
Pemakaman al-Ma'la adalah pemakaman tertua di kota Makkah, terletak di pinggiran Kampung Ma'la, di sebelah utara Masjidil Haram.
Dikenal sebagai pemakaman keluarga Nabi. Abdul Muthalib, Abu Thalib, Siti Aminah, dan Siti Khadijah dimakamkan di pemakaman ini.
Ulama bertaraf internasional dari Indonesia yang jadi Imam Masjidil Haram dimakamkan pula di Ma'la, yaitu Syaikh Nawawi al-Bantani.
Bis SAPTCO berhenti di depan gerbang.
Satu per satu rombongan turun. Petugas makam keluar dari pos kecil menyambut mereka. Perempuan dilarang masuk.
"Sampaikan salamku ke Sayyidah Khadijah, cah bagus," pesan Oma.
Oma beserta perempuan lain menunggu di luar, memanjatkan doa dari balik pagar atau duduk di bola-bola depan gerbang.
Pemakaman itu hanya berupa tanah lapang yang rata dengan batu-batu putih sebagai ciri.
Al melangkah masuk dan mampir di bangunan mungil mengambil segenggam gandum yang tersedia di dalam karung. Eyang Munzir dan kawan-kawan antri merogoh karung. Gandum ini untuk makanan burung dara yang berkeliaran di pemakaman.
Kaki Al agak bergetar saat menelusuri jalan untuk menemui Siti Khadijah.
Al mengucapkan salam dan berjongkok dekat beton putih yang membatasi tempat peristirahatan wanita termulia itu.
"Oma titip salam," bisik Al lirih. "Oma ingin mengadu padamu, tapi tidak sanggup karena cintanya kepada Muhammad melampaui kepedihan hatinya."
Al memanjatkan seuntai doa, kemudian bangkit menelusuri jalan di antara batu-batu makam. Sambil menaburkan gandum ke burung dara yang hinggap bergerombol, dia kirim salam dan doa kepada Yasir dan Sumayah yang syahid pertama dalam Islam, para syuhada, tabi'ut tabiin, ahlul Ma'la, ahlul Indonesia.
Terakhir dia berhenti sejenak di sudut pemakaman. Matanya menyapu batu-batu makam yang konon di sekitar kaki bukit Hajun ini bersemayam Syaikh Nawawi al-Bantani.
Kemudian Al pergi menemui rombongan yang dibubarkan petugas karena duduk-duduk di bahu jalan.
"Saya kan sudah bilang kalau ziarah jangan bergerombol," kata Al, "atau sambil jalan."
"Kalau tidak boleh ziarah, mestinya jangan diperbolehkan masuk," sanggah Pak Hanif. "Ngapain kita di dalam? Gali pasir?"
"Bukan tidak boleh," sahut Al sabar. "Takut tergelincir aqidah."
"Meminta bukan kepada yang semestinya," tambah Eyang Munzir. "Apa yang kita lihat hanyalah batu-batu putih yang tidak mendatangkan barokah apa-apa, kecuali sebagai pengingat."
"Tumben pikiran Eyang lurus," senyum Al. "Jangan samakan dengan tradisi ziarah di kampung."
Rombongan tidak sampai setengah jam di pemakaman Ma'la. Bis mulai bergerak lagi ke tujuan berikutnya.
Sepuluh menit kemudian mereka sudah berkumpul di teras Masjid Jin, sebagian duduk-duduk di anak tangga.
Masjid Jin terletak kurang lebih 100 meter di sebelah selatan pemakaman Ma'la, berlantai dua, luasnya sekitar 10 X 20 meter.
Kubah masjid ini dihiasi oleh tulisan kaligrafi surah Jin ayat 1-9. Penamaan masjid ini berkaitan erat dengan peristiwa langka dan penting pada bangsa jin. Mereka berbaiat untuk beriman kepada Allah SWT dan mengikuti ajaran Islam.
Rombongan melakukan shalat sunah di lantai dua. Setelah itu bis melaju lagi ke selatan menuju ke Pasar Ja'fariyah.
__ADS_1
Pasar Ja'fariyah letaknya dekat Masjid Jin, jaraknya kira-kira 1 km di sebelah utara Masjidil Haram. Pasar ini menempati lantai dasar dari beberapa bangunan hotel.
Barang yang ditawarkan beraneka ragam, mulai dari pakaian muslim, suvenir, batu cincin, makanan, minuman, parfum, hingga perhiasan emas. Produksi lokal maupun mancanegara, termasuk Indonesia.
Seperti umumnya toko-toko di Makkah, pembeli harus pandai-pandai menawar. Bahkan beda waktu, bisa beda harga buat barang yang sama.
