Cinta Untuk Gadis Madinah

Cinta Untuk Gadis Madinah
Episode 129


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang cukup melelahkan bagi Al. Dia harus mengontrol perasaannya agar tidak terlarut dalam kekecewaan yang berkepanjangan.


Kata-kata Arya serasa menikam hati dan menyulut pikirannya. Apakah benar dia tidak tegas?


Al lebih suka menyebut dirinya terlalu hati-hati sehingga Aisyah hilang sabar dan memilih Ryan sebagai pendamping hidup.


Dukungan Arya datangnya sangat terlambat. Dia butuh kekuatan disaat harus mengambil keputusan tempo hari, dan dia tahu istrinya setengah hati untuk berbagi.


Riany merelakannya untuk menghalalkan Aisyah karena menghormati masa lalu. Perempuan itu banyak berjasa untuknya, dan kesempatan untuk balas budi terbuka lebar pasca tragedi itu.


Aisyah tentu saja tersinggung jadi ladang belas kasihan. Dia merasa jadi istri terkalahkan kalau menerima sebagai madu, karena istri pertama begitu superior dengan kesempurnaan dirinya.


Kedudukannya jadi paling lemah jika Wulandari dan Lin Wei datang mengisi slot tersisa. Sebenarnya ini akar permasalahannya.


Padahal Al tak berniat untuk menghabiskan jatah yang tersedia. Dua saja sudah membuatnya ketar-ketir karena takut tidak bisa berlaku adil.


Al salut pada laki-laki yang berani mengambil empat. Mereka adalah suami luar biasa yang mampu mengumpulkan perempuan dalam satu wadah cinta.


Sesungguhnya mengambil madu karena hasrat bukan hal terlarang. Apa yang terjadi pada opanya adalah hal biasa untuk manusia biasa. Bagaimana juga mencampuri perempuan dengan stempel halal adalah jauh lebih baik.


Diakui atau tidak, Jennifer adalah omanya yang sah saat ini. Dia berhak hidup satu atap dengan opanya dan mewarisi hartanya. Barangkali hal ini yang mendasari almarhumah untuk menghibahkan harta kepada cucunya.


Opa pasti tidak tahu dengan harta tujuh ratus miliar dari Simbah buyut. Beliau tahunya harta tiga ratus miliar yang merupakan hasil usaha istrinya.


Al pasti mempertahankan harta tersebut jika opanya berusaha untuk mengambil alih karena hasutan istri mudanya. Bukan ia serakah, harta itu adalah amanah omanya yang perlu dijaga dan dipelihara agar tetap mengalirkan pahala untuknya.


Harta satu triliun dapat membalikkan hati seseorang untuk menguasai kekayaan yang bukan haknya.


"Kamu kayak tidak suka aku ikut ke rumah Ibu," komentar Riany. "Apa ada sesuatu yang mau dibicarakan yang aku tidak boleh tahu?"


Al tersenyum sedikit. "Bagaimana kamu bisa mengatakan aku tidak suka, padahal aku diam saja?"


"Diam kamu banyak mengundang tanda tanya."


"Jangan suka menerka-nerka. Bukankah sudah selayaknya seorang istri menemani suami tidur? Jadi apa yang membuatku tidak suka?"


"Aku tidak mungkin menemani tidur jika kamu bepergian ke luar negeri, sementara aku sibuk di kampung."


"Aku tidak bepergian ke luar negeri kalau istriku sibuk."


"Kamu mau membawa Aisyah berobat keliling dunia, apa mungkin aku meninggalkan pekerjaan selama itu?"


Al sebenarnya ingin melupakan Aisyah, setidaknya untuk malam ini. Hatinya capek. Jadi dia tidak suka namanya dibahas dalam percakapan mereka.

__ADS_1


"Kok diam?" selidik Riany. "Apa ucapanku ada yang salah?"


"Kau menginginkan aku mengajak Aisyah berobat ke luar negeri, sementara ada suaminya yang lebih berhak?"


"Aisyah belum mengatakan kalau Ryan adalah pilihan hidupnya."


Riany terkesan memberi harapan untuknya. Ia seolah menginginkan Aisyah jadi madunya.


Padahal Al membaca sikapnya adalah bentuk kepercayaan diri selaku istri yang tidak memiliki kekurangan. Kehadiran Aisyah sebagai penyandang cacat hanya merepotkan suami, pada akhirnya akan membuat jemu dan menyerah.


Riany telah keliru dalam membaca keinginannya. Al tidak berminat mengambil Aisyah jadi madu seandainya tidak kehilangan kesempurnaan yang dimilikinya, karena dia bisa memilih lelaki yang diinginkan untuk jadi pendamping hidupnya.


