Cinta Untuk Gadis Madinah

Cinta Untuk Gadis Madinah
Episode 108


__ADS_3

Lin Wei dan Wulandari tersenyum menyambut kedatangan Riany di halaman gedung apartemen. Mereka cipika cipiki.


"Katanya nanti malam," kata Lin Wei. "Aku sama Wulan rencananya tidak pulang nunggu kamu."


"Aisyah siap kedatangan tamu siang ini," ujar Riany. "Buat apa nunggu malam?"


Padahal Al tidak jadi mengambil bonus tak terbatas. Bertamu siang hari lebih leluasa. Lagi pula, jika proposal Aisyah tidak selesai, bisa dikerjakan malam hari, agar besok bisa diajukan ke sekretariat.


Al melihat istrinya begitu akrab dengan mereka. Semoga Riany sadar kalau kehangatan itu tidak sekedar lambang persahabatan bagi mereka.


Al jadi manusia yang terlupakan dalam pertemuan itu.


"Lagian pengantin baru masa kelayapan malam-malam?" goda Wulandari. "Malam itu buat kelayapan di ranjang pengantin."


"Ranjang pengantinnya gak dibawa di rumahku," jawab Riany santai. "Di Yogya adanya ranjang kayu jati antik, gak ada merek ranjang pengantinnya."


"Kamu serius minta aku ngisi rumahmu yang ada di kompleks aku?" tanya Lin Wei. "Kok bisa ya kita tetanggaan?"


Riany tersenyum. "Rumah di Yogya juga tetanggaan sama Wulan. Maka itu aku minta bantuan dia untuk merawatnya. Aku kuatir asisten rumah kerjanya kalau ada aku saja. Gabut. Untuk Aisyah aku belum ngomong secara pribadi. Soalnya dia ingin tinggal di Al Khanza."


"Alah, buat apa tinggal di Al Khanza!" sambar Wulandari. "Rumah Oma cocok buat menenangkan pikiran. Di tanah air juga banyak pengobatan alternatif."


"Dia juga sudah diangkat jadi ketua koperasi," ujar Riany. "Teman-temanku sangat berharap dia bertahan dengan keputusannya dulu."


"Untuk rumah yang di kompleks, biar aku saja yang gaji asisten rumah," kata Lin Wei.


"Ngomong dong sama suamiku. Dia yang gaji soalnya."


Al baru kena sentuh setelah bicara panjang lebar. Sedikit memojokkan pula. Padahal urusan rumah semua sudah diserahkan padanya, mau disewakan atau disedekahkan, terserah.


Keputusan Riany yang di luar perkiraan ini membuat Al menyesal memiliki rumah empat.


"Bagaimana, Al?" tanya Lin Wei. "Boleh ya aku bayar mereka? Aku gak enak, sudah tinggal gratis, masa asisten rumah juga kamu yang bayar?"


Al menjawab dengan santai, sekalian ingin memberi pelajaran pada istrinya. "Aku selama kuliah sudah banyak menerima bantuan darimu, Wulan, sama Aisyah. Masa aku sudah banyak duit begini nyuruh kalian keluar duit?"


Kemudian Al menambahkan untuk membuat suasana makin panas, "Bila perlu, seluruh biaya hidup kalian aku tanggung. Hitung-hitung balas budi, biar si Budinya sudah mati semester lalu. Aku kirim Lamborghini nanti untuk kamu pakai, buat Wulan BMW, Aisyah Mercy sport."


Riany bukan jengkel mendengar ucapan suaminya, malah kelihatan senang sekali. "Nah, kalian dengar kan omongan suamiku? Bagaimana kurang baiknya coba?"


Al tahu Riany sedikit terpancing. Dia merasa ada tekanan pada kata suamiku, tapi mana paham mereka. Kids jaman now tidak mempan dengan kata sindiran.


Al jadi ingin tahu bagaimana cara istrinya mengatasi mereka.


Mereka masuk ke dalam gedung dan naik ke lantai lima. Apartemen Aisyah adalah yang kedua dari pintu lift.

__ADS_1


Riany memencet bel. Jantung Al sedikit berdebar menunggu pintu dibuka. Dia tidak biasanya begini. Barangkali karena kasus pengusiran di rumah sakit, dia jadi trauma. Atau karena gadis itu sudah mendapat restu dari Riany?


Sekali lagi restu istri tidak berlaku bagi Al!


Aisyah membuka pintu. Sebuah senyum manis tersuguh seakan petaka itu tak pernah mampir dalam hidupnya. Wajahnya sangat ceria. Ia menggunakan kursi roda elektrik.


Al merasa senyum itu bukan untuknya.


"Masuk," kata Aisyah. "Aku sudah menunggu kalian."


Al yang masuk terakhir kebagian menutup pintu. Dia melangkah ke dalam ruangan menuju ke sofa tamu. Abi Rashid menyambutnya dengan berpelukan. Ketiga adik Aisyah menyingkir ke kamar.


Keempat bidadari itu duduk di sofa yang berbeda dan terlihat seru dengan cerita masing-masing.


Al tidak melihat nenek Aisyah dari Al Khanza. Ia bertanya, "Jaddah sudah pulang?"


"Beliau lagi istirahat di kamar," kata Abi Rashid. "Dia kurang tidur di rumah sakit. Dia sangat mengkuatirkan cucunya."


