Cinta Untuk Gadis Madinah

Cinta Untuk Gadis Madinah
Episode 105


__ADS_3

Sungguh malam yang penuh anugerah dengan keagungan istrinya. Tapi Al tidak menganggap malam ini adalah malam kemenangan baginya.


Laki-laki tidak perlu izin untuk mengambil madu. Kemauan adalah kunci utama.


Riany pernah mengatakan jika harus diduakan, maka Lin Wei akan jadi ladang pahala baginya. Aisyah bukan madu yang diharapkan.


Lalu kenapa dia tiba-tiba jadi pilihan pertama?


Petaka yang menimpa gadis itu kiranya sudah membuat hati Riany runtuh. Dia ingin mengembalikan kepercayaan dirinya dengan berbagi suami.


Sebuah keputusan terlambat untuk memanjakan suami.


Al tidak menanggapi serius pilihan Riany. Jika mau, ia hanya perlu mendengar suara hatinya.


Adalah keliru kalau memilih madu karena cocok dengan selera istri, kecuali bilangan ingin terus bertambah sampai batas yang diperbolehkan.


Memilih istri kedua adalah untuk menutupi kekurangan istri pertama, dan hal itu hanya terasakan oleh suami yang menerima perlakuan setiap hari.


Syahwat bukan alasan untuk mengambil madu.


"Suamiku kok kelihatannya tidak senang dengan hadiahku ini?" komentar Riany sambil memperhatikan Al yang diam merenung di sisi tempat tidur. "Bukankah keputusan ini yang kau tunggu-tunggu?"


Al tersenyum samar. "Laki-laki tidak perlu izin untuk menikah lagi. Jadi apa yang pantas membuat aku senang?"


"Untuk keharmonisan rumah tangga, maka kau perlu izin dariku."


"Sederhana saja. Jangan mengambil madu kalau merasa tidak harmonis. Kau jadi kelihatan bodoh di mata kaummu dengan memberi restu."


"Perempuan tidak perlu pintar untuk mencari surga. Cukup taat pada suami selama tidak menyimpang dari agama. Kecuali aku ingin kelihatan hebat di bumi, tapi sangat lemah di langit."


Tidak banyak istri sepertimu, batin Al kagum. Peradaban sudah membuat paradigma bergeser, sehingga tidak sedikit yang terkungkung dalam lingkaran duniawi.


Banyak perempuan yang terkenal di bumi tapi tidak populer di langit.


Semua tergantung pilihan, dan tidak perlu diperdebatkan.


"Apa yang membuatmu memintaku untuk menghalalkan Aisyah?" tanya Al.


"Aisyah jadi lumpuh tidak lepas dari andil suamiku. Kau ingin bertanggung jawab dengan mengobatinya sampai sembuh tanpa batas biaya dan waktu. Kenapa tidak sekalian mengambil tanggung jawab yang terpenting?"


"Jadi menurutmu menghalalkan Aisyah adalah tanggung jawab terpenting?"


"Dia butuh laki-laki yang cocok untuk membangun kepercayaan dirinya yang roboh. Dia sudah kehilangan ibu yang mengerti banyak tentang dirinya."


"Mengapa baru terpikirkan sekarang sama kamu? Mengapa tidak memberi peluang padaku saat hatiku berada di persimpangan di Kota Suci?"


"Aisyah butuh kamu saat ini."


"Kamu salah besar kalau ingin mengasihani Aisyah dengan berbagi suami. Berarti kamu belum mengenal Aisyah."


"Cintanya hanya untuk kamu."


"Cintanya sekarang hanyalah hiasan sujud malamnya."


"Aku yakin Aisyah menerima jadi yang kedua jika kamu memiliki sedikit cinta untuknya."


"Aku tidak yakin ada cinta untuknya. Aku bukan suami yang bersedia mengambil madu karena permintaan istri, aku mengambil madu karena aku butuh."

__ADS_1


Riany memandangnya cukup menusuk. "Kau sebenarnya mencintai siapa? Wulandari? Lin Wei? Pamela? Atau Vidya?"


"Jangan tanya aku tentang cinta, karena tidak ada riwayatnya suami menikah karena cinta. Jadi suami bisa menikah bukan karena cinta."


"Aku tidak bisa memiliki laki-laki sepertimu sendiri."


"Karena aku memiliki harta satu triliun?"


"Karena aku ingin mencegahmu dari selingkuh."


"Jadi kamu meragukan setiaku?"


"Aku meragukan perempuan mampu bertahan jika kamu datang."


"Aku ingin jujur padamu."


"Sudah seharusnya suami istri saling jujur."


"Hadiah kedua ini adalah hadiah paling buruk dalam sejarah ulang tahunku. Jadi jangan bicarakan lagi."


Al bangkit dari tempat tidur, kemudian berkata. "Aku mau bikin proposal pengajuan judul skripsi. Aku minta teh hijau, atau si mbok yang buat?"


Riany cemberut manja. "Kok ngomongnya gitu? Aku bisa bikin teh hijau!"


"Aku ingin menjaga perasaanmu, jangan sampai merasa jadi pelayan."


"Melayani suami adalah tugasku, bukan tugas pelayan."


"Alangkah beruntungnya aku." Al mengecup kening istrinya dengan mesra. "Thanks, beb. Pertahankan itu sampai hari tua kita."


