Cinta Untuk Gadis Madinah

Cinta Untuk Gadis Madinah
Episode 76


__ADS_3

Kabar penangkapan komplotan perampok begitu cepat menyebar. Dalam hitungan menit saja ratusan warga setempat sudah berkumpul dengan berbagai senjata untuk menyerbu pesantren. Mereka merasa tertipu oleh pemilik pesantren yang ternyata adalah gembong penjahat.


Pemilik pesantren sudah mengotori nama baik kampung. Warga tidak menerima anak mereka dicekoki ajaran yang menyesatkan, padahal ajaran yang disampaikan adalah benar, karena pemilik pesantrennya tidak benar, maka semua jadi tidak benar, atau dibikin jadi tidak benar.


Hukum pukul rata masih berlaku bagi warga setempat, sehingga apa yang dilakukan tidak dilandasi pikiran yang jernih. 


Malam itu juga warga mendatangi pesantren beramai-ramai. Polisi yang berjaga sangat terbatas jumlahnya sehingga tidak dapat meredam kemarahan massa yang membabi buta. Mereka merusak semua fasilitas dan membakar bangunan yang ada, termasuk masjid.


Mereka beranggapan semua fasilitas dibangun dengan uang haram, jadi harus dimusnahkan. Bahkan rumah beberapa orang warga yang tewas di bukit tempo hari itu hampir menjadi amuk massa karena korban disinyalir adalah anggota komplotan. Untung beberapa warga masih punya belas kasihan kepada keluarga yang ditinggalkan karena tidak tahu apa-apa.


Mereka merasa telah diperdaya sehingga hampir terjadi tawuran berdarah antar kampung. Mereka malu kepada warga pesantren tetangga karena ternyata orang yang dibela adalah komplotan perampok yang selama ini diburu pihak kepolisian.


Kemarahan warga kemudian tumpah kepada biang keladi dari peristiwa itu. Ben Muzakir hampir mati konyol kalau tidak melarikan diri ke atas bukit. Beberapa pemuda masih berusaha mengejar. Padahal dia adalah orang yang paling terpukul atas kejadian malam ini.


Ben Muzakir tahunya Babe adalah kepala dusun yang bermartabat, orang terpandang dan bersih, memiliki saham di beberapa perusahaan. Pesantren jadi harum karena mereka gigih memperjuangkan keadilan. Tapi malam ini dia mendapati kenyataan yang sangat bertolak belakang dengan gambaran yang ada. Idealismenya hancur karena kehidupan ganda ayahnya!


Kebakaran hebat yang terjadi membuat keadaan di sekitar bukit terang benderang. Asap hitam yang membumbung tinggi di angkasa terlihat oleh Al dan kawan-kawan yang sudah tiba di pesantren. Mereka sedang berkumpul mengadakan acara bakar jagung dan ikan merayakan kemenangan pasukan bandring. Kemudian mereka akan melanjutkan dengan berzikir sampai Subuh dipimpin oleh Al.


Riany tidak kalah inisiatif. Dia mengumpulkan santriwati untuk menyelenggarakan acara yang sama di lokasi yang berbeda. Kemudian mereka akan bergabung dengan kelompok laki-laki untuk melaksanakan zikir bersama di masjid.


Kasus Ridwan boleh dibilang sudah selesai. Dia dapat menghirup udara bebas dengan nyaman. Pasukan bandring sudah berhasil membantu polisi menangkap komplotan penjahat yang meresahkan warga di kabupaten ini.


Beberapa korban yang ditemukan di bukit itu disimpulkan adalah anggota rampok dan tewas terkena ledakan bom hasil rakitan sendiri.


Barangkali beberapa orang di antara mereka nanti ada yang dipanggil untuk jadi saksi di persidangan. Al sudah menyerahkan urusan itu kepada Ridwan dan Nidar untuk mengaturnya.


Al menyayangkan terjadinya pembakaran pesantren oleh warga setempat. Tindakan anarkis tidak dapat dibenarkan dalam segala situasi. Ini bukti rendahnya kesadaran hukum di kampung tetangga, akibat tidak ada penyuluhan hukum karena kepala dusunnya seorang kriminal.

__ADS_1


Warga tidak perlu merusak fasilitas yang ada. Meluapkan amarah secara membabi buta tidak membuat masalah cepat selesai. Mereka perlu mengedepankan asas praduga tak bersalah, dan menyerahkan keputusan kepada pengadilan.


Al berharap warga kampung ini jadi warga yang berkepribadian, tidak terpancing oleh segala bentuk hukum publik. Kepercayaan kepada aparat hukum untuk menegakkan peraturan adalah perwujudan dari kedewasaan hidup bersosial yang merupakan cikal bakal masyarakat sadar hukum.


Peristiwa menghebohkan malam ini sudah selayaknya jadi cermin bagi setiap warga. Mereka terlalu banyak mengurusi masalah yang seharusnya tidak menjadi masalah. Perbedaan di segala aspek kehidupan adalah lumrah dalam dinamika masyarakat kampung yang majemuk.


Yang perlu diingat adalah kampung ini bukan milik satu agama, sehingga setiap perbuatan perlu dibedakan antara hubungan manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan manusia. Ketika ada warga mencoba mencampuradukkan dan didukung oleh sebagian warga yang lain, maka dapat dipastikan kampung ini sulit untuk menjadi kampung madani.


