Cinta Untuk Gadis Madinah

Cinta Untuk Gadis Madinah
Episode 75


__ADS_3

Al bersama Ridwan dan Nidar sudah berada di kebun jagung satu jam lebih awal. Mereka bersembunyi di sekitar jembatan gantung.


Sulit mengetahui situasi di seberang jembatan. Cahaya bulan terhalang rimbunnya pepohonan. Jalan setapak remang-remang. Sunyi lengang.


Al berlari laksana kilat melintasi jembatan gantung. Selang kemudian menyusul Ridwan, terakhir Nidar.


Mereka menunggu beberapa lamanya di tempat gelap. Tidak ada orang membuntuti. Kemudian mereka berjalan melewati area yang gelap.


Mereka menghindari jalan yang terang. Sekecil apapun cahaya dapat membuat mereka terlihat oleh musuh yang mungkin mengintai di sekitar hutan.


Mereka menyandang pedang tumpul bermata dua. Pakaian serba hitam ala Ninja.


Mata Al yang tajam dapat melihat ada orang berpakaian serba gelap di balik sebuah pohon sedang mengintai ke arah bukit.


Al mendekat lambat-lambat tanpa menimbulkan suara. Tiba di belakangnya, dia baru dapat mengenali siapa orang itu.


Al memanggil dengan suara pelan, "Mang Kirman."


Pria itu menoleh dan menatap wajah Al lamat-lamat. Nidar dan Ridwan mengurung sehingga tidak mungkin lolos kalau Mang Kirman berniat kabur.


Al membuka kain penutup wajahnya supaya dapat dikenali. "Aku datang memenuhi undangan."


Mang Kirman tersenyum senang. "Kau rupanya, berarti kau baca pesanku."


"Siapa Mang Kirman ini sebenarnya? Tidak ada orang yang berani lewat jalan ini malam-malam kecuali sudah bosan hidup."


"Aku Letnan Sukirman dari Polda."


"Jadi bukan mata-mata Ben Muzakir atau rampok?"


"Justru aku lagi memata-matai mereka."


"Aku tidak percaya."


"Kalau tidak percaya, mestinya kau babat aku saat lengah tadi."


"Aku tidak biasa membawa senjata tajam."


"Di punggungmu?"


"Pedang tumpul, biasa buat latihan di pesantren."


"Mereka semua berpedang tajam. Bagaimana kau bisa bantu aku?"


Dengan gerakan kilat Al mencabut pedang dari serangkanya dan tahu-tahu sudah menempel di leher Letnan Sukirman. "Pedang ini bisa membuat kepala menggelinding karena tajamnya keadilan."


"Mahasiswa tidak akan berani memenggal polisi karena suatu saat kau bisa berada di posisiku," sahut Letnan Sukirman tenang. "Maka itu polisi jadi sahabat."


"Aku perlu bukti kalau kau adalah polisi yang menyamar."


Letnan Sukirman mengeluarkan lencana dari balik blazer. "Menurutmu ada rampok yang punya lencana ini?"


"Ada, kalau rampoknya polisi."


"Bisa juga kau."


Al memasukkan lagi pedang ke sarungnya. Sementara Letnan Sukirman melanjutkan pengintaian menggunakan teropong. Rumpun semak di sisi tebing bergerak membuka lalu keluar kawanan rampok ala Ninja. Semak itu adalah penutup mulut gua.


"Ternyata informasi yang kudapat benar," kata Letnan Sukirman. "Markasnya ada di kaki bukit ini."


Al memandang tak mengerti. "Markas apa?"

__ADS_1


Letnan Sukirman menyerahkan teropong. Al arahkan ke sekitar tebing. Ada kurang lebih tiga puluh orang berbaju hitam berjalan mengendap-endap.


"Belum pernah aku lihat kawanan rampok sebanyak ini."


"Semua berjumlah tiga puluh lima orang, beroperasi di berbagai wilayah. Tapi yang lima orang sudah tewas di tanganmu."


"Lalu?"


"Malam ini mereka akan operasi besar-besaran."


"Di mana?"


"Rumahmu."