Al pergi ke luar kamar dan berjalan ke belakang untuk menemui Mbok Narti, pelayan bagian dalam.


Oma menjual rumah ini pada orang yang sangat apik menjaga kebersihan dan keindahan, sehingga tidak ada perubahan saat Opa membelinya kembali, padahal sudah puluhan tahun. Rumah ini makin tinggi nilai artistiknya.


Mbok Narti lagi beres-beres dapur.


Al bertanya, "Wulandari sudah ngantar laptopnya, Mbok?"


"Sudah, Tuan," jawab Mbok Narti. "Saya taruh di ruang kerja."


"Kapan ngantarnya?" tanya Al, karena tidak mendengar bunyi bel.


"Saat Tuan lagi di kamar."


Al tersenyum. "Saya tahu. Bel harusnya kedengaran biar tidak dipasang instalasi di dalam kamar."


"Kenceng kok bunyinya, Tuan."


"Ya sudah, yang penting si Mbok dengar."


Barangkali mereka lagi tenggelam dalam ganasnya samudera cinta sehingga yang terdengar hanya deru asmara.


"Oh ya, Tuan," kata Mbok Narti. "Persekotnya saya taruh di atas laptop."


Al memandang tak mengerti. "Persekot?"


"Kata Ndoro Wulan buat buka laptop."

__ADS_1


"Oh, password." Al tersenyum geli. "Kok bisa jadi persekot ya, Mbok?"


Al meminjam laptop Wulandari karena laptop barunya mengalami kerusakan saat kecelakaan, sementara laptop lama ada di asrama.


Al masuk ke sebuah ruangan dengan interior antik dan unik. Ruangan ini adalah ruang kerja pribadi Opa saat meniti karir jadi pengusaha.


Al melihat di atas laptop ada secarik kertas. Dia duduk di kursi jati tua dan mengambil kertas itu, tertera tulisan berbunyi: Cintaku103001.


Angka itu adalah hari lahir Al. Untuk setiap akses, Wulandari menggunakan password itu. Dia sudah mengingatkan tentang bahayanya menggunakan password yang sama.


"Tidak sebahaya kalau aku kehilangan kamu," begitu alasannya.


Wulandari adalah gadis berdarah biru yang berpandangan modern, tapi dalam urusan cinta berpikiran ortodok.


Dia percaya kalau Al adalah jodohnya. Bermula dari sebuah permainan saat perpisahan SMA. Mereka mencari pasangan hidup dengan mata ditutup kain. Wulandari berharap dapat bertemu Al dan ternyata benar. Begitu sederhananya dia memilih calon suami.


Al segera merobek kertas dan membuangnya ke tong sampah. Dia tak mau Riany membaca tulisannya dan berbuntut panjang dengan pertanyaan yang bikin pusing kepala.


Padahal ada pertanyaan yang menggantung di hatinya.


Riany sudah mengambil keputusan yang luar biasa malam ini, yang menurutnya tidak wajar mengingat perkawinan mereka baru beberapa minggu.


Tentu ada alasan yang tidak biasa yang membuatnya mengambil keputusan yang mengundang cibir mommy jaman now.


Apa Aisyah membuka wasiat Oma di depan Riany, yang disembunyikan darinya, sehingga dia mengambil keputusan ekstrim? Apa isi wasiatnya? Apa ada hubungan dengan harta warisan dari Simbah buyut?


Riany rela berkorban demi harta tujuh ratus miliar!


Oma kayaknya tidak mungkin menyertakan persyaratan madu dalam surat wasiatnya. Dia menjemput ajal karena madu!


Al harus segera menemui pengacara Simbah buyut untuk menutup rasa penasarannya. Setelah menyerahkan proposal pengajuan judul skripsi ke sekretariat departemen, dia akan mampir ke kantor pengacara.


Riany datang membawa teh hijau dengan rambut basah habis mandi junub. Cangkir minuman ditaruh di atas meja.


"Hair dryer rusak?" tanya Al. "Rambutnya kok tidak dikeringkan?"


"Buat apa dikeringkan? Kamu selesai dengan kerjaan, aku mandi basah lagi!"


Riany duduk di lengan kursi sambil tangannya melingkar ke leher suaminya. "Belum selesai, beb?"


"Bagaimana selesai kalau tanganmu begini?"


"Terlalu mesra ya?"


"Terlalu kencang! Leherku tercekik!"


Riany mengendurkan pelukannya. "Coba aku lihat dari atas, beb. Siapa tahu bisa bantu."


Riany menggerakkan mouse wireless, dan berhenti pada poin judul skripsi. Dia tersenyum. "Tim komisi skripsi kayaknya pilih poin terakhir deh, pasti seru saat presentasi judul."


Al melihat poin ketiga. Dia kaget membaca hasil ketikannya: Hubungan Politeknik dan Poligami dalam Kaitannya dengan Eksploitasi Energi Bumi.


Al tidak bisa berkata apa-apa!


Riany mengecup rambut suaminya dengan mesra. "Sorry, beb. Hadiahku membuatmu galau. Terserah kamu mau menghalalkan Aisyah atau tidak. Pintaku cuma satu."


"Apaan?"

__ADS_1


"Jangan tinggalkan aku."


__ADS_2