
Vidya tidak terima hanya gara-gara penampilan, Al menolak ta'aruf. Banyak laki-laki yang mengagumi penampilannya, sekalipun tidak sedikit yang mengkritik. Pro dan kontra itu biasa. Kalau tidak cocok, bisa dibicarakan.
Maka itu Vidya mencari Al. Dia sudah dua kali kecolongan. Waktu anak-anak, terlambat menjadikan Al sebagai raja kecil. Sekarang Riany mencuri start! Entah kapan ta'arufnya, tahu-tahu minggu ini mereka akan menikah!
Siang itu Al berada di sekitar tebing sungai, berdiri merenung sambil memandang ke permukaan sungai.
Sungai yang di masa kecil jadi kolam renang terpanjang di dunia kini airnya sangat kotor bergelimang sampah, menebar aroma tidak sedap. Limbah masih jadi persoalan di negeri ini.
Sungai adalah barometer kenakalan anak-anak. Dan hanya Al yang berani menyelam di lubuk yang konon ada buayanya. Anak-anak jaman sekarang tentu lebih suka bermain di water boom. Lagi siapa yang sudi berenang di air sekotor ini?
"Ingat masa anak-anak?" Vidya muncul dan berdiri di sampingnya.
"Bersyukur aku lahir lebih awal," gumam Al kelu. "Bisa berenang di air yang jernih."
"Masih suka renang?"
"Bukan di sungai."
"Di lumpur Lapindo?"
"Lapindo bukan di Yogya kali."
"Belum sampai ya?"
"Jangan deh."
"Di Waduk Mini Kleco?"
"Di kolam renang."
"Kirain di dada aku."
"Kata-katanya nantang banget."
"Sengaja."
"Sewaktu kecil kamu itu alim."
"Karena tidak ada duit buat nakal."
"Kalau kamu nakal, justru banyak duit."
"Jadi PSK?"
"Astaghfirullah."
"Hanya buat kamu."
"Aku tidak suka jajan."
"Masih ori."
"Sekalipun ori."
"Cuma soal singkatan."
"Singkatan jadi soal."
"Menurutmu PSK apa?"
"Petugas Seksi Konsumsi."
"Perempuan Suci Kaleee."
"Suka-suka deh."
"Terus terang aku kaget banget mendengar kamu akan menikah akhir minggu ini."
"Untuk itu kamu menemui aku?"
"Kalian nikah dadakan banget. Ada kejadian apa di Saudi?"
"Aku sudah kenal Riany sejak kecil, jadi buat apa ta'aruf lama-lama?"
"Kok tidak bilang dulu ke aku?"
"Mesti ya?"
"Setidaknya kamu kasih aku kesempatan."
"Pandangan kita fundamental sekali bedanya."
"Bisa kita bicarakan."
"Seharusnya saat itu kau jelaskan."
"Butuh waktu buat berpikir."
"Sudah terlambat."
__ADS_1
"Tidak ada kata terlambat."
"Nyatanya?"
"Asal kamu tahu ya," sambar Vidya kesal. "Pernikahan kalian membuat si Ben menunggu jandanya dan aku menunggu dudanya."
"Banyak yang antri ya."
Vidya pergi dengan marah. Sekilas dia menengok ke Riany yang baru datang bersama Nidar dan Ridwan.
"Kenapa tuh anak?" cetus Nidar. "Mukanya kayak tikar habis dijemur, dilipat-lipat."
Ridwan memalingkan muka Nidar yang memperhatikan kepergian Vidya. "Kelamaan. Pertama kali lihat halal, dua kali dosa."
"Mubazir."
"Vidya banyak berbuat mubazir."
"Kayak habis berantem," komentar Riany seraya menatap Al sekilas. "Ada apaan sih?"
"Kepo."
"Rahasia ya?"
"Sudah tahu nanya."
Riany merengut manja. Al menjelaskan, "Vidya ingin ta'aruf."
"Ta'aruf saja."
"Benar nih?" Al mengeluarkan handphone dan menekan beberapa tuts angka.
"Ngapain?" tanya Riany ingin tahu.
"Ngebel Vidya."
Riany merebut handphone itu, lalu menghapus nama Vidya dari daftar.
"Sekalian Aisyah sama Lin Wei."
Riany mencari-cari nama itu. Al mengambil handphone di tangannya.
"Ngambeknya gak asyik."
"Kita nikah dalam hitungan hari, kamu masih saja mikirin perempuan lain."
"Itu."
"Cuma ngasih tahu."
"Biar dibilang laris?"
"Biar kamu menjaga suami baik-baik."
Al melayangkan pandang ke areal persawahan di seberang sungai yang berujung pada sebuah perkampungan di kaki bukit. Sebuah jembatan menghubungkan jalan raya antar kampung yang lenyap di balik bukit.
"Ada yang pura-pura membersihkan rumput di kebun jagung," kata Al pelan. "Kalian kenal?"
Mereka menoleh sekilas ke belakang.
"Itu Mang Kirman," sahut Nidar. "Dia biasa cari upahan membersihkan kebun."
