
Hijrah. Ringan diucapkan tapi butuh perjuangan berat untuk membuktikan.
Ridwan hijrah karena Nidar merangkulnya. Tapi Ridwan adalah Ridwan, itu yang tertanam di masyarakat.
Waktu SD, Ridwan jadi biang onar. Saat SMP dikeluarkan dari sekolah karena sering tawuran. Masa remaja merantau ke kota. Malang-melintang di dunia kriminal.
Kehilangan ibu sejak kecil membuat hidupnya berantakan. Ayahnya kawin lagi dengan janda muda pengeretan.
Ridwan baru pulang kampung ketika ayahnya tewas dibunuh. Mayatnya dibuang ke sungai oleh pembunuh bayaran. Istrinya mendalangi pembunuhan itu. Dia terlilit hutang ratusan juta.
Kini Ridwan jadi tersangka pembunuhan yang tidak pernah dilakukannya!
Pak Haikal dan Abi Hamzah sempat terguncang menerima kenyataan ini. Lama mereka terdiam lemas di beranda masjid.
"Seandainya malam itu Ridwan tidak bersamaku, barangkali aku percaya Ridwan adalah seorang pembunuh," kata Abi Hamzah.
Pak Haikal berpikir keras. "Pertanyaannya buat apa malam-malam Ridwan ada di bukit itu? Tapi bukan malam kejadian?"
"Kayaknya Ridwan mau menyelidiki kawanan rampok itu," ujar Al.
"Buat apa?"
"Ada informasi kalau pembunuh bayaran yang menghabisi abahnya ada di bukit itu."
Peristiwa pembunuhan itu sudah lama terjadi, tapi pelakunya belum tertangkap semua.
"Ada penegak hukum yang menangani."
"Ridwan penasaran karena polisi kesulitan menangkapnya."
"Masuk akal," tukas Abi Hamzah. "Ridwan ingin mengatasi sendiri."
"Dan ada yang merekam kejadian itu," sambung Al. "Jadi kawanan rampok tahu kedatangannya."
"Yang kita perlukan adalah video itu."
"Betul."
"Percayakan pada kepolisian," kata Pak Haikal. "Polisi tidak sembarang menahan orang tanpa alat bukti."
"Kecuali ada bukti lain," timpal Abi Hamzah.
Polisi tidak akan menemukan bukti baru, pikir Al. Semua bukti sudah terkubur bersama jasad rampok itu, sedangkan bukti yang ada tidak dapat menjebloskan Ridwan ke penjara. Alibinya kuat. Meski begitu, dia tidak bisa segera bebas untuk meredam amarah publik.
Ben Muzakir sudah menggiring opini publik kalau Ridwan adalah sang pembunuh. Dia sebenarnya tidak peduli mantan kriminal itu masuk penjara atau tidak. Dia cuma ingin membuat keluarga Riany susah dengan menggoreng peristiwa yang terjadi.
"Persoalan jadi pelik karena banyak muatan," komentar Al dalam perjalanan ke kantor polisi. "Ben sudah membuat gaduh kampung. Masyarakat dijadikan alat kepentingan."
Pasca kejadian itu pesantren dijaga ketat anggota Brimob. Siapapun tidak boleh keluar untuk menjaga terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.
Al dan Nidar keluar lewat pagar belakang, menelusuri bantaran sungai menuju jalan raya di mana Yudi menunggu dengan sedannya.
"Mestinya aku yang masuk tahanan," kata Nidar. "Aku yang punya ide melempar batang pisang ke mereka."
"Pengakuanmu cuma membuat situasi tambah runyam," sahut Al. "Jadi santapan empuk Ben untuk menghancurkan pesantren. Warga sudah terlanjur percaya kalau yang tewas itu adalah orang bersih."
"Aku kuatir polisi merekayasa bukti yang ada karena tersudut oleh opini publik sehingga Ridwan jadi korban."
"Kalau benar demikian, berarti di kampung ini sudah berlaku hukum kepentingan. Apa bedanya dengan hukum jalanan?"
"Menaruh kepercayaan kepada penegak hukum itu perlu," sela Yudi bijak. "Kapan dewasanya kampung ini kalau kita selalu curiga? Kita harus belajar taat, setiap langkah yang diambil kepolisian tentu tidak bisa memuaskan semua orang."
"Ya," gumam Al. "Polisi butuh kerja sama kita dalam mengungkap kasus ini."
__ADS_1
"Maka itu polisi harusnya bersyukur kalian sudah membantu meringankan tugasnya. Kawanan rampok itu licin bagai belut, pembunuh sadis pula. Belum lama ini teman Ridwan mati dimutilasi."
Mereka kaget.
"Aku baru dengar kabar itu," kata Nidar.
"Al wajar tidak tahu," ujar Yudi. "Kamu tiap hari di pesantren masa tidak mendengar?"
"Ridwan tidak pernah cerita."
"Orang itu kabur dari kota karena membunuh kawan sendiri, sesama pelaku kriminal. Tapi naas di bukit itu dia menemui ajalnya."
