
Oma mengakhiri santap siang tidak sampai benar-benar kenyang, lalu mengajak Aisyah ke kamar.
Al terpaksa istirahat di kamar Nidar.
"Ngungsi?" sindir Nidar sambil rebahan di atas kasur. "Malah enak di kamar 63. Tidur bareng gadis Quraisy."
"Kalau saja halal...."
"Itulah indahnya agama. Kayaknya Oma cocok sama Riany dan Aisyah. Sekalian saja kenalkan Wulandari sama Lin Wei. Siapa tahu Oma setuju empat-empatnya."
"Terus nikah bareng satu pelaminan."
"Pasti banyak laki-laki yang berguru."
"Sudah umrah berapa kali?"
"Empat apa lima."
"Malah tambah koplak ya."
Al memeriksa seprei tempat tidur.
"Cari apaan sih?" tanya Nidar heran.
"Irma sama kamu tidur sendiri. Siapa tahu kamu nakut-nakutin Irma supaya migrasi ke kamar ini. Kali aja ada bekas-bekasnya."
"Parah."
"Bekas iler...."
"Aku kurang sreg sama Irma."
"Karena Pamela mulai membuka hati?" tembak Al. Dia perhatikan belakangan ini Pamela dekat dengan Nidar. Mereka sering pergi ke Haram berdua bilamana shalat malam. "Tidak kepikiran kalau Pamela juga menjadikan kamu sebagai transit?"
Harbi kelihatannya menolak secara halus kehadiran Pamela, padahal gadis itu ngefans berat sama orang Arab. Tidak mudah menghibur rasa kecewa selain segera menemukan laki-laki lain.
"Takdir kali harus jadi terminal."
"Kamu tidak adil. Kamu menolak Irma karena tidak mau jadi transit cintanya ke Lukman, sekarang kamu menerima Pamela karena takdir jadi transit."
Wajah Nidar kelihatan kusut. "Jadi transit dua perempuan saja pusingnya minta ampun. Kamu benar-benar hebat."
"Kok aku?"
"Kamu dipepet banyak perempuan, apa gak pecah tu pala?"
"Biasa saja tuh."
"Jadi yang ketiga siapa nih? Yang pertama kan Riany, kedua Aisyah, kalau Lin Wei sudah milih slot yang keempat. Yang ketiganya siapa nih? Wulandari apa Vidya?"
"Mereka membuat aku heran. Aisyah, Lin Wei, dan Wulandari adalah bidadari kampus. Banyak cowok ganteng dan tajir yang ngejar-ngejar. Kenapa justru memilih aku? Tampangku tidak ganteng-ganteng banget. Ya tapi kalau dibanding sama kamu, jauh kali...."
"Kalau curhat, biasakan yang sopan."
"Nah, Riany yang paling membuat aku heran. Riany dan Lukman itu sejak kecil sahabatan. Lukman sudah kaya dari dulu. Gantengan Lukman juga. Lebih putih kulitnya. Hanya cadelnya belum hilang betul. Tapi masa iya sih Riany milih aku gara-gara Lukman rada cadel?"
"Aku saja, kalau jadi perempuan, pasti menempatkan kamu sebagai pilihan pertama."
"Amit-amit."
"Aku bilang kalau. Ngerti kalau gak sih?"
"Kalau juga ogah."
"Gak bisa banget nyenengin temen."
"Masa aku gak bisa nyenengin temen? Duit 1.000 riyal dari aku sudah habis?"
"Ada 500 lagi."
"Lah, kamu tidak beli oleh-oleh buat keluarga?"
"Sudah."
"Jangan murah-murah banget."
"Yang 500 lagi buat belanja di Madinah."
"Belikan orang tuamu baju yang bagus. Sisa uang itu aku kira cukup." Al mengeluarkan dua lembar uang 500 riyal dari tas kecil yang diselendangnya. "Ini buat belanja di Madinah."
__ADS_1
Nidar menolak, "Gak deh. Bayarnya nanti bagaimana? Gaji marbot di bawah UMR."
"Yang nyuruh kamu bayar siapa?"
"Aku tidak enak."
"Biar enak begini saja. Kamar ini cukup luas, kita bertarung. Kalau kamu menang, kamu bayar dan boleh cicil."
"Kalau aku kalah kali?"
