Cinta Untuk Gadis Madinah

Cinta Untuk Gadis Madinah
Episode 50


__ADS_3

Al dan Oma keluar dari dalam kamar. Dua gadis berhijab itu tersenyum manis. Al menyodorkan obat dan botol zam zam ke Riany, sedangkan tas Oma diserahkan ke Aisyah.


Riany menelan obat dan mendorong dengan air zam zam. Nikmat rasanya.


Mereka pergi ke pintu lift. Di dalam lift, Al biarkan Aisyah berdekatan dengan Riany. Sementara dia berdiri di pojok lain bersama Oma.


"Jangan lupa waktu shalat." Al mengingatkan. "Saking asyiknya jalan-jalan, nanti tidak keburu ke Masjidil Haram, rugi besar."


"Iya."


"Uang buat belanja, jajan, Al titipkan ke Kak Dinar. Dia nanti yang mengurus semua keperluan Oma."


"Oma bisa urus sendiri."


"Oma jangan membuat Al kuatir."


"Oma kan masih bertenaga. Sehat."


"Yang bilang Oma sakit-sakitan siapa?"


"Lalu kenapa uangnya tidak kamu serahkan ke Oma? Kasihan Dinar repot nanti."


"Oma," kata Al sabar. "Berapa kali uang Oma hilang karena lupa naroh? Kalau ketemunya sama orang baik-baik, jadi pahala. Nah, kalau sama orang radikal? Mau Oma dituduh mendanai pengeboman?"


Oma terkena gejala alzheimer. Kalau lupa meletakkan barang, tidak masalah. Yang berabe, mendadak merasa tersesat di tempat yang tidak asing. Jadi Oma perlu dikawal ke manapun pergi.


Aisyah dan Riany saling curi pandang, agak canggung membuka obrolan di hadapan Al.


Al bertanya ke Aisyah, "Sudah baca chat-ku?"


Aisyah mengangguk. "Sudah. Tapi chat yang mana?"


Aisyah seakan sengaja ingin membuat Riany cemburu dan tentu saja berhasil, cemburu itu tersembunyi rapat-rapat di balik bola matanya yang menawan.


"Chat terakhir."


Di chat itu terdapat informasi lokasi yang perlu dikunjungi, favorit Oma dan Opa.


Angka digital menunjukkan lantai 33. Pintu lift terbuka, Dinar sudah menunggu di luar dengan senyum ceria, lalu masuk.


"Hati-hati ya, cah bagus."


"Oma juga."


Al dan Riany keluar. Pintu lift tertutup. Kalau boleh memilih, Al sebenarnya lebih suka pergi bersama Oma. Hatinya jadi tenang. Tapi dia tidak bisa meninggalkan rombongan karena kondisi Riany lagi drop. Jika sampai ke telinga Ibu, tamat riwayatnya.


Al tahu kepada siapa minta bantuan, perempuan yang sudah tidak asing dengan wisata rohani dan lebih suka jalan-jalan di mall. Dia memberi kebebasan kepada Dinar buat belanja.


"Bagus ya," gerutu Riany ketus. "Jadi selama aku pergi kerjaannya chatting sama Aisyah."


Al usap-usap kepala. "Jadi aku yang salah? Padahal yang jelas-jelasan pergi berdua naik taksi siapa?"


Riany menyodorkan handphone. "Lukman duduk samping sopir, aku sendiri di belakang. Ada videonya. Tujuh jam nonstop. Ada juga video lain selama aku di Riyadh. Aku tidak bawa pendamping, jadi HP ini pendampingku. Kamu ada bukti...gak mepet Aisyah?"


"Ada pendampingmu, gahar banget."


"Peres. Ada Aisyah saja aku tidak dikasih tahu. Jangan-jangan kalian sekongkol."

__ADS_1


"Bisa ya punya pikiran seperti itu?"


