Cinta Untuk Gadis Madinah

Cinta Untuk Gadis Madinah
Episode 27


__ADS_3

Al sabar menunggu security membuka pintu gerbang sambil menjinjing tas berisi pakaian ihram. Hari ini ada latihan manasik.


"Terima kasih." Al masuk dan berjalan ke masjid.


Di pelataran depan terdapat duplikat Ka'bah berukuran sama dengan aslinya. Di sekitar Ka'bah jamaah umrah berdiri membentuk beberapa kelompok kecil. Ada pula yang duduk-duduk di bangku outdoor.


Riany, Harbi, Nidar dan Irma mengobrol sambil berdiri di bawah pohon peneduh. Riany terlihat gembira sekali. Kegembiraan yang tidak pernah terbit saat kumpul bersamanya.


Mereka bertemu pandang sekilas. Kemudian Al segera menghampiri omanya yang duduk di bangku outdoor sambil menyantap mie gelas.


Riany juga pergi ke bangku outdoor dan duduk di samping Oma sesaat sebelum Al tiba. Dia jadi tidak kebagian tempat duduk.


"Mie terakhir minggu ini ya, Oma," kata Riany mengingatkan. "Oma boleh makan mie lagi minggu depan, karena zat lilinnya baru dapat dicerna 2 X 24 jam."


"Terima kasih sudah diingatkan, cah ayu," sahut Oma. "Aku suka lupa."


"Faktor U kali ya," senyum Nek Surti yang duduk di dekatnya. Dia pergi bersama cucunya, Pamela Bordin, artis YouTube itu. Makin seru rombongan umrah. Tapi artis itu belum datang.


"Karena itu si Opa menduakan," timpal Eyang Munzir. "Cari yang seger-seger."


"Nih belatung nyamber aja," omel Nek Surti. "Kumpul sana sama aki-aki kepo."


"Aku ikut rombongan ini. Jadi boleh dong kumpul sama nenek-nenek rempong?"


"Kalau cari yang seger-seger masuk kulkas," sambar Bu Hanif. "Kalau kurang, timbun pakai es."


"Waduh." Pak Hanif melongo. "Beku dong, beb."


"Kamu kan masih segar, beb," sahut Bu Hanif mesra. "Kayak jeruk baru keluar dari kulkas."


Mereka ini pengantin baru tapi casing lama, duda dan janda.


"Nah, ini lagi pengantin basi," kicau Eyang Munzir. "Bulan madu itu kayak si Opa, ke Dubai atau ke mana gitu. Jangan ke Makkah, kena dam terus deh."


"Yang sabar ya, Oma," hibur Bu Hanif. "Si Eyang adalah ujian."


"Eh, bujug. Aku jin iprit kali ya?"


"Buto ijo," sambar Nek Surti. "Pantesan si Ijah mati duluan."


"Terus si Dudung mati duluan kenapa? Jantungnya tidak kuat dengar kaleng rombeng bergelombrangan?"


"Mesin tua digeber mogok dah," gurau Pak Hanif. "Banyak tanjakan lagi."


"Mestinya berguru sama si Opa."


"Alah, ujung-ujungnya pulang ke istri tua, sakit-sakitan kayak si Dudung."


Oma sendiri seakan terlarut dengan pikirannya. Asyik menyantap mie gelas. Lukanya terbungkus rapi dalam ketaatan pada nabinya.


"Opa pulang sebelum kita berangkat umrah," kata Al. "Dia ingin mengantar ke bandara."


"Tidak apa tidak pulang, cah bagus. Semasa muda Opa sering tidak pulang karena bisnis. Oma sudah biasa sendiri."


Tapi sekarang karena Jennifer, pikir Al hambar. Dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tak mungkin protes untuk perkara yang boleh di agama.


"Minumannya sudah habis?" tanya Riany. "Riri ambil lagi ya?"


"Cukup, cah ayu," sahut Oma. "Ada sisa di tas."

__ADS_1


"Tasnya mana?"


"Di masjid."


Riany tersenyum. "Berarti harus diambil. Yang baru saja ya?"


"Saya juga, Non," kata Bu Hanif.


"Siapa lagi yang mau?" Riany mengedarkan pandang ke sekeliling.


Pamela muncul sambil menjinjing kantong ihram. Gadis itu kelihatan anggun dengan hijab yang simple dan prilly. Make up yang sederhana membuat cantiknya tampak alami. Beda sekali dandanannya dengan waktu tampil di panggung.


"Lagi ngabsen apa, Ri?" tanya Pamela.


"Minuman," jawab Riany sambil mengetik chat agar dikirim minuman. "Mau?"


"Terima kasih."