"Aku yakin kamu kalah."
"Silatmu hebat banget apa?"
"Cukuplah untuk membuat babak belur marbot masjid."
"Berarti Ben Muzakir bagianmu kalau kapan-kapan terjadi bentrok. Waktu santri Kyai Rojali mengeroyokku, Ben Muzakir datang dan duel denganku. Ilmunya satu tingkat di atasku."
"Aku belum pernah dengar cerita darimu tentang kejadian itu."
"Aku tidak pernah menantang Kyai Rojali. Aku minta baik-baik agar Kyai Rojali tidak mentahlilkan Abah. Duitku cuma cukup untuk takziyah tiga hari. Kyai Rojali setuju. Tapi di tengah jalan aku dikepung santrinya. Kejadian akhirnya seperti yang kamu dengar."
"Kamu tidak bilang ke Abi kalau kamu tidak pernah menantang berkelahi Kyai Rojali?"
"Banyak masalah yang harus beliau selesaikan."
"Diammu itu justru membuat runcing masalah."
"Kyai Rojali seharusnya mengklarifikasi. Omongannya dapat dipercaya."
"Mulutnya terkunci oleh kepentingan. Tapi sudahlah. Kau mending belanja buat orang tua, mumpung masih ada waktu. Besok habis Subuh kita thawaf wada, terus berangkat ke Stasiun Makkah, biar bisa arbain di shalat Dhuhur."
"Naik kereta cepat ya?"
"Kalau naik bus 6 jam. Naik kereta hanya 2 jam."
"Travel ngasih transportasi bis."
"Rombongan sudah setuju tambah 250 riyal buat beli tiket."
"Kok aku tidak dikasih tahu?"
"Terus?"
"Tiket sudah aku belikan."
Handphone Nidar yang tergeletak di kasur bunyi, dari Riany. Nidar terima.
"Assalamu'alaikum," sapanya.
"Wa'alaikumussalam," balas Riany. "Ada calon imamku di kamarmu?"
"Bentar." Nidar menyerahkan handphone ke temannya.
Al memberi salam dengan suaranya yang santai, Riany membalasnya.
"Ada Aisyah ya di kamar Oma?" tanya Riany. "Ngapain?"
"Tutup dulu ya. Aku ke kamar dulu nanyain. Kayaknya sekarang jam mandi. Aku masuk kamar mandi apa gimana?"
"Nyebelin banget."
"Habisnya."
"Sengaja ya biar aku cemburu? Tiap hari aku cemburu, tahu gak?"
"Gak terasa tuh."
"Cemburu bukan peluru, tapi dampaknya lebih dahsyat dari granat."
"Faye bagaimana?"
Beberapa saat tidak ada jawaban, lalu terdengar suara Riany yang berlumur sedih, "Kondisinya kian buruk. Aku, Kak Dinar, sama Lukman tidak bisa pulang hari ini. Aku bertiga nyusul nanti ke Madinah. Aku minta kamu beresin travel bag Lukman untuk dibawa ke Madinah."
"Travel bag kamu?"
"Mau beresin?"
"Mau banget dong. Biar tahu ukurannya kalau nanti ngasih kado ulang tahun."
__ADS_1
"Sudah diurusin sama Irma!"
"Galaknya! Ada lagi yang mau disampaikan?"
"Cukup. See you in Medina. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Al menyerahkan handphone ke Nidar, dan berkata, "Tolong kamu rapikan travel bag Lukman."
"Kamu kan nyuruh aku belanja oleh-oleh," balik Nidar. "Jadi kamu dong beres-beres. Sesekali patuh sama calon istri."
"Tidak tahu balas budi," gerutu Al.
"Budinya sudah mati."
Nidar berjalan ke luar kamar. Al mengambil travel bag Lukman di sudut kamar, membuka kunci dan menaruh di atas tempat tidur dalam keadaan terbuka. Kemudian membuka pintu lemari, mengambil ihram dan beberapa setel pakaian. Disusunnya di dalam travel bag.
Al balik lagi ke lemari memeriksa laci, ditemukan sebuah diary. Sempat terbersit di pikirannya untuk melihat isi diary tapi urung, disimpannya di kantong dalam travel bag.
