Cinta Untuk Gadis Madinah

Cinta Untuk Gadis Madinah
Episode 25


__ADS_3

Halimah adalah seorang ibu yang terangkat kehidupannya karena mempunyai lima anak perempuan yang cantik rupawan.


Anak pertama jadi istri pejabat, biar cuma istri simpanan. Anak kedua jadi istri muda pengusaha. Anak ketiga jadi istri ketiga ketua partai. Anak keempat jadi "istri kontrak" miliarder Timur Tengah.


Keempat anak ini gotong-royong memakmurkan orang tua. Cukup untuk membuat Halimah jadi tokoh wanita, biar sebutan itu datang dari pengakuan sendiri.


Dia sudah tiga kali pergi ke Tanah Suci, dan sedikit rendah hati, tidak mencantumkan gelar Hajah di depan namanya. Cukup panggil Umi. Lagi pula, dia belum menunaikan ibadah haji, baru umrah.


Kalau di surat undangan atau proposal sumbangan gelar Umi tidak dicantumkan, maka dapat dipastikan amplop tipis.


Vidya Ambarwati adalah anak yang terakhir. Sekolah di Kairo bukan berarti bebas dalam mencari jodoh. Ada standar yang tidak boleh dilanggar. Tajir melintir.


Tiap hari kehidupan mereka jadi gunjingan. Apa yang dilakukan selalu mengundang kontroversi. Dari keluarga seperti ini Ibu berharap dapat menantu? Al tak habis pikir.


Acara makan malam gagal karena Vidya pulang larut sekali. Ada agenda penting yang tidak bisa dibatalkan, padahal cuma nongkrong di kafe bersama temannya. Al jadi hilang simpati.


"Apa yang Ibu lihat dari Vidya?" tanya Al ingin tahu.


"Anaknya santun, ramah, baik. Agamanya cukup."


"Cukup apa? Cukup memprihatinkan?"


"Cukup untuk mendidik cucu-cucu Ibu!"


"Kata siapa?"


"Vidya kuliah di kota seribu menara."


"Bukan jaminan."


"Jadi hanya perempuan yang kuliah di Madinah yang kamu percaya?"


"Astaghfirullah."


"Jangan istighfar untuk ibumu. Murka Allah adalah murka ibumu."


"Terkutuklah Al kalau berani sama Ibu."


"Lantas?"


"Vidya tidak berhijab."


"Kamu perintahkan berhijab setelah jadi suami."


"Dalam ajarannya boleh tidak berhijab."


"Mana ada ajaran seperti itu?"


"Kalau ada?"


"Kamu pinta untuk berhijab, beres kan?"


"Ini soal konsep ajaran."


"Ibu tidak peduli soal itu, yang penting Vidya bersedia tutup aurat."


"Ibu tidak adil. Ibu benci Riany karena konsep ajarannya."


Bu Haikal merasa terdesak. "Kalau Ibu bisa menerima Riany, apa kamu bisa jadi imamnya?"


"Ibu yakin bisa menerima?"


"Kamu yakin bisa jadi imamnya?"


"Kita mulai dengan undangan makan malam, bagaimana?"


"Abi sama uminya ikut?"


"Apa itu perlu?"


"Ta'aruf itu bukan cuma calon yang saling kenal, keluarga juga."


"Yang mau ta'aruf siapa? Al ingin Ibu dan Riany duduk bersama untuk mencari solusi dari kegaduhan yang terjadi."


"Ibu maunya ta'aruf," sambar Bu Haikal ketus. "Jangan bicarakan kalau kamu tidak mampu mendatangkan Riany sebagai calon istri."

__ADS_1


Ibu ada-ada saja! Mana mungkin Al mengundang Riany makan malam sebagai calon istri!


"Mending kamu cepetan ganti baju," perintah Bu Haikal. "Kita ke rumah Umi Halimah."


"Ngapain?"


"Ada undangan makan siang."


"Kok dadakan?"


"Mumpung Vidyanya ada."


"Ibu yakin dengan pilihan Ibu?"


"Kok tanya Ibu? Yang mau rumah tangga siapa?"


"Kalau tidak cocok, bagaimana?"


"Cari yang lain."


"Anak teman Ibu juga?"


"Kamu tidak ada gambaran?"


"Banyak."


"Banyak?" tatap Bu Haikal gembira. "Coba bawa keluarganya ke Ibu."


"Ada gadis keturunan namanya Lin Wei."


"Non muslim?"


"Tapi rela pindah keyakinan."


"Amazing."


"Ibu tahu amazing itu apa?"


"Lah, kamu sering ngucap artinya apa?"


"Pokoknya Ibu percaya kata-kata anak Ibu itu baik."


Terus terang Al lebih suka ta'aruf dengan Lin Wei. Lebih mudah dituntun setelah berumah tangga. Tinggal menyampaikan apa-apa yang perlu diketahui tentang agama barunya. Ada tidaknya pertentangan tergantung bagaimana Al mengendalikan.


