak henti bershalawat.


Tiba di pintu kecil Raudhah, Al masuk melewati askar yang mengobrol dengan orang Pakistan dan berjalan ke tiang As-Sarir yang kosong, lokasi yang diyakini tempat Nabi beritikaf, mendirikan shalat tahiyyatul masjid, lalu berzikir membaca tasbih, tahmid, dan takbir masing-masing 1003 kali, bilangan itu adalah tanggal dan bulan kelahirannya.


Setelah itu Al mengaji. Suasana semakin malam semakin lengang, semakin syahdu terdengar suaranya, bersanding dengan alunan bacaan dari segelintir jamaah yang merindu Baginda Nabi.


Ketika matanya terasa lelah, Al sudahi bacaannya. Ia taruh Al-Qur'an di rak yang berada di sisi dinding makam Nabi, lalu memejamkan mata sambil duduk bersandar ke tiang As-Sarir.

__ADS_1


Cerita manis bersama Oma jadi pengantar tidurnya.


__ADS_2