Al kaget. "Rumahku?"


"Mereka ingin merampok sekaligus balas dendam. Maka itu mereka kerahkan semua kekuatan."


"Seharusnya letnan minta bantuan pasukan."


"Informasi yang kuperoleh meragukan. Maka itu aku cari orang yang memiliki kemampuan terbaik di kampung ini. Lekas kalian hadang di kebun jagung, daerahnya cukup terang."


"Ya."


"Sanggup menghadapi tiga puluh orang?"


"Yang jelas mereka tidak akan kubiarkan memasuki rumahku. Mereka akan kukirim ke penjara."


"Bagus."


"Letnan sendiri akan pergi ke mana?"


"Menangkap gembongnya."


Sementara itu kawanan rampok berlari menerobos rumpun semak. Sesekali melompati akar pohon yang bertonjolan. Bergerak dengan sebat menuju ke jembatan gantung.


Kebun jagung kelihatan menghijau terkena cahaya rembulan. Suasana sangat sunyi. Angin bersemilir bisu.


Tiba-tiba dari seberang sungai orang-orang berpakaian Ninja melesat satu per satu melintasi jembatan gantung dan masuk ke kebun jagung.


Mereka bergerak dengan cepat di antara tanaman jagung menuju kebun pisang penduduk. Tiba-tiba Nidar bangkit berdiri di sela-sela batang jagung menghadang mereka sambil memegang pedang tumpul


Kawanan rampok berhenti bergerak. Mereka terperangah melihat puluhan pemuda mantan pasukan bandring tiba-tiba bermunculan di antara tanaman jagung mengepung mereka. Masing-masing memegang tongkat panjang.


Ridwan berdiri di muka jembatan. Al tidak kelihatan.


Kawanan rampok itu tidak dapat dikenali karena memakai penutup kepala, kelihatan matanya saja. Mereka saling pandang dan dapat diterka kalau mereka agak gentar menghadapi murid dari perguruan silat terkenal di kampung ini.


Satu-satunya jalan adalah berusaha kabur. Maka itu mereka menyerang barisan Ridwan yang menghalangi jembatan gantung. Yang lain datang membantu.


Karena kalah jumlah, sehebat apapun serangan mereka dapat dipatahkan oleh para pemuda yang memegang tongkat. Beberapa rampok pingsan menerima pukulan tongkat bertubi-tubi. Sebagian lagi dapat bertahan lumayan lama, tapi akibatnya lumayan parah, ambruk tak sadarkan diri dengan tubuh luka parah.


Beberapa orang dapat lolos dari kepungan. Mereka berlari melintasi jembatan gantung. Tapi di seberang Al sudah melompat dari dahan pohon dan berdiri menunggu.


Dalam beberapa jurus satu per satu dapat dilumpuhkan dengan kaki patah terbabat pedang atau tendangan sabitnya.


"Sebagian ikut aku!" teriak Ridwan.


Ridwan berlari melintasi jembatan gantung diikuti yang lainnya. Nidar bersama sekelompok pemuda yang tersisa mengurus kawanan rampok yang bergeletakan. Sementara Al sudah pergi lebih dulu.


Kedatangan Al di pesantren tepat disaat-saat genting. Letnan Sukirman babak belur dikeroyok belasan santri, tapi dia berusaha melawan mati-matian karena jalan keluar terkepung. Sedangkan Ben Muzakir berdiri dengan pongahnya bersama sekelompok santri senior menonton perkelahian yang tidak seimbang itu.

__ADS_1


"Hentikan!" Tiba-tiba berkumandang teriakan Al di belakang santri yang menghalangi pintu gerbang.


Serempak mereka menoleh. Perkelahian berhenti.


Ben Muzakir turun dari beranda dan melintasi halaman diikuti rombongan santri senior.


Santri di pintu gerbang menyingkir memberi jalan.


Sekilas Ben Muzakir memperhatikan keadaan di luar pintu gerbang, tidak ada orang. Mungkin bersembunyi di balik pepohonan dalam hutan yang memisahkan pesantren dengan perkampungan.


