
Langit tertutup mega hitam ketika Lamborghini mulai mendaki jalan yang sempit dan berkelok-kelok. Lampu jauh menusuk gelapnya malam. Lamborghini tidak bisa meluncur maksimal. Lalai sedikit nyawa melayang disambar jurang yang sangat dalam dan pohon-pohon liar di sepanjang jalan.
Tidak ada kendaraan yang berani lewat jalan ini sejak senja tiba. Mereka lebih senang mengambil jalan memutar. Jarak tempuh hampir dua kali lipat, tapi aman.
Daerah ini rawan begal. Al harus jeli melihat permukaan jalan kalau-kalau ada ranjau paku atau sebangsanya. Tubeless tidak dirancang tahan bom paku. Ganti ban di mana? Sepanjang jalan tidak ada perkampungan, apalagi dealer ban.
"Malah mikirin ban," gerutu Irma gelisah. "Ada dua bidadari yang perlu kamu lindungi."
"Tenang," hibur Nidar. "Ada aku."
Irma meledek, "Lihat barongsai saja terkencing-kencing."
Sewaktu kecil Nidar paling takut sama barongsai. Dia pasti lari masuk rumah kalau ada orang mengarak barongsai keliling kampung di tahun baru Imlek. Untung tidak trauma setelah dewasa.
"Itu kan waktu kecil," kata Nidar. "Sudah gede aku berani mengencingi kamu."
Irma memandang tidak mengerti. "Mengencingi apa?"
"Mengencingi apa yang bisa dikencingi!"
Al tahu apa maksudnya, dia menyindir, "Marbot masjid kok ngomongnya begitu?"
"Marbot juga manusia."
"Orang gila juga manusia."
"Pokoknya kita aman," potong Riany tenang. "Mereka cuma merampas mobil dan barang berharga."
Irma terbelalak. "Cuma?"
"Nyawa lebih berharga."
"Kalau nyawa, kera juga punya."
"Terus apa lagi?"
"Kehormatan! Dirudapaksa bagaimana?"
"Mereka tidak mengganggu orang, asal tidak melawan."
"Karena selama ini yang kena begal cowok. Coba kalau cewek terbungkus rapi kayak kamu, apa tidak kepingin tahu isinya?"
"Percuma ada Al."
"Kok aku?" protes Al.
"Cowok harus bisa melindungi cewek."
"Jadi aku harus memilih kamu dibanding Lamborghini?"
"Hargaku di atas Lamborghini."
"Di mata Harbi."
"Di mata kamu?"
"Hanya masa lalu. Ada masa lalu yang berharga?"
Riany tersinggung. "Jadi cuma Lin Wei yang wajib kamu lindungi?"
"Lin Wei lagi," gerutu Irma. "Jealous ya?"
"Ih, ngapain jealous?"
"Alah, muna! Lihat Al lesehan sama Pamela saja pengen balik lagi!"
"Aku lagi gak selera makan di lesehan!" sergah Riany.
__ADS_1
"Gak selera makan orang maksudnya," sambar Nidar tertawa.
"Nah, terus pas dengar rencana Al ta'aruf sama Vidya mukamu merah kayak kepiting rebus...."
"Kamu kan tahu mukaku gampang kemerahan kalau kena sinar matahari.... Al mau ta'aruf sama Vidya, Pamela, Aisyah, Lin Wei, Wulandari...aku tidak peduli!"
"Aku senang mendengarnya," kata Al. "Aku kuatir kamu jealous, berarti kepulanganku menimbulkan kegaduhan."
"Kamu mestinya berharap Riany jealous," sambar Irma. "Jadi ada harapan untuk masuk."
"Aku tidak biasa masuk untuk pintu yang tertutup."
"Kalau tuan rumah membuka pintu?"
"Aku lebih baik pergi lagi ke Yogya karena seharusnya pintu itu tertutup."
Riany menatap dengan ketus. "Kamu ini ngomong apa sih?"
"Aku heran, sejak ketemu Lin Wei kamu makin jutek saja. Wajar aku kepedean karena tidak ada klarifikasi."
"Kamu mau aku tasyakuran karena kamu punya pacar segambreng? Baik. Aku umumkan nanti di masjid. Kamu ingin aku tersenyum bangga karena di matamu aku lebih murah dari Lamborghini? Baik." Riany membuka niqab dan tersenyum dibuat-buat, lalu mendelik. "Puas?"
Riany memasang niqab lagi.
"Aku punya teman jadi alay begitu ya," komentar Irma. "Sekalian saja pamerkan auratmu kayak di foto itu. Senang kan banyak yang miscall?"
"Riany itu ingin memberi pesan tersirat kalau ratu kecil lebih berharga dari Lamborghini," sahut Nidar. "Dia membuka niqab ingin mengingatkan Al kalau ratu kecil lebih cantik dari pacarnya yang segambreng."
