Cinta Untuk Gadis Madinah

Cinta Untuk Gadis Madinah
Episode 70


__ADS_3

Kabar Ridwan bebas bersyarat ini sampai pada keluarga korban. Tentu saja mereka muntap. Tambah mendapat dukungan dari Ben Muzakir. Mereka sepakat untuk menggalang massa secara besar-besaran buat demo jilid dua. Bagusnya ketahuan oleh Kyai Rojali sehingga penggalangan massa dapat digagalkan.


"Berpikir jernih," nasehat Kyai Rojali. "Kamu sudah dapat peringatan dari kepolisian, jangan sampai masuk bui."


"Aku ingin memperjuangkan keadilan," sanggah Ben Muzakir. "Polisi tidak boleh sewenang-wenang."


"Polisi lagi berusaha keras mencari informasi yang akurat."


"Kerjanya lelet."


"Kosongkan pikiran dari kotoran dunia hingga kamu bisa kendalikan. Kalau kamu terlalu maju, bisa jadi bumerang bagi diri sendiri. Keluarga korban tidak dapat menjelaskan dengan pasti motif korban berada di bukit, dan mobil yang katanya sebagai alat berkendara korban sampai kini belum ditemukan."


"Karena polisi terlalu kooperatif dengan Ridwan."


"Ada HAM."


"HAM mestinya di belakang korban."


"Aku malahan ingin minta keluarga korban untuk menarik BAP. Biarkan korban tenang di alam barzah."


"Kalau penguasa dibiarkan sewenang-wenang, kampung ini tidak beres-beres. Kyai tidak curiga dua tetangga korban yang jatuh ke jurang adalah akibat dari koar-koarnya yang ingin balas dendam? Pasti ada keterlibatan penguasa kalau mobil baru tiba-tiba remnya blong? Karena sebelumnya trailer itu sempat diperiksa polisi."


"Pak Kades kayaknya tidak mungkin berbuat sekeji itu. Lagi apa motifnya? Yang kalah Pilkades kan ayahmu. Tidak mungkin jabatan kepala dusun tetap dilimpahkan ke ayahmu kalau Pak Kades ada rasa dendam."


"Di kampung ini Babe menang telak. Maka itu kepala dusun tetap Babe yang pegang. Ingin rusuh kampung ini kalau dipegang orang lain?"


"Jangan sebar koar-koar ini. Nanti kamu kenapa-napa seperti tetangga korban."


"Aku rela mati demi kebenaran."


"Semua orang rela mati demi kebenaran. Tapi kebenaran itu belum terungkap secara pasti, baru dugaan-dugaan."


"Pak Kades hanya boneka. Ada penguasa yang sebenarnya."


"Pak Haikal maksudmu? Sudah deh, Ben. Beliau itu orang bersih. Kalau kamu berani macam-macam, sama artinya kamu ingin berurusan dengan simpatisan Pak Kades, bukan dengan orang kampung beliau saja. Pesantren ini bisa gulung tikar."


"Pesantren ini justru tidak ada ruginya, Kyai. Kalau kita mampu membuktikan Pak Haikal terlibat, pesantren ini semakin harum. Kalau tidak pun, nama pesantren tetap terdongkrak karena santrinya gigih membela kebenaran dan keadilan. Kyai lihat sendiri dampak demo kemarin, banyak santri dari kampung lain pindah ke pesantren ini."


"Lalu apa motifnya Pak Haikal berani mempertaruhkan nama baiknya?"


"Pak Haikal pasti ingin membela calon besannya. Kecelakaan yang menimpa trailer itu tidak mustahil dilakukan oleh orang suruhannya. Al adalah saksi kunci tragedi itu. Aku curiga mereka bekerja sama dengan polisi untuk membuat rem blong."


"Ujung-ujungnya ini yang jadi pangkal kebencianmu. Kamu tidak rela Riany jadi istri Al Farisi. Sudahlah. Lupakan Riany. Kemarin Umi Halimah menghadap ayahmu. Beliau setuju Vidya untuk ta'aruf sama kamu."


"Babe boleh memperkenalkan aku sama perempuan manapun, tapi aku cuma ingin Riany."


"Akhir pekan ini mereka akan menikah. Kamu mau menunggu jandanya?"


"Bila perlu aku buat Riany jadi janda."


"Astaghfirullah. Jangan sampai cinta membutakan imanmu."


"Sekali-kali tidak. Aku dengar ada gadis-gadis cantik yang nyeleneh ingin jadi istri kedua sampai keempat. Aku tinggal mengompori mereka agar menggoda Al untuk menikahinya. Riany pasti tidak mau dimadu."

__ADS_1


"Tapi itu jahat, Ben. Merusak rumah tangga orang."


"Jahat di mananya, Kyai? Laki-laki kan boleh empat? Malahan aku harusnya dapat pahala karena sudah memberikan kenikmatan sama Al sekaligus menjalankan sunah Nabi."


Kyai Rojali geleng-geleng kepala. "Pemikiran yang keliru."


