Cinta Untuk Gadis Madinah

Cinta Untuk Gadis Madinah
Episode 37


__ADS_3

Pesawat yang ditumpangi rombongan umrah landing di bandara KAIA pukul 22.00 malam waktu Jeddah.


Angin kering menyambut mereka saat keluar dari dalam pesawat. Lambat-lambat Al menuruni garbarata menikmati megahnya bandara sambil menjinjing dua hand bag.


Sesampainya di landasan, mereka sujud syukur dapat menginjakkan kaki di Jeddah dengan selamat. Semua sudah berpakaian ihram, miqat di pesawat.


Tak terasa air mata Al menitik membasahi kehangatan landasan di malam hari.


Kemudian rombongan diangkut ke Terminal Haji untuk menjalani pemeriksaan imigrasi. Setiap satu jam sekali rombongan umrah datang dan pergi.


Terminal Haji tidak terlalu ramai sehingga rombongan bisa langsung antri untuk pemeriksaan di tujuh lounge imigrasi. Sebagian duduk menunggu di kursi plaza, sebuah ruang terbuka dengan atap berbentuk kerucut.


Untuk travel bag diurus petugas bagasi dan dibawa lebih dulu ke bis, sehingga rombongan tidak repot bawa tas besar.


"Antar ke toilet, cah bagus," pinta Oma.


"Titip tas ya," kata Al ke Nidar.


Al mengantar Oma ke toilet, dan bertemu dengan Riany yang tengah memberi informasi ke sekelompok jamaah. Selesai memberi informasi, dia segera menyusul mereka.


"Mau ke mana?" tanya Riany sambil berjalan di samping Al.


"Ke hatimu."


"Jaga lisanmu."


"Kita berada di bandara internasional."


"Kamu sudah ihram."


"Biar tanpa syahwat?"


"Mana aku tahu?"


"Kok gitu?"


"Aku kan tidak tahu apa yang ada di otakmu."


"Buat jaga-jaga urusin nanti damnya."


"Bodo."


"Ya sudah aku cari mursyid yang cantik buat ngurus."


"Urus sendiri ke IDB biar tahu."


"Repot-repot."


"Travel haji dan umrah tanggung jawabmu nanti."


"Aku mau kerja di Yordan."


"Orang Yordan saja mukim di kita."


"Cari pengalaman. Kamu boleh ikut. Biar temanku nanti cari rumah sewa."


"Ogah."

__ADS_1


"Kalau dipaksa?"


"Sukanya main paksa ya?"


Riany membuka pintu toilet dan masuk. Oma sudah duluan masuk di pintu sebelah. Al merenung, gurauannya moga-moga tidak termasuk kategori larangan ihram. Tapi tidak ada salahnya bayar dam daripada repot-repot ke penuntutan umum.


Mata Al beredar melihat pemandangan terminal. Ada beberapa restoran dan toko di beberapa spot. Dia berjalan ke ATM dekat toko minuman, mengambil uang riyal lalu belanja Mecca Cola dingin.


Pamela berdiri celingak-celinguk di depan toko sebelah seperti kebingungan.


Al datang menghampiri dan bertanya, "Ada apa?"


"Jadi katrok banget deh aku di negeri orang," keluh Pamela. "Bisa nggak sih beli minuman pakai rupiah?"


"Tanya saja ke penjaga stannya."


"Aku tidak bisa bahasa Arab," senyum Pamela tersipu.


"Nyanyi lagu padang pasir fasih banget?"


"Ada teksnya."


"Belanja pakai rupiah bisa, cuma pecahan lima puluh dan seratus ribu."


"Kamu belanja di mana?"


"Toko sebelah. Yang bisa bahasa Indonesia. Yang bisa bahasa Jawa dan Sunda juga ada."


"Tolong antar deh."


"Depan mata masa minta diantar?"


"Artis bisa nervous juga."


"Dekat kamu saja aku nervous. Takut yang punya marah."


"Riany ngasih tahu ya?"


"Siapa lagi?"


Jadi informasi mereka ta'aruf sudah menyebar? Pasti yang dikasih tahu cuma gadis jomblo. Dasar.


Al mengangkat kantong belanjaan. "lni saja cukup kalau cuma buat berdua sama Nek Surti."


"Sekalian sedekah buat yang lain. Kamu juga bukan untuk sendiri, kan?"


"Masa minuman segini banyaknya buat sendiri? Perutku galon apa?"