"Pengen lihat gak?" desak Riany. "Periksa juga chat, galeri, nomor kontak, pokoknya semua."


"Kamu ini kenapa sih?"


"Atau begini saja. Kita tukeran HP selama di Saudi, berani?"


Tentu saja Al tidak berani. Nomor kontak banyaknya perempuan karena yang aktif di kegiatan masjid mayoritas perempuan. Dia tidak menghapus histori chat yang lumayan banyak, padahal belum lama pegang gadget. Dan yang rajin chat adalah Aisyah, Lin Wei, dan Wulandari.


"Tidak berani?" tatap Riany separuh melecehkan. "Berarti ada apa-apanya di gadget kamu."


"Curang."


"Kok curang?"


"Yang rahasia-rahasia pasti sudah kamu hapus."


"Kamu bisa lacak historinya. Aku ajari kalau tidak tahu caranya. Asal tahu saja, HP ini dibeli sejak pertama masuk kuliah dan belum ada satupun data yang dihapus."


"Kamu pasti ingin menyerahkan tanggung jawab rombongan ke aku, karena semua daftar kontak mereka ada di HP kamu."


"Banyak ngeles."


Kalau akhirnya Al bersedia tukaran handphone, ada rasa penasaran sebenarnya untuk tahu lebih banyak kehidupan pribadi Riany. Di handphone-nya memang banyak chat tentang cinta, rindu, dan kata-kata mesra, tapi tak pernah ditanggapi. Risikonya paling di-bully.


Riany tersenyum berlumur madu. "Aku tersanjung kamu bersedia tukeran HP. Dan aku bahagia banget kamu tidak memilih pergi bersama Aisyah."


"Aku ingin mengangkat satu dosa dari hatimu."


"Curiga."


"Aku percaya sama kamu."


"Terus ngapain ngajak tukeran HP?"


"Aku ingin kamu percaya penuh sama aku. Seluruh kehidupanku ada di HP itu."


Riany senang Al memberi kesempatan buat memperbaiki kesalahan. Kalau pemuda itu posesif, mungkin ta'aruf sudah tutup buku.


Atau di hati Al tidak ada cemburu? Tidak ada cinta? Dia sekedar menghormati perjanjian Ayah dan Abi? Karena perkawinan mereka adalah jalan terbaik untuk menyelamatkan kampung dari perpecahan.


Dia tidak peduli dengan apa yang namanya cinta. Banyak rumah tangga tidak didasari oleh cinta berjalan langgeng. Cinta kepada manusia kelihatannya tidak mendapat tempat istimewa di hatinya.


Sementara Aisyah setia menunggu, dan menunggu bagi perempuan tidak perlu berharap Al jadi duda. Cukup bersedia membuka hati.


Aisyah dan Lin Wei adalah perempuan yang unik. Wulandari juga mungkin. Mereka tidak ingin bersaing, tapi ingin berbagi. Setiap saat Riany bisa kehilangan separuh cinta Al. Tak peduli dia rela berbagi atau tidak. Kenyataan ini membuatnya kuatir, karena dia hanya punya satu cinta untuk satu laki-laki.


Rombongan sudah berkumpul di koridor kamar siap berangkat ketika mereka tiba.


"Baiknya kamu tidak usah ikut," kata Irma ketika Riany masuk ke dalam kamar mengambil tas mungil. "Kau lagi sakit."


"Sudah baikan kok," jawab Riany. "Lagi di kamar bete sendiri."


"Apa pengen ditemenin Al?"


"Aku bukan Zakariya," sahut Al. "Manusia pilihan yang suci mata dan hati."

__ADS_1


"Dan aku bukan Maryam," balas Riany. "Yang bisa menjaga mata dan hati karena setia pada Tuhannya."


"Iya, iya," sahut Irma pusing. "Asal jangan Abu Lahab dan Ummu Jamil."


"Lagi kalau kalian tidak pergi, terus yang mandu kita siapa?" sambar Pamela. "Pak Hanif? Keluar hotel saja keder!"


