
Polisi piket masih terlihat segar ketika Al menemuinya. Dia melayani dengan ramah.
"Proses BAP dilaksanakan besok karena kami perlu mengumpulkan alat bukti dan keterangan saksi," kata polisi.
"Penyidikan bukti fisik dan saksi tentunya makan waktu berhari-hari," ujar Al.
"Sudah tugas kami."
"Ini kartu nama pengacara yang akan mendampingi tersangka."
Polisi mengambil kartu nama yang diletakkan di meja, dibaca sekilas, lalu ditaruh di laci.
"Oh ya, di perjalanan saya lihat ada trailer tercebur ke jurang, kayaknya sengaja hendak menyeruduk mobil saya."
"Anda lewat bukit?"
"Ya."
"Kawasan itu rawan kriminalitas."
"Saya suka daerah rawan."
Polisi menatap dengan selidik. "Anda kelihatannya bernyali besar."
Al tersenyum sedikit. "Jangan jadi mahasiswa kalau bernyali kecil."
"Begitu ya?"
"Saya curiga tiga orang yang meninggal adalah kawanan rampok. Maka itu saya pancing temannya untuk keluar, tapi malah melihat kecelakaan tragis itu."
"Anda siapanya tersangka?"
"Saya Al Farisi Haikal Najid, sahabatnya tersangka."
"Puteranya Pak Haikal Najid?"
"Betul."
"Ya, ya, saya kenal. Anda pasti putera sulungnya yang kuliah di Bulaksumur."
Al tersenyum. "Kalau pihak kepolisian butuh bantuan, saya siap 24 jam."
"Anda punya nama untuk kasus ini?"
"Ben Muzakir. Tim Penyidik bisa minta keterangan darinya."
"Ya, ya. Hasil penyelidikan awal sudah terungkap beberapa nama."
"Ben Muzakir hampir membuat ratusan nyawa melayang."
"Dia akan kami panggil untuk tindakan provokatornya."
"Terima kasih."
"Yang saya heran, kalian kok bisa izin keluar dari pesantren?"
"Saya lewat jalan yang tidak perlu izin."
__ADS_1
"Kebiasaan waktu SMA ya? Lompat pagar?"
Al tersenyum diplomatis. "Bisa saya menemui Ridwan Sayidi?"
"Oh, tentu saja. Untuk kasus kecelakaan trailer, anda tahu posisi persisnya di mana?"
"Tikungan paling tajam di puncak bukit."
"Terima kasih atas informasinya."
Polisi piket memanggil temannya untuk mengantar mereka ke tahanan sementara, lalu menghubungi polisi patroli agar segera menuju ke lokasi kecelakaan.
Al tahu laporan ini akan membuat urusan bertambah panjang. Dia yakin sopir trailer adalah kawan rampok yang terbunuh. Komplotan mereka pasti mengincar nyawanya untuk balas dendam.
Demi tegaknya keadilan, Al berani menempuh risiko. Dia tidak takut ancaman pelaku kriminal. Hukum pasti melindungi.
"Ridwan tidak bersalah," kata Al kepada polisi yang mengantar. "Tiga warga yang tewas adalah rampok yang kena bom paku buatan sendiri."
"Anda tidak bisa menuduh tanpa bukti."
"Saya ada di lokasi pada malam kejadian."
"Pengakuan ini bisa membuat anda terseret ke meja hijau."
"Jadi saya harus membiarkan dua orang perempuan baik-baik yang mungkin melahirkan calon kepala polisi untuk terbunuh?"
"Saya paham. Ada lagi yang mau disampaikan?"
"Saya yakin sopir trailer adalah komplotannya. Dia hendak mendorong mobil saya ke jurang."
"Anda perlu menyelidiki Satpam restoran di kaki bukit. Dugaan saya ada kaitannya dengan sopir trailer. Dia jadi informan tentang keberadaan mobil saya."
"Ya, ya."
"Kalau sekiranya saya harus bertanggung jawab, dua puluh dua hari lagi saya datang ke sini."
"Kenapa mesti dua puluh dua hari?"
"Saya pergi ke Tanah Suci."
"Karena itu anda membuat pengakuan? Takut dapat balasan di Tanah Suci?"
"Saya takut meninggalkan hutang pada tersangka kalau terjadi apa-apa dengan saya."
Al tahu polisi tidak akan menggelar kasus ini. Pasti terjadi kekacauan besar kalau dia sampai di BAP. Sentimen warga terhadap pelaku kriminal sangat tinggi, sehingga banyak warga main hakim sendiri.
Perang antar kampung pasti pecah. Mereka tidak menerima kalau tiga orang warganya yang tewas disebut perampok. Dampaknya terlalu dahsyat.