"Kalau itu keliru, akan kutebus dengan taubat nasuha."


"Jangan bermain-main dengan dosa kalau ingin selamat dunia dan akhirat."


"Aku tidak bisa hidup tanpa Riany, Kyai."


Riany adalah impiannya sejak kecil. Ben Muzakir sering membayangkan kenikmatan yang didapat dari setiap lekuk tubuhnya. Manakala sadar fantasi itu dosa, dia bertaubat dan bermunajat kepada Allah agar dikabulkan doanya untuk memperistri Riany sehingga dirinya terbebas dari dosa berfantasi.


Sementara Vidya, kenikmatan apa yang diperoleh dari setiap jengkal tubuhnya? Sebagian besar tubuhnya terbuka dan dinikmati banyak orang!


Ben Muzakir seolah tidak menerima kalau takdirnya bukan Riany.


Cinta memang luar biasa. Dapat membuat orang murtad atau kehilangan akal sehatnya. Bahkan kelihatan aneh bagi kebanyakan orang.


Seperti halnya Aisyah. Dia dapat menerima pernikahan mereka. Tapi masih berharap Al bisa berbagi, karena itu bukan dosa dan ada tuntunannya.


"Aku takut tidak bisa berbuat adil," kata Al ketika mereka duduk di bangku halaman memperhatikan santri latihan bela diri selepas Isya. "Aku tahu kamu, Lin Wei, Wulandari berharap jadi istriku."


"Itulah kenapa Nabi membatasi umatnya hanya empat, karena susahnya berbuat adil."


"Kamu tidak risih disebut pelakor?"


"Aku tidak merebut kamu dari Riany, aku hanya berharap kamu bisa berbagi."


"Wulandari hidup di Solo keinginannya sama. Lin Wei gadis Chinese sama juga."


"Riany pasti tidak mau berbagi."


"Kamu hanya perlu dengar suara hatimu."


"Seandainya kamu ada di posisi Riany, bagaimana?"


"Aku tidak mau berandai-andai."


"Berempati, bukan berandai-andai."


"Aku tidak mau menggantikan Riany jadi istri pertama. Kesempatanku hanya jadi istri kedua, ketiga, atau keempat."


"Seandainya kamu jadi istri pertama? Kamu akan memberi kesempatan kepada perempuan lain?"


"Semua tergantung kamu."


"Kok tergantung aku?"


"Kamu memiliki hak untuk bertahan dengan satu istri atau mengambil kesempatan itu."


"Aku susah untuk mengikuti jejak Nabi karena alasan yang berbeda."

__ADS_1


"Kenapa harus berbeda?"


"Karena aku bukan manusia pilihan. Aku adalah manusia biasa yang berakhlak biasa, yang sulit melakukan semua itu bukan karena syahwat."


"Lebih baik mana, membiarkan syahwat itu menjadi dosa atau dihalalkan?"


"Sebenarnya apa sih yang membuat kamu bersikeras ingin menjadi istriku?"


"Cinta."


"Cuma itu?"


"Cinta kok cuma?"


"Maksudnya tidak ada alasan lain?"


"Ada."


"Apa itu?"


"Masih ingat kejadian saat kamu pinjam apartemen buat menyambut Opa?"


"Apa semua hijabers prinsipnya sama?"


"Tidak."


"Terus?"


"Kata-kata almarhumah Umi," sahut Aisyah sendu. "Almarhumah berpesan, jika sudah waktunya menikah, maka menikahlah dengan laki-laki yang melihat tubuhku tanpa syahwat karena takut kepada Allah."


"Kebiasaan ya tidur tanpa berpakaian?"


"Lagi ngapain kamu masuk kamar?"


"Ceritanya kan itu kamarku."


"Kamu bisa tidur sama Opa di kamar tamu."


"Baru kepikiran setelah kejadian."


"Dasar."


"Lalu Lin Wei?"


"Lin Wei terobsesi oleh legenda. Handuknya dicuri kera di pancuran saat field study, maka Lin Wei bersumpah untuk menikah dengan laki-laki yang mengantarkan handuknya."


"Kalau Wulandari?"


"Atas nama masa lalu. Kamu pasti lupa. Di pesta perpisahan SMA ada acara cari jodoh dengan mata tertutup. Wulandari berharap dapat kamu dan itu terbukti."


Perempuan-perempuan cantik yang aneh, pikir Al mumet. Mereka rela berbagi karena argumen yang tidak masuk akal. Kalau saja mereka rela berbagi karena taat pada Nabi, boleh jadi Al berpikir ulang.


"Aku sebenarnya bersedia jadi istri kedua karena ingin mencari ladang surga sebanyak-banyaknya, karena untuk perempuan ladang nerakanya juga banyak. Ladang terbesar surgaku adalah melaksanakan sunah yang sangat pahit, sunah yang manis-manis adalah ladang kecil untuk topping pahala. Alasannya so suci sekali, maka itu aku malu mengatakan."

__ADS_1


Al terdiam. Apakah ini pertanda dia harus berpikir ulang?


__ADS_2