
Tiba di Masjidil Haram, rombongan pergi ke pintu Shafa. Sementara Oma ingin shalat Maghrib di pintu Marwah. Mereka bertemu dengan Aisyah. Kebetulan. Al titip Oma dan pergi ke lantai thawaf, mendirikan shalat Maghrib di rukun Iraqi. Dia tidak mau shalat fardhu jauh-jauh dari Ka'bah.
Setelah shalat Maghrib, Al kembali lagi ke pintu Marwah dan melihat Irma lagi kumpul bersama Aisyah dan Nidar.
Al sempat menguping Irma bercerita tentang Riany. Dia tahu Aisyah kecewa. Tapi gadis itu mampu membungkusnya dalam senyum yang menawan dan berkomentar sambil lalu, "Baru ta'aruf, kan? Belum jadi harim?"
Aisyah pergi menemui Oma yang lagi baca Al-Qur'an menunggu Isya, lalu dia mengambil Al-Qur'an di rak dan hanyut dalam bacaannya. Ayat Illahi adalah pelipur terbaik dari segala hiburan yang ada.
Terjadi keributan antara Nidar dan Irma.
"Kamu tidak adil," protes Nidar. "Menang sendiri."
"Wajar dong aku kasih tahu siapa Riany."
"Kamu memata-matai Al, tapi kamu bebaskan Riany pergi sama Lukman."
"Lukman sahabat Riany sejak kecil."
"Aisyah juga sahabat Al."
"Tapi mereka ketemu gede."
"Ngaruhnya apa?"
"Aku ini perempuan, bisa baca mata Aisyah bukan mata sahabat."
"Kamu pikir aku tidak bisa baca apa sinar mata Lukman? Sinar mata cinta!"
Al datang melerai, "Sudah, sudah. Kalau begini caranya kalian bukan pendamping, tapi Nidar sahabatku dan kamu sahabat Riany, saling bela teman."
"Ember," sahut Irma.
"Kalau begitu kamu tidak boleh mengintimidasi Aisyah," tegas Al.
"Berarti Nidar juga tidak boleh mengintervensi Lukman."
"Adil, kan?"
"Tapi Lukman bukan apa-apanya Riany, aku tahu betul itu."
"Aisyah juga bukan apa-apanya Al, aku yakin betul itu," bela Nidar.
"Aku tahu Riany seperti aku tahu tentang diriku."
"Pantesan kamu biarkan Riany pergi, biar puas-puas nonton Svangeli."
"Riany besuk teman kuliahnya yang kecelakaan. Berapa kali aku harus bilang?"
"Terus nonton Svangeli. Pulangnya mampir di hotel."
"Berisik," sergah Al. "Minta ampunlah pada Allah. Hanya gara-gara membela sahabat, kalian sampai mengotori masjid ini."
Al pergi menghampiri Oma yang lagi mengaji, dan berdiri menunggu sampai wanita itu selesai dengan bacaannya.
Oma berhenti membaca dan menoleh. "Ada apa?"
"Oma Isya di mana? Pintu Abu Bakar apa pintu Ali?"
"Di pintu Marwah sama Aisyah."
"Oma mau shalat bareng aku?" pandang Aisyah tak percaya.
"Boleh kan?"
"Banget."
"Oma merasa damai ada di sampingmu, seperti ada di samping cucuku."
Aisyah sangat luwes. Enak diajak ngobrol. Jadi gampang mendapat simpati Oma.
Ini bukan pertanda baik, pikir Al sambil berjalan ke pintu besar menuju Ka'bah. Kedekatan Aisyah dengan Oma memunculkan polemik baru baginya.
Tapi Al tidak ambil pusing. Memikirkan perasaan hanya mengotori ibadah dengan debu-debu yang tidak sepantasnya ada di Rumah Suci ini. Otaknya mesti kosong dari segala urusan dunia.
Selesai shalat Isya, Al berdiri di dekat pagar fly over menunggu Oma selesai berzikir di dalam. Matanya menikmati pemandangan masjid di malam hari. Indah nian. Keramaian di pelataran menghibur kepenatan hatinya.
Aisyah keluar dari pintu Marwah, berdiri di sisinya. Meski tidak bersentuhan, belum pernah Al berada sedekat ini dengan perempuan.
__ADS_1
"Mikirin Riany ya?"
"Kamu belum pulang?" Al balik bertanya. "Tidak kemalaman nanti di Khanza?"
"Ditanya malah balik nanya."
"Aku tidak biasa ngomongin perempuan di depan perempuan."
"Siang tadi ke mana?"
"Jalan-jalan ngantar rombongan."
"Pantesan aku ke lantai 33 sepi."
"Kan bisa ngebel dulu?"
"Sekalian shopping. Beli hadiah buat kamu...awalnya."
"Jangan dengarkan omongan Irma."
"Gak enak kali."
Al diam sesaat. Biasanya perempuan kalau bicara seperti itu berarti kebalikannya, ingin diterima hadiahnya.
"Coba lihat."
Ragu-ragu Aisyah mengeluarkan kotak kecil berisi jam tangan emas.
"Bagus banget."
"Pesanan khusus."
"Cocoknya buat perempuan. Cowok kan tidak boleh pakai perhiasan emas. Jam ini masuk kategori."
"Siapa yang suruh pakai?"
"Buat disimpan di meja? Namanya weker dong, bukan jam tangan."
"Riany marah gak ya?"
Aisyah menyerahkan kotak jam. Matanya memandang redup. "Aku ingin kamu menyimpan jam itu, tapi tidak memakainya."
"Kayak lukisan saja, memiliki cuma untuk dipandang."
"Seperti itulah aku bagimu sekarang, sekalipun aku tidak terima."
"Salah sendiri."