Al menoleh dengan penasaran. "Tahunya teman Ridwan dari mana?"
"Ridwan sempat dimintai keterangan sama polisi karena ada komunikasi dengannya."
"Ridwan kan sudah hijrah," tatap Al heran. "Kok masih hubungan juga sama dunia hitam?"
"Orang itu mau bertobat. Ridwan bersedia menampung. Kawan orang itu mencegah, terjadilah perkelahian yang menewaskan kawannya."
"Dan jaringan kawannya ada yang beroperasi di bukit itu," tukas Nidar. "Terjadilah balas dendam."
"Berarti banyak alasan Ridwan pergi ke bukit itu."
Malam sudah larut. Suasana sangat sunyi. Kehidupan di sepanjang jalan seolah mati. Pedagang kaki lima yang biasa buka sampai Subuh sudah tutup. Barangkali trauma dengan kejadian siang tadi. Atau kelelahan jadi demonstran bayaran yang konon marak di kampung ini.
Benar-benar malam yang mencekam.
Masjid di perbatasan gelap. Restoran di sebelahnya tutup. Ada seorang penjaga duduk sambil minum kopi di pos kecil.
Jalan mulai menanjak dan berkelok-kelok. Mereka sengaja lewat bukit ini dan bertekad menangkap kawanan rampok hidup-hidup.
Handphone Al bunyi, dari Riany. Dia terima.
"Wa'alaikumussalam," jawab Riany. "Sampai mana?"
"Sampai sini."
"Sini itu mana?"
"Tidak tahu kampung apa ini? Tidak ada plank sih."
"Mampir ya?"
"Rumah Pamela Bordin sepi."
"Kok tahu? Kalian lewat jalan bukit?"
"Iya."
"Itu kan muter, jauh bangat."
"Sengaja."
"Ngapain lewat bukit? Penasaran cari begal kemarin?"
"Doakan biar selamat."
"Baru saja selesai."
"Sudah malam, waktunya tidur."
"Susah."
__ADS_1
"Berani bangkang ya?"
"Bukan bangkang, aku betul-betul tidak bisa tidur."
"Kenapa?"
"Aku kuatir, puas?" Riany mengakhiri percakapan.
Sedan melewati jalan di mana batang pisang malam itu berada.
"Kosong," kata Nidar. "Gagal rencana kita."
"Mereka tahu kedatangan kita."
"Aku curiga sama penjaga di restoran itu."
"Siapa saja bisa jadi mata-mata."
Dari arah yang berlawanan, ada sorot lampu mobil di lembah bergerak mendaki cukup kencang. Mata Al menyipit. Dari posisi lampunya bukan kendaraan kecil, sejenis truk.
Aneh, pikir Al, belanja sayuran dari kebun biasanya siang. Lagi pula bandar dari kota berpikir dua kali lewat jalan ini malam-malam.
"Berhenti," kata Al.
Yudi mengurangi kecepatan dan berhenti sisi jalan, menoleh dengan heran. "Ada apa?"
"Ganti aku nyopir."
"Aku masih fokus."
"Cepetan."
Yudi segera keluar, berjalan memutar lewat belakang. Al bergeser duduk. Yudi masuk dari pintu sebelah. Sedan meluncur lagi dengan kencang. Tiba di muka sebuah tikungan, sedan melambat dan berhenti di sisi jurang yang dalam.
"Terlalu pinggir," ujar Yudi.
"Kurang?"
Yudi diam. Mata Al tak lepas mengawasi tikungan. Tak lama kemudian muncul trailer dengan bumper besar melaju cukup kencang.
Tiba-tiba trailer keluar dari jalur dan meluncur ke arah mereka, hendak menabrak sedan dari samping.
"Al," pekik Yudi ngeri.
Sedikit lagi trailer mengenai badan sedan, dengan lincah Al melakukan manuver, sehingga trailer hilang kendali dan terjun ke jurang. Berkumandang bunyi ledakan dari dasar jurang.
Yudi menghapus keringat dingin dengan tissue. "Belajar nyetir di mana?"
"Hollywood."
Yudi terbelalak. "Kau pertaruhkan nyawa kita cuma modal nonton film?"
"Kapan pecundangmu hilang?" balik Al kalem sambil melajukan sedan cukup kencang. "Jangan-jangan kawin sama perempuan yang jauh lebih tua cuma cari suaka."
"Motif aku sama kayak Jennifer. Cuma beda versi. Ibuku butuh biaya besar buat operasi kanker dan janda itu datang dengan uangnya. Waktu dia melamar aku, kira-kira apa yang harus diperbuat?"
Al tersenyum tipis. "Serius banget. Just kidding in the night, men."
"Okay."
"Besok aku sama Nidar pergi lumayan lama ke Saudi, tolong kamu urus keperluan Ridwan."
"Siap."
__ADS_1
Selama Ridwan menjalani tahanan menunggu proses BAP, perlu ada orang mengurus keperluannya. Anggaran Polsek untuk tahanan titipan sangat minim. Dia tidak boleh kekurangan.