Vidya sudah punya bekal sebelum melangkah ke jenjang perkawinan. Sulit untuk memberi pencerahan kalau bekal yang dibawa tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Pertentangan kepentingan lebih mungkin terjadi yang akhirnya rumah tangga mudah dihantam badai.


Lihat saja penampilan Vidya saat makan siang. Mata Ibu sampai kelilipan. Gadis itu tampak sangat cantik dan seksi, tapi bagi ibunya cara berpakaian seperti itu tidak mencerminkan nilai-nilai Islam.


Al tidak kaget mendapati gaya masa kini Vidya. Di Kairo, hijaber identik dengan kalangan bawah. Bahkan ada restoran kelas atas tidak menerima tamu berhijab!


"Vidya," tegur Umi Halimah gemas bercampur malu. "Ganti pakaian."


"Ada yang salah?"


"Kamu itu anak ustadzah. Auratmu terbuka."


Vidya menoleh ke Al. "Keberatan tampilanku begini?"


"Tidak." Al tersenyum sedikit. "Kamu yang pakai, bukan aku."


"Dengar tuh, Umi."


"Iya. Iya."


Vidya menarik keluar kursi yang merapat ke meja, lalu duduk.


Umi Halimah mengingatkan, "Tidak salim sama Ibu?"


"Oh, iya."


Vidya bangkit menghampiri Bu Haikal, cium tangan, kemudian duduk lagi.


Suasana makan siang terasa kurang nyaman. Al tidak biasa mengobrol sambil makan. Dia hanya menjawab seperlunya pertanyaan-pertanyaan Umi Halimah. Dari sedikit keterangan yang didapat muncul banyak kesan bagi wanita itu.


Sebaliknya Bu Haikal hanya mendapat sedikit kesan dari banyak kata-kata yang disampaikan Vidya. Dia lebih banyak menikmati hidangan.

__ADS_1


Al sendiri hanya menghargai ibunya. Dia tidak ada hasrat untuk ta'aruf karena ada perbedaan yang fundamental.


"No, no, no," sanggah Vidya. "Aku tidak setuju pacaran diatur-atur."


"Ta'aruf bukan pacaran," kata Umi Halimah.


"Ta'aruf itu bahasa Arab, bahasa kita pacaran."


"Kuliah jauh-jauh ke Kairo kok jadi koplak ya?"


Vidya memandang Al seolah minta perlindungan. "Apa aku koplak?"


"Tidak."


"Dengar tuh, Umi."


"Iya. Iya."


"Berarti setuju dong kalau kita jadian?"


"Aku tidak biasa pacaran."


"Kelompok anti pacaran ya?"


"Aku cuma kenal ta'aruf."


"Aku sudah bilang ta'aruf dan pacaran artinya sama; saling kenal."


"Tapi aku belum bilang kalau ta'aruf dan pacaran artinya beda."


"Bedanya di mana?"


"Ta'aruf adalah proses saling kenal dengan satu niat ke jenjang perkawinan. Proses itu berhubungan dengan waktu. Ada aturannya. Jadi jangan diartikan meet kiss ****."


"Kalau pacaran?"


"Proses saling kenal dengan banyak niat; menuju jenjang perkawinan, menyatukan rasa, atau hasrat. Anak SMP pacaran kan rada-rada ajaib kalau niatnya ke jenjang perkawinan."


"Beda asumsi saja kali."


"Beda definisi."


"Definisi siapa?"


"Definisi kebebasan berpikir yang kau anut. Jadi benar ta'aruf adalah pacaran, tapi pacaran belum tentu ta'aruf."


"Terus?"


"Aku setuju pacaran jangan diatur-atur karena tidak ada aturannya."


"Ta'aruf?"


"Ta'aruf perlu diatur karena ada keterangannya. Kapan ketemu, bersama siapa, untuk apa, mesti ditentukan."


"Sudahlah, kita pasti tidak ada titik temu karena berangkat dari dua pendapat yang berbeda."


"Setuju."


"So?"


"Apanya?"


"Tentang kita?"


"Aku belum bisa putuskan."


"Konservatif bangat. Kau menolak pacaran karena aku tidak berhijab."


"Seandainya aku menolak, bukan karena kamu tidak berhijab, karena sudut pandangmu tentang hijab."


Menurut ajaran Al, menutup aurat adalah aturan. Jadi berhijab bukan pertanda wanita baik atau buruk, tapi taat atau tidak pada aturan.


Menurut ajaran Vidya, berhijab adalah pilihan, dan pilihan tergantung selera dan mood. Perbedaan mendasar ini membuat Al berpikir untuk ta'aruf.


Al tidak mempersoalkan perbedaan dalam berumah tangga. Tapi berapa lama mereka sanggup bertahan dalam perbedaan? Dia tidak mau bercerai di usia tua!

__ADS_1


__ADS_2