
Tiba di gerbang tiga Masjid Nabawi, Al menunjukkan angka yang terpampang di pilar gerbang. Rombongan pecah jadi dua, pria ikut Al, wanita ikut Aisyah.
"Habis shalat kumpul di sini ya," pesan Al sambil berjalan menuju pintu 1. "Jangan berpencar."
Air mata mendesak keluar saat Al memasuki Babussalam, saking rindunya ingin bertemu dengan Nabi, manusia pilihan yang diyakini kebenaran risalahnya semenjak dia mengenal huruf Al Qur'an.
Bibir Al bergeletar melantunkan shalawat Nabi yang tidak pernah lepas sejak memasuki kota ini. Menurutnya bacaan itulah yang paling pantas dilantunkan di kota Muhammad.
Askar berjaga-jaga di pintu masuk, di beberapa pintu kecil koridor, dan di pintu Raudhah. Penjaga tidak banyak. Tapi cukup sulit untuk lolos kalau membawa perempuan lewat pintu ini. Apalagi jamaah tidak padat.
Askar yang berdiri di depan pagar makam Nabi berteriak-teriak agar mereka tidak berhenti berdoa menghadap makam Nabi, "Haram! Haram! Haram!"
Askar menyuruh peziarah terus berjalan. Mereka sulit untuk melihat jelas makam Nabi karena terhalang dinding yang tinggi dan hanya disediakan lubang kecil untuk mengintip. Itupun sulit dilakukan karena terhalang pagar. Konon pagar itu dibangun karena ada peziarah yang coba-coba mengambil tanah makam lewat lubang kecil.
Selesai mengunjungi makam Nabi, Al membawa rombongan lewat depan masjid menuju ke pintu 4 untuk melaksanakan shalat Dhuhur. Pintu 2 dan 3 ditutup karena sudah penuh.
Dari pintu 4, Al berjalan menuju ke area pintu 17 yang kelihatan lengang. Mereka bisa saja berpencar di sekitar pintu 4, tapi dia tidak mau ambil risiko. Perlu waktu untuk memahami situasi masjid dan sekitarnya.
Di pintu 17 ini terdapat lokasi kajian agama dari ulama Indonesia hampir di setiap waktu shalat.
Pembatas shalat wanita dan pria terbuat dari bahan sejenis terpal berwarna putih dan bisa dibongkar pasang.
Keindahan Masjid Nabawi sulit dilukiskan dengan kata-kata. Baik eksterior maupun interiornya didesain dengan arsitektur dan teknologi yang menakjubkan dengan presisi dan kemegahan di segenap penjuru masjid.
Dari ukuran dan tinggi masjid, kubah, menara, halaman, kanopi, langit-langit, lampu-lampu, sistem pengeras suara, pendingin, dinding, lantai, pintu, tangga, pilar, bahkan karpet, semua memanjakan mata.
Selesai shalat Dhuhur dengan imam Syaikh Ali Hudhaify, dilanjut shalat mayit.
__ADS_1
Setelah berzikir dan shalat ba'diyah, Al meminta rombongan menunggu di sekitar Babussalam, sementara dia pergi ke pintu 25 untuk menjemput Oma.
Oma sudah menanti kedatangannya dan langsung menyambut ke pelataran begitu Al muncul. Aisyah mendampingi.
"Yang lain mana?" tanya Al.
"Ke Raudhah," sahut Aisyah. "Aku sudah kasih tahu mereka untuk menunggu di pintu 29 kalau sudah selesai."
Mereka berjalan lewat halaman utara di bawah payung besar yang melindungi dari terik matahari dengan pita biru melingkar di setiap sisi payung yang dapat mengurangi panas beberapa derajat Celcius.
Payung-payung itu dikendalikan secara otomatis, terbuka setiap Subuh dan tertutup menjelang Maghrib. Bila musim dingin payung ini tidak dibuka. Di dalam masjid ada 12 payung, terbuka jam 11.30 siang dan tertutup jam 6.30 sesudah Subuh.
Di titik-titik tertentu terpasang water pan sehingga menambah sejuk udara di halaman.
Dua orang askar berjaga-jaga di Babussalam, mengawasi peziarah yang berduyun-duyun memasuki koridor menuju makam Nabi.
Al dan Aisyah menghampiri askar, sementara Oma berkumpul dengan rombongan pria yang menunggu kesempatan. Aisyah bertanya sesuatu ke askar yang berjanggut tipis dalam bahasa Arab yang fasih, sementara Al menyapa askar yang berjanggut lebat lalu mengelus-elus janggutnya. Askar tertawa senang, padahal mengerti juga tidak bahasa Inggris.
