
Gunung Uhud terletak 5 km di sebelah utara kota Madinah dengan ketinggian 350 m. Terbentuk dari batu granit warna merah, memanjang dari tenggara ke barat laut.
Uhud adalah gunung terbesar dan tertinggi di Madinah. Salah satu gunung yang kelak terdapat di Surga.
Uhud merupakan sekelompok gunung yang tidak bersambungan dengan gunung yang lain. Maka itu penduduk Madinah menyebutnya dengan sebutan Jabal Uhud yang artinya gunung menyendiri.
Riany mendaki gunung sambil memegang lengan Al yang berlapis kurta. Pemuda itu sebenarnya enggan untuk bergandengan tangan sekalipun tidak bersentuhan langsung. Dia jengah berbuat sesuatu yang belum waktunya diperlihatkan.
Dengan pertimbangan takut terpeleset, Al akhirnya membiarkan saja Riany memegang lengannya.
Tiba di puncak yang datar, mereka memandang ke lembah dimana pernah terjadi pertempuran dahsyat yang melibatkan 700 pejuang Islam dengan 3.000 pasukan Quraisy, mengakibatkan 70 pejuang Islam mati syahid, di antaranya Hamzah bin Abdul Muthalib yang digelari Singa Allah dan Rasul-Nya.
Nabi sendiri mendapat luka-luka. Sahabatnya yang jadi perisai turut gugur dengan kondisi badan dipenuhi anak panah.
Setelah perang usai dan kaum musyrikin pulang ke Makkah, Nabi memerintahkan supaya yang gugur dimakamkan di lokasi mereka roboh, sampai-sampai ada satu liang kubur terdiri dari sejumlah syuhada. Di dalam areal pemakaman tidak ada tanda-tanda khusus macam batu nisan yang menandakan sebuah makam.
Kecintaan Nabi kepada syuhada Uhud mendorong beliau melaksanakan ziarah hampir setiap tahun.
Setelah puas menikmati pemandangan religi, Al dan Riany menuruni lereng menuju para pedagang yang menjajakan suvenir dan makanan khas Arab.
Mereka melangkah pelan-pelan sambil melihat-lihat barang yang dijajakan di lapak. Riany seakan tidak ingin berpisah dengan Al. Skandal diary itu menguap dengan sendirinya karena tidak ada jalan bagi Al selain mempertahankan ta'aruf itu.
Dia sedikit menjaga jarak karena Riany selalu meributkan persoalan cinta mereka, padahal dia sedang merindukan cinta yang pergi. Meninggalnya Oma membuat hatinya sangat terpukul.
Al pada dasarnya tidak peduli dengan catatan diary itu. Bagus kalau puisi itu ternyata cuma curahan hati Lukman.
Dia juga tidak bisa berbuat apa-apa kalau di antara mereka pernah terjadi kisah, dan tidak ada yang bisa menghapus kenangan masa lalu selain mereka sendiri. Pilihannya sederhana saja, Riany kembali pada masa lalu atau berusaha mencintainya, karena dia tidak mau menikah dengan perempuan yang terpaksa mencintainya.
Jika dia terlihat akrab dengan Aisyah karena gadis itu yang berada di sisinya disaat tertimpa musibah, dan kelemahannya adalah tidak pernah bisa mengecewakan gadis yang menaruh harapan padanya, dan tidak pernah bisa pula untuk menerimanya.
"Tangan," tegur Al halus. "Tidak malu dilihat banyak orang?"
"Malunya sudah habis tercecer di kejadian itu." Riany melepaskan pegangan tangannya dengan separuh terpaksa. Tidak enak juga jadi tontonan anggota rombongan yang berjalan di belakang. "Kejadian yang membuat aku kehilangan muka di hadapan Tuhanku."
"Kejadian apaan?"
Wajah Riany meranum. "Waktu keluar dari kamar mandi. Rasanya aku ingin menjerit sekencang-kencangnya."
Al membeli buah tin tiga kilo. Dia ambil tiga biji, Riany juga, sisanya diberikan ke Nidar untuk dibagikan secara estafet.
"Kamu lihat ya?" tanya Riany penasaran.
Al berlagak tidak tahu. "Lihat apaan?"
"Pura-pura."
"Mangkok Arab ini?" Al memegang suvenir yang mungil dan cantik, lalu menyodorkan riyal ke pedagang membeli dua buah. "Mangkok Arab ini asli buatan suku pedalaman."
"Apaan lagi," sahut Riany keki. "Orang ngomong apa dijawab apa."
"Serabi Arab itu ya?" Al berjalan ke lapak yang menjual serabi, ambil satu. Kemudian mengeluarkan riyal dan minta Nidar mengambil sisanya. "Bakarnya pas. Tidak gosong."
"Jadi ke mana-mana deh."
"Lagi ngomongin apaan sih?"
"Kejadian di kamar pas aku cuma pakai kimono...!"
"Oh, masih berlanjut ya? Kayak sinetron."
