
Oma benar. Sependek apapun waktu yang dihabiskan di pesantren jadi perkara yang panjang buat ibunya. Dia sudah menunggu di ruang tamu ketika Al pulang.
"Pilih-pilih kalau bergaul," tegur Bu Haikal. "Jangan mentang-mentang bening, langsung saja otakmu jadi keruh."
Al duduk di sofa beludru tunggal dan memandang ibunya dengan tenang. "Maksud Ibu apa?"
"Ibu tahu kamu habis dari mana."
Ibu kelihatannya mulai mengawasi tingkah lakunya. Padahal berkunjung ke pesantren modern tidak ada ruginya, bisa untuk studi banding, bagaimana memakmurkan masjid agar menarik minat jamaah.
Soalnya masjid kampung tidak sehidup masjid pesantren. Ramainya hanya hari Jumat dan perayaan hari besar Islam, padahal padat penduduk.
"Mata-mata Ibu ngasih tahu?" selidik Al. "Kirain tukang kebun agen spionase khusus untuk Ayah."
"Ada CCTV di depan rumah ustadzah."
Rumah ustadzah persis di seberang jalan gerbang pesantren. Ada dua kamera pengintai terpasang di tiang lampu jalan. Al kira punya pesantren untuk keamanan pintu gerbang, tidak tahunya milik warga. Sampai sejauh itukah mereka memata-matai? Untuk apa? Perbuatan itu hanya memperkeruh suasana.
"Jangan sampai kamu terpengaruh sama kurma beracun itu," kata Bu Haikal tidak senang.
“Kok kurma beracun sih, Bu?" protes Al halus. "Tidak susah kan menyebut namanya?"
"Hijaber itu musuh besar orang kampung. Kecantikannya disalahgunakan buat merekrut pemuda kampung."
"Astaghfirullah."
"Jangan istighfar untuk ibumu."
"Al istighfar untuk kata-kata Ibu."
"Ada yang salah dengan kata-kata Ibu?"
"Tidak."
"Nah, terus?"
"Kata-kata Ibu tidak salah, sudah sesuai dengan EBI. Tapi isinya salah, fitnah.”
"Faktanya begitu."
"Maka itu Ibu jangan menyaksikan dari CCTV, datang langsung ke pesantren. Apa yang Ibu katakan beda sekali dengan kenyataannya. Atau kacamata kita berbeda?"
"Banyak-banyak istighfar kamu."
"Istighfar sekali saja diprotes, suruh banyak-banyak."
"Pemuda kampung sudah kena indoktrinasi. Kata-kata hijaber itu sangat menghipnotis."
"Kata-katanya lembut, santun, suaranya merdu lagi. Jadi wajar mereka terhipnotis."
Kecuali padaku, sambung Al dalam hati. Sentimen. Atau Riany ingin membentengi diri agar tidak terseret ke masa lalu? Syukurlah.
Lagi pula, Al tidak mau membuka pintu yang sudah tertutup. Dia bukan maling cinta.
"Gadis onta itu sudah membuat resah warga."
"Ya salam."
"Kenapa lagi? Aku salah?"
__ADS_1
"Tidak. Ibu tidak salah bertanya.”
"Lalu?"
"Berilah sebutan yang bagus-bagus."
"Itu sudah paling bagus."
"Ucapan adalah cermin kepribadian."
"Kamu mau bilang kepribadian Ibu buruk?"
"Al tidak bilang begitu loh."
"Riany sudah membuat kegaduhan di kampung ini."
Al tersenyum.
"Kok senyum?" tatap Bu Haikal keki. "Ada yang lucu dengan kata-kata Ibu?"
"Al senang Ibu menyebut namanya, bukan kurma beracun atau gadis onta."
"Jangan kira pendirian Ibu berubah dengan berubahnya sebutan."
"Jadi menurut Ibu pemuda kampung yang jadi santri pesantren karena bujuk rayu Riany?"
Bu Haikal mendengus sinis. "Apa lagi? Mereka langsung terpengaruh setiap habis ngobrol dengannya. Kamu juga.”
"Al cuma ingin tahu."
"Ingin tahu keterusan."
"Oma ada di masjid pesantren."
"Kebetulan."
"Kebetulan kok ke setiap pemuda yang datang?"
"Amazing."
"Bajing? Cocok!”
“Fantastic.”
“Plastik? Jadi gadis itu operasi plastik?”
“Dengarnya dengan kepala dingin, biar nyambung.”
“Memangnya kepala Ibu freezer?"
"Ada orang kampung yang belajar di Saudi?"
"Buat apa belajar jauh-jauh kalau cuma membuat gaduh? Mendingan jadi orang awam sekalian, tidak macam-macam."
