
Konvoi bis tiba di pelataran parkir sebelah barat Bir Ali di mana terdapat perkebunan kurma yang luas.
Masjid ini mirip benteng kokoh berbentuk persegi, memiliki kubah setinggi 16 meter dan satu menara adzan dengan bentuk tangga spiral setinggi 62 meter. Masjid ini dapat menampung 5.000 jamaah. Di seberang jalan utama terdapat bukit cadas berpasir.
Nama Bir Ali diberikan saat Ali bin Abi Thalib menggali sumur yang sangat banyak di tempat ini. Bir artinya sumur dalam bentuk jamak, sedangkan Ali adalah sahabat Nabi yang telah menggali sumur tersebut.
Saat ini sumur-sumur itu tertutup oleh masjid dan bangunan di sekitarnya. Beberapa sumur jadi sumber air masjid.
Rombongan langsung antri wudhu begitu turun dari bis, mendirikan shalat tahiyyatul masjid dan shalat sunah lainnya. Kemudian melihat-lihat pemandangan hijau kebun kurma dan tawar-menawar pernak-pernik di pasar sebelah timur.
Al dan Aisyah berjalan di antara hiruk-pikuk pengunjung pasar.
"Aku mau tanya sesuatu sama kamu," kata Al. "Apa Oma berwasiat sebelum pergi?"
"Seandainya dia berwasiat untuk cucunya agar menikahi aku, apa tanggapanmu?"
"Kapan kamu ingin menikah, saat itu aku siap jadi suamimu."
Aisyah terpukau.
"Apa Oma berwasiat seperti itu?" tanya Al.
Adalah sebuah kata yang sarat makna ketika Aisyah menjawab tidak sesuai dengan harapan, "Tidak."
"Tidak? Oma tidak ngomong apapun sebelum pergi?"
"Oma banyak bercerita, tapi tidak bercerita soal itu."
Al diam. Ada sedikit kecewa di hatinya. Atau Aisyah tidak jujur? Tapi sudahlah. Dia tidak mau memaksa sesuatu yang mungkin sulit untuk diucapkan.
Al memberi 5.000 riyal kepada Aisyah buat belanja. Gadis itu menolak, "Aku ini siapa kamu dikasih duit segitu banyak, sedang calonmu saja tidak pernah."
Al tersenyum samar. "Niatku tulus bukan akal bulus, apalagi hitung-hitungan kalkulus untuk dapat tubuh mulus."
"Preet," sambar Irma yang baru muncul. "Kamu tahu dari mana tubuhnya mulus?"
"Nah, biar adil, buat kalian berdua."
Al jejalkan uang itu ke tangan Irma, lalu pergi ke lembah. Menyendiri. Di lembah hijau ini Oma dan Opa berjanji setia, di pohon kurma tertua di perkebunan ini. Mereka pergi umrah bersama keluarga dan mengakhiri ta'aruf dengan akad nikah sepulangnya ke tanah air.
Konon di pohon kurma ini terukir nama mereka yang tentu saja sudah hilang oleh membesarnya batang kurma. Tapi kesetiaan Oma tidak pernah hilang, terbawa sampai mati.
Al baru beranjak dari tempatnya berdiri ketika Nidar datang memberi tahu bahwa rombongan akan pulang.
Rombongan sudah menunggu di dalam bis saat mereka tiba. Al duduk di samping Aisyah, dan bis bergerak meninggalkan pelataran parkir.
"Handphone tidak dibawa ya?" tanya Pamela. "Aku ngebel gak diangkat-angkat?"
"Gak tahu ada di mana."
"Berarti masih di meja kamar," tukas Aisyah. "Kirain sudah diambil."
Ketika mengurus jenazah Oma, handphone Al ketinggalan di ruang ICCU. Suster menyerahkan ke Aisyah, lalu ditaruh di meja kamar.
"Kamar itu sekarang jadi hakmu," kata Al. "Aku tidak bisa sembarang masuk."
"Lagi kenapa tidak diberikan?" sambar Eyang Munzir. "Sengaja ya biar Al menyelundup masuk?"
"Eyang sudah tua kok pikirannya ababil banget," sahut Aisyah. "Eyang sering menyelundup ke kamar Nek Surti ya sewaktu muda?"