Polisi, barangkali, lebih suka mengorbankan Ridwan sebagai tersangka. Ujung-ujungnya dia akan bebas karena tidak cukup bukti.
Ridwan sedang duduk berzikir di lantai waktu mereka tiba di selnya. Polisi yang mengantar pergi lagi.
"Assalamu'alaikum," sapa Al.
"Wa'alaikumussalam." Ridwan terpukau sesaat, lalu bangkit menghampiri. "Kamu sama Nidar kan pagi-pagi mesti ke bandara?"
"Aku ingin memastikan kamu baik-baik saja."
__ADS_1
"Alhamdulillah, aku baik-baik saja."
"Aku sudah sewa pengacara untuk mendampingi, dan selama aku pergi, Yudi akan mengurus segala kebutuhanmu."
"Aku pikir tidak perlu. Aku cuma butuh kepercayaanmu."
Kepercayaan Al sangat penting bagi Ridwan. Memudahkannya untuk diterima teman-teman dan pada akhirnya masyarakat.
"Kloter depan kamu berangkat umrah."
"Aku tidak punya uang."
"Bentuk kepercayaan dariku. Siapkan dirimu baik-baik."
"Subhanallah," seru Ridwan senang. "Kebaikanmu membuat aku ikhlas tinggal di dalam seumur hidup, sekalian syiar agama."
"Kalau tinggal di sel seumur hidup, berangkat umrahnya kapan?"
Ridwan tertawa kecil. Wajah Al mendadak berubah serius, menatap lelaki di balik jeruji itu lurus-lurus.
"Aku sudah wasiat ke Yudi, kalau terjadi apa-apa sama aku, sama Oma, aku sedekahkan hartaku untuk makan dan minum orang tahlil. Jadi jangan larang tahlilan di rumah Oma."
"Aku kan ada di dalam."
"Aku tahu kamu dekat sama Oma. Maka itu Oma kasih umrah gratis."
"Aku sayang sama Oma karena beliau adalah nenekmu. Lagi pula aku tidak punya siapa-siapa."
"Jangan mellow."
"Di dalam banyak waktu buat mendoakan keselamatan kalian."
"Aamiin."
"Doakan aku ya di Tanah Suci?"
"Insya Allah."
Hati Al terasa plong saat meninggalkan kantor polisi. Dia tinggal berpasrah diri untuk diperkenankan bertamu ke Dua Kota Suci.
Oma sudah menyiapkan segalanya jika dalam perjalanan suci terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Seluruh hartanya diberikan ke Al. Kemudian dia menghibahkan sebagian untuk kemaslahatan umat jika terjadi apa-apa dengannya, sebagian lagi buat ahli waris sesuai syariat agama. Hak waris ini cuma dia dan pengacara yang tahu, demi menjaga perasaan Oma.
Oma seolah tidak rela anggota keluarga yang lain menikmati harta peninggalannya. Mereka dianggap sudah bersekongkol dengan Opa. Di surat wasiat bahkan ditegaskan, rumah disedekahkan ke pesantren jika Al tidak bersedia menempati. Demikian pula butiknya di Jakarta jika dia tidak mau mengurusnya.
Kelihatannya Oma sakit hati atas kehadiran Jennifer sehingga hartanya tidak dibagikan. Dan sakit hati itu akan dipertanyakan kelak kepada Hakim yang sebenar-benarnya hakim.
Ada yang tidak dimengerti Oma dari penjelasan yang ada. Tuhan saja tidak memaafkan manusia yang menduakan-Nya, mengapa manusia boleh menduakan manusia?
Sebuah pemikiran keliru menurut Al. Pencipta dan yang diciptakan berbeda dalam segala sifat dan tidak bisa dibandingkan. Nabi Muhammad adalah penutup para nabi yang harus memberikan contoh dari hal yang sekecil-kecilnya sampai sebesar-besarnya untuk panduan umat hingga akhir jaman, termasuk perkara madu.
Tapi tidak elok mengatakan kalau Oma tidak beriman kepada Nabi. Pada dasarnya dia menghormati sunah. Dia hanya benci pada suami yang menjalankan sunah itu sementara sunah lain banyak yang belum dilaksanakan.
Tidak elok pula mengatakan kalau Jennifer adalah perempuan perusak kebahagiaan orang. Aturannya ada dan dibolehkan untuk jadi istri kedua.
Al paham semua itu sulit diterima, betapapun tingginya iman seorang perempuan. Maka itu dia lebih banyak diam setiap kali Oma berkisah tentang istri-istri Nabi, tentang kecemburuannya. Penjelasan apapun tidak akan memuaskan dahaganya.
Al ingin menjernihkan hati dan pikiran agar mendapat berkah pada keberangkatannya ke Tanah Suci.
__ADS_1