Rombongan turun ke lantai dasar lewat beberapa lift, lalu pergi ke terminal Jiad.


Tiba di terminal mereka masuk ke bis yang tersedia. Al memberi uang tip 1.000 riyal kepada sopir. Kalau tidak dikasih, kadang bawa mobil gila-gilaan, lupa menginjak rem. Sekali injak rem di lampu merah.


Uang 1.000 riyal cukup untuk membuat mereka puas di perjalanan dan sampai di Jabal Rahmah dengan nyaman.


Jabal Rahmah terletak di sebelah timur Padang Arafah. Tingginya sekitar 70 meter. Bukit ini diyakini sebagai tempat pertemuan Adam dan Hawa setelah sekian lama diturunkan ke bumi, konon Adam diturunkan di India dan Hawa di Irak.


Di puncak bukit dibangun tugu persegi empat dengan lebar 1,8 meter dan tinggi 8 meter.


Bukit ini merupakan tempat turunnya wahyu terakhir tatkala Nabi melakukan wukuf.


Di lokasi ini terdapat unta bagi para wisatawan yang ingin coba menunggangi atau foto-foto. Tarifnya antara 5 sampai 10 riyal.


Terdapat pula pedagang suvenir berbagai barang, mulai batu cincin, peci, tasbih, sorban, dan pernak-pernik lain. Umumnya para pedagang adalah pendatang dari Afrika.


Riany lumayan berkeringat menaiki 168 anak tangga untuk mencapai puncak bukit. Dia mengenakan topi lebar melindungi kepala dari teriknya matahari. Banyak pula yang membawa payung.


Tiba di puncak, Al melepaskan pegangan tangan Riany. Sekalipun terhalang kurta, dia anggap kurang elok. Kalau dari lembah dibiarkan berpegangan, sebab gadis itu butuh bantuan. Kondisinya kurang prima.


Pak Hanif dan istri berfoto bersama di tugu, kemudian menuliskan nama di bebatuan agar diberi kelanggengan cinta. Padahal terpampang peringatan di tugu agar tidak mengkultuskan bukit ini.


"Saya kan sudah bilang, Pak Hanif," tegur Al halus. "Kita ini tamu Allah. Masa menggantungkan harapan sama tugu dan batu?"


"Doanya kepada Allah," kilah Pak Hanif. "Kalau kita foto berdua dan menuliskan nama di batu, konon akan bersatu selamanya."


"Kalau fotonya tidak rusak dan batunya tidak hancur."


"Belum dengar kabar ya," kata Bu Hanif. "Pak Kades jadi kepala desa karena fotonya ditempel di tugu."


"Kenapa tidak sekalian tempel di puncak tugu, biar jadi presiden?"


"Kids jaman now susah dibilanginnya."


"Saya hanya tidak mau tugu dan batu jadi berhala."


Dari puncak bukit terlihat Padang Arafah yang menghijau ditanami pepohonan dengan jarak yang teratur. Kosong tak berpenghuni. Di kejauhan tersuguh Masjid Namira yang indah dengan enam menara besar.


"Jadi berhala gak ya kalau aku ingin foto berdua di tugu buat kenang-kenangan?" lirik Riany separuh menggoda.


"Asal jangan jadi fantasi."


Sementara Eyang Munzir naik onta keliling bukit, yang lain ada yang tawar-menawar suvenir atau shalat sunah di bebatuan.


Nek Surti foto-foto bersama onta dengan berbagai gaya. Saat itu Eyang Munzir selesai berkeliling dengan ontanya, turun dekat Nek Surti.


"Pasangan yang serasi," sindir Eyang Munzir. "Sama-sama makhluk purba."


"Mendingan ussie sama onta daripada kakek-kakek kepo."


Nek Surti bergaya dekat mulut onta yang celangap.

__ADS_1


__ADS_2