"Memangnya aku cewek apaan?" potong Nek Surti sewot. "Tidak tahu kalau sama cewek lain."
Eyang Munzir jadi emosi, "Kamu tuh sering menyelundupkan cowok! Kalah bandar narkoba!"
"Jadi ribut kan gara-gara kamu?" keluh Al seakan menyalahkan Aisyah. "Tanpa gara-gara saja, mereka sering perang."
__ADS_1
"Berantem adalah tanda CLBK," cetus Bu Hanif. "Cinta Lama Bau Kentut."
"Mentang-mentang sudah ada yang baru, yang lama di-bully habis," sindir Eyang Munzir.
"Bila perlu yang lama direbus hidup-hidup," tukas Nek Surti sadis.
Bis tiba di hotel. Mereka segera turun. Al langsung menuju ke kamar Oma di lantai 9, membuka pintu dengan kartu dan masuk ke dalam kamar.
Al duduk bersandar di tempat tidur, melepas lelah, memanfaatkan waktu beberapa kejap menjelang shalat Dhuhur.
Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Riany keluar mengenakan kimono transparan sehingga lekuk tubuhnya yang demikian seksi kelihatan.
Al kaget, lebih-lebih Riany.
Lelaki sebenarnya sulit untuk menarik mata dari pemandangan yang sangat menggairahkan itu. Tapi Al hanya melihatnya pada detik pertama. Detik kedua beristighfar, kemudian bergegas pergi ke luar kamar.
Muka Riany memerah saking malunya. Bagaimana Al bisa berada di kamar ini? Dia tidak tahu harus menangis atau menjerit. Umi saja belum pernah melihat tubuhnya semenjak dewasa!
Kimono ini adalah baju mandi kepunyaan Dinar, tertukar dengan baju mandinya. Riany baru tahu setelah membongkar kantong belanjaan selesai mandi.
Dia bisa masuk kamar menggunakan kartu cadangan. Dan sesuai daftar di lobi, Aisyah tidur satu kamar dengan Oma. Dia seharusnya curiga tidak ada travel bag Aisyah di kamar ini, tapi travel bag Al juga tidak terlihat.
Lagi pula, Riany tidak berpikir sejauh itu. Yang ada di kepalanya adalah kamar Oma dan ingin segera membersihkan badan yang sudah tidak karuan rasanya.
Riany tidak bisa pulang lebih cepat dari Riyadh. Disamping syok atas meninggalnya Faye, dia sibuk mengurus jenazah. Orang tua Faye ingin anaknya dishalatkan di Masjidil Haram dan dimakamkan di Ma'la.
Riany juga disibukkan oleh kondisi Lukman yang demikian terpukul. Dia tidak menyangka kalau jiwa sahabatnya serapuh itu. Lukman baru bisa tenang dan menerima setelah bersimpuh di Multazam.
Selesai berdandan seperlunya, Riany pergi ke kamar sebelah, mengetuk pintu tiga kali. Aisyah keluar. Dia sudah rapi berpakaian siap berangkat ke Masjid Nabawi.
"Kenapa tidak kamu coret di daftar tamu kalau kamu tidak tidur sama Oma?" tatap Riany menahan marah.
"Urusanku," sahut Aisyah santai. "Lagi kamu ke mana saja dibel gak nyambung-nyambung?"
"Memangnya tidak bawa charger atau power bank?"
"Tidak kepikiran soal HP. Aku lagi syok berat. Sahabat yang paling setia telah meninggalkan aku."
"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un."
Riany sebenarnya sudah berulang kali menghubungi Al dan teman-temannya tapi satupun tidak ada yang menerima. Di gadget Al tidak ada nomor Ahmed dan Harbi, sedangkan Dinar tidak pernah pegang handphone. Dia jadi punya pikiran jelek. Maka itu dia memaksa Lukman untuk segera menyusul ke Madinah.
"Oma mana?" tanya Riany. "Aku tidak melihat beliau di kamarnya."
Aisyah hanya memandang sekilas lalu pergi ke pintu lift. Riany mengejar dan ikut masuk ke dalam lift.
"Kamu belum jawab pertanyaanku," desak Riany. "Oma di mana?"
"Kamu tanya Oma di mana?" tatap Aisyah acuh tak acuh. "Boleh aku tanya sesuatu?"
"Soal apa?"