Ucapan seperti itu adalah penyakit hati. Ibu menutupi kekurangan golongannya dengan mencerca kelebihan golongan lain, bahkan mencari-cari kesalahan.
Dan mereka belajar ke jazirah Arab harusnya memperkaya khasanah agama di kampung ini, bukan mencela ajaran yang sudah turun-temurun dianut karena dalil berbeda.
Atau mereka sebenarnya tidak mencela dan berceramah untuk kalangan sendiri, lalu ada jamaah menyebarkan lewat YouTube?
__ADS_1
Mentalitas jamaah seperti ini perlu dibenahi. Hakekat syiar agama jadi rancu kalau menimbulkan kegaduhan yang mengakibatkan adu domba dan perpecahan.
Kontroversi agama bukan konten yang elok untuk panjat sosial.
Nidar lagi menyelidiki beberapa anak muda yang diduga menyusup untuk membuat kegaduhan. Minggu ini menghadiri pengajian di masjid pesantren. Minggu berikutnya di masjid kampung. Mereka kelihatannya senang kalau di kampung terjadi konflik. Dia curiga kalau kelompok pemuda ini adalah influencer yang dibiayai seseorang untuk kepentingan tertentu.
"Bagaimana dengan Umi Hamzah?" tanya Al. "Bukankah beliau sahabat Ibu waktu di Aliyah?"
Aliyah adalah sekolah keagamaan setingkat SMA. Umi Hamzah melanjutkan pendidikan ke Saudi, Bu Haikal kuliah di tanah kelahiran. Persahabatan mereka berlanjut lewat video call dan chat. Intensitas pertemuan berkurang dan hampir tidak pernah bertemu lagi sejak sahabatnya itu dipersunting bangsawan Timur Tengah.
Bu Haikal hanya berperan di balik layar dalam perseteruan yang terjadi karena menghargai sahabatnya. Dia banyak berhutang jasa kepadanya, terutama saat mengejar cinta suaminya sampai ke kampung ini. Dia sering menginap di rumahnya.
"Umi Hamzah sebetulnya memegang teguh ajaran orang tuanya, meski menuntut ilmu di Madinah."
"Jadi Umi Hamzah terpaksa mengikuti ajaran suaminya?"
"Istri harus taat pada suami."
"Taat bukan berarti harus mengikuti ajarannya."
Banyak istri di kampung ini salah kaprah dalam melaksanakan 'taat' pada suami. Istri sudah seyogyanya menasehati suami kalau merasa yakin dengan kebenaran ajarannya, bukan mengikuti ajarannya. Taat hanya berlaku untuk hubungan istri dengan suami, bukan hubungan istri dengan Tuhan.
"Salahkah Umi Hamzah mengikuti ajaran suaminya?"
"Tidak. Karena ajaran Abi Hamzah benar."
"Salahkah Ibu mengikuti ajaran ayahmu?"
"Tidak. Karena ajaran Ayah benar."
"Kalau dua-duanya benar, terus yang salah siapa?"
"Yang salah adalah yang mempersoalkan perbedaan."
"Kita disebut ahli bid'ah."
"Tahiyat telunjuk muter-muter kayak cari sinyal, sedekap kayak orang demam, berani menyebut kita ahli bid'ah?"
"Pintarnya anak Ibu!”
"Bodohnya anak Ibu!” tegas Al. "Sholat jadi bullying."
Mereka kadang lupa mencela ibadah yang ada dasar hukumnya, sehingga tanpa disadari merendahkan rasulnya. Sungguh sebuah keruntuhan akhlak.
"Perbedaan adalah rahmat. Kita sering tersesat dalam perbedaan karena kebanyakan logika dan muatan."
"Maksudnya?"
“Perbedaan bersifat ijtihadi. Mana yang diikuti terserah, bukan berbantah-bantahan dan merasa paling benar, membuat gaduh justru dilarang dalam agama."
"Banyak pemuda masuk pesantren jahanam itu cuma modus, terus kebablasan."
"Jangan sebut pesantren jahanam, Bu," tegur Al lembut. "Sebutan itu bentuk penghinaan terhadap Sang Pemilik Agama."
"Pokoknya Ibu tidak mau kejadian di kamu."
"Jadi karena modus mereka kebablasan?”
"Ridwan buktinya."
__ADS_1
Waktu kecil, Ridwan paling getol mendekati Riany, lebih getol dari mengaji. Padahal gadis cilik itu sudah jadi ratu kecilnya, karena itu mereka bermusuhan. Tapi sekarang apa mungkin? Riany adalah calon istri Harbi, dan Harbi adalah gurunya.
"Al tidak melihat bukti apa-apa pada Ridwan, kecuali pemuda yang ingin hijrah."