
Selagi keluarga Riany berpamitan, Yudi datang tergopoh-gopoh. Mogenya parkir begitu saja di jalan. Wajahnya kelihatan panik. Dia sudah berteriak sebelum sampai di depan mereka, "Gawat, Al...!"
"Ada apa?" tanya Al tenang.
"Warga kampung sebelah mau menyerang pesantren."
Semua yang ada di beranda kaget.
"Masalahnya apa?" tanya Abi Hamzah.
"Tiga warga kampung sebelah meninggal."
"Ada orang pesantren yang melarang tahlilan?"
"Tidak."
"Lalu?"
"Mereka kena bom paku yang dipasang Ridwan di bukit."
"Tidak mungkin," potong Riany. "Ridwan sudah hijrah."
"Ada bukti videonya di handphone korban."
"Ridwan lagi pasang bom paku?" sambar Al penasaran.
"Ridwan lagi berada di bukit itu malam-malam."
"Itu tidak membuktikan Ridwan yang membunuh mereka."
"Kapan kejadiannya?" sela Nidar.
"Meninggalnya atau kena bom paku?"
"Kena bom paku."
"Minggu lalu."
"Senin malam?"
"Ya."
Nidar dan teman-temannya berpandangan. Malam yang sama dengan kejadian perampokan yang gagal terhadap mereka.
"Kok ribut-ributnya sekarang?" tatap Pak Haikal heran. "Masa nunggu meninggal dulu baru kalap?"
"Keluarga korban awalnya menyelidik diam-diam, dan jadi ramai setelah korban meninggal."
"Pasti yang meramaikan Ben Muzakir," komentar Irma.
"Betul."
Abi Hamzah kelihatan bingung. "Senin malam Ridwan ada di pesantren. Habis buka puasa sunah tidak keluar masjid, itikaf."
"Pembelaan apapun tidak berguna, Abi," kata Yudi. "Mereka sudah dibakar amarah."
"Pesantren harus dikondisikan," tukas Al. "Abi sama yang lain masuk rumah. Aku pergi ke pesantren."
"Tapi Ridwan tidak bersalah," tukas Riany.
"Ini bukan tentang salah dan benar. Warga lagi kerasukan dan bisa membunuh siapa saja yang dijumpai."
"Kita semua ke pesantren," kata Pak Haikal. "Sudah lapor polisi?"
"Polisi lagi memanggil pasukan huru-hara."
"Ada berapa banyak massa yang hendak menyerang?" tanya Al.
"Segambreng."
__ADS_1
"Aku pergi dulu ngasih tahu teman-teman," ujar Nidar. "Mudah-mudahan ada di padepokan."
"Pasukan bandring masih bisa diandalkan?" tanya Al.
"Insya Allah," jawab Nidar. "Aku akan memecah konsentrasi dari belakang kalau terjadi kerusuhan."
"Pastikan tidak ada orang berkeliaran di perkampungan sekitar pesantren untuk mencegah salah sasaran."
Kejadian ini mengingatkan Al pada masa lalu, ketika pasukan bandring dikepung oleh musuh dari beberapa kampung. Jangan-jangan pelakunya mereka juga.
Sayup-sayup terdengar suara bergemuruh memecah angkasa. Mereka segera naik ke mobil yang parkir di halaman.
Al yakin orang-orang yang tewas itu adalah kawanan rampok yang kena bom paku tempo hari. Korban tentunya bukan hanya tiga orang, yang lain masih ada. Cuma tidak diekspos.
Kabar penyerangan itu ternyata sudah sampai ke pesantren. Ridwan dan kawan-kawan sudah siap menyambut di pintu gerbang bersenjata tongkat panjang.
Abi Hamzah bergegas turun begitu mobil yang ditumpangi berhenti di dalam gerbang. Dia memerintahkan santri menyingkir dari gerbang dan membentengi dengan kendaraan logistik.
Beberapa truk boks datang dan parkir melintang menghalangi pintu gerbang.
Abi Hamzah menyuruh semua santri masuk ke dalam masjid. Berzikir. Tidak perlu meladeni mereka.
"Aku ingin mati syahid, Abi," kata Ridwan. "Mereka barbar."
"Mereka saudara kita, anakku. Karena perbuatan seseorang hingga lupa kalau kita ini saudara mereka."
Al memegang bahu Ridwan. "Kita belum tahu berapa kekuatan mereka. Lagi mereka cuma termakan isu."
"Akan kujelaskan ke mereka kalau semua itu fitnah."
"Penjelasanmu akan berujung kematian, dan tidak membuatmu syahid."
Kerumunan santri segera membubarkan diri. Pergi wudhu dan berzikir di masjid.
Halaman sepi mencekam.
Bunyi ratusan kendaraan bermotor sekonyong-konyong mengangkasa dan melindas syahdunya suara zikir. Santri-santri belia menutup kuping saking bisingnya. Mereka berlarian masuk asrama, santriwati mengunci jendela ketakutan.
Sebuah SUV mewah dan gahar parkir di depan pintu gerbang. Kanan kiri berhenti jip yang tak kalah kerennya.
Ben Muzakir keluar dari roof SUV dan berteriak lewat megaphone, "Dorong!"
Mobil SUV dan jip maju menabrak pintu gerbang. Pintu gerbang bergoyang menghantam kendaraan logistik yang berdiri kukuh. Mereka melakukan itu berulang kali. Pintu gerbang mulai penyok-penyok.
Al berteriak ke Ridwan meningkahi bisingnya kendaraan, "Suruh siap-siap semua santri!"