Tapi sekarang Aisyah adalah pilihan terakhir. Mengambilnya sebagai istri hanya jadi beban dalam rumah tangga. Hanya lelaki yang memiliki keagungan cinta yang bersedia jadi pangerannya, atau lelaki menaruh iba.


"Aku sudah hapal Aisyah," kata Al. "Dia tidak perlu mengucapkannya untuk menjatuhkan pilihan."


Setiap keinginan tidak perlu dikatakan untuk menjadi jawaban. Perilaku yang dipamerkan sudah menunjukkan pilihannya.


"Aisyah lebih mengenalmu dibanding aku," keluh Riany. "Dia sudah membuktikan hal itu sejak di Kota Suci."


"Nyatanya kamu yang jadi istriku, dan aku tidak menyesal dengan pilihanku."


"Aku tersanjung karena terpilih olehmu."


Dia mengenal sosok suaminya hanya beberapa minggu semenjak dewasa. Waktu yang sangat sedikit untuk mengetahui segala sifat dan karakternya. Dia bisa saja melakukan perbuatan yang menyinggung suami karena ketidaktahuannya.


Rumah tangga mereka sangat berisiko untuk retak. Dia beruntung suaminya sangat pengertian, sehingga setiap kesalahan tidak jadi besar.


Mereka tiba di depan rumah mewah dan bertingkat. Security membuka pintu gerbang.


Arya menjalankan mobil pelan-pelan memasuki pelataran rumah, dan berhenti di depan garasi. Beberapa mobil parkir di sekitar garasi, semuanya milik Arya. Ayahnya lagi membongkar paviliun untuk membangun gedung khusus garasi.


"Aku belum sampai sebulan meninggalkan rumah," cetus Al. "Ada tiga mobil baru parkir di dalam garasi."


Arya menoleh dengan heran. "Kakak kena gegar otak ringan pas kecelakaan? Kok jadi pelupa? Semua mobil baru itu kan mobil kakak. Mobil aku jadi kehujanan deh."


Riany tersenyum melihat suaminya kayak orang linglung. Kecelakaan itu kiranya sempat membuat memorinya hang, ada ingatan yang hilang pasca benturan. Tapi cuma beberapa saat, sebentar kemudian pulih lagi.


"Jadi garasi yang lagi dibangun itu untuk mobilku?" tanya Al. "Kenapa kalian tidak tanya dulu? Aku akan membawa semua mobilku, dan menempatkannya di setiap garasi rumahku."


"Satu rumah satu mobil?"


"Ya."

__ADS_1


"Rumah kakak cuma empat. Satu lagi mau ditempatkan di mana?"


"Mobilku cuma empat."


"Nah, terus Bugatti bagaimana? Mobil itu minggu depan datang."


Al terkejut. "Bugatti?"


"Oma Jen bernazar, kalau kakak sembuh seperti sediakala, ia akan membelikan kakak mobil sport."


Jennifer sudah mulai berani menyogoknya dengan modus nazar, gerutu Al dalam hati. Nazarnya pasti dilakukan di depan hidung ibunya. Beliau tentu tidak sadar karena saat itu lagi panik.


"Berarti rejeki adik bandel," ujar Al. "Bugatti jadi milikmu."


Arya melotot surprise. "Serius?"


"Ketahuan banget pengennya," senyum Al kecut. "Kakakmu mana pernah main-main?"


"Nah, terus kalau Oma Jen nanya, apa jawabku?"


"Bilang saja aku bernazar, kalau kamu mau berhenti jadi play boy dan bertobat di Kota Suci, aku akan memberimu hadiah Bugatti."


"Kapan nazarnya?"


"Barusan."


Al turun dari mobil diikuti Riany. Mereka berjalan menuju ke pintu depan.


"Ayah kelihatannya belum pulang," kata Arya sambil matanya beredar ke sekeliling. "Mobilnya tidak ada."


"Ibu pasti gelisah menunggu," keluh Al. "Ayah kebiasaan pergi tanpa izin."


"Tapi giliran anaknya pergi tanpa izin, ATM langsung disita."


"Pernah kejadian seperti itu?"


"Sudah tiga kali."


"Artinya sudah tiga kali kamu pergi tanpa izin. Sekali lagi kamu berani kurang ajar sama mereka, maka Bugatti dan subsidi tiga ratus juta perbulan aku cabut."


Arya kaget. "Jadi transferan itu dari kakak? Aku kira uang diam dari Ayah."


Al memandang adiknya dengan penuh selidik. "Uang diam? Uang diam apa?"

__ADS_1


__ADS_2