"Kok jadi aku yang salah?"
"Kalau saat itu kamu tidak pergi ke Khanza, kejadiannya akan lain."
"Untuk jadi yang kedua?"
"Yang pertama."
Aisyah melayangkan pandang ke halaman Masjidil Haram yang tak pernah sepi dari lalu-lalang tamu yang datang dan pergi.
"Kau tidak bilang sebelumnya kalau sudah punya calon." Ada nada kecewa di balik lembutnya suara Aisyah. "Aku sudah terlanjur memilih."
"Sebelumnya aku tidak tahu. Aku baru tahu sebelum berangkat ke Tanah Suci."
"Bisa begitu?"
"Aku bingung dari mana harus mulai cerita ini, kejadiannya tidak terduga."
"Kamu dipaksa ta'aruf?"
"Aku tidak tahu paksaan atau bukan. Aku tidak bisa menghindar. Banyak hal yang harus dipertaruhkan."
"Apa itu?"
"Tidak cukup waktu untuk menjelaskan. Malam hampir larut."
"Sebut satu saja."
"Pernikahan aku dan Riany adalah simbol perdamaian."
__ADS_1
"Karena adanya perseteruan antara orang kampung dan pesantren modern."
"lrma cerita?"
"Oma."
"Kalau sudah tahu, kenapa tanya aku?"
"Karena aku ingin mengingatkan bahwa pernikahan kamu sama Lin Wei adalah simbol cinta Ilahiah. Lebih baik mana?"
"Kalau sudah tahu jawabannya, aku tidak perlu ta'aruf."
"Aku sudah terlanjur suka sama kamu. Dan kamu tahu bagaimana kalau perempuan Al Khanza sudah terlanjur suka."
Aisyah pergi ke pintu Marwah. Beberapa lama kemudian keluar lagi sambil menyandang tas mungil.
"Besok pagi Oma kuajak jalan-jalan keliling kota Makkah."
"Aku gimana?"
"Kamu kan ngurus rombongan."
"Besok pagi jadwalnya tidak penting-penting banget."
"Buat mereka penting. Mereka tentunya kepingin tahu gua Hira, Arafah, Jabal Nur, Jabal Tsur."
"Aku juga kepingin tahu."
"Maka itu pandu rombongan. Pamit dulu ya. See you tomorrow. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Al termangu. Kepergian Riany bersama Lukman dan kedatangan Aisyah bersama cintanya membuat dia bimbang.
Al memasukkan kotak mungil ke kantong gamis, lalu pergi menemui Oma di pintu Marwah.
Oma belum selesai dengan hitungan tasbih, berlomba dengan orang di sekeliling seolah tidak ada lagi hari esok.
Al duduk menunggu di anak tangga lantai sa'i karena tidak mau mengganggu kekhusyu'an Oma. Membiarkan shalawat Ibrahimiyah bergeletar di bibirnya.
Betapa ingin doa-doa Oma termakbulkan. Doa-doa untuk keikhlasan dirinya. Al membatin, "Ya Allah, Engkau tahu betapa sakitnya diduakan. Tapi mengapa Engkau izinkan makhluk-Mu untuk menduakan?"
Oma selesai berzikir, Al datang menemui.
"Lama ya, cah bagus," kata Oma. "Aku ingin mensyukuri nikmat yang telah diberikan Allah selama ini."
Al tersenyum. "Menunggu Oma selesai berzikir waktu terasa indah. Baca 68.985 tahmid ya, Oma?"
"Kok tahu?"
"Karena 68.985 hari nikmat yang telah Allah berikan kepada Oma."
Besok Oma berusia 63 tahun, sudah 68.985 hari beliau menjalani hidupnya, teramat tidak cukup sebenarnya puji syukur itu, tapi itulah kebiasaan Oma yang jadi tradisi keluarga.
Al tidak pernah nyinyir kepada mereka yang merayakan ulang tahun, walau tidak ada dalilnya, hanya coba dihubung-hubungkan. Kalau ulang tahun itu diisi dengan acara yang bermanfaat, tidak bermuatan dosa, apa salahnya?
Mereka pulang sangat larut. Al menunggu Oma sampai masuk kamar, lalu pergi ke kamarnya.
Nidar tertidur pulas di pembaringan. Tempat tidur Lukman kosong, berarti belum pulang dari Riyadh. Capek hati menunggu mereka pulang. Sudah dua hari di Riyadh dan entah berapa hari lagi. Al tidak peduli.
Pintu diketuk dari luar. Al bangkit dari bersandarnya, berjalan ke pintu. Oma seakan tidak ada lelah-lelahnya. Pergi ke mana lagi?
Terus terang Al kagum melihat kondisi fisiknya yang luar biasa. Irma saja keteteran mengikutinya.
"Aji mumpung, cah bagus," kata Oma setiap kali Al menasehatinya. "Kita tidak tiap hari, bahkan tidak tiap tahun ada di Haram. Apa artinya lelah itu?"
Oma berfoya-foya dengan ibadah tanpa menghiraukan kondisi fisiknya. Seandainya rasa takut pada azab Allah melampaui rasa lelahnya, melampaui rasa nyeri pada telapak kaki yang mulai pecah-pecah, betapa indahnya ajaranmu ya Rasulullah!
Al membuka pintu sedikit. Yang berdiri di luar ternyata bukan Oma, tapi perempuan berwajah agak pucat kurang istirahat.
"Ada yang ingin kujelaskan," kata Riany sendu.
Kelihatannya capek sekali gadis ini, baru tiba barangkali, tapi bukan cuma Riany yang butuh istirahat.
"Besok saja ya? Aku sudah ngantuk berat."
Al menutup pintu pelan-pelan meninggalkan mata sayu di luar.
__ADS_1