
Pulang manasik, Al langsung ke kamar Arya dan memarahinya. "Kalau posting itu pikir-pikir dulu. Pengen pansos kakakmu jadi korban."
"Jadi korban bagaimana?" tanya Arya tenang sambil menaruh joystick, selesai main game online. "Justru hampir timbul korban kalau aku tidak update. Ayah marah besar."
Al memandang adiknya hampir tak percaya. "Jadi Ayah tidak tahu rencana ta'aruf itu? Cuma bisa-bisanya Ibu?"
"Kalau tahu, masa Ayah marah sih, Kak? Logika intelektualnya mana?"
"Berani kamu menghina kakakmu!" geram Al gemas. "Gara-gara kamu Riany malam ini ingin ketemu Ibu."
"Bagus dong, Kak," seru Arya senang. "Jadi aku tidak perlu bolak-balik mengantarkan novel."
Al sebenarnya heran juga Arya begitu bebas keluar masuk pesantren. Tidak pernah mendapat peringatan dari Ibu. Ah, kids jaman now banyak akalnya.
"Aku pusing tujuh keliling kamu bilang bagus?" delik Al gusar. "Tahu apa risikonya kalau Riany sampai datang membawa orang tuanya?"
"Menghabiskan hidangan makan malam lebih banyak."
"Makan melulu yang ada di otakmu!"
"Lagi masa pertumbuhan apa lagi yang dipikirkan?"
Perlu kesabaran ekstra menghadapi adik semata wayang ini. Dia tidak tahu masalah besar menunggu di depan mata. Hidup belum punya tanggung jawab begini jadinya. Tidak ada beban.
"Jadi kamu rela kakakmu disebut perebut calon istri orang?" pandang Al dingin. "Terima kasih atas kerelaannya."
"Bagaimana ceritanya bisa begitu?" balik Arya santai. "Kak Riany sendiri yang kepingin jadi istri kakak. Merebut dari mana?"
"Masalahnya dia sudah punya calon."
"Itu masalah dia, kok kakak yang ribet? Kecuali kakak merayu dia, nah, boleh dibilang merebut."
"Memangnya kamu ngomong apa sampai Riany nekat begitu?"
"Aku bilang Ibu mengundang Kak Aisyah, Kak Lin Wei, dan Kak Wulandari untuk menghadiri kontes pemilihan jodoh. Kemudian aku bilang kakak ingin mengundang Kak Riany untuk islah soal perbedaan ajaran, tapi Ibu menolak dengan tegas, kecuali Kak Riany datang untuk jadi calon istri. Memang begitu kan kejadiannya?"
"Kebiasaan jelekmu adalah menguping pembicaraan kakakmu, dan menyampaikan kepada orang lain tanpa berpikir panjang. Kamu ingin mempermalukan Ibu dengan kata-katanya itu?"
"Aku gak ngerti deh maksud kakak."
"Kalau tidak mengerti kenapa tidak bertanya dulu sebelum kasih informasi? Sebelum posting? Tidak terpikir sama kamu kalau Ayah pasti membaca postingan itu? Bagaimana perasaannya mendapati anaknya jadi perebut calon istri orang?"
"Kakak jelaskan dong kalau kakak tidak merebut."
"Aku minta kamu jelaskan kalau postingan itu adalah hoax."
__ADS_1
"Hoax bagaimana? Nyatanya benar kakak pulang untuk Kak Riany, dan Kak Riany bersedia jadi istri kakak."
"Tahu dari mana aku pulang untuk dia?"
"Doa kakak dalam shalat Tahajud di mushalla rumah. Aku sempat baper, maka itu aku kemudian posting."
"Jadi begini kerjaanmu setiap hari? Mengorek rahasia orang lain untuk update status?"
"Cinta kok rahasia? Bagaimana Kak Riany bisa tahu? Kalau bisa nikahnya cepat-cepat ya, Kak. Biar aku tidak perlu susah-susah beli novel favorit."
Di pikiran anak ini yang ada cuma novel. Dia tidak tahu kenekatan Riany untuk bertamu bisa mendatangkan bencana besar, mempertaruhkan nama baik tokoh utama masyarakat dan pesantren.
Melihat postingan Vidya saja, ayahnya pasti marah. Padahal gadis itu masih single dan salah satu generasi kampung yang dikaguminya. Bagaimana melihat Riany berdiri di muka pintu rumah? Calon istri orang dan sumber kontroversi masyarakat!
Al baru saja meninggalkan kamar Arya ketika ada ribut-ribut di lantai bawah. Dia segera menuruni anak tangga dan berhenti di kelokan tangga, mendengarkan perdebatan sengit orang tuanya.
Ayah memberi ultimatum kepada Ibu. Belum pernah dia bersikap setegas itu. "Pilih mana, aku undang keluarga Abi Hamzah atau undang Fatimah datang ke rumah ini?"