"Aku jadi bingung deh," tukas Riany serba salah. "Kalian itu maunya apa sih? Al mana tahu aku tersenyum bangga kalau tidak membuka niqab?"
"Aku itu cuma tanya," ujar Al santai. "Kalau menurutmu masa lalu lebih berharga dari Lamborghini, ya aku pasti menyelamatkan masa lalu."
"Tumben kamu sebut masa lalu, bukan ratu kecil," sindir Irma. "Ingin membuat jarak?"
"Aku harus menghormati Harbi."
Lamborghini melewati sebuah tikungan. Terlihat ada batang pisang kecil menghalangi jalan belasan meter di depan. Al menginjak rem. Lamborghini melambat dan berhenti. Kedua gadis berhijab itu tampak tegang. Di wajah Irma membersit perasaan takut.
Irma menyalahkan temannya, "Kamu sih, Ri, segala pengen lewat jalan ini."
"Biar cepat," sahut Riany. "Al tidak boleh telat menghadiri undangan makan malam. Lewat jalan lingkar pasti Al cuma kebagian mencuci piring kotor."
"Nekat banget, tahu gak? Begini jadinya! Ya Allah! Lindungi hamba-Mu yang belum punya mobil ini!"
"Aku sama Al berarti tidak masuk doa itu?"
"Minta sendiri! Kamu kan bisa berdoa."
"Doa saja pelit."
"Kamu yang ingin lewat jalan ini."
"Demi Al."
"Nyawa melayang biarin?"
"Bila perlu."
Irma melotot. "Kamu rela nyawamu melayang cuma buat dinner?"
"Aku ingin menebus murka ibunya."
"Ibunya tidak tahu, Ri."
"Jadi rempong ya."
"Peringatan buat lain kali."
__ADS_1
"Berarti lain kali ngomongnya."
Perempuan kalau menghadapi masalah mulutnya yang pertama sibuk, pikir Al sambil mengamati batang pisang itu. Maka itu sering celaka karena ulah sendiri.
"Lindas saja," kata Riany. "Cuma batang pisang kecil."
"Itu yang mereka mau."
"Maksudnya?"
"Mereka tidak ingin kita berhenti. Banyak batang pisang besar di sisi jalan. Mereka sengaja menggunakan batang pisang kecil karena ingin kita melindasnya."
"Jebakan," cetus Nidar. "Batang pisang itu pasti ada apa-apanya."
"Persis."
Al mengedarkan pandang ke sekitar. Matanya tidak dapat menembus kegelapan. Yang terlihat hanya kawasan yang tersorot lampu mobil.
"Jangan keluar apapun yang terjadi," kata Al. "Ambil alih kemudi."
Riany menatap Al dengan perasaan khawatir yang membayang kuat di balik pesona bola matanya yang kebiru-biruan. "Terus kamu?"
"Memindahkan batang pisang."
"Al," desis Riany bergetar. "Tabrak saja, apapun yang terjadi."
"Kita mati semua kalau bom TATP."
"Aku rela."
"Harbi tidak rela."
"Lagi tidak mungkin bom," sela Irma. "Mobil pasti rusak. Mereka dapat apa?"
"Mereka dapat Riany," sahut Al enteng. "Dia kan lebih berharga dari Lamborghini."
"Lindas saja," desak Irma. "Aku yakin tidak ada bom."
"Keyakinanmu banyakan meleset," sambar Nidar. "Al bilang kita mati semua kalau di batang pisang itu terpasang bom TATP. Ngerti kalau nggak? Kalau?"
"Kalaunya biasa saja kali."
"Muncrat ya?"
Al membuka kunci pintu. "Langsung maju ketika ada isyarat dariku."
"Kau di mobil saja," ujar Nidar. "Biar aku yang memindahkan batang pisang."
"Kamu bisa mati kalau mereka bawa pistol."
"Kamu kebal peluru?"
"Tidak."
"Jadi ingin mati duluan?"
"Aku bertahan tidak mati sampai berhasil memindahkan batang pisang itu."
"Kita keluar berdua. Aku lindungi kamu supaya bisa memindahkan batang pisang."
"Mereka tidak ingin kita berhenti. Maka itu mereka taruh batang pisang kecil. Jadi mereka sebenarnya tidak siap kalau kita serang."
"Nah, boleh tuh."
"Kulihat ada pergerakan di semak depan. Mereka mendekati mobil." Kemudian Al menoleh ke Riany. "Siap?"
Riany mengangguk. Untuk pertama kalinya Al melihat ada perasaan takut kehilangan di bola mata yang indah itu. Entah kenapa, Al malahan semakin berani keluar.
__ADS_1