"Sejak itu janjiku tertancap di Raudhah."
Sekali lagi Al mengeluarkan riyal membeli kurma ajwa tiga kilo. Dia ambil tiga biji, Riany juga, sisanya diserahkan ke Nidar yang setia berjalan di belakang untuk dibagikan.
"Aku cuma ingin menikah sama laki-laki yang pernah melihat tubuhku."
"Ada berapa laki-laki?"
"Nyebelin banget."
"Siapa tahu sebelum hijrah ada laki-laki yang bukan cuma melihat."
"Lukman maksudmu?"
__ADS_1
"Langsung nyambung ya?"
"Karena diary-nya lagi viral."
"Yang tahu hanya aku sama Nidar."
"Tapi yang nguping Nek Surti, bumbunya jadi kebanyakan deh."
"Diary Lukman tidak perlu bumbu, sudah bercerita dengan sendirinya."
"Jadi diary itu yang membuatmu menghindar dariku?"
"Curigamu kejauhan."
"Alah, sekarang saja kalau tidak dipepet terus pasti sudah kabur."
"Kirain ingin membuat perempuan di belakangmu cemburu."
Waktu itu Aisyah dan Irma lagi memilih tasbih unik buatan suku pedalaman.
"Kalau ya?"
"Cemburunya Aisyah tersimpan rapi di dalam hijab."
"Hapal banget."
"Tidak lebih hapal dari kamu kepada Lukman."
"Tapi tidak ada kisah masa lalu, masa kini, dan masa depan bersama Lukman."
"Masa?"
"Semua yang kamu baca itu adalah perasaan Lukman sendiri. Aku tidak pernah tahu dan setia pada takdirku."
"Masa depan tidak ada yang tahu."
"Aku hanya ingin terpisah karena maut, itu pintaku di Raudhah, sejak aku tinggal di Madinah."
"Dan tidak mau diduakan."
"Aku bertamu ke Kota Suci bukan untuk ta'aruf, memenuhi panggilan Tuhanku. Jadi jangan berpikir macam-macam tentang aku."
"Kamu tidak pernah berpikir macam-macam tentang aku?"
"Sempat. Sekedar sempat."
Al berhenti lagi membeli jus buah. Ketika menoleh ke belakang, Nidar dan rombongan tertinggal jauh. Mereka sedang memilih suvenir.
"Nidar sudah dikasih uang saku?" tanya Al.
"Katanya sudah sama kamu."
"Itu dari temannya."
"Sebentar lagi jadi bosnya."
"Enam bulan lagi."
"Pulang umrah!"
"Aku sudah mengalah untuk kerja di negeri sendiri. Masa mengalah lagi?"
"Nikah saja, terus pergi menjemput impian."
"Jemput dulu Lc baru nikah."
"Halalkan dulu."
"Satu-satu kita capai mimpi."
"Pokoknya sebelum berangkat ke Madinah aku ingin kamu ijab kabul."
"Malam pengantinnya bagaimana?"
__ADS_1
"Setelah kita dapat titel."
"Mendingan nikahnya setelah dapat titel."
"Ogah."
"Jangan protes kalau aku nafkahi pakai duit Oma."
"Siapa yang minta dinafkahi?"
"Kamu pergi ke Madinah berarti statusnya sebagai istriku. Masa Abi yang membiayai kuliahmu?"
"Kalau ngasih nafkah lahir, pas ke Madinah nanti kamu pasti ngasih nafkah batin."
"Kan sudah halal."
"Bukan untuk itu kita menikah."
"Lalu untuk apa?"
"Biar tidak berdosa kalau kejadian lagi."
"Akan lain ceritanya kalau sudah halal."
"Aku belum dengar janjimu."
"Janji apa?"
"Hanya ingin tahu satu tubuh perempuan."
"Tidak mungkin."
Riany menatap keki. "Jadi ada niat?"
"Aku sudah lihat tubuh Aisyah dan Lin Wei, Wulandari juga."
Riany terbelalak. "Kok bisa?"
"Aku tidak tahu begitu banyak nikmat yang didapatkan."
"Sengaja kali," sindir Riany sinis.
"Itu kebiasaan waktu kecil. Pas sekolah di Yogya ditinggalkan."
"Peres."
"Terserah."
"Kok gitu?"
"Percuma meyakinkan orang yang tidak percaya."
"Iya, percaya."
"Terus? Aku harus janji nikah sama perempuan yang pernah kulihat tubuhnya?"
"Nyebelin banget."
"Maka itu jangan kebanyakan janji. Kita jalani saja hidup apa adanya. Biarkan takdir menuntun kita."
"Belum nikah sudah ada niat."
"Jadi parno sih?"
"Iya nggak! Jangan lupa ya."
"Apaan?"
"Pulang umrah."
"Iya apaan?"
"Nyebelin banget!"
__ADS_1
Perempuan, pikir Al jemu. Kalau sudah ada maunya, susah direm. Memangnya berumah tangga seindah film Bollywood apa?