Al mengantar Pamela belanja minuman. Ketika kembali ke toilet, Riany dan Oma sudah menunggu di pilar besar. Wajah calon istrinya sedikit berubah melihat mereka jalan berdua. Dia tidak memakai niqab selama ihram.


"Lagi ihram," bisik Al di telinganya separuh meledek. "Dilarang jealous."


"Jangan kegatelan juga," balas Riany.


Gadis itu tersenyum manis ke Oma dan Pamela yang memperhatikan mereka.


"Belanja minumannya tidak kebanyakan, cah bagus?" tanya Oma.

__ADS_1


"Buat yang lain juga."


Al mengeluarkan Mecca Cola buat Oma dan Riany. Kemudian berjalan ke kursi plaza. Dia menyerahkan kantong belanjaan ke Nidar untuk dibagikan.


"Lapar," kata Irma. "Cari makan bentar yuk?"


"Di bis sudah disiapkan nasi kotak," ujar Riany. "Menu Indonesia."


"Laparnya sekarang, gimana sih?"


"Sudah, jangan nyorot," potong Nidar. "Aku antar."


"Jangan ada syahwat ya," sindir Al. "Banyak-banyak istighfar."


"Tahu," sergah Nidar. "Memangnya kamu saja orang beriman?"


"Nyorot juga," gerutu Al pelan. "Nasehatin pinter."


Kadang orang lupa menjaga kata-kata selama ihram. Dosa kecil tidak terasa walau maksudnya bercanda.


"Belum ta'aruf sudah cocok," komentar Al sambil memandang kepergian mereka.


Riany menoleh sekilas. "Terus kita tidak cocok?"


"Kita ini kelewat cocok" senyum Al tipis. "Jadi banyak bayar dam."


"Maka itu jangan rempong."


Sementara itu Bu Hanif seperti tidak mau lepas dari suaminya. Nempel terus kayak truk dan gandengan.


"Hati-hati kena dam," sindir Eyang Munzir. "Atau sengaja sudah menyiapkan duit banyak buat bayar denda?"


"Kakek tua yang satu ini benar-benar dah," kicau Nek Surti. "Kirain mulut keponya lupa dibawa."


"Terus nenek kisut yang satu ini mulut rempongnya ketinggalan tidak?" balik Eyang Munzir.


"Sudah dong, beb, tangannya lepaskan," bisik Pak Hanif. "Lagi ihram."


"Takut muncul syahwat ya, beb? Kan tinggal bayar dam?"


Begini kelakuan orang berduit, pikir Al jemu. Segala pelanggaran dianggap enteng karena bisa ditebus. Lama-lama umrah juga diganti pakai duit!


Pemeriksaan imigrasi Jeddah sangat rumit. Tapi layanan petugas cepat dan tidak ribet, sehingga tidak terlalu lama rombongan antri.


Selesai pemeriksaan imigrasi, rombongan diarahkan menuju curb bandara dan naik bis sesuai daftar absen. Riany mengecek satu per satu berikut kelengkapan dokumen dan hand bag kalau-kalau ada yang tertinggal.


Kemudian bis konvoi meninggalkan bandara. Al mengambil inisiatif untuk mengumandangkan talbiyah lewat pengeras suara yang kemudian diikuti oleh semua penumpang. Merinding tubuhnya.


Sementara bis meluncur kencang di Makkah Expressway. Mata Al berkaca-kaca. Menanti-nanti kota Ibrahim.


Hijau rerumputan, gunung batu, stasiun kereta api, gundukan bebatuan, tanaman perdu, gurun pasir, adalah pemandangan yang tersaji di sepanjang perjalanan, tampak menghitam karena temaramnya malam.


Al tak henti bertalbiyah meski manusia yang terjaga tinggal berdua dengan sopir. Mereka tertidur pulas di sisa perjalanan.


Al jadi teringat masa kecil menjelang hari raya. Bertakbir seorang diri di surau sampai pagi selepas pawai keliling kampung, sementara anak-anak yang lain tidur. Penjaga surau sampai heran bagaimana Al yang terkenal nakal dan bandel dapat memuji Tuhannya semalam suntuk.


Malam takbiran adalah malam pertaubatan bagi Al dari dosa terdahulu dan kemudian terulang lagi. Pada hari raya orang yang pertama didatangi adalah pemilik pohon buah-buahan atau burung. Mereka selalu memaafkan meski tahu akan terulang.

__ADS_1


Ketika Al melanjutkan sekolah ke Yogya, mereka merasa kehilangan karena tidak ada lagi gema takbir sepanjang malam.


__ADS_2