Al bersyukur permasalahan yang menguras energi ini selesai sebelum liburan berakhir sehingga tidak jadi beban pikiran saat pergi ke Yogya. Dia adalah putera terbaik kampung ini dan sudah sepantasnya mempersembahkan yang terbaik untuk menuju kampung madani.


Dalam sisa hari tinggal di kampung ada beberapa catatan kejadian yang membuat Al sedih, terharu, senang, atau campuran dari ketiganya:


Pagi hari jam 08.00 WIB.


Lukman berangkat lebih awal ke Riyadh. Bentuk penolakan secara halus untuk berkenalan lebih jauh dengan Aisyah. Di lain waktu mungkin ada pertimbangan lain, ketika cinta tidak bisa memilih.


Liburan Aisyah semakin meriah ketika Lin Wei dan Wulandari tiba di pesantren hari itu. Mereka bisa bepergian berempat bersama Riany untuk mengenal kampung lebih dekat, terutama melihat perkebunan milik keluarga Al.


Riany jadi risih melihat kekompakan mereka bertiga. Bagaimana Al dapat bertahan dengan satu perempuan sementara ada tiga bidadari setia menunggu dan rela berbagi?


Sore hari jam 16.00 WIB.


Fatimah mengurungkan niat pulang ke Palestina karena pesantren Abi Hamzah membutuhkannya sebagai tenaga pengajar. Dia mulai menjaga jarak dengan Pak Haikal dan memilih tinggal di pesantren, karena ada seorang istri dengan cinta sejatinya. Perempuan yang rela mengorbankan ranjang mewah demi dipan tukang pos.


Senja hari jam 17.00 WIB.


Opa dan Jennifer menginap sementara di rumah Oma menunggu sampai tiba hari pernikahan cucunya.

__ADS_1


Opa tidak mempermasalahkan surat wasiat yang tidak menyisakan sedikitpun harta untuknya. Dia adalah segelintir lelaki tua yang beruntung mendapatkan perempuan muda yang benar-benar tulus menyayanginya, sekalipun tidak ada orang yang percaya.


Selepas shalat Subuh jam 05.00 WIB.


Masyarakat dapat menerima konsep yang diusulkan Al bahwa tahlil boleh diadakan dengan dana umat yang digalang oleh pemuda masjid.


Al tahu tidak bisa menghilangkan tradisi secara drastis. Mesti dilakukan perubahan sedikit demi sedikit lewat kebersamaan. Menyikapi dinamika lingkungan dengan arogan hanya memunculkan perpecahan.


Lagi pula, tidak semua budaya di kampung ini bertentangan dengan Islam. Jika ada yang melenceng dari aqidah, tugas mereka untuk meluruskan dan disampaikan secara baik-baik.


Ada kesepakatan yang dibuat para pemuda kampung bahwa selama mereka bertuhan Allah azza wa jalla, berimam Al-Qur'an, mengakui Muhammad sebagai pembawa risalah, sahabat yang empat tidak lebih mulia dari Nabi, dan tidak mencampurkan adukkan agama dengan klenik, politik, maka dapat menerima ajaran itu berkembang di kampung.


Mereka tidak menerima ajaran atas nama Islam tapi menyimpang dari konsep Islam. Kalau mau, silakan mendirikan agama baru. Pendapat mujtahidin lebih utama daripada pendapat perorangan. Sekelompok ulama tidak mungkin mengambil kesepakatan yang menghancurkan umat.


Pendapat seseorang, apalagi status ilmunya tidak jelas, hanya untuk memperkaya khasanah bukan untuk ditaati, karena setiap orang bebas berpendapat, masalahnya berguna atau tidak. Kalau berguna, manfaatkan. Kalau tidak, abaikan. Tidak perlu ada polemik berkepanjangan.


Pemuda kampung dan pesantren bersepakat untuk bahu-membahu menjadikan kampung yang bermartabat, tenteram, damai, dan sejahtera, sehingga dapat mencapai kehidupan yang hakiki di dunia dan akhirat. Membentengi diri dari segala maksiat, tapi tetap menghargai hukum universal yang berlaku karena kemajemukan masyarakat.


Petang hari jam 17.30 WIB.


Umi Halimah memberi ultimatum kepada Vidya agar kembali ke ajaran yang dianut keluarga. Kalau tidak, maka tidak usah pergi ke Kairo. Menurut Umi Halimah ajaran tidak perlu diobok-obok agar sesuai dengan selera, tapi selera yang perlu diobok-obok hingga sesuai dengan ajaran.


Ultimatum itu membuat Vidya sempat ingin membawanya ke ranah hukum karena ada unsur memaksakan kehendak. Namun kemudian diadakan mediasi dan tercapai kesepakatan dimana dia secara sukarela kembali ke ajaran keluarga.


Kampung madani adalah tiang kokoh untuk membangun desa yang adil, makmur, dan bermartabat.


Malam hari jam 23.00 WIB.

__ADS_1


Al ditegur Riany karena masih berkumpul dengan pasukan bandring membicarakan indahnya kampung madani, padahal besok pagi mereka akan menikah.


__ADS_2