Cinta Untuk Gadis Madinah

Cinta Untuk Gadis Madinah
Episode 109


__ADS_3

Ada apa dengan sinar matanya? Apa terlalu menjijikkan untuk dilihat sehingga Aisyah membencinya? Sesuatu yang normal jika Al memikirkan apa yang terjadi padanya.


Aisyah adalah sahabat yang mendukung secara finansial dan spiritual setiap kegiatan keagamaan yang diselenggarakan di kampus.


Al pasti banyak menemui kesulitan dalam menyelesaikan studi tanpa bantuan darinya.


Aisyah selalu hadir disaat kiriman orang tuanya tidak memadai untuk biaya hidup yang makin melonjak. Ayah kira kehidupan di Yogya seperti kehidupan di jamannya, sehingga mengirim uang entah dengan tolok ukur yang mana.


Aisyah membuat dirinya berharga dengan pakaian bermerek dimana mereka menghormati orang lain dari penampilan. Jangan lihat orang dari casingnya adalah idiom semu yang kadang menerpanya.


Salahkah Al kalau menaruh simpati pada gadis yang sudah berjasa besar dalam hidupnya?


"Seandainya tidak ada Riany, kamu adalah perempuan yang paling berharga di dalam hidupku," kata Al. "Salahkah aku merasa prihatin atas apa yang terjadi padamu?"


"Tatap matamu seolah aku ini anjing buduk yang patut dikasihani," ujar Aisyah dingin. "Jadi kau mengenalku hanya secara fisik selama ini? Saat keadaanku mengalami perubahan, maka sikapmu juga berubah."


Al jadi serba salah. Dia sulit untuk tidak terpengaruh dengan petaka yang menimpanya. Manakala hal itu dianggap berlebihan, dia tidak tahu apakah harus bersedih atau tertawa saat ini.


"Perlakukan aku seperti biasa," pinta Aisyah. "Aku mau orang-orang di dekatku tidak menganggap aku beban karena keadaan kakiku."


"Aku tidak pernah menganggap kamu beban," sanggah Al. "Tapi aku tidak bisa memperlakukan kamu sebagaimana biasa karena keadaanmu tidak biasa."


Aisyah terdiam. Air mata meleleh membasahi wajahnya. Di hatinya berkecamuk perasaan yang membuatnya tak henti bertanya; mengapa musibah ini terjadi padanya sehingga dia tak bisa hidup tanpa pertolongan orang lain?


Kehidupannya sangat bergantung pada perhatian orang lain! Untuk pindah duduk saja dia butuh bantuan orang lain!


Al mengambil tissue di meja belajar dan diserahkan pada Aisyah untuk menghapus air matanya.


"Jangan menangis di hadapanku," kata Al. "Aku paling tidak tahan melihat air mata perempuan, dan aku bisa melakukan segalanya untuk menghapus air mata itu."


Aisyah segera mengeringkan wajahnya. Dia berusaha untuk tidak menangisi jalan hidup yang mesti ditempuhnya. Dia tak pernah menggugat pada khaliknya atas apa yang terjadi. Dia mencoba tabah menjalani karena semua pasti ada hikmahnya.


Aisyah tahu Al tidak main-main dengan ucapannya. Pemuda itu pernah menghajar sekelompok preman karena membuatnya menangis. Dia merasa aman dan terlindungi berada di sisinya.


"Aku minta kamu jangan baper," ujar Al. "Aku tidak pernah memandang kamu seperti anjing buduk yang perlu dikasihani. Kau tidak ingat, dulu untuk mengambil buku di depanmu kau minta bantuan aku, mengapa sekarang bicara soal anjing buduk disaat kamu betul-betul butuh pertolongan?"


Aisyah tersenyum sedikit. "Saat itu aku pengen dimanja."


"Nah, sekarang kenapa tidak mau dimanja disaat kamu benar-benar perlu perhatian? Aku ingin melihatmu tersenyum dan selalu ingin melihatnya, setiap hari."


Wajah Aisyah kembali berawan seakan kata-kata itu menyadarkannya pada suatu kenyataan yang sulit dipungkiri. Matanya menatap Al tanpa cahaya. "Bagaimana kalau kakiku tidak bisa kembali seperti biasa?"

__ADS_1


Al tersenyum untuk memberi ketegaran. "Aku akan membawamu pergi ke rumah sakit terbaik di dunia, tidak peduli biaya dan waktu."


"Aku tidak minta kamu untuk berkorban sebesar itu. Kakiku jadi lumpuh bukan karena kesalahanmu."


"Aku tidak pernah menyalahkan diriku, tidak pernah menyalahkan siapa-siapa. Aku cuma ingin melihatmu seperti sediakala."


Semua orang berharap seperti itu, keluh Aisyah dalam hati. Aku juga ingin menjalani hidup seperti semula, tidak bergantung pada orang lain. Tapi bagaimana kalau harapan itu tidak terkabul?


Aisyah harus belajar menyesuaikan diri dengan keadaannya yang sekarang. Dia tidak mau bergantung pada orang lain untuk seumur hidup, meski itu ayahnya sendiri.


"Untuk kembali seperti sediakala tentu butuh waktu," ujar Al. "Aku minta kamu bersabar."


Aisyah bertanya dengan harap-harap cemas, "Bagaimana kalau semua usaha yang dilakukan sia-sia?"


"Kita akan berjuang sampai Allah menetapkan takdirmu."


"Kita?" Aisyah memandang sejurus untuk menghindari bertemu pandang lama-lama dengan pemuda itu. "Maksudnya apa?"