"Ini tidak benar, anakku!" Abi Hamzah balas berteriak supaya kata-katanya kedengaran. "Pasti timbul korban!"
"Sebentar lagi mereka menerjang masuk, Abi! Kita harus melawan!"
"Kita minta perlindungan Allah, anakku!"
"Perlindungan Allah saat ini datangnya lewat perlawanan! Kita wajib membela diri!"
"Kita berjihad!" teriak Ridwan. "Allahu Akbar!"
Santri-santri spontan bertakbir. Al mengambil tongkat yang bertumpuk di halaman, Ridwan dan teman-temannya juga. Mereka berjaga-jaga di sekitar pintu gerbang. Pesantren ini tidak boleh terinjak-injak oleh angkara murka!
Sementara Riany memobilisasi santriwati. Mereka ambil panah di gudang dan siap membidik dari balik jendela kamar. Riany sendiri mengintai di lantai dua masjid dengan anak panah siap melesat ke pintu gerbang. Targetnya adalah Ben Muzakir.
Suasana sungguh menegangkan.
Ben Muzakir tak henti berteriak membakar semangat, berhadapan dengan keheningan doa dalam hati, "Terus dorong! Robohkan!"
Pak Haikal dan Abi Hamzah menitikkan air mata. Mereka berdiri mematung di serambi masjid.
"Maafkan aku, Ayah, Abi," bisik Al. "Aku tidak bisa membiarkan santri dibantai tanpa perlawanan."
Al bergerak ke orang-orang yang mulai menaiki pagar karena pintu belum dapat dirobohkan. Siap siaga menghadang mereka.
__ADS_1
Pertarungan berdarah sepertinya segera terjadi kalau tidak berkumandang suara sirine keras melampuskan kebisingan yang ada.
Pasukan PHH muncul dengan beberapa kendaraan taktis dan water canon. Mereka berlompatan keluar membentuk sebuah formasi.
Komandan PHH naik ke atap kendaraan taktis dan mengeluarkan himbauan melalui pengeras suara berkekuatan tinggi, "Saudara-saudaraku sekalian, mohon perhatiannya!"
Puluhan kendaraan yang terdekat mematikan mesin, sementara puluhan lainnya menggerungkan gas memberi semangat kepada orang-orang yang berusaha menaiki pagar.
"Sekali lagi mohon perhatiannya! Hentikan tindakan anarkis! Ini negara hukum! Tindakan seperti ini tidak dibenarkan oleh hukum!"
Sebagian besar massa mematuhi seruan komandan PHH. Tinggal belasan saja yang berteriak-teriak menyambut orasi Ben Muzakir.
"Kepada saudara yang berorasi, saya minta hentikan orasinya! Anda sudah berbuat provokatif! Ini melanggar hukum!"
Ben Muzakir balas berteriak lewat megaphone, "Kami ingin menegakkan keadilan! Tiga orang saudara kami dibunuh oleh santri pesantren jahanam ini!"
Massa bergemuruh mendukung. Riany menarik tali busur siap-siap melepas anak panah. Dia menunggu komando dari Al.
"Serahkan pada hukum! Biar hukum yang memproses!"
"Kami tidak percaya pada polisi! Pada budak penguasa!"
"Kami adalah sahabat rakyat! Beri kami kesempatan untuk membantu kalian!"
"Aku minta pembunuh itu ditangkap!"
"Baik! Beri kami jalan!"
Komandan PHH turun dari atap dan masuk ke dalam kendaraan taktis diikuti anggota pasukan.
Iring-iringan kendaraan taktis dan water canon bergerak maju lambat-lambat. Massa menyeruak memberi jalan.
Tiba di depan pintu gerbang, pasukan PHH keluar dari kendaraan taktis dan segera membentuk sebuah formasi.
Al memerintahkan security untuk menggeser sedikit truk boks agar komandan PHH bisa masuk.
"Kamu mau menyerahkan Ridwan?" tanya Riany yang sudah bergabung di dekat Al. Matanya menatap separuh protes.
"Sementara."
"Ridwan bukan pembunuh."
"Aku pertaruhkan nyawa untuk keadilan, tapi tidak di depan orang-orang polos ini."
Komandan PHH tiba di hadapan Al, dan menyapa dengan ramah namun tegas, "Selamat malam."
"Malam," sahut Al pendek.
"Siapa di antara kalian yang bernama Ridwan Sayidi?"
"Saya," kata Ridwan sambil maju ke dekat Al.
"Untuk menenangkan massa, terpaksa kami membawamu." Lalu komandan PHH menoleh ke Al. "Izinkan temanmu ikut kami. Percayakan pada hukum."
"Silakan."
Ridwan menyerahkan tongkat yang dipegangnya ke Al. "Jangan pertaruhkan nyawamu. Cukup jawab dengan jujur pertanyaanku."
"Apa itu?"
"Kau percaya aku bukan pembunuh?"
"Percaya, seperti percayanya siang pada matahari."
"Itu sudah cukup untuk menjalani hari-hariku dari ketidakadilan."
Ridwan pergi bersama komandan PHH.
Massa mulai membubarkan diri. Ben Muzakir dan Al sempat berpandangan dengan sinar mata yang sama, sarat kebencian.
__ADS_1
Santri-santri menitikkan air mata melihat guru silatnya di gelandang masuk ke kendaraan taktis.
Mereka percaya Ridwan bukan pembunuh. Tapi masa lalu yang kelam membuatnya tidak memiliki pembelaan yang cukup.