Yang membuat senang berbelanja di Ja'fariyah adalah hampir semua penjual bisa berbahasa Indonesia. Untuk menarik minat pembeli mereka mencatut nama tokoh politik atau selebriti Indonesia yang sedang ngetop.
Bila datang waktu shalat, para pedagang menutup tokonya sementara, dan menggelar shalat berjamaah di dalam pasar.
Karena rombongan rata-rata orang yang berkecukupan, maka mereka memborong beragam barang sebanyak-banyaknya.
"Beli oleh-oleh apa mau jualan?" sindir Al melihat Oma belum berhenti belanja, padahal barang sudah dikirim bolak-balik ke mobil kargo yang menunggu di sisi jalan.
Al sengaja memesan layanan kargo untuk rombongan ini agar tidak repot bawa barang saat pulang ke tanah air.
"Saudara kita itu banyak," sahut Oma, "keluarga besar."
"Barang-barang beginian di Tanah Abang juga banyak."
"Gengsinya beda," kata Nek Surti. "Makkah gitu loh."
Al melihat Dinar mencari petugas kargo, barangnya sudah menumpuk di depan gerai. Dia biasanya ikut rombongan suaminya, Ahmed. Tapi saat tahu rombongan ini akan pergi berbelanja, dia langsung bergabung.
"Nyamperin Kak Dinar bentar, Oma."
Al mendatangi Dinar yang lagi membayar semua barang yang dibelinya.
"Belum. Banyak yang belum dibeli."
"Kak Dinar teruskan belanja. Ini biar kuurus."
"Terima kasih."
Perempuan, baik tua atau muda, urusan belanja paling gesit. Selama duit masih ada, tangan sibuk memilih-milih barang.
"Sepuluh menit lagi," kata Al mengingatkan. "Kalian silakan belanja terus atau kutinggal."
"Iya, iya," jawab Bu Hanif. "Rempong dah pak ketua."
"Pak ketua tidak beli oleh-oleh buat ibu ketua?" sindir Pamela.
"Ibu ketuanya kan kamu."
"Pak ketua yang terhormat jangan ngomong asal. Ini Tanah Haram. Kalau kejadian, bagaimana?"
"Tidak mau ya jadi harim aku?"
"Yang kedua?"
__ADS_1
"Pengennya yang ke berapa?"
"Sudah ah, bercandanya jangan kelewatan."
Seandainya kejadian pun aku tidak menyesal, pikir Al konyol. Pamela cukup pantas jadi pendamping hidupnya. Hanya barangkali mesti berhenti jadi artis karena dia tidak mau pesona tubuhnya jadi santapan mata laki-laki lain.
"Kamu nyanyinya cuma di depanku nanti," kata Al. "Tidak untuk laki-laki lain."
"Pak ketua ini kenapa sih? Baru ditinggal sebentar saja sudah gatelan!"
"Laki-laki jangankan ditinggal-tinggal, dijaga 24 jam saja banyak lolos."
"Jadi ada rencana ambil madu?"
"Ada minat?"
"Cius?"
"Iyalah, masa iya dong? Duren saja dibelah, masa dibedong?"
"Terus Vidya yang ketiga?"
"Yang pertama saja belum resmi."
"Makanya jangan asal."
Al sendiri heran kata-kata itu mengalir begitu saja. Atau karena mulai sangsi dengan cintanya?
Kepergian Riany cukup mengganggu pikirannya. Seberapa dekat sebenarnya hubungan gadis itu dengan Faye? Sampai-sampai dia belum sempat untuk kembali?
Al bukan menolak mengurusi rombongan. Mereka bertanya-tanya kenapa ketua sangat betah di Riyadh padahal punya tanggung jawab di Makkah. Dia sudah kehabisan jawaban.
Barangkali Riany ingin menunggu sampai Faye keluar rumah sakit. Tapi itu tidak adil. Berapa banyak waktu yang dihabiskan? Atau ada hal lain? Tidakkah karena Lukman? Al segera membuang curiga yang tiba-tiba menerobos pikirannya.
Satu-satunya jalan adalah tidak peduli.
Acara belanja selesai. Petugas kargo menyodorkan daftar biaya yang harus dibayar. Al mengeluarkan beberapa lembar 500 riyal.
"Kamu tidak boleh begini terus," tegur Dinar halus. "Nanti kebiasaan."
"Ini duit Oma, kalau duit aku ya minta ganti."
"Royal sekali Oma."
"Menurut Kak Dinar harta bisa dibawa mati apa tidak?"
"Bisa. Banyakin sedekah."
"Nah, itu yang dilakukan Oma."
__ADS_1
Al menerima nota yang diserahkan petugas kargo. Lalu mereka kembali ke bis untuk melaksanakan shalat Maghrib di Masjidil Haram.