"Ini cucuku," kata Nek Surti bangga. "Cantik, kan?"


"Banget," sahut Eyang Munzir. "Persis kayak neneknya waktu muda dilihat dari sedotan WC."


Nek Surti sewot. "Yang nyuruh situ komen siapa? Pengen muntah rasanya."


"Memangnya aku pispot apa?"


"Kloset!"


"Dasar donat basi! Kalau ngomong suka lupa dunia akhirat!"


"Nah, itu minumannya," kata Riany.


Nenek-nenek rempong menggoda:


"Kompak bener."


"Episode terakhir ta'aruf."


"Mantap deh."


"Undang-undang ya, Non."


Al tidak enak hati melihatnya meski sudah disembunyikan lewat kelincahan jari mengetik balasan chat Aisyah. Dia tidak bisa datang memenuhi undangannya, kasih infonya telat. Dia sudah pergi liburan ke negeri leluhur. Padahal dia senang sekali mendapat undangan liburan di rumahnya.


"Kapan-kapan boleh ya?" tulis Aisyah di kotak dialog.


"Secepatnya," jawab Al. "Ditunggu."


"Kangen sama aku ya?" goda Aisyah dengan emoji senyum segambreng.


Al tidak membalas, menutup chat dan menyimpan gadget ke kantong kurta. Ia berjalan ke Nidar yang asyik mengobrol bersama Pamela.


"Biar kubagikan." Al mengambil dus yang dipegang Nidar. "Mereka bisa mati kehausan nunggu kamu."


"Aku bantu," kata Pamela. "Selir kan harus turun tangan kalau ratunya sibuk."


Nidar bengong ditinggal sendiri. Al dan Pamela membagi-bagikan air mineral. Perhatian ibu-ibu rempong beralih.


"Akrab bener," komentar Bu Hanif. "Kayak sudah lama kenal."

__ADS_1


Pamela tersenyum manis. "Teman waktu kecil, ketemu lagi sekarang."


"Amazing."


"Jadi pengen muda lagi."


"Janji cinta di Tanah Suci."


"Pulang naik pelaminan dah."


"Pamela belum pernah sedekat ini sama cowok lokal," kata Nek Surti bangga. "Banyak teman sejawatnya pedekate, tapi Pamela tidak berselera."


Bu Hanif menoleh dengan surprise. "Serius?"


"Swear."


"Seleranya cowok mana? Amrik?"


"Arab," sahut Nek Surti asal.


Riany datang dan mengambil alih tugas Pamela, sambil berkata, "Seleranya cowok Arab, kan? Kamu bantu Harbi, aku bantu Al."


Pamela terpukau. "Tidak mungkin dong, Ri. Dia kan calonmu."


"Aku pinjamkan sebentar."


"Bisa begitu?"


"Biar tidak pada rempong."


"Kalau Harbi suka sama aku, tidak tanggung jawab loh, Ri?"


"Gengges." Riany mendorong tubuhnya agar segera pergi. "Cepetan."


Pamela menoleh ke Al sebelum pergi. "Kamu kok tidak pernah like postingan aku? Gak suka dangdut ya?"


"Rempong banget deh," sergah Riany. "Dia suka dangdut, tapi tidak suka artisnya!"


"Inbox-ku dicuekin. Kasihan banget si Pamela."


Al tersenyum samar. "Sorry, belum sempat buka."


Kisah Al punya medsos sebenarnya masih menyisakan tanda tanya di hatinya. Waktu pulang dari kantor imigrasi, Riany meminjam gadget dan tahu-tahu sudah ada akun Facebook, Instagram, Twitter, dan WA, padahal Al tidak suka dunia maya. Temannya ada satu, Riany.


"Biar tahu apa yang aku posting di dumay," kata Riany acuh tak acuh. "Biar tidak rempong."


"Lihat kelebayan kamu ussie sama Harbi?"


"Tuh kan?"


Postingan Riany sangat eksklusif. Topiknya lebih banyak tentang kehidupan masyarakat Arab Saudi. Sekalinya posting tentang perkara agama, bahasannya tidak dari satu perspektif dan tidak nyinyir terhadap satu golongan.


Ada postingan perkara pribadi, bercerita tentang calon imamnya, barangkali untuk menangkis laki-laki yang berharap lebih darinya.


Karena tidak hapal warga kampung, maka Al hanya mengkonfirmasi orang-orang yang berteman dengan Riany. Jadi tidak aneh kalau temannya kebanyakan perempuan.


"Ganjen," sindir Riany lewat DM. "Hijrah cuma modus ya?"


Al heran Riany tahu setiap apa yang dilakukannya di gadget. Jangan-jangan disadap!

__ADS_1


__ADS_2