"Sebenarnya kamu ini calon istri Al atau Lukman?"
"Kau sudah tahu aku ini siapa."
"Jadi kamu masih berani mengaku sebagai calon istri Al?"
"Maksudnya apa ini?"
Mereka tiba di lantai dasar. Pintu lift terbuka. Mereka berjalan menuju pintu lobi.
"Aku lihat kau lebih peduli sama Lukman."
"Lukman sahabatku sejak kecil."
__ADS_1
"Jadi kamu lebih peduli sahabatmu daripada calon imam kamu?"
"Tolong katakan, ada apa ini?" desak Riany tidak sabar.
"Aku pernah bilang jaga perasaan Al, tapi kamu anggap angin lalu."
"Aku pergi ke Riyadh atas izin calon suamiku."
"Bukan berarti kamu bebas pulang kapan saja."
"Aku mesti urus jasad sahabatku, urus Lukman juga."
"Nah, itu bukti kamu lebih peduli sama Lukman."
"Please deh, ada apa ini?"
"Kau tidak lihat orang-orang di sekelilingmu?"
Riany memang merasa ada perubahan dengan orang-orang di sekitarnya. Setiap kali dia menyapa, mereka hanya menjawab seperlunya dengan muka tidak bersahabat. Bahkan Nidar dan Irma buru-buru pergi ketika mereka bertemu di pelataran Masjid Nabawi.
"Itu sahabat yang kamu percaya?" sindir Nidar sambil berjalan di pelataran berpayung. "Datang seenaknya tanpa sepotong kata maafpun."
"Riany tidak jujur sama aku. Waktu itu dengan polosnya aku minta sama dia untuk dipertemukan dengan Lukman, nyatanya tidak pernah sampai, karena Lukman pacar SMA-nya. Jangan-jangan ke Riyadh CLBK."
Riany jadi termangu melihat Irma pergi meninggalkannya. Padahal dia ingin bercerita tentang Faye untuk meringankan beban dukanya.
"Kamu lihat kan?" cetus Aisyah. "Sahabatmu yang paling dekat saja ogah ketemu kamu."
"Mereka harus tahu apa yang terjadi."
"Mereka tidak peduli apa yang terjadi denganmu."
Riany menatap tak mengerti. "Ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi selama aku pergi?"
Aisyah membawa Riany ke sisi utara pemakaman Baqi, berjalan di pelataran pagar menuju jembatan Baqi.
"Kau ajak aku ke mana?" tanya Riany bingung. "Mestinya kita ke pintu 29."
"Kamu menanyakan Oma, kan?"
Riany menoleh dengan kaku. Tiba-tiba saja perasaan tidak enak hinggap di hatinya.
"Aisyah...." Riany memegang tangan gadis itu dengan bergetar. "Jangan katakan Oma...."
Aisyah menaiki anak tangga yang lebar itu dan berdiri di atas jembatan sehingga gundukan-gundukan tanah berpasir di pemakaman kelihatan jelas.
"Oma saat ini berbaring sendirian." Aisyah menggigit bibirnya menahan desakan perasaan di dadanya. "Yang batu hitam itu."
"Jadi Oma...Oma...."
Riany tidak kuasa melanjutkan kata-katanya. Tubuhnya menggelosor lemas dan terduduk pilu di lantai jembatan. Air mata mengalir di pipinya. Terasa pedih matanya memandang batu nisan itu.
"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un," isak Riany terbata. "Maafkan aku, Oma. Tidak mengantar kepergianmu ke tempat peristirahatan terakhir."
"Di mana kamu saat Al butuh kekuatan untuk melepas kepergian Oma? Di mana kamu saat Al butuh pendamping untuk berbagi duka?"
Riany tidak mampu menjawab. Kata-kata Aisyah bagai ribuan jarum yang menusuk dadanya.
"Kau lagi membantu Lukman untuk bangkit dari keterpurukan? Al jauh lebih hancur! Kau biarkan dia tenggelam sendirian."
Riany menguatkan diri bertanya, "Kapan Oma pergi?"
"Dua hari lalu selepas Dhuhur."
Berarti pada saat aku menunggu detik-detik kepergian Faye, pikir Riany hancur. Saat itu dia tengah membimbingnya mengucapkan kalimah tauhid, padahal seharusnya membimbing Oma....
__ADS_1