Al tertegun. Ayah mengundang keluarga Abi Hamzah? Jangan-jangan ingin membahas postingan Arya? Celaka!
"Suami bisanya paksa-paksa," gerutu Bu Haikal jengkel. "Tidak ada pilihan yang menyenangkan?"
"Aku tidak memaksa."
"Kalau aku tidak pilih dua-duanya, bagaimana?"
"Undang siapa? Fatimah?"
"Kau mau seperti itu?"
"Aku tidak mau ada Fatimah di rumah ini, dan tidak ada makan malam di luar."
"Jadi kamu menerima keluarga pesantren sebagai tamu?"
"Buat apa sih Bapak undang mereka?"
"Aku ingin membahas soal anak sulungmu. Maka itu bilang sama anakmu, jangan ke mana-mana selesai shalat Isya."
Kiamat, batin Al lesu. Tiba-tiba saja dia menyesal pulang kampung kalau rindunya ternyata mendatangkan bencana. Semua ini gara-gara Arya!
"Tapi yang lebih penting supaya kamu sadar sudah terlalu jauh termakan omongan ustadzah," tegas Pak Haikal. "Situasi jadi semakin tidak kondusif."
Istrinya menatap sengit. "Jadi Bapak ingin aku pindah ajaran?"
"Aku ingin kamu pindah pendirian. Berpihak kepada agama, bukan kepada ustadzah."
__ADS_1
"Ustadzah berpihak kepada ajaran yang aku terima turun-temurun."
"Ustadzah berpihak kepada kepentingan pribadi. Kampung jadi semakin kacau."
"Kepentingan ustadzah adalah menyelamatkan ajaran itu."
"Ustadzah ingin menyelamatkan majlis ta'limnya. Dan Kyai Rojali ingin mencari keuntungan dunia bergabung dengan kepala dusun. Maka itu mereka menebar kebencian kepada pesantren dan sangat toleran terhadap ajaran yang jauh menyimpang untuk mendapat dukungan. Perbuatan yang justru tidak dibenarkan oleh agama."
"Jangan sekata-kata. Fitnah timbulnya."
"Jika aku sekata-kata, maka celakalah keluargaku dan jamaah masjid karena mereka mematuhi kata-kataku. Aku tidak mau ada orang ketiga memanfaatkan situasi ini, seperti kamu yang tidak ingin ada orang ketiga di kehidupan kita."
"Maka itu jangan genit."
"Yang genit aku apa kamu?"
Bu Haikal tersinggung. "Aku genit apa? Aku keluar selalu bersama kamu! Nah, kamu sering keluar bersama siapa?"
"Maksudmu apa datang ke rumah Umi Halimah tanpa sepengetahuanku? Aku sudah tidak diperlukan lagi olehmu? Apa itu bukan genit namanya?"
"Aku sudah minta maaf."
"Dan aku sudah memaafkan, selalu memaafkan."
"Lalu apa masalahnya?"
"Masalahnya hari sudah sore, kamu perintahkan koki untuk menyiapkan hidangan makan malam yang istimewa. Itu lebih baik daripada berbantahan dengan suami."
Bu Haikal tidak ada pilihan. Menerima kedatangan keluarga Abi Hamzah jauh lebih nyaman daripada melihat Fatimah bersolek di rumahnya!
Sepanjang sore Bu Haikal tidak keluar dari dapur mengawasi koki menyiapkan berbagai masakan. Beberapa pegawai sibuk membantu.
Al juga sibuk menyiapkan diri dengan memperbanyak diam di masjid. Memohon ampun kepada Allah karena selama empat tahun menabung rindu yang salah.
Di saat-saat terakhir itu Al sudah tidak lagi menyalahkan Arya. Semua ini tidak perlu terjadi seandainya dia mencari informasi tentang Riany sebelumnya, dan dapat mengendalikan rasa yang bersemi di hati. Kala malam tiba, dia sudah siap menerima segala risiko yang terjadi.
Nidar menghubungi lewat ponsel dan bertanya, "Ada apa sebenarnya, Al? Aku kaget Abi minta aku sama Irma untuk datang bersamanya ke rumahmu."
"Masalah postingan itu jadi besar," sahut Al pahit. "Tentu ayahku tidak enak kepada keluarga pesantren karena anaknya jadi perusak hubungan orang. Kalian katakan saja apa yang kalian tahu jika diminta keterangan oleh mereka."
"Keterangan apa?"
"Aku akan mengakui kalau aku mencintai Riany, tapi aku tidak pernah berniat untuk mengacaukan ta'aruf mereka."
"Masalah jadi pelik karena Riany juga mencintaimu."
__ADS_1
"Aku ingin dia bertahan dengan ta'arufnya. Bila perlu, aku pergi selamanya dari kampung ini."