Di Indonesia, perbuatan itu tentu saja kurang ajar, jangan coba-coba apalagi kepada preman, tapi di Arab adalah pujian.
Ketika lewat sudut matanya melihat Oma sudah masuk bersama rombongan, Al pamit dan masuk, sementara Aisyah berjalan lewat pelataran luar, dan berdoa agar strategi Al berjalan sesuai rencana.
Jujur Aisyah tidak mengerti Al bersikeras mengantar Oma menjumpai Nabi lewat pintu itu, padahal ada pintu lain. Cukup sepi pula. Barangkali Al ingin memenuhi harapan Oma untuk melihat makam Nabi secara jelas melalui lubang intai.
Al melakukan hal serupa untuk melewati askar yang berjaga-jaga di beberapa pintu kecil, mengobrol sambil mengelus janggut dengan posisi tubuh menghalangi pandangan mereka, sehingga Oma lolos dari pengawasan. Lalu dengan akrabnya Al menyapa askar berjanggut lebat yang menjaga makam Nabi, "Assalamu'alaikum. Lionel Messi. PSG."
Al mengelus-elus janggut askar. Lelaki bertubuh gempal itu bengong karena wajahnya rada jauh dengan Lionel Messi. Tapi Al berusaha meyakinkan askar sambil tertawa-tawa senang seolah bertemu dengan legenda Argentina itu, padahal nonton sepakbola saja tidak pernah.
__ADS_1
"Lionel Messi. PSG. Lionel Messi. I'm verry happy to meet you."
Al memeluk erat-erat tubuh askar. Dan askar terlambat sadar ketika Oma berhasil melewati pagar dibantu oleh rombongan, mengintip dari dekat makam Nabi lewat lubang kecil. Beberapa lamanya wanita itu dapat melihat makam Nabi secara jelas, menangis rindu, kemudian perlahan-lahan tubuh Oma menggelosor ke lantai.
Refleks Al melompati pagar dan meraih tubuh Oma sehingga kepalanya tidak terbentur ke lantai.
"Aku bahagia bisa bertemu dengan Muhammadku," bisik Oma dengan suara lemah. "Terima kasih, cah bagus."
Oma tersenyum dengan wajah bercahaya. Matanya perlahan terpejam setelah melantunkan kalimat tauhid.
"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un," bisik Al pilu. "Oma sudah meraih apa yang diimpikan selama ini, bertemu dengan bagindaku dan bagindamu."
Dengan segenap kekuatan yang tersisa Al bangkit membopong Oma dan segera membawa keluar menuju ke pos pertolongan darurat, Jebreel Health Center, yang tidak jauh dari pintu Baqi. Aisyah yang menunggu dekat pintu Baqi kaget dan bergegas mengikuti.
Aisyah berteriak ke petugas yang ada untuk segera menangani Oma. Rombongan berkerubung di luar dengan gelisah.
Segesit apapun Jebreel Health Center memberikan pertolongan, secepat apapun ambulans melarikan Oma ke rumah sakit King Fahd, sehebat apapun dokter Madinah itu berusaha menyelamatkan nyawanya, Al tahu Oma sudah pergi di depan penghulu para Ambiya.
Dokter yang menangani Oma mendatangi Al dan Aisyah yang menunggu di depan ruang ICCU. Dari wajahnya sudah kelihatan kabar apa yang akan disampaikan.
Dokter itu menggelengkan kepala sambil menepuk bahu Al dengan lembut seolah ingin memberi ketegaran.
"Maafkan kami," kata dokter dalam bahasa Indonesia yang lumayan fasih. "Tidak dapat menyelamatkan Oma."
"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un," bisik Aisyah tercekat. Air mata mengalir membasahi wajahnya.
Al bersandar lemah ke dinding. Mengatupkan mata menahan butiran air bening yang hampir jatuh.
__ADS_1
Sejak keberangkatan dari Indonesia, Al sebenarnya sudah ada firasat kalau kepergian Oma ke Tanah Suci ini adalah kepergian yang terakhir. Kata-kata Oma demikian ganjil, keinginannya juga. Maka itu Al ingin selalu bersama Oma, di masa-masa terakhirnya.
"Selamat jalan, Oma," bisik Al pedih. "Semoga engkau mendapat apa yang dicita-citakan dari akhir kehidupan manusia."