Ketika hendak mengunci travel bag, tiba-tiba muncul pikiran lain. Al buka lagi travel bag mengambil diary dan melihat isinya. Dia tahu sudah melanggar privasi, tapi rasa penasaran begitu membumbung.
Lukman menuangkan catatan kejadian dalam baris puisi, bercerita tentang indahnya masa SMA dengan segala romantikanya, hingga Al tiba pada sebuah halaman:
Dingin mencucuk, malam basah gerimis, pedagang kaki lima menjajakan mimpi, lusuh lelah
Apa yang kucari di sini? Menabur resah pada angin atau mencoret nama di penghujung sekolah? Tidak, aku tidak mau air mataku menetes percuma
Karena takdirmu sudah ditentukan
Aku tidak sanggup menanggung beban ini
Al merenung sejenak mencoba memahami artinya. Dia membayangkan Lukman berjalan bersama teman gadisnya di antara pedagang kaki lima tatkala lulus SMA, dan cinta mereka terbentur dinding takdir. Barangkali gadis itu sudah dijodohkan. Klasik bangat.
Al buka halaman berikutnya, berisi tentang kesunyian hati sampai kemudian Lukman menemukan gadis Riyadh yang segala-galanya mirip perempuan itu. Akhirnya rasa penasaran Al terjawab di halaman selanjutnya:
Kala terik memanggang jiwa, dan bunga bercucuk meronta dalam legam bola mata, segeliat tanya menikam kalbu, siapa takdirmu?
Sungguh aku takut, bola matamu tercecer di pematang rapuh
Izinkan aku untuk mengerti, tentang ombak yang tak henti berdebur, tentang angin yang tak henti berdesir, kadang meradang kadang berbisik, dalam diam
Apakah engkau takut aku kecewa manakala tahu takdirmu?
Sungguh aku bahagia sangat, dia adalah malaikat pelindung di waktu kecil
Al mengatupkan rahang menahan kecamuk di dada. Kecurigaannya terbukti, di antara mereka pernah terjalin kisah. Lukman menepi tatkala menemukan gadis yang segala-galanya mirip Riany.
"Aku bersumpah kepada Tuhanku." Al teringat kembali kata-kata Riany di antara Shafa dan Marwah. "Demi laki-laki yang bersujud di depanku, tidak ada sedikitpun rasa itu kepada Lukman, tidak ada sebiji cela disaat kepergianku bersamanya."
Jadi sumpah Riany malam itu bukan untuknya, tapi untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa sudah tidak ada rasa sedikitpun kepada Lukman.
Al sudah menduga kalau ada laki-laki yang terganggu dengan kehadirannya. Dan ternyata bukan Harbi, tapi Lukman.
Al sudah merampas kebahagiaan mereka. Tapi salahkah dirinya? Dia sekedar menerima takdir yang disuguhkan oleh ayahnya.
"Aku ingin kamu tahu sendiri," kata Nidar yang berdiri di belakang pintu yang tertutup. Entah kapan masuknya. "Aku tidak sanggup menceritakannya."
Al tersenyum sedikit. Menyimpan buku diary di kantong dalam lalu mengunci travel bag.
"Aku kaget saat baca diary itu," lanjut Nidar. "Di antara mereka ternyata ada cerita yang terhapus."
Al menatap sekilas. "Kamu tidak jadi belanja?"
"Kamu tidak terpengaruh dengan cerita itu?" pandang Nidar tak percaya.
"Sejak kepergian Riany bersama Lukman ke Riyadh tanpa pendamping, aku sudah menduga. Mereka bisa melanjutkan kisahnya."
"Sudah terlambat."
"Tidak ada kata terlambat."
"Ada Faye."
"Kalau dengar kabar terakhir, tipis sekali harapan untuk bertahan hidup."
"Al," panggil Nidar hati-hati. "Kamu tidak apa-apa?"
Tentu saja hatiku hancur, pikir Al pedih. Pikirmu siapa yang bisa menerima kenyataan seperti ini? Tapi yang keluar dari mulutnya lain lagi, "Aku bisa apa-apa kalau kamu tidak beli oleh-oleh yang pantas buat orang tuamu. Lekaslah pergi."
__ADS_1
Sepeninggal Nidar, Al duduk merenung. Pikirannya berkecamuk hingga sampai pada keputusan: Dia tidak bisa menikah dengan perempuan yang terpaksa mencintainya.