"Aku akan menjagamu sepanjang hidupku kalau takdirmu tidak sesuai dengan keinginan kita. Aku minta kamu pantang menyerah sampai kita tahu takdirmu. Itu prinsip yang kau tanamkan, jangan berubah karena kakimu."


Aisyah tersenyum manis. "Kau ingin menjagaku sepanjang hidupmu ... kedengarannya sangat indah. Apa tidak masalah sama Riany?"


"Menjagamu sepanjang hidupku, tidak harus berbagi ..."


Ucapan itu seakan ungkapan dari seorang gadis yang patah arang. Al jadi heran. Aisyah biasanya selalu memupuk harapan dan sangat percaya dengan takdir. Mengapa dia kelihatan seperti pasrah? Apa karena kakinya?


Al bisa meralat ucapannya jika cinta Aisyah terpuruk karena kakinya!


"Aku tahu Riany sangat posesif. Curiga dan cemburu adalah santapan hatinya. Aku tidak mau menyuburkan persemaian dengan perhatianmu."


Sekali lagi Al tertegun. Aisyah biasanya tidak peduli dengan istrinya. Dia hanya mengharapkan kesudiannya untuk berbagi. Jadi istri kedua, menurutnya, tidak perlu disukai oleh istri pertama. Mengapa sekarang dia jadi memikirkannya?


Tragedi di jalan tol sudah membuat dua perempuan yang berbeda karakter itu berubah. Apa begitu sifat mereka? Perubahan terjadi setelah mengalami peristiwa, entah tekanan atau cobaan?


Aisyah tidak mementingkan cintanya lagi disaat Riany membuka pintu baginya untuk masuk!


Hidup kelihatan aneh kalau Al tidak sering berpikir!


Aisyah mengambil beberapa buku referensi yang sudah disiapkan di rak, dan berkata, "Kau ambil judul dari intisari buku ini."


"Banyak banget bahannya."

__ADS_1


Aisyah menyerahkan buku-buku itu. "Aku sudah menguasai isinya, jadi tinggal mengadakan eksperimen di lapangan."


Ruangan ini adalah khusus untuk belajar dan membaca, semacam perpustakaan pribadi, terdapat beberapa rak berisi buku ilmu pengetahuan umum dan agama. Jam-jam tertentu keluarga Aisyah masuk untuk belajar atau membaca buku yang tersedia.


"Aku tunggu di ruang tamu ya," kata Aisyah. "Tidak enak sama istrimu."


"Kau sangat berubah," komentar Al. "Aku tidak melihat Aisyah yang dulu. Yakinkan dirimu, kakimu akan segera normal kembali. Jadi kau tidak perlu merubah sikap yang justru membuatku canggung."


"Kamu juga berubah. Aku tidak suka dengan matamu yang begitu mengasihani aku."


"Aku minta maaf kalau kamu tidak suka. Aku cuma menaruh simpati atas musibah itu, namun rupanya menimbulkan banyak arti."


Al mengusap-usap matanya, lalu menatap gadis di hadapannya dengan senyum ceria. "Apa mataku masih seperti melihat anjing buduk atau aku sendiri kayak anjing buduk?"


Aisyah balas tersenyum. "Jangan lebay. Aku cuma kuatir perhatianmu yang berlebihan itu membuat Riany tidak bisa tidur."


"Riany juga berubah. Aku tidak tahu malaikat mana yang membisikinya sampai aku tak habis pikir dengan perubahannya. Dia tidak curiga dan cemburu lagi padamu. Tapi sudahlah. Aku tidak mau bahas itu."


Al duduk di kursi dan mulai membuka laptop.


Aisyah mendekatinya dengan menggerakkan tuas kursi roda, dan bertanya, "Apa ada hubungannya denganku?"


Al terpaksa jujur. Dia tidak mau tatap mata yang bercahaya itu meredup sinarnya. "Semua perubahan sikap istriku berhubungan denganmu. Dia mendukung aku untuk mengobatimu sampai sembuh, tanpa batas waktu dan biaya."


"Kamu ingin membawaku keliling dunia untuk mencari rumah sakit yang terbaik?"


"Ya."


Aisyah tersenyum. "Kamu sulit melakukannya. Kamu ingin mengandalkan suster untuk memindahkan aku ke tempat tidur, untuk mandi, untuk ganti baju?"


"Aku banyak uang untuk membayar mereka. Mulai besok ada dua suster yang siap melayani. Kamu bisa bilang sama aku kalau kurang."


"Aku tahu kamu punya harta satu triliun setelah wisuda. Kamu bisa lakukan apa saja untukku."


Al terkejut. "Riany cerita?"


"Dia minta bantuanku agar kamu tidak bermegah-megahan dengan dunia."


Al memandang lekat-lekat sehingga Aisyah sulit untuk menghindar. "Aku tidak tega untuk bertanya pada istriku. Aku ingin kamu jujur padaku, demi apa yang sudah kita lewati bersama selama hampir empat tahun. Apa yang sudah kamu katakan pada istriku, sehingga istriku berubah secara drastis?"


"Berubah secara drastis bagaimana, maksudmu?"

__ADS_1


"Dia berani mengambil keputusan yang ditertawakan oleh kaumnya. Dia minta aku menghalalkan kamu."


Aisyah seharusnya senang mendengar kata-kata yang sejak lama dinantinya. Dia tampak biasa-biasa saja, dan berkata dengan tenang. "Barangkali Riany takut ditinggalkanmu...."


__ADS_2