
Aisyah tersenyum, dan Al baru menyadari betapa manisnya senyum itu dilihat dari jarak dekat.
Senyum yang menurutnya sedikit berbeda, membuat hatinya terasa jauh.
Al merasa seperti ada jarak di antara mereka. Sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Kiranya pengaruh Ryan demikian hebat mempengaruhi suasana, membuat setiap yang dirasa jadi berbeda.
Padahal Al sudah sering menyaksikan pertemuan mereka.
Ada perasaan tersisihkan di dalam hatinya.
Apa yang terjadi pada dirinya setelah libur panjang ini? Mengapa kedekatan mereka di Tanah Suci wanginya baru tercium sekarang?
Barangkali karena persentuhan mereka yang demikian hangat dan ketat, sehingga menggugah segala rasa yang ada.
"Kamu tahu nggak apa yang membedakan kamu sama Ryan?" tanya Aisyah. Matanya sekilas menatap Al yang mengangkat tubuhnya masuk ke dalam mobil.
Mereka sempat berpandangan dalam jarak yang begitu dekat, namun terasa ada jurang di hati Al.
"Apa itu?" Al balik bertanya sambil mendudukkan Aisyah di kursi mobil.
Hembusan nafas gadis itu terasa lembut menerpa wajahnya, tapi jawaban yang terucap sungguh menusuk hati:
"Kamu menaruh perhatian karena kasihan, Ryan menaruh perhatian karena cinta. Menurutmu aku harus pilih siapa?"
Al merasa kedudukannya mulai tergeser oleh Ryan. Sinar matanya yang berkabut, seakan pertanda kalau Aisyah berada pada detik-detik kepergiannya dari sebuah relung hati yang hampa.
Al tidak menjawab pertanyaan itu, karena Lin Wei dan Wulandari sudah masuk ke dalam mobil. Mereka duduk di samping Aisyah.
Al tidak mau percakapannya terdengar oleh mereka. Masalah makin rumit kalau mereka turut campur.
Mereka pasti menghendaki Aisyah memilihnya, untuk membuka pintu ketiga dan keempat.
Mereka begitu mendambakan jadi istrinya, padahal Al sudah ketar-ketir baru rencana dua saja.
Dia tidak tahu entah karena rasa kasihan atau sekedar menjalankan wasiat Oma, sehingga terbersit niat untuk menghalalkan Aisyah.
Tapi dia tidak mau gadis itu terpaksa menerimanya karena desakan mereka. Cinta tak perlu dipaksa. Cinta akan datang karena takdir.
Apakah ini pertanda hatinya sudah ikhlas melepas kepergian Aisyah?
Al tidak mau terlarut dalam kecamuk hatinya. Situasi tidak memungkinkan. Dia tidak mau berkendara dengan pikiran fokus pada perkara lain.
Al sadar betul di dalam mobil ini ada dua kubu. Riany mendukung Aisyah untuk menjajaki hubungan dengan Ryan. Wulandari dan Lin Wei menentang keras kehadiran pemuda itu dalam hidup temannya.
Jadi Al harus hati-hati dalam berbicara. Saking hati-hatinya, dia memilih diam.
__ADS_1
Persoalan Wulandari dan Lin Wei yang ingin pergi bersama mereka ke Saudi belum tuntas. Aisyah belum mengambil keputusan.
"Aku perlu minta pendapat Abi dulu," kata Aisyah. "Dia pasti ada pertimbangan yang berbeda."
Jawaban itu menegaskan kalau Aisyah tidak mau ikut. Tapi mereka tidak paham, atau memang tidak mau tahu.
"Pertimbangan apa?" desak Wulandari memaksa. Sikapnya tampak tidak sabar. "Sejak kapan ayahmu banyak pertimbangan kalau pergi bersama kami?"
Aisyah menghela nafas halus, seakan mengeluh. Matanya memandang Wulandari dengan buram. "Keadaanku sekarang beda. Kamu harus paham itu."
"Kodok juga tahu kamu tidak seperti yang dulu. Terus apa masalahnya?"
"Kok tanya apa masalahnya?" balik Aisyah heran. "Masalah aku sudah jelas ... kakiku. Kodok tahu itu, masa kamu tidak?"
"Bangga bener jadi gadis lumpuh," sindir Wulandari pedas. "Sekalian saja kamu ajukan ke UNESCO untuk jadi warisan dunia."
Wajah Aisyah berubah mendung. "Ucapan kamu nyakitin aku."
"Aku tidak tahu bagaimana ngomongnya agar tidak menyakiti kamu."
"Aku sudah bilang, aku perlu minta ijin dulu sama Abi. Apa itu salah?"
"Ijin ayahmu selama ini cuma formalitas. Kenapa mendadak jadi penting?"
"Aku heran deh sama kamu," sambar Lin Wei kesal. "Sejak kakimu cacat, otakmu jadi cacat juga, lemot ngambil keputusan."