"Ngomongnya pelan-pelan."
"Kenapa?"
"Orang itu mengikuti aku sejak keluar dari perkampungan dan sudah satu jam di situ."
"Mang Kirman santrinya Kyai Rojali."
"Berarti tiap hari pergi ke pesantren Ben Muzakir?"
"Menjelang Maghrib pergi ke pesantren, kadang pulang setelah Subuh."
"Pesantrennya ada di kaki bukit itu ya?"
"Betul."
Ridwan menatap Al dengan heran, "Buat apa tanya pesantren si Ben?"
"Untuk itu kita kumpul di sini."
"Maksudnya?"
"Driver trailer yang terjatuh ke jurang berasal dari kampung itu, tetangga korban bom paku."
"Lalu apa hubungannya sama pesantren si Ben?" selidik Riany ingin tahu.
"Mereka santrinya Kyai Rojali. Aku curiga kawanan rampok menyusup ke pesantren dan memanfaatkan Ben Muzakir."
__ADS_1
"Kampung Ben paling aman."
"Jangan-jangan satu kampung rampok semua."
"Lebay."
"Selain jembatan itu ada jalan pintas menuju kampungnya Ben?"
"Di kelokan sungai ada jembatan gantung," jawab Nidar. "Mang Kirman biasa lewat situ. Cuma kalau malam tidak ada yang berani, soalnya tidak ada perkampungan."
"Tapi Mang Kirman berani?"
"Mang Kirman katanya mantan jawara."
"Sejak kapan Mang Kirman ada di kampung kita?"
"Sejak rumahnya di kota kena gusur. Hartanya ludes di botol minuman dan perempuan."
"Lalu hijrah?"
"Ya."
"Agama seolah markas pendosa."
"Karena Allah Maha Pengampun."
"Cerita Mang Kirman itu baru katanya," tukas Riany. "Entah benar entah tidak."
"Jadi tidak ada yang tahu persis?"
"Orang kecil di kampung ini terlupakan," cetus Nidar. "Tidak ada yang ingin tahu."
"Buktinya aku ingin tahu isi dompetmu," sindir Al. "Baru tiga hari loh kita pulang?"
"Sedekah kok diingat-ingat?"
"Sekedar membuktikan kata-katamu itu tidak berlaku secara umum."
"Nah, terus apa rencana kamu?"
"Selepas Isya kamu sama Ridwan ikut aku ke pesantren itu."
Ridwan menoleh dengan kaget. "Buat apa?"
"Membebaskan kamu."
"Aku sudah bebas."
"Bebas dalam arti yang sesungguhnya. Kita cari bukti di pesantren Ben."
"Kalau cari bukti mestinya di TKP."
"TKP dalam pengawasan kepolisian. Komplotan rampok tentu menyingkir untuk sementara."
"Bersembunyi di pesantren Ben maksudnya?"
"Di mana lagi? Persembunyian orang kotor yang paling aman adalah di tempat suci."
"Bagaimana caranya kita mengetahui ada penyusup? Santrinya kan banyak?"
"Kita awasi saja dari kejauhan, semalam suntuk."
"Terus tugasku apaan?" tanya Riany. "Menyiapkan kopi buat begadang kalian?"
"Tugasmu adalah mengalihkan perhatian karena setiap gerak-gerik kita ada yang mengawasi. Tentu kamu belum lupa kalau pasangan yang akan menikah suka melempar sesajen ke lubuk itu agar dilanggengkan."
"Sekarang tidak lagi."
"Buaya jadi-jadian sudah pindah mangkalnya di diskotik mewah di ujung kampung," tambah Nidar. "Maka itu Pamela sering kesurupan, teriak-teriak sambil jentrak-jentrik semalam suntuk."
"Mang Kirman mendekat," bisik Al. "Dia sepertinya ingin menguping obrolan kita."
"Curigamu sama Mang Kirman kurang masuk akal," sanggah Ridwan. "Dia muadzin di pesantren Ben Muzakir."
"Masuk akal atau tidak perlu kita buktikan. Banyak peristiwa yang kita anggap tidak masuk akal jadi masuk akal, dan akhirnya viral."
"Tapi masa iya jadi mata-mata rampok?"
"Aku tidak tahu Mang Kirman mata-mata siapa, Ben Muzakir atau rampok?"
Al pergi meninggalkan sungai. Mang Kirman sudah tidak ada di kebun jagung. Ada yang menarik perhatiannya di tanah yang dibersihkan. Di tanah itu terdapat goresan tanda panah yang mengarah ke jembatan gantung dan beberapa angka di bawahnya sebagai penunjuk waktu.
Al memicingkan mata berpikir. Kemudian berjalan mendekat dan menghapus tanda itu dengan kakinya. Riany yang tiba belakangan heran.
"Ada apa?" selidiknya.
Al angkat bahu sedikit, dan bergegas pergi dari kebun jagung.
Riany memandang Nidar dan Ridwan bergantian. Mereka geleng kepala tidak tahu.
__ADS_1