Ben Muzakir tidak gentar. Dia memandang Al sambil tersenyum sinis. "Ada apa calon pengantin datang ke pesantrenku?"


"Santrimu sudah memukuli polisi. Kalian tidak takut dijebloskan ke penjara?"


"Letnan Sukirman sudah berbuat kurang ajar di pesantrenku, menuduh Babe sebagai gembong rampok."


"Kau tidak tahu siapa ayahmu. Dia orang yang paling dicari di kabupaten ini."


"Jangan menghina Babe," geram Ben Muzakir.


"Orang-orangnya sudah dilumpuhkan di kebun jagung."


Ben Muzakir memandang Al dengan marah. "Kau tahu siapapun yang berani merendahkan Babe, harus meninggalkan nyawanya di sini."


"Kau anak yang berbakti, tapi baktimu sia-sia."


Ben Muzakir menahan santri senior yang hendak menyerang dan meminta mereka mundur dengan bahasa isyarat, tanpa sedikitpun melepaskan tatap matanya ke Al, sarat kebencian.


"Ini pertarungan yang kutunggu-tunggu. Aku bersumpah, Riany tidak dimiliki oleh kau atau aku. Sebentar lagi kau akan mampus di tanganku dan aku tinggal di penjara seumur hidup."


"Keluarkan seluruh kemampuanmu, jangan sampai terkencing-kencing seperti masa lalu."


Ben Muzakir mendengus sinis. Diawali dengan salto di udara, dia kirimkan secara beruntun serangan pukulan kilat. Al menangkis dengan tenang. Kemudian Ben Muzakir melayangkan tendangan gantung, Al mundur selangkah. Disusul dengan tendangan melingkar secara cepat, Al mengelak.


Ben Muzakir secara bertubi-tubi melancarkan kombinasi serangan pukulan dan tendangan. Al berusaha berkelit. Dalam suatu variasi serangan, pertahanan Al akhirnya jebol juga, dadanya terhantam tendangan jejag.


Al terpental ke belakang. Santri-santri bertepuk tangan.


Ben Muzakir merapikan jubah dan berdiri dengan pongah. "Silatmu tidak sehebat di masa kecil, apa keremajaanmu sudah terenggut oleh Riany?"


Al segera bangkit. Darah meleleh di sudut bibirnya. Ridwan dan kawan-kawan datang.


Al menahan Ridwan yang hendak bantu menyerang. "Ini pertarungan yang dinanti-nantinya. Dia ingin membunuhku tapi malah mengelus dadaku."


Al menyapu darah di sudut bibir dengan jempol. Lalu dia melompat tinggi-tinggi ke udara membuat gerakan salto berulang, dan mengirim serangan kombinasi dengan sebat; tendangan belakang, tendangan sabit kanan kiri, pukulan kepalan dan telapak, tendangan jejag dan gantung.


Ben Muzakir tidak dapat bertahan. Sebuah tendangan gantung menghantam dagu disusul tendangan jejag ke dadanya.


Ben Muzakir terpental dan hanya mampu bangkit duduk. Serta merta santri senior maju menyerang. Ridwan dan kawan-kawan datang menyerbu. Tapi pertarungan massal tidak sampai terjadi, beberapa polisi berpakaian preman tiba-tiba muncul dan buang tembakan ke udara.


Santri-santri senior berhenti menyerbu. Ridwan dan kawan-kawan juga.


"Selangkah lagi kalian maju, kami terpaksa bertindak tegas," ancam komandan polisi. "Kalian adalah orang-orang baik yang dimanfaatkan untuk melindungi kejahatan."


Santri-santri itu diam terpaku. Letnan Sukirman dan Kyai Rojali muncul menggiring Babe bersama seorang temannya.


"Sudahlah, anak-anakku," kata Kyai Rojali getir. "Melindungi orang bersalah adalah melawan hukum."


"Babe...." Ben Muzakir tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Dia kelihatan sangat terpukul.


"Hiduplah bersama Kyai Rojali, Nak," kata Babe hancur. "Beliau akan menjagamu dari kemunkaran."

__ADS_1


Babe dan temannya digiring keluar pintu gerbang.


__ADS_2