Aisyah tidak mau membuatnya susah. Kesan itu terlihat dari gerak-geriknya. Barangkali dia merasa tidak enak pada isterinya.
Sementara Riany duduk manis di sampingnya. Dia mungkin serba salah untuk bicara, karena keinginannya berbeda dengan Wulandari dan Lin Wei.
Lagi pula percuma mereka memaksa Aisyah. Buat apa pergi ke Riyadh kalau hatinya ditunda di Yogya?
"Hidupku sekarang sangat bergantung pada orang lain," desis Aisyah sedih, teringat akan kemalangan dirinya. Tapi dia tidak menyesali apa yang sudah terjadi. Dia terima sebagai takdir. "Aku tidak bisa menjalani aktivitas dengan kekuatan sendiri."
"Ada aku sama Lin Wei yang setia menemani kamu. Aku jamin kamu di Riyadh sangat dimanjakan."
"Kalian memindahkan aku dari kursi roda ke tempat tidur saja tidak sanggup, bagaimana kalau aku mau mandi, mau mpup?"
"Kita bawa suster."
"Suster sudah pasti kita bawa," tegas Lin Wei. "Kita tidak mungkin minta Al untuk membantu Aisyah pergi tidur atau ke kamar mandi. Kebiasaan kamu belum hilang, kan?"
"Kebiasaan apa?"
"Tidur gak pakai baju."
"Aku nggak bisa tidur kalau pakai baju."
__ADS_1
Al pesimis Aisyah diijinkan pergi oleh abinya, sebab keperluannya tidak mendesak. Mengerjakan materi presentasi bisa di apartemen. Buat apa menyusahkan diri pergi ke Saudi?
Al bukan tidak mau keluar biaya. Keinginan mereka menurutnya berlebihan. Banyak momen untuk menciptakan kebersamaan, dan bukan cuma di Riyadh.
Mimpi mereka terlalu jauh untuk pergi berlayar, padahal Al tertinggal di dermaga. Begitu kira-kira kiasan yang tepat untuk situasi saat ini.
Aisyah barangkali benar. Al ingin menghalalkannya bukan karena cinta, karena kasihan, atau terpaksa untuk melaksanakan wasiat Oma. Sesuatu yang masih mengundang tanda tanya bagi Al.
Jauh di lubuk hatinya, Al setuju dengan istrinya. Aisyah mendingan tidak ikut. Tapi bukan untuk Ryan, untuk kebaikannya sendiri.
"Kayak kalah sebelum bertanding," komentar Rivaldo sambil menikmati hidangan lobster kuah di sebuah restoran mewah. Mereka makan siang di meja terpisah, sehingga bebas dari gangguan para bidadari itu.
"Aku sudah bertanding dengan Ryan sejak Aisyah mengenal cinta. Jadi keliru kalau kau katakan kalah sebelum bertanding. Pertandingannya barangkali kurang seru sehingga luput dari perhatianmu."
"Riany adalah sahabat masa kecil, Aisyah adalah sahabat masa gede, masa kamu cuma mementingkan sahabat masa kecil?"
"Aku sudah kenal Aisyah sejak SMP, cuma waktu itu belum akrab. Aku sering melihat dia diantar jemput uminya. Dia anak mami banget."
"Nah, berarti kalau dihitung-hitung, kamu lebih lama sahabatan sama Aisyah dibanding sama Riany."
"Aku belum sahabatan waktu SMP, di SMA juga nggak akrab, kuliah baru kenal dia seutuhnya."
"Seutuhnya?"
"Maksudku sifat, karakter, kebiasaan, dan kehidupan sehari-hari Aisyah. Jangan ngeres."
Padahal Al pernah melihat tubuh Aisyah seutuhnya saat pinjam apartemen untuk menyambut kedatangan opanya.
Dari peristiwa tanpa sengaja itu, Aisyah berjanji cuma ingin menikah dengan lelaki yang pernah melihat tubuhnya.
"Aku tidak mau membahas perbedaan definisi seutuhnya bagi kita," kata Rivaldo. "Yang mau aku tanyakan, apakah kau mau mundur begitu saja setelah tahu seutuhnya?"
"Jadi kamu pengen aku nikah sama Aisyah?"
"Aku mau pertandingan berjalan dengan sengit sampai akhir. Kamu bilang belum ada sejarahnya cowok beristri kalah sama jomblo. Mana buktinya?"
"Barangkali aku perlu bikin sejarah."
"Kamu ini cowok anomali. Waktu jadi mahasiswa miss queen, kamu begitu percaya diri menghadapi cowok tajir. Pas jadi crazy rich, malah nggak pede."
"Aku kelihatan nggak pede ya?"
"Banget."
"Berarti aku sukses jadi orang kaya. Harta membuat aku tidak berani mendekati perempuan."
"Aku tahu kau menghentikan perburuan karena tahu ujungnya pasti kalah."
__ADS_1