Semua orang mencemaskan Aisyah. Kondisinya paling tragis di antara kedua temannya. Mengapa harus Aisyah? Puteri sulung yang sudah kehilangan ibunya melalui tragedi memilukan?


Itulah takdir.


Hari ini Al tidak ingin membahas tentang pengobatan Aisyah. Banyak waktu untuk mencari referensi rumah sakit terbaik di dunia.


Aisyah sendiri tidak menyinggung tentang pengobatan atau keadaan dirinya saat ini. Dia bahkan tidak bertanya untuk keperluan apa Al datang ke rumahnya.


"Oh ya," kata Lin Wei. "Kado perkawinan dari kami pasti belum dibuka ya? Tidak apa, belum jatuh tempo ini. Aisyah ngasih giro jatuh tempo bulan depan, Wulandari jatuh tempo tiga bulan lagi. Nah, aku bulan keempat."


"Kok bisa ya waktunya diatur seperti itu?" tanya Riany.


"Bisa saja, kita yang punya duit kok."


Riany tersenyum. "Maksudku kalian ngatur pencairannya bulan kedua, bulan ketiga, dan bulan keempat dari hari pernikahanku?"


Aisyah balas tersenyum. "Kamu keberatan?"


"Oh, tentu saja tidak." Riany tertawa ceria. "Aku gimana suami. Dia siap nggak pergi pada bulan-bulan itu."


"Aku jelaskan ya," kata Wulandari. "Kami ngasih kado dengan rentang waktu tersebut tidak cuma untuk bulan madu, buat refreshing juga di tengah penyusunan skripsi."


Padahal jatuh tempo cek dihubungkan dengan posisi mereka di dalam kehidupan Riany, calon istri kedua, ketiga, dan keempat.


Riany seolah tidak terpikirkan tentang hal itu, "Bisa nggak ya, duitnya diambil pada bulan itu, terus bulan madunya pas selesai wisuda, biar waktunya gak mepet."


"Oh, urusan bulan madu terserah kalian," tukas Lin Wei. "Tapi kasih tahu kami kalau kalian mau pergi. Kami harus siap-siap."

__ADS_1


Riany memandang tak mengerti. "Maksudnya?"


"Kalian berdua kan belum pernah ke Al Khanza, Lombok, atau Tiongkok? Nah, aku bertiga sudah sepakat, siap memandu kalian. Jadi kalian nggak perlu repot pakai guide."


"Soal guide ini, kalian bisa tanyakan sama suamiku nanti. Aku sih ngikut saja."


Al jadi keki. Riany menyebut dirinya, tapi seorang pun tidak ada yang menoleh ke arahnya. Untung ada teman ngobrol, dia tidak merasa jadi lalat ijo, cuma merusak suasana.


Al terpaksa menyampaikan maksud kedatangannya pada Abi Rashid karena Aisyah tidak ada gelagat menegurnya, "Saya datang ke sini sekalian untuk membantu Aisyah membuat proposal pengajuan judul skripsi. Dia kan ingin lulus tepat waktu."


"Oh, bagus itu," kata Abi Rashid senang. "Tapi kalian beda fakultas. Kamu tahu apa yang perlu diajukan?"


"Insya Allah tahu. Saya sering membantu tugas Aisyah. Jadi secara garis besar tahu permasalahan apa yang perlu diajukan."


Abi Rashid bangkit mendatangi Aisyah, dan berkata, "Al ingin membantu kamu membuat proposal."


Wajah Aisyah tampak sedikit berubah. Al jadi merasa bantuannya datang bukan di waktu yang tepat.


Wulandari memberi support, "Ya sudah pergi sana, kamu tunjukan bahan-bahan. Kita ngobrol lagi nanti."


"Ganggu ya kalau kerjanya di sini?" tanya Riany.


Aisyah menjawab, "Kamu bisa ikut ke ruang belajar kalau ..."


"Oh, nggak, nggak. Silakan saja kalianĀ  pergi berdua."


"Aku pergi bentar ya. Aku cuma nunjukin bahan-bahan."


Riany tersenyum manis. "Lama juga gak apa-apa kali. Yang penting suamiku paham dulu, biar kita ngobrolnya bebas."


Abi Rashid mengangkat Aisyah untuk pindah duduk ke kursi roda. Al jadi terenyuh. Gadis yang demikian energik kini butuh bantuan orang untuk mengurus keperluannya!


Aisyah sekurangnya butuh dua suster untuk melayani keperluannya jika berobat ke luar negeri nanti.


Mereka pergi ke ruang belajar. Abi Rashid menemani tamunya sambil pindah duduk ke sofa bekas Aisyah.


"Kursi ini bisa bergerak sendiri," kata Aisyah saat Al memegang besi sandaran, padahal maksudnya bukan untuk mendorong. Di mana lagi posisi yang tepat untuk berjalan bersamanya?


Al merasa sikap Aisyah sangat berbeda. Angkuh. Untuk membersihkan sisa makanan di bibir saja, biasanya dia minta bantuan dirinya.


"Aku sebetulnya ingin mengerjakan sendiri," kata Aisyah sambil membuka pintu kamar belajar. "Aku hanya menghormati tawaran istrimu."


"Aku biasa bantu kamu kalau ada tugas."


"Tidak lagi. Aku besok-besok minta bantuan Wulandari sama Lin Wei."

__ADS_1


Al kaget. "Kenapa?"


"Aku benci